Ana menghela napas. Cuplikan kisah itu tidak akan pernah ia lupakan dalam hidupnya. Tiada yang tahu bahkan sampai sekarang alasan Ana keluar dari pesantrennya yang dulu. Kecuali satu orang yang tak lain adalah santriwati yang memanggilnya itu. Dia menyimak terlalu banyak. Bahkan hal yang tidak harus ia tahu, pun diumbar malam itu juga.
“Jelaskan apa hubungan kalian selama ini!” kata bu nyai datar. Meski demikian, cukup untuk membuat bulu kuduk Ana berdiri seutuhnya.
Ana menunduk. Begitu pun Panji. Semuanya diam. Hanya bu nyai yang kepalanya terangkat. Pak kyai tak henti-henti memutar tasbihnya. Diamnya beliau turut menyumbangkan ketegangan malam ini.
“Kenapa tulisanmu dan namamu ada di buku diarynya Panji?” Bu nyai melanjutkan kalimatnya.
Jantung Ana serasa berhenti. Takut-takut ia mengangkat kepalanya dan menatap kang santri di depannya. Ia kini mengerti kenapa Panji begitu kesal ketika ia tahu bahwa diary miliknya berada di dalem.
“Kami ....” Ana kikuk. Sebutir keringat menetes di dahinya. D a d a nya terasa sesak. Tersengal. Ia tak bisa berkata dengan lancar.
“Kami ....” sela Panji.
Belum sempat lelaki itu berkata, bu nyai menyela kembali, “Aku ingin dengar dari Ana dahulu!”
Ana menelan ludah. Tak pernah terbayang di otaknya kalau urusannya bisa serunyam ini. Padahal momen-momen indah itu baru terjerat beberapa waktu yang lalu. Seandainya ia tidak teledor, pasti ia kini bisa melihat drama di aula sembari tertawa bersama teman-temannya.
“Kami tidak ....”
“Itu salah saya Ummi. Saya yang menerobos masuk ke wilayah santri putri dan melempar Ana dengan buku diary ini. Semua salah saya!” Panji langsung berkata tanpa mengindahkan ucapan bu nyai.
“Kalian tahu kan apa sanksi ketika ada santri pacaran?”
Entah mengapa udara di dalem ini benar-benar membuat Ana sesak. Ia tahu amat tahu apa sanksi jika ketahuan menjalin hubungan dengan yang bukan mahrom. Setiap santri yang ketahuan sudah melanggar aturan paling tinggi dan hukumannya sepadan dengan mencuri. Mereka akan dikeluarkan dari pesantren.
Ana tidak mau itu terjadi. Ia terlalu cinta dengan pesantren ini. Suasananya, teman-temannya, bahkan pengajian di dalamnya. Ia sangat mencintai semua itu. Sebutir air mata keluar dari mata Ana.
“Ana tidak punya perasaan kepadaku, Ummi. Kami hanya berteman!” lanjut Panji.
“Apa benar kamu tidak punya perasaan kepada Panji, An?” tanya bu nyai tanpa expresi.
Ana diam. Sediam angin di subuh hari. Sediam bayi ketika tidur. Ia tak tahu kapan perasaan itu menyelinap diam-diam di hatinya. Apakah mungkin ketika ia membaca diary itu, ataukah mungkin ketika ia dan Panji bersama di bukit itu. Ana sama sekali tak tahu.
“Jawab Ana. Biarkan kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Saya tidak ingin bersu’udzon kepadamu. Maka dari itu saya ingin dengar kata itu langsung darimu.” Bu nyai berkata lagi dengan intonasi yang masih terkendali.
Ana masih diam. Diam yang menyimpan beribu fakta di dalamnya. Panji pun tak bisa berbohong kepada dirinya sendiri bahwa ia juga menantikan jawaban Ana.
Mungkin kedua orang itu tak tahu. Namun pikiran mereka mengalun, memilin indah menuju sebuah masa di mana keduanya saling menatap sembari tersenyum. Bukan hanya wajah tetapi hati. Hati mereka layaknya dibawa ke pantai, begitu menenangkan dan menyegarkan. Momen itu berlangsung hanya sepekan, tapi kesannya sampai sekarang.
Setelah turun dari bukit dan pulang ke rumah masing-masing, Ana tak menyangka akan bertemu Panji kembali di sebuah musala.
“Kok masih di sini?” tanya Ana.
“Loh, seharusnya aku yang tanya.”
“Ya suka-suka aku, lah. Kok ngatur!” Ana ngegas.
“Aku juga kan tinggal di sini, ngapain kamu sewot wahai bidadari.” Panji mengeraskan kata terakhirnya.
“Hih, aku bukan kunti. Bisa nggak berhenti memanggilku seperti itu. Besok kalau aku mati terus jadi kunti, kamu yang bakalan aku hantuin dulu.”
“Kalau kita mati bersama gimana? Masa hantu nakutin hantu. Nggak ngefek kali!”
“Ih. Ilfill aku dengernya. Mana ada yang mau mati bersama pemuda hitam kayak kamu.”
“Hitam dan manis tepatnya.” Panji menaik turunkan alisnya.
“Ingat ya, Gus Panji yang terhormat. Tidak ada hitam yang bener-bener manis. Kalau nggak pahit ya kemanisan. Lalu kemanisan menyebabkan diabetes.”
“Cewek emang pandai bersilat lidah ya. Hmm ....”
“Siapa yang bersilat lidah. Aku bilang apa adanya.”
Panji pergi tanpa mengabaikan Ana. Dia melangkah pergi.
“Kalah langsung pergi. Cemen banget, sih!” ledek Ana.
“Mau ikut nggak?” balas Panji.
Ana memincingkan alisnya. Ia tak paham dengan tawaran Panji. Terlebih ia hanya izin sebentar ke Rara untuk pergi ke musala terdekat. Itu pun dia bilangnya hanya sebentar.
“Katanya mau makan-makanan khas daerah sini. Kalau mau ikut ya ayo, kalau nggak bodo amat,” lanjut Panji seperti tahu apa yang Ana pikirkan. Pemuda itu terus melangkah tanpa sekali pun menengok Ana. Dan Ana sempurna hanya melihat punggungnya.
“Tunggu!” Ana buru-buru mengambil keputusan dan langsung mengejar Panji.
Mentari pagi yang menghangatkan badan menyambut mereka. Lembutnya kabut khas pegunungan terbang indah di depan mata mereka. Sesekali kabut itu usil masuk ke hidung Ana, menggantikan udara-udara kotor yang ada di paru-paru wanita itu.
“Pagi Pak, Bu.” Panji menyapa orang-orang sekitar yang terlihat sedang menuju ke sawah.
Beberapa anak berlarian di depan mereka. Beberapa dari membawa layang-layang. Sedikit saja tidak jeli, kepala Ana sudah berbenturan dengan layangan mereka. Untung saja, Panji dengan sigap menghalaunya.
“Terima kasih, Gus!” kata Ana dengan nada sedikit mengejek.
“Sama-sama bidadari!” jawab Panji dengan nada tak kalah menyebalkan.
“Kita mau ke mana sih?”
“Mau ke kantor polisi buat di penjara.”
“Hah? Nggak lucu!”
“Kan di kantor penjara ada makanan gratis. Itulah makanan khas Banjarnegara!”
“Hehehe. Terus aja ngelawak. Kamu malah lama-lama pantas masuk ke RSJ.”
Panji diam. Ia sudah tak mau memperpanjang obrolan tak jelas itu. Kakinya terus melangkah. Dan sekali lagi, ia memunggungi Ana. Tak peduli sama sekali wanita di belakangnya itu akan mengikutinya apa tidak. Ana membuang muka lalu memilih diam dan terus mengikuti pemuda di depannya.
Betapa terkejutnya Ana ketika sampai. Panji benar-benar menuju ke sebuah polres. Lelaki itu langsung menghambur dengan polisi-polisi yang ada di jalan. Sesekali mereka melihat Ana dengan tatapan aneh yang membuat Ana bergidik sembari menebak-nebak apakah yang dibilang Panji benar. Sayangnya Ana tak bisa menyimak pembicaraan mereka. Mereka memakai bahasa daerah yang Ana sama sekali tak tahu.
Sedikit lama, Panji berbincang dengan polisi-polisi itu sebelum akhirnya dia mengajak Ana pergi kembali.
“Neng, jaga Panji untuk kami, ya!” kata seorang polisi sebelum Ana pergi.
Ana tak mengerti apa maksud kata polisi itu. Gadis itu malah berbalik menatap punggung Panji. Perkataan polisi itu malah membuat Ana kian penasaran dengan Panji.
“Akhirnya kita sampai, wahai bidadari!”
Ana melempar pandangan kesalnya ke Panji. “Oke. Karena aku bidadari, cepet gih layanin. Pesenin dan bayarin tentunya!”
“Laksanakan, wahai bidadari!” kali ini Panji tak membantah. Ia justru benar-benar melayani Ana bak seorang putri.
“Bang, bakso ketupat dua, ya!” kata Panji.
Si abang tukang bakso mengacungkan jempol. Panji langsung menuju ke belakang untuk memesan minuman. Satu menit. Dua menit. Panji akhirnya kembali lagi dengan membawa dua gelas es teh.
“Silakan dinikmati bidadari yang tersesat di kota Banjarnegara.”
“Terima kasih, wahai Panji Gus yang terhormat!”
Lengang. Masing-masing dari mereka menyeruput minumannya sendiri-sendiri. Bunyi kendaraan menjadi pengisi di antara keduanya.
“Kalau boleh tahu, sampai kapan kamu akan ada di sini?” tanya Ana ragu-ragu.
“Kenapa? Mau kita bareng terus ya?”
“Gus Panji, tolong ya, jawab yang jelas.”
Senyap. Panji memperbaiki posisi duduknya.
“Entahlah. Aku selalu tak bisa menghabiskan liburan di dalem. Rasanya masih rikuh dan tak enak.” Tubuh Panji sedikit bergetar. Napasnya melenguh panjang.
Pandangan Ana meredup. Ia menatap wajah sedih pada Panji. “Tapi walau bagaimana pun, sekarang keluarganya romo kiai itu ya keluargamu,” sela Ana dengan nada yang begitu lembut.
“Aku tahu itu, bahkan lebih tahu dari siapapun. Tapi ada saja setan yang meniup gosip di telingaku kalau aku hanya anak pungut yang diberikan tempat tinggal agar romo kiai punya anak turunan asli.”
“Eleh setannya kan lagi di depanmu ini!”
Panji menatap Ana.
“Eh bukan aku, bambang. Kamu ingat kan kalau ada seorang pria dan wanita berduaan, yang ketiganya adalah setan. Jadi setannya adalah ....” Ana menolehkan kepalanya ke tukang bakso.
Panji tertawa.
“Aku baru tahu kalau Gus sepertimu masih percaya sama setan. Setingkat Gus kok!” Ana mulai sewot.
“Namanya juga manusia. Nggak kayak kamu si bidadari. Hahahaha.”
Ana memayunkan bibirnya.
Akhirnya pesanan mereka datang. Seharian mereka menghabiskan waktu bersama menjelajahi luasnya kota Banjarnegara. Keduanya saling mengerti dan mulai saling memahami. Ana pun menemukan apa yang selama ini ia tak menemukannya di lelaki lain. Kesabaran, keteguhan, dan budi pakerti yang luhur, semuanya ada di diri Panji.
Namun ia tak mengerti. Kenapa momen hari-hari itu sampai tersebar di pesantren. Bahkan sampai ke telinga bu nyai. Akibatnya mereka sekarang duduk di sini. Di sidang di hadapan pemimpin pesantren.
“Baik kalau Ana diam. Kami menyimpulkan bahwa dirimu akan kami rekomendasikan ke pondok yang lebih baik. Kami akan membawamu ke Demak, pondok tahfidz terbaik dan tentu akan membuatmu menjadi hafizah seutuhnya.”
Ana menangis sejadi-jadinya. Ia tak menyangka. Meski dirinya bukan dikeluarkan melainkan dipindahkan ke pondok yang lebih baik, tapi hal itu tetap berat baginya. Di sana ia akan bertemu teman yang baru. Guru baru. Nuansa baru.
Ana tak bisa berkata apa pun. Ia mengakui dirinya cinta kepada Panji. Tapi kenapa cinta mereka diuji begitu berat. Belum juga berlabuh, kapal itu harus menghadapi badai. Tak ada celah satu pun. Di dermaga kapal mereka terbentur, di lautan kapal mereka terombang-ambing. Dan akhirnya atas nama cinta itu, Ana terpaksa memilih ke lautan.
Itulah kisah lama. Kisah Ana dan Panji. Kisah yang begitu Ana kenang. Ia sangat bersyukur ketika di pondok baru, ia bertemu dengan Alipeh dan Reni kedua. Nama asli mereka sebenarnya adalah Alifah dan Rani. Tapi Ana lebih suka memanggil mereka Alipeh dan Reni. Ana ingin agar kehidupannya dulu tetap menyala, seperti halnya cintanya kepada Panji.