Tradisi si Petani

2052 Words
            Ketika mentari hendak tidur di ranjangnya. Ketika bintang kejora telah menampakkan keindahannya. Dan ketika siluet merah menghuni cakrawala, sekali lagi Ana berada di balkon yang menjorok ke emper sawah. Pandangannya menatap si petani yang masih sibuk memandang padinya yang siap panen.             Hal yang tidak biasa, datang tiba-tiba. Orang-orang merapat dari segala penjuru. Mereka berkumpul sembari membawa banyak makanan. Dari gerbang pesantren, muncul sosok yang sangat Ana hormati, sang kiai. Beliau melewati gerbang pesantren, yang artinya sebentar lagi akan melewati balkon di mana Ana berada. Menyadari akan hal itu, Ana pun gugup, dia bingung mau melakukan apa. Jika Ana turun, ia akan melewatkan saat-saat ini, tapi jika dia di atas akan sangat tidak sopan. Sejenak Ana berpikir dan akhirnya dia duduk, bersembunyi di balik ruas-ruas pembatas.             “Bismillah ... semoga nggak ketahuan.”  Ana menutup matanya. Keringat dingin mulai mengguyur dahinya. Berjuta doa ia panjatkan agar persembunyiannya sempurna. Ketika Ana sedikit membuka matanya, pak kiai telah lewat. “Piuh .... Alhamdulillah ....”             Tak lama, Ana langsung membuka matanya. Ia mengamati apa yang sedang dilakukan orang-orang di tengah sawah. Meski samar-samar, Ana melihat pak kiai berdoa lalu memangkas segenggam batang padi. Di sana juga ada sebuah asap, mungkin berasal dari dupa. Anehnya segenggam batang padi itu bukannya diletakkan ke karung, malah dibungkus dengan jarit.             Sedetik setelah prosesi yang untuk pertama kalinya Ana lihat, para petani menggelar daun pisang. Mereka bersama romo kiai makan di tengah-tengah taburan mentari senja. Sepertinya sangat nikmat makan bersama di tengah hamparan sawah diiringi oleh empasan angin yang menyejukkan pula. Pemandangan tersebut membuat air liur Ana keluar. Ia pun turun dan masuk ke pondok, hendak mencari makan.             Keesokannya di jam yang sama, Ana kembali ke balkon. Dia muroja’ah sembari menunggu si petani. Ia harap kali ini dia datang. Ana ingin mendengar penjelasan tentang hal yang dilakukannya kemarin. Kali ini Ana harus sabar karena si petani sedang memanen padinya. Tapi itu juga kabar baik, menunggu si petani selesai dengan panennya itu agak lama, sehingga Ana dapat mengkhatamkan muroja’ahnya terlebih dahulu.             Si petani tersenyum melihat Ana setia menunggunya. Jauh di lubuk hatinya ia juga hendak berbincang-bincang dengannya, walau itu hanya satu atau dua menit. Tak enak membuat Ana menunggu lama, ia pun mempercepat pekerjaannya. Tangannya cekatan memotong batang padi dengan ani-ani[1].             Sawah pesantren itu kali ini digarap oleh lima orang. Meski demikian, panen yang menggunakan ani-ani – sebuah pisau kecil yang terselip di batang kayu serta bertangkai kayu, memerlukan banyak waktu. Mereka tetap menggunkan ani-ani karena batang padi yang masih muda tidak akan ikut terpotong. Panen padi itu tak rampung dalam sehari. Ketika kumandang azan bergema, semuanya istirahat.              Ana pun ikut turun. Sejenak ia menikmati mega merah untuk terakhir kalinya. Lalu terburu-buru menuju ke sawah. Sayang, ia tak menyadari bahwa si petani telah berlalu. Dia telah masuk ke pesantren lebih dahulu daripada Ana. “Mungkin lain waktu ....” Ana berbalik. Kecewa. Betapa kagetnya ia ketika seorang berdiri tepat di depannya. Ternyata itu si petani. Dan lagi-lagi ia memunggungi gadis itu.             “Terima kasih telah menungguku,” ucapnya. “Ih PD amat. Siapa juga yang menunggumu, hah?” Ana menyalak, walau itu benar. “Kamu pasti mau bertanya tentang ritual kemarin.” “Sotoy,” tukas Ana ketus. “Kemarin itu bukan ritual, tapi tradisi. Namanya tradisi wiwitan, tradisi yang dilakukan sebelum panen. Tradisi itu bisa mempererat hubungan antar petani. Terkait adanya dupa, fungsinya sama dengan dupa yang ada ketika ziarah. Hanya agar kian khusuk ketika berdoa.”             Ni orang apa satu marga dengan Reni, ya? Selalu menjelaskan meski tidak diminta, batin Ana. “Pembicaraan yang menarik. Duluan, assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumussalam ....” tiba-tiba Ana teringat sesuatu, “eh, ada yang mau aku tanyakan.” Tapi si petani hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik. Ia tetap melangkah menuju pondok. “Dasar orang nyebelin,” teriak Ana. Seperti biasa, si petani hanya menoleh sedikit dan memperlihatkan expresi tersenyumnya sembari terus melangkah lalu akhirnya menghilang di balik tembok pesantren.             Hilangnya rona jingga dari langit, memaksa Ana kembali ke pesantren. Rutinitas pesantren kembali menggeliat. Setoran, deresan, setoran, deresan dan seperti itu terus. Beberapa santri terkantuk-kantuk sudah pasti. Beberapa santri sibuk menggosip, alah sudah biasa. Apalagi sekarang, Ana sudah diajak ngedate oleh Gus Fikri.             “An ... Anaa ....” Alipeh menyenggol-nyenggol temennya itu. “Apaan sih?” “Gus Fikri.” Alipeh memoncongkan bibirnya di dekat telinga Ana dan membisikkan nama itu. “Emm ... daripada kita membahas beliau, mending tanya gimana hasil buruan Reni. Iya nggak Ren?” “Ha?” Reni yang tengah bengong bertanya balik. Alipeh memanyunkan bibirnya. Ia kesal Ana mengalihkan pembicaraan. “Gimana perburuan anakmu?” “Yang bener aja. Masa ngajar TPA dibilang perburuan anak,” protes Reni. “Lagian anak-anak kan suka lari-lari ketika ngaji. Otomatis kamu ngejar-ngejar mereka kan?” Ana menimpali.             Reni mendengus kesal. “Lumayan sih. Semenjak aku pancing mereka dengan iming-iming permen, mereka mau tenang. Tapi ....” “Tapi apa?” tanya Alipeh makin penasaran. “Itu nggak penting, yang penting itu kisah first date-mu lah.” Reni mencubit pipi Ana gemes. “Ayo cerita! Kamu nggak bakal bisa kabur lagi.” Reni murka. “Nah ini yang kutunggu-tunggu. Cepet cerita!” Alipeh mendelik. “Iya-iya, tapi sebelum itu aku ke toilet dulu ya ....” Ana buru-buru pergi sebelum temannya menginterogasi dirinya lagi.             Nahas. Ketika Ana membuka pintu toilet, Alipeh serta Reni sudah sedang menyendehkan pundaknya di tembok. Mereka saling berhadapan dan tangannya menyilang. “Kamu mau kabur, ha?” pergok Alipeh. “Kami sudah hafal siasatmu. Dasar bocah tukang ngibul.” Reni tak kalah garang.  Ana mati kutu. Ternyata strategi kaburnya gagal total. Ia pun berpikir cepat. Ana sama sekali tak mau jika ceritanya menyebar dari mulut ke mulut. Meski mereka mengaku bukan ember, tapi pasti ada aja celah di bibir mereka.             “Eh aku mau ke ...” “Eit, jangan harap kamu bisa ngibulin kami lagi,” tukas Alipeh. “Pokoknya sekarang kamu harus cerita tentang engkau dan dia.” Reni melagukan kata terakhirnya seperti lagu Tentang Aku, Kau, dan Dia milik Kangen Band. Kali ini Ana kalah pintar dengan kedua temannya. Ia pun pasrah. Tak tunggu lama-lama, Alipeh dan Reni menyeret Ana ke loteng. Mereka akan memaksanya untuk bercerita.             Di tengah empasan angin malam, ketiga perempuan itu berkumpul. Dengan satu gelas kopi dan satu piring gorengan, mereka berkumpul. Meski sekali dua kali nyamuk menyerang, Alipeh dan Reni tetap tak terganggu. Konsentrasi mereka penuh menatap Ana yang dilatar belakangi oleh rasi bintang.             Namun Ana hanya bercerita datar saja. Ia tidak membumbu-bumbui dengan aneka gejolak rasa di hatinya. Ana bercerita layaknya guru menerangkan sejarah, berharap agar Reni dan Alipeh bosan lalu terkantuk-kantuk. Meski demikian, harapan Ana terpaksa pupus. Mata Alipeh dan Reni sempurna membulat. Mereka terkagum-kagum dengan Gus Fikri. Cerita yang Ana datar-datarkan tidak membuat mereka bosan dan melepaskan Ana.             “Kamu durhaka banget sumpah, An,” cetus Alipeh.             “Loh, kok aku?”             “Iya. Kebangeten Ana emang.” Reni ikutan mencela Ana.             Ana mengangkat alisnya. Mulutnya memanyun. Ia heran sekaligus sebal disalahkan tanpa alasan yang jelas.             “Kamu ini. Udah diberi kesempatan sama Alloh, harusnya dimanfaatin, bukannya disia-siain. Kan durhaka itu namanya,” cerocos Alipeh.             “Kalau aku jadi kamu ya, An. Sudah kuutarakan cintaku, kasihku, sayangku, dan pengabdianku ke Gus Fikri.” Pandangan Reni mengawang. Ia membayangkan hal-hal manis yang tidak akan ia lalui dengan Gus Fikri.             “Aku punya satu kata empat huruf untuk kalian,” seru Ana. Alipeh dan Reni sontak memandang Ana penuh tanda tanya.             “Alay!” tandas Ana tanpa ampun. Ia puas sekali meneriakkan kata itu. Beberapa air liur sampai keluar dari mulutnya.             Reni dan Alipeh saling bersitatap lalu mengangguk. Entah apa yang mereka pikirkan, tapi Ana hanya memandang mereka penuh dengan tanda tanya.             “Loh, mau dibawa ke mana?” protes Ana ketika Reni mengambil kopi dan Alipeh mengambil sepiring gorengan. “Aku kan ikut patungan beli, woy!” sungutnya.             “Bodo amat.” Alipeh menjulurkan lidah.             “Kami mau pergi agar kehidupanmu tenang bersama Gus Fikri.” Reni mengibaskan kerudungnya lalu berlari kecil takut Ana menyusul.             “Hih!” desis Ana.             Ada satu alasan lain mengapa Ana enggan menyeriuskan hubungannya dengan Gus Fikri. Selain dia masih mempunyai sedikit perasaan dengan Panji, ia juga tak mau mengulang kenangan busuk itu. Kenangan di mana ia harus melepaskan dan merelakan perasaanya. Sudah cukup. Satu kali saja. Ana sama sekali tak mau mengulang. Mungkin Gus Fikri sekarang belum punya calon atau mungkin sudah, tapi Ana dan semua santriwati di sini tidak tahu. Maka dengan keremangan informasi itu, Ana lebih memilih mundur.             Ana mengembuskan napas. Matanya menjamah setiap langit kelam yang kian malam. Dinginnya angin yang mengibarkan jilbabnya, mengabarkan akan turun hujan. Hidungnya sayup-sayup mencium bau tanah. Tes. Satu bulir air menyentuh kulit Ana. Bukannya lari meneduh, gadis itu malah mengabaikannya. Hujan tengah malam selalu memberi kesan lebih. Itulah hal yang selalu Ana yakini.             Bukan apa dan bagaimana hujan turun di malam hari, tapi tentang memori yang terjadi di dalamnya. Ana masih ingat dengan jelas bagaimana detail kejadian malam itu. Saat itu malam jum’at, malam yang begitu syahdu. Santri-santri memakai seragam putih berkumpul semua di teras masjid. Malam itu, jadwal untuk unjuk kebolehan di depan panggung.             Hentak serentak. Riuh menggaduh. Lenguh-lenguh para santri melihat kekonyolan santriwati yang memakai topi dan peci demi meniru tindak-tunduk seorang laki-laki yang menghianati pacarnya. Lalu ada santriwati yang datang dengan gaun super model yang terbuka sana-sini. Uniknya dia tetap memakai kerudung dan kaos. Seperti halnya seorang sinden yang memakai kebaya dan memakai daleman.             “Kau terlalu baik untukku,” ungkap si santriwati yang berperan sebagai cowok.             “Jadi kalau aku jahat, aku bisa bersamamu?” sahut si santriwati sembari bersimpuh. Ia meneteskan insto ke matanya lalu pura-pura menangis.             “Hmm, iya juga ya. Kalau begitu, ayo jadian lagi.” Santriwati yang memakai pakaian gaul itu langsung menghambur, memeluk si santriwati yang berperan sebagai cowo.             “Karena sekarang aku jahat, aku minta uang dong buat mempercantik diri.”             “Nih, ambil! Uang ayahku masih banyak. Awas kalau besok nggak cantik, aku jadikan ....”             “Pacar?”             “Iya lah.” Santri-santri yang jadi penonton tertawa terpingkal-pingkal. Bukan hanya karena percakapan yang tidak nyambung itu, tapi karena aksi lucu para pemerannya.             “Kami persembahan drama malam Jum’at ....” sang narator bersuara di balik panggung. Seorang santriwati yang tadi memerankan wanita modern keluar. Di matanya terdapat dua keranjang besar. Dua keranjang besar itu diangkat sama dua santriwati berbaju serba putih persis seperti background panggung.             “WANITA MATA KERANJANG!” suara narator menggelegar. Para pemirsa langsung tertawa terpingkal-pingkal. Dan tertawa yang paling keras adalah Reni. Lalu dengan segera Ana dan Alipeh memegangi mulutnya.             “Di suatu hari yang cerah, ketika Anisa dan Adon tengah melintas di alun-alun sembari berpegangan tangan, terdengarlah suara adzan. Kedua pasangan kita yang songong ini tidak memedulikannya. Tapi ketika mereka berhenti untuk membeli nasi goreng, penjualnya malah menolak mereka.”             Reka adegan dimulai sesuai dengan apa yang narator bicarakan.             “Yang bener dong, Mas. Kami mau makan nasi goreng. Mas jangan songong dong. Berapa sih nasi goreng ini? Kubayar, mau berapa, sejuta? Nih gue ada!” santriwati yang berpura-pura jadi Adon mengeluarkan uang yang ditumpuk.             “Maaf bang. Saya sudah kaya. Kayaku jika aku sholat tepat waktu ....” si penjual menjeda kata-katanya sebentar. Jeda kata itu diisi oleh tepuk tangan santriwati yang terpesona akan kata-katanya.             “Mending kalian ikut sholat berjamaah sama saya saja yuk!”             “Ih, Mas nya ini. Ini saya sudah diet untuk makan nasi goreng Mas lho,” protes Anisa.             “Diet dengan puasa malah lebih jos, Mbak!” Sepasang kekasih itu memasang muka cemberut.             “Ya sudah deh kalau nggak mau. Saya mau sholat dulu. Kalau mau nunggu, saya persilakan. Kalau nggak, masih banyak abang nasi goreng di sini.”             “Songong banget sih. Nggak laku kapok loe.”             “Yang ngatur rezeki saya bukan sampean Mas, tapi Alloh.” Semua penonton bertepuk tangan tak terkecuali juga Ana.             Drama terus berlanjut. Semua penonton semakin berkonsentrasi. Tidak ada wajah kantuk seperti ketika mengaji. Semua mata melotot menyimak cerita keren dari teman-temannya. Dan di saat itulah hal yang tidak disangka-sangka datang. Seorang santriwati datang tergopoh-gopoh. Ia memecah kerumunan dan matanya jeli melihat wajah yang ada. Ketika ia melihat wajah Ana, tak tanggung-tanggung ia langsung menerobos dan menarik lengan Ana sekencang mungkin. Tanpa penjelasan, tanpa kata apapun, santriwati itu terus menggeret Ana. [1] Sebuah alat tradisional dari Sunda untuk memotong padi 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD