Baju Pengantin

2230 Words
“Kamu serius? Nggak lagi ngigau kan?” “Ngapain aku cape-cape ke sini kalau nggak serius. Ya udah aku duluan, harus ada yang kuurus. Cepetan samperin!” santriwati itu pun berlalu.             Kata tak mampu lagi melukiskan expresi Ana saat ini. Reni pun tak mampu berkomentar, hingga gadis mungil itu pun melangkah tanpa cegahan ataupun saran. Satu-dua santri mensoraki Ana ketika lewat. Mereka sibuk berkata “cie”, bahkan ada yang sampe iri dan bilang “Ana? kok bisa sih? Kenapa bukan aku aja?”.             Tak tunggu lama, Ana sudah berada di parkiran. Kepalanya menunduk penuh hormat. Kali ini Gus Fikri tidak bersama para abdi dalem, melainkan bersama bu nyai. Segera Ana mencium tangan beliau. “Ibu mau belanja, An. Bisa temani, Ibu?” tanya bu nyai. “Nggih, Bu, saya bisa.” “Ayo naik!” Sebelum naik, Gus Fikri masih berdiri di ambang pintu. Sekilas Ana menatap Gus Fikri yang sedang tersenyum. Lagi-lagi senyuman itu mampu membuat hati Ana bersorak-sorai, penuh dengan dawai indah.             Mobil sedan berwarna putih segera melaju. “Alhamdulillah, Ibu denger kamu sangat bagus bacaan Al-Qur’annya. Terima kasih, An,” papar bu Nyai. “Sami-sami Bu. Semua berkat doa Ibu yang dikabulkan Allah.” “Dan berkat usahamu juga, An. Umi pasti ndak akan percaya bagaimana usaha Ana buat mempersiapkan acara kemarin,” potong Fikri. Tatapan bu nyai beralih ke putranya. Fikri tertawa kecil melihat wajah uminya yang penuh dengan rasa penasaran.             “Mi ... kemarin Ana sampai lembur lho. Dia mengulang-ngulang juz 21 yang akan dibacanya,” ujar Fikri. “Benarkah, An?”  Ana mengangguk malu. Ia juga sedikit kaget bahwa Gus Fikri tahu juz keberapa yang dibacanya kemarin, itu berarti dia juga seorang hafiz. “Meski lembur, Ana tetap bisa terlihat segar dan semangat ketika membacanya.” Mendengar itu, membuat Ana tertawa kecil. Ia tak menyangka teman-teman gajenya itu bisa berguna.             Eh, bentar. Berarti kemarin Gus Fikri memperhatikan aku dong. Bukankah sanjungan tadi juga kata lain bahwa aku cantik? Ana bergidik dengan pikirannya sendiri. Wajahnya memerah. Jantungnya serasa memompa darah ke pipinya. Terasa hangat sekali di sana.             “Wah ... berarti Umi tidak salah pilih dong.” “Sayangnya ndak, Mi.” Fikri menyahut. Umi dan Gus Fikri saling tatap, tersenyum. Ana yang melihatnya dari kursi belakang, kebingungan sendiri. Entah apa yang mereka sama-sama pikirkan. “An ... kamu bisa masak nasi jagung kaya di Sedudo ndak?” “Sedikit Bu. Maaf Bu, bukannya Sedudo itu ada di Nganjuk ya, Bu?” “Iya benar. Kamu kan dari Nganjuk, pasti bisa membuatnya lah. Ibu percaya kamu bisa masak kok.” “Insya Allah Bu.” Satu sempilan pikiran aneh kembali melayang di benak Ana. Ia kagum dan sedikit heran dengan bu nyai. Kenapa beliau hapal daerah asal Ana? Padahal santriwati kan ada ratusan lebih.             “Ibu pingin masak nasi jagung. Ibu kangen rasanya. Dulu ketika hamil, Ibu ngidamnya nasi jagung mulu. Siapa sih yang minta?” seringai bu nyai, tangannya mencubit pipi Gus Fikri, gemas. “Umi ... Fikri udah gede, ya. Ini lagi nyetir pula, nanti kalau ada apa-apa gimana?” “Hush jangan ngomong kaya itu ah! Ora ilok!” “Daripada ngusili Fikri, mending Umi ngusilin Ana tuh! Daritadi dia tegang mulu.” “Eh ... nggak kok, Gus. Siapa pula yang tegang.”             Bu nyai memegang tangan Ana yang gemetaran. “An, jika kami berada di sebuah majelis, bersikaplah seperti santri yang lain. Tapi jika ndak di majelis, bersikaplah layaknya keluarga kami. Berjanjilah, Nak!” “Insya Allah, Bu.” Ana mengembuskan napas panjang. Meski wajah kebas Ana mulai terlihat normal, tapi hati dan nadinya malah kian tak keruan. Pikiran-pikiran aneh dan kemungkinan-kemungkinan konyol makin menjejali pikiran.             