Kakawin Arjunawiwaha. Sebuah Kakawin yang dipuja-puja oleh pujangga cinta. Ajaran tentang kesempurnaan hidupnya menjadi incaran banyak orang, agar senantiasa berbahagia. Tapi bukan itu tujuan Ana. Ia membaca karya sastra Jawa ini, hanya ingin tahu apakah labuan hatinya mengarah ke arah yang tepat atau malah tersesat. Hanya saja akhir-akhir ini, ia merasa ada sebuah untain kasih di pondok yang membuatnya bimbang.
Kelamnya malam, menghambur dalam kenangan. Binarnya bintang yang tersepuh sinar rembulan, membaur dalam lamunan Ana. Setetes air mata mengalir sendu. Sebuah kilau cahaya, memancar dari air mata itu. Kilaun yang indah namun begitu kontras dengan pemiliknya.
Ana plin-plan. Samarnya kisah cintanya dengan Panji, membuat hatinya kian berharap akan kasih sayang baru. Mungkin dia yang terlalu berharap atau mungkin memang benar, ia merasa respect dengan Gus Fikri. Ia mendapatkan segala perhatian yang seharusnya ia dapat dari Panji. Aneh memang, tapi inilah kenyataan. Mulai saat itulah, ia mulai benar-benar mempertanyakan tentang kesetiaan Panji.
Maka dari itu, ia ingin menanggalkan semuanya. Ana ingin keceriaannya yang dulu kembali. Gadis itu ingin sama sekali tak mengenal apa itu cinta. Mungkin akan sangat indah jika cinta itu datang ketika dirinya telah siap dilamar. Apabila cinta datang di saat itu, ia pasti akan lega karena impiannya telah rampung. Namanya telah bertambah panjang dengan embel-embel al-hafizah. Namun yang lebih penting, ilmu hafalannya telah matang dan siap untuk menaburkan manfaat.
“Ya Allah beri hamba kemantapan hati, aamiin ....” ratap Ana.
Kata “aamiin” itu melambung ke angkasa. Berbaur dengan selaksa doa-doa hamba lainnya. Beribu-ribu doa itu meliuk indah menuju singgasana Sang Maha Pengabul Harapan. Doa yang dilapisi oleh keikhlasan serta ketakwaan memancarkan cahaya paling indah. Para malaikat yang membawanya tersenyum bahagia, ikut-ikutan gembira melihat doa yang penuh keikhlasan.
Malam semakin kelam. Kesunyian hampir sempurna memeluk malam. Suara serangga mulai memelan, membiarkan deru angin kian meraung-raung. Lengkap sudah kesunyian malam ini. Bahkan isak tangis Ana begitu jelas terdengar. Malang, tak ada satu pun orang yang berada di sampingnya.
Dinginnya malam ditambah lelahnya badan, membuat Ana menyudahi berdiam diri di loteng masjid. Ia pun turun sembari menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Sejak keputusan untuk mengikuti perilaku teratai, Ana tak pernah terlihat sedih di hadapan orang lain. Terlebih sekarang ia tahu bahwa mencurahkan perasaannya kepada manusia hanyalah membuang-buang waktu.
Ada orang bijak berkata bahwa, “Jangan pernah bilang ‘Ya Allah ... hamba banyak masalah’ jangan! Tapi berkatalah kepada masalah ‘Hei masalah. Berapa pun kau datang aku akan tenang, sebab selalu ada Allah yang menolongku.’ Ingat selalu kata itu ya!”
Hidup di pesantren memang banyak untungnya. Selain pesantren adalah gudangnya ilmu, pesantren juga bisa menjadi tempat ajang pencarian jodoh. Rata-rata pengurus yang sudah waktunya menikah, akan dijodohkan oleh romo kiai. Alhamdulillah, hingga kini yang dijodohkan itu tetap langgeng, karena jika mereka memang tidak cocok, mereka tinggal bilang.
Kadang Ana memikirkan Gus Fikri. Berpuluh-puluh santri telah dinikahkan oleh romonya sendiri, namun gus itu belum ada kabar-kabar akan menikah. Padahal umur serta wawasannya sudah sangat matang. Jangan ditanya tentang pekerjaan, Gus Fikri telah mempunyai warung makan yang selalu ramai dikunjungi orang. Uniknya warung makan itu, tidak membeli bahan-bahannya dari pasar. Semua bahan makanan berasal dari kalangan pesantren.
“Apa mungkin ....” segera Ana menepis harapannya. “Nggak-nggak. Mana mungkin Gus seganteng dia masih belum mempunyai calon.”
Ingin hati berharap, tapi cinta di sana menghalangi. Ingin cinta yang di sana, namun nggantung. Ana merasa hidupnya kini serba salah.
Ana melangkah di lorong. Tempat pertama kalinya, dia dan Gus Fikri bertemu dan anehnya kali ini pun sama. Gus Fikri tengah menatap lukisan Perang Bharatayuddha antara Pandawa dan Kurawa. Meski endingnya Pandawa menang, namun sejatinya mereka sama-sama merugi. Pandawa yang dikenal sebagai orang-orang pengekang nafsu menyesal dengan kematin Kurawa yang diibaratkan sebagai orang-orang pengumbar nafsu. Maka dalam kakawin Bharatayuddha, diajarkan untuk hidup seimbang.
Jauh di dalam lubuk hati, Ana ingin bertegur sapa dengannya. Tapi ia mengurungkan niat. Ia pun berbalik dan memutar arah. Untuk sementara waktu, gadis itu ingin menjauh dari Gus Fikri. Walau Ana sadar bahwa dia bukan siapa-siapa, namun keraguan akan jalinan cintanya bersama Panji juga datang gara-gara lelaki itu.
***
Mendung. Sengaunya angin menemani pagi yang sendu. Senyum di wajah Ana hanyalah topeng belaka. Seraut duka bekas tadi malam, masih membekas di benaknya. Ana mengembuskan napas. Segera mungkin ia harus mengakhiri kegalauan ini.
“Hei Peh, kamu tahu apa yang lebih kusut daripada kaos kaki nenek?” tanya Reni.
“Nggak tuh. Emang apa?”
“Tuh muka temenmu.” Reni menunjuk muka cemberut Ana.
“Tumben mukamu kaya kambing An, sengak dipandang,” tukas Alipeh.
“Iiih kalian ngapain sih. Orang baru bangun tidur, wajar kali,” elak Ana.
“Heloo ... ini sudah jam berapa. Menurut kalkulasi kuantum dan perbandingan archimedes, mana mungkin sih Ana baru bangun tidur.” Reni ngegas.
“Eh, Reni, kamu tuh memang gaje, tapi jangan ditampakin gajenya kali. Mana ada hubungannya kalkulasi kuantum dan perbandingan archimedes dengan orang tidur.”
“Ada, An. Ketika air liurmu keluar, di saat itulah hukum archimedes berlaku.”
Bibir Ana manyun ke atas. Dia akui teman-temannya memang kreatif sekaligus aneh. Sempat-sempatnya mereka menyamakan hal-hal begituan dengan hukum sains.
“Mending kalian pergi gih! Aku nggak mau ketularan virus gila kalian.”
“Ok. Kalau kami pergi, berarti kau mengakui kalau sedang kasmaran. Hiya-hiya, ” ujar Alipeh.
“Kok gitu?”
“Ya iyalah. Orang kalau lagi kasmaran sukanya menyendiri dan nglamunin dia. Cie cie cie ....” Alipeh semangat mengolok-olok Ana.
Reni dan Ana saling bertatapan. Di antara mereka berdua, hanya Alipeh yang belum tahu apa-apa tentang Panji. Reni mengangguk, mengisyaratkan agar Ana juga memberitahu Alipeh, namun Ana menggeleng, ia tak setuju.
“Loh kok pada diem?” tanya Alipeh.
“Aku sedang mikir. Apa jangan-jangan kamu iri ya?” duga Ana.
“Iri? Sory ya, aku nggak mau nantinya dipanggil Kanjeng Nyai. Iuu kudik banget. Hiii.”
Memang berteman dengan dua gadis yang super jahil sangat membutuhkan kesabaran. Untung saja Ana memiliki tingkat kesabaran yang cukup mengagumkan. Tapi justru kadangkala kejahilan mereka membuat hidup Ana kian berwarna.
“Sudahlah aku mau hafalan.” Ana melangkah pergi.
“Oh iya, aku juga mau hafalan,” kata Reni. Dia pun pergi ke arah lain.
Alipeh yang bingung sendirian pun pergi. Ketika Alipeh sudah benar-benar tak terlihat, Reni menyusul Ana. Ia tahu, Ana sekarang butuh seseorang yang bisa menguatkan dirinya. Jika biasanya Ana mampu terlihat bahagia di depan semua orang, maka ketika ia terlihat sedikit saja sedih, jelas sudah bahwa sebuah masalah besar sedang menghadangnya.
Langkah demi langkah Reni jejakkan untuk menyusul gadis mungil temannya itu. Sesekali ia berteriak untuk menghentikan langkahnya. Namun sepertinya Ana tak peduli. Mau tak mau, Reni harus sedikit berlari mengejar. Anehnya Ana malah menambah kecepatan jalannya. Menghindar.
Layaknya sebuah kidung yang mendayu-dayu, merambah bersama air mata, demikianlah Ana. Dia tak halnya seperti gersang tanah yang merindu air. Air matanya tak nampak, namun hatinya berteriak pilu. Wajahnya tampak lesu, tak ada sedikit pun aura bahagia memancar dari sana. Tatapannya kosong menatap pemandangan pesantren dari loteng masjid.
“An ....” sapa Reni
Ana sama sekali tak menoleh. Dia tetap memandang cakrawala kelabu yang mulai berganti biru.
“Kamu tak apa-apa?”
Ana menghela napas, “Aku hanya bingung Ren. Di sisi lain aku masih kepikiran Panji, tapi di sisi lain, aku juga mulai respect sama Gus Fikri.”
“An ... mungkin kamu saja yang baper dengan perhatiannya Gus Fikri. Pergi dengan beliau aja baru sekali. Lagian Gus Fikri emang mau sama cewek yang super judes kaya kamu?” Reni mencoba bergurau.
Perkataan Reni barusan membuat Ana tersentak. Mungkin perkataan itu benar. Ana terlalu rindu akan perhatian Panji sehingga terlalu baper sama perhatian yang diberikan Gus Fikri. Sayangnya perkataan Reni itu sangat bertentangan dengan kenyataan. Tiba-tiba seorang santriwati datang dengan tergesa-gesa.
Santriwati itu mengusap peluh di dahinya. “Ih, nyari kamu susah banget sih, An,” ujarnya.
“Ada apa?”
“Kamu dicari sama Gus Fikri tuh. Beliau menunggumu di parkiran dalem.”
Reni dan Ana sama-sama cengo. Mulut mereka terbuka lebar-lebar.