Apa mungkin? Ana bertanya pada dirinya sendiri. Alah tak mungkin! Tepisnya langsung.             “Fikri-Fikri, kapan kamu nikah? Jika kamu nikah terus punya anak kan gubug kita akan rame,” keluh bu nyai. “Sebentar lagi, Mi.” “Ya gitulah, An. Gus-mu ini kalau ditanya soal nikah jawabannya itu-itu mulu. Sampai bosen Umi dengernya.” Ana melemparkan pandangan kecut. Ia ingin sekali menutup telinganya. Percakapan bu nyai dan Gus Fikri semakin mengarah kepada hal yang Ana pikirkan. “Mungkin memang sudah punya, Bu,” celetuk Ana. “Kalau sudah punya mending cepet-cepet dinikahkan, atau minimal kenalin sama Umi.” “Kalau dia mau, secepatnya, Mi. Fikri janji akan segera melamarnya. Kami masih perlu ta’aruf.”             Mobil mulai memasuki gerbang pasar. Ana mengembuskan napas lega. benar-benar lega. akhirnya ia bisa terbebas dari pikiran-pikiran yang menyesatkan. Dan yang lebih penting ia terbebas dari percakapan tentang nikah dari bu nyai. Orang-orang berdesak-desakan masuk dan keluar. Pasar tradisional memang sangat ramai. Selain menjadi tempat transaksi jual beli, pasar juga menjadi tempat untuk ajang bersilaturahim, bertegur sapa, bercanda, dan lain sebagainya. Yang paling mengesankan dari sebuah pasar tradisional adalah melihat semangat orang-orang dalam mencari rezeki Allah. Mereka sadar bahwa rezeki yang baik itu perlu perjuangan. Mereka pun rela melepas semua kepenatan sembari mendekat kepada-Nya.             Uniknya lagi saat azan berkumandang, pedagang yang satu akan menitipkan dagangannya kepada pedagang di sebelahnya. Bila nanti ada pembeli, maka dilayanilah si pembeli oleh pedagang penggantinya itu. Mereka saling percaya, sama sekali tak ada rasa curiga. Bila yang satu sudah selesai, bergantianlah mereka. Kerukunan layakanya saudara pun sangat terjalin. Meski bisnis identik dengan persaingan, tetapi dalam pasar tradisional, mereka menunjukkan bahwa dalam bisnis juga terdapat ukhuwah yang sangat baik pula.             Bu nyai dengan lihai melewati kerimbunan orang-orang di pasar. Ana dan Gus Fikri bahkan sampai kewalahan. Mereka berdua tertinggal beberapa langkah dari beliau. “Mi!” panggil Fikri setengah berteriak. Yang dipanggil tak mendengarnya dan tetap gesit meneruskan langkah. Membuat Ana dan Fikri bersitatap, tertawa. “Huft, Umi memang begitu, An. Meski umurnya sudah setengah abad lebih, beliau tetap gesit melewati gerombolan orang kaya gini.” “Gus mending kita susul, siapa tahu yang tersesat malah kita bukan Bu Nyai.” “Oh iya ya, yang nggak tahu pasar kan kita. Kalau kita tersesat wah berabe nanti urusannya.” Secepat mungkin Ana dan Fikri menembus gerombolan orang. Berulang kali berkata “permisi” saat lewat di depan orang.             “Umi, kalau jalan jangan cepat-cepat!” protes Fikri. Napasnya kian memburu. “Fikri-Fikri bagaimana Umi bisa berjalan cepat? Umi kan sudah sepuh,” bu nyai memprotes balik. “Kamu sih selalu menolak untuk menemani Umi belanja,” tambahnya. Gus Fikri diam. Rautnya mendadak tersenyum kecut.             Kegiatan belanja itu berlangsug menyenangkan. Sepanjang perjalanan, Gus Fikri dan bu nyai berulang kali beradu pendapat lalu Ana menengahi. Watak ibu dan putranya yang sama-sama keukeuh dengan pendapatnya membuat aktifitas belanja lebih ramai. Penjualnya pun sampai bingung mendengarkan perdebatan mereka, yang akhirnya pasti dimenangkan oleh bu nyai.             Wajah Gus Fikri kian lama kian miris. Meski samar, Ana dapat melihat rona sebal yang tersembunyi di selarik senyumnya. “Bsst ... An,” bisiknya setengah mendesis. “Ada apa Gus?” “Sekali-kali kamu bela aku kek. Masa bela Umi mulu.” “Kan yang lebih tua lebih diutamakan.” Jawaban Ana membuat rona kekesalan itu makin tampak di wajah Gus Fikri.             Bu nyai terus melangkah. Sebagian besar belanjaannya dibawa oleh Gus Fikri dan sebagian kecil lainnya ditenteng Ana serta bu nyai sendiri. “Inilah tempat pemberhentian kita yang terakhir,” ungkap bu nyai. Mata Ana dan Fikri sama-sama membelalak melihat tulisan di pintu toko itu. “Peralatan Nikah” begitulah bunyi tulisan di ambang pintu masuk. Toko yang memang berada di dalam pasar itu, terkesan elegan. Pernak-pernik di dindingnya memancar indah.             “Untuk apa kita ke sini, Mi?” “Mumpung Umi masih sehat dan mumpung kita di sini, Umi mau pilihkan baju nikah buatmu.” Gus Fikri tak mampu berkata apapun, begitu juga dengan Ana. Mereka sama-sama terdiam dan masuk ke toko tersebut. “Ada yang bisa saya bantu?” tawar pelayan toko ramah. “Baju pengantin buat mereka,” cetus bu nyai.  Ana sekali lagi tercengang. Ia kaget setengah mati. Dalam hati ia berusaha menyakinkan dirinya bahwa hal ini hanyalah gurauan belaka.             Si pelayan toko bergegas mengajak bu nyai, Fikri, dan Ana melihat beberapa sampel. Bu nyai cekatan memilih beberapa baju kemudian memaksa Fikri serta Ana untuk memakainya. Salah seorang pelayan toko turut membantu mereka, sedangkan bu nyai duduk manis menunggu mereka sembari muroja’ah.             Beberapa menit kemudian Fikri dan Ana sama-sama ke luar. Keduanya tersipu malu. Apalagi Ana, ia buru-buru menunduk. Mukanya memerah. Sesekali ia curi-curi pandang ke Gus Fikri dan begitu sebaliknya. Meski janggal, karena mereka tidak tahu apa maksud semua ini, rasa malu bercampur mau itu tak bisa ditutupi. Merasa keadaan semakin aneh, Fikri dan Ana berjalan menuju bu nyai. Mereka berdiri di hadapannya. Sekilas terlihat indah, namun nampaknya bu nyai belum puas. “Terlihat agak buram. Coba yang lain!” Maka Ana dan Fikri kembali lagi ke ruang ganti. Melepas baju yang barusan lalu memakai baju yang lain dan menghadap bu nyai lagi. Komentar lagi, ganti lagi, menghadap lagi begitu seterusnya.             Lalu dari sekian kali percobaan, akhirnya bu nyai sreg dengan baju pengantin jawa. “Alhamdulillah, yang ini lebih serasi. Mas tolong yang ini ya!”             Belanja berakhir membingungkan. Berulang kali Ana ingin menanyakan maksud mereka membeli baju pengantin, tapi rasa segan dan malunya terlalu tinggi. Anehnya Gus Fikri juga hanya diam, dia lebih memilih fokus dengan jalan di depannya. Sempurna hanya kebingungan yang melingkupi hati Ana saat ini.             Berbeda dari sebelumnya, mobil terasa sunyi. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan bu nyai sampai tertidur walau sekejap. Ketika beliau membuka matanya, beliau sudah berada di pesantren. Segera para santri dalem menurunkan barang belanjaan. Ana yang sudah berjanji akan memasakkan nasi jagung pergi menuju dapur dalem bersama bu nyai.             Jangan dikira nasi jagung itu sempurna terbuat dari jagung. Nasi jagung ini terbuat dari beras biasa yang dicampur dengan beras jagung. Beras yang telah dicuci bersih lalu dinanak dengan dicampur minyak samin, garam, santan ples kaldu bubuk. Nanti setelah matang, nasi ditunggu sampai airnya hampir habis. Untungnya bu nyai telah mempunyai beras jagung yang telah direndam semalam, sehingga beras itu langsung bisa dimasak. Beras jagung yang tidak direndam lebih dahulu teksturnya sangat keras. Beras jagung ini lalu dicampur dengan nasi tadi lantas diaduk hingga rata. Alangkah baiknya jika dicek secara berkala. “Kamu biasa membuat nasi jagung seperti ini, An?” tanya bu nyai. “Dulu Bu. Setelah mondok jarang sekali ke dapur.” “Coba Umi cicip!”  Ana membuka panci lalu mengambil sesendok nasi dan menyerahkannya ke bu nyai. Namun bu nyai malah membuka mulutnya, meminta untuk disuapi saja. Ana sedikit kikuk, tangannyan bergerak perlahan memasukkan nasi itu ke mulut gurunya. “Wah ... ternyata enak. Sepertinya kamu memang jago masak.”             Gus Fikri tiba-tiba masuk membawa bahan masakan yang lain. “Baunya enak, Mi. Coba dong!” “Minta sama Ana saja, tangan Umi penuh tepung.”  Ana buru-buru memberikan sendok dan mengambil alih bawaan Gus Fikri. Dia sadar, sangat tak mungkin baginya untuk menyuapi gusnya sendiri. “Monggo Gus ....” ujar Ana. Fikri mengambil sesendok nasi lalu menunggunya agak dingin kemudian memakannya. “Subhanallah, pantes Umi suka makan nasi jagung. Ternyata enak.” “Umi suka karena kamu. Dulu waktu dalam kandungan kamu mintanya nasi jagung mulu.”  Ana tersenyum simpul. Ia gembira merasakan kehangatan keluarga gurunya.             Setelah nasi jagung siap beserta ikan asinnya, Ana pamit. Sempat ia dicegah oleh bu nyai dan Gus Fikri, namun dengan berjuta alasan, gadis itu akhirnya dapat keluar. Bukannya tak mau makan, tapi Ana sadar bahwa sangat tidak etis dirinya makan satu meja dengan keluarga bu nyai. Alhasil ia hanya diberi satu bungkus nasi beserta lauk. Tapi bungkus nasi itu menggunakan ceting yang besar.             “Makan!” teriak seorang santriwati ketika melihat Ana menenteng bungkusan.             Tak tunggu lama-lama, semua santri sekomplek berkerumun. Ana tanpa disuruh sudah paham apa yang ia akan lakukan. Ia jongkok lalu membongkar bungkusan yang diberikan bu nyai. Plastik kresek ia bedah dan juga kertas minyak juga ia buka. Setelah plastik dan kresek itu digelar, Ana menumpahkan nasi dari ceting. Lauk yang ia peroleh pun ia tumpahkan di atasnya. Tidak ada yang namanya sisa atau buat nanti, semua dimakan sekarang bersama. Santri-santri yang kelaparan langsung mendekat. Mereka yang berjumlah lebih dari sepuluh mengerumuni makanan. Mereka duduk sila dengan badan miring agar yang lain turut bisa bergabung. Tanpa hitungan jam, nasi dan lauk sudah raib. Dan yang terakhir berada di sana, akan mengurus sampah-sampahnya. ***             Senja di balkon emperan sawah. Matahari sempurna melukiskan warna jingga yang paling bagus. Bagi Ana senja menjadi waktu yang paling indah. Senja menjadi saksi bahwa satu hari melelahkan akan terlewati. Senja juga menjadi saksi bahwa masih ada harapan buat esok. Hari ini cukup menjadi sejarah. Dan sambutlah malam untuk istirahat. Pagi pasti akan terjadi.             Maka senja menjadi waktu di mana Ana melabuhkan hatinya. Ia menatap ke arah kiblat. Ingin sekali ia menjelejahi arah itu bersama Panji sampai mereka bisa sama-sama mengenakan pakaian orang-orang surga. Tapi akankah itu terjadi?             Kini di titik merah mentari itu wajah Panji kian memudar, bergantikan dengan wajah baru, Gus Fikri. Ana tak mau berekspektasi, tapi apakah hal yang tejadi hari ini tak begitu jelas? Buat apa bu nyai mengajak Ana belanja selain untuk mendekatkan dirinya dengan Gus Fikri? Terlebih lagi mereka selalu membahas tentang pernikahan. Apakah semua itu tidak jelas?             Ana menghela napas. Langit yang bersepuh kemerahan, tak lagi menenangkan di pikirannya. Terlalu banyak misteri. Terlalu banyak harapan yang tergantung.             “Aku harus meluruskan semua ini!” tekad Ana. Kali ini ia benar-benar ingin melabuhakan hatinya di arah yang tepat. Dia harus meminta kepastian dari Panji. Dan itu harus disegerakan.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD