Mobil sedan berwarna putih itu akhirnya sampai. Berpuluh-puluh orang terlihat memenuhi ruang utama masjid. Sebagian ibu-ibu pun datang, duduk bersimpuh di bagian belakang. Anak-anak pun tak luput, mereka ramai berbincang tak peduli orang-orang dewasa yang sedang serius mengikuti pembukaan acara.
Ana yang diikuti oleh seorang santriwati dalem, segera memposisikan dirinya. Gus Fikri telah mengatakan kepada ketua acara bahwa bu nyai berhalangan hadir dan Ana yang menggantikannya. Oleh karena itu, orang-orang langsung mengantar Ana menuju ruangan khusus putri, tempat di mana dia akan melantunkan suara indahnya. Tugasnya cukup mudah, hanya meneruskan juz yang telah dibaca bu nyai.
Pengajian yang mereka hadiri adalah pengajian rutin Ahad Pon. Di sini, masyarakat dengan senang hati berkumpul di masjid. Susunan acaranya cukup simpel, dimulai dengan pembukaan, semaan Al-Qur’an yang nanti akan dipimpin Ana, pengajian, lalu yang terakhir adalah tahlil. Pengajian ini ramai didatangi orang, walau ada beberapa golongan yang menatap sinis acara ini.
Sebenarnya acara pengajian ini tak terlalu pagi-pagi amat. Pengajian Ahad Pon dilaksanakan jam delapan, dan sesuai adat Indonesia, acara itu dimulai jam sembilan. Maklum-maklum saja jika acara mundur satu jam bahkan kadang lebih, mengingat pesertanya adalah petani yang sibuk mengurus sawahnya. Para petani itu biasanya menyempatkan diri berkunjung ke sawah pada pagi buta lalu pulang lagi untuk sarapan. Oleh karena itu, tak mungkin sekiranya jika acara bisa benar-benar on-time.
Sayup-sayup suara Ana mulai terdengar. Suaranya mengalun indah, menutup mulut ibu-ibu yang sedari tadi sibuk ngrumpi. Suara Ana yang sedikit melengking membuat bacannya jelas dan bervariasi. Terlebih Ana hanya memejamkan matanya tanpa sedikit pun melihat Al-Qur’an. Dia pun menjadi pusat perhatian ibu-ibu.
Melihat Ana yang tetap tenang walaupun dikerumuni banyak orang, membuat Fikri tersenyum puas. Ia pun menyimak ayat demi ayat yang Ana baca. Ia amat terpukau. Tak satupun ayat yang salah maupun keliru. Tajwidnya benar, makhorijul hurufnya jelas, dan tartilnya menghanyutkan. Tampaknya gadis mungil berlesung pipi itu menggunakan jenis lagu hijaz.
“Pilihan Umi memang tepat,” gumam Fikri.
Dendangan ayat Ana mengundang semangat Fikri. Ketika sesi pengajian datang, ia pun dapat menyampaikan semua pengetahuan yang ia ketahui. Tuturnya halus, isinya menggugah, dan bahasanya mudah dipahami.
“Doa dalam tahlilan itu bisa sampai kepada si mayit. Kita logika saja dengan keadaan di dunia ini. Dalam dunia ini, sms saja yang barang dunia bisa sampai kepada penerimanya, itu perkara dunia lho, apalagi akhirat,” jelasnya.
“Loh tapi dalam Al-Qur’an nggak ada dalilnya Gus,” protes salah seorang jama’ah.
Gus Fikri tersenyum tenang. Pandangannya halus, menatap ke jama’ah yang bertanya. “Kata siapa ndak ada. Dijelaskan dalam surat Al-Hasyr ayat 10 ‘Bismillahirohmanirrohim. Walladziina jaaa’uu mim ba’dihim yaquuluuna robbanaghfir lanaa wa li’ikhwaaninalladziina sabaquunaa bil-iimani wa laa ta’jal fii qulubinaa ghillal lilladziina aamanuu robbanaaa innaka ro’ufurrokhiim.”
Fikri menatap sekitar. Ia hirup napas sebentar lalu menjelaskan ayat yang barusan ia baca.
“Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa ada anjuran untuk mendoakan orang-orang yang telah meninggal. Doanya dapat dilihat dalam artinya yaitu ‘Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah meninggal mendahului kami.’ Jadi tahlilan pun ada dalilnya.”
Para jama’ah mengangguk-angguk paham.
Sayangnya jama’ah yang tadi bertanya tampaknya belum puas dengan jawaban Gus Fikri. Dan dengan santai serta lembut Gus Fikri meladeninya. Dia lebih banyak mengemukakan logika daripada dalil naqli atau dalil-dalil yang berasal dari Hadis dan Al-Qur’an. Ia sadar masyarakat awam tak mungkin dijejali dengan dalil-dalil syara’ semata.
“Udah gini aja, Mas. Apakah di tahlilan itu ada unsur yang menyalahi Islam?” tanya Fikri.
“Ouh tentu Gus. Seharusnya ketika seorang sedang berduka, dialah yang diberi shodaqoh. Lah tahlilan malah dibalik, yang berduka malah menyuguhkan makanan bagi tamunya. Ibarat tenggelam dimakan hiu pula,” bantah seorang jama’ah itu, disusul dengan gelak tawa jama’ah yang lain.
Lagi-lagi Fikri tersenyum. Kendati lawan bicaranya telah bersungut-sungut, ia masih adem ayem dan tentram menghadapinya. “Maaf ya, Mas. Sepertinya ada kurang jeli melihat prosesi tahlilan. Gini sebelum tahlilan, orang-orang yang bertakziah itu membawa uang untuk dishodaqohkan, anggap saja itu barang mentah. Barang mentah itu lalu diolah oleh keluarga si mayit dan disuguhkan ke tamu-tamunya nanti malam. Alhasil mereka mendapat pahala shodaqoh sekaligus mendapat doa. Jadi bukan sudah tenggelam, dimakan hiu pula, tapi sekali gas, dua, tiga gadis didapat.”
Jama’ah-jama’ah yang lain tertawa lantas bertepuk tangan. Tak hanya para jama’ah, Ana pun ikut terkesan melihat bagaimana Gus Fikri menghadapi jama’ah yang berawatak keras.
“Baik, mengingat waktu yang sudah masuk sholat dzuhur, mari kita akhiri pengajian kali ini,” tutup Fikri.
Dia menakupkan kedua tangannya lalu berdoa.
Pengajian rutin Ahad Pon itu, berakhir damai. Para jama’ah mengambil air wudu, sholat lalu makan makanan bersama. Cara menyantapnya pun sangat unik. Di serambi masjid, tergelar daun pisang yang ditata memanjang, di atasnya terdapat nasi lengkap dengan lauknya. Fikri yang telah akrab dengan masyarakat, tidak perlu dikhusus-khususkan. Ia pun turut terjun, makan bersama mereka.
Lagi-lagi ketika melihat watak Gus Fikri yang begitu lembut dan menyejukkan, membuat Ana sekian kalinya terpesona. Berulang kali ia melihat dan mendengarnya bersenda gurau dengan jama’ah.
“Jadi kapan, Gus?” tanya seorang jama’ah.
Ana mendadak tersedak mendengar gurauan yang sengaja dikeraskan itu.
“Kapan?” Fikri mengangkat alisnya.
“Wah Gus jangan pura-pura lah. Itu loh yang tadi diajak,” timpal jama’ah yang lain. Dia sengaja mengeraskan suaranya.
Para jama’ah saling bersitatap lalu tertawa.
“Moga saja secepatnya nggeh, Gus.”
“Aamiin.” Fikri pun turut mengamini.
Apa kupingku salah dengar atau kupingku lagi eror ya? Mana mungkin sih tadi Gus Fikri ikutan mengamini. Nggak-nggak. Pasti mata sama kupingku aja yang lagi eror” Ana mengibas pikirannya.
Apesnya, perkataan itu tak berperan banyak. Hatinya berulang kali merajuk untuk bertanya. Ia ingin memastikan apa tadi dia memang salah dengar ataukah memang Gus Fikri tadi ikutan mengamini.
Pengajian benar-benar berakhir. Jama’ah-jama’ah pulang dengan ilmu baru juga dengan perut kenyang. Wajah mereka berseri-seri. Tanda bahwa mereka puas dengan pengajian kali ini. Kerukunan mereka semakin terjalin erat karena selalu bahu-membahu serta bertukar sapa dengan tetangga jauh. Hal itu tidak akan terjadi, kalau tidak ada tempat yang membuat mereka berkumpul.
Ukhuwah insaniyah dan ukhuwah wathoniyah dapat dikuatkan lagi. Pengajian Ahad Pon itu, bermakna lebih bagi para jama’ah. Dapat dibilang di sinilah yang belum pernah makan daging bisa makan daging, meski hanya sebulan sekali. Maklum ada beberapa fakir miskin yang turut ikut serta. Kadang-kadang Fikri pun menyumbang beberapa kilogram daging untuk dimasak.
Diiringi oleh salam kecup dari para jama’ah Gus Fikri melangkah menuju mobil. Anehnya ketika tangannya hendak dikecup, dia malah menghindar dan berusaha mengecup balik tangan bapak-bapak jama’ah itu.
“Kenapa tadi mengecup tangan mereka balik, Gus?” tanya Ana ketika di mobil.
“Apa pantas, An? Masa yang lebih muda dikecup? Meski dalam ilmu agama, mereka memandang aku yang lebih tinggi, namun sesungguhnya mereka lah yang lebih tahu daripada aku. Usia mengajarkan segalanya, An,” jawab Fikri.
Kali ini Ana tak dapat berkomentar lagi. Mulutnya sempurna terkunci oleh rasa kagum yang menggebu-gebu di dadanya.
Rasa kagum itu membuat Ana takzim dan mengurungkan keinginannya untuk bertanya. Padahal dia telah menahan diri sejak sebelum sampai di masjid ini.
Ah ... sudahlah. Toh pertanyaanku nggak ada faedahnya. Ana mendinginkan perasannya sendiri. Ia pun tersenyum dan hanya memandang ke depan. Dia sempurna diam, hatinya tak henti-henti mengucapkan hamdalah. Ia merasa beruntung dapat bertemu dengan Gus Fikri.
Senyum yang teramat manis itu mampir di mata Fikri. Sungguh, untuk pertama kalinya, hatinya berdesir melihat senyum seorang perempuan selain ibunya. Entah kenapa rasa bahagia karena membuat senyum itu merekah, membuat Fikri merasa sangat tenang. Sayang, diam adalah satu-satunya cara menyampaikan bahwa dia sangat bersyukur ada Ana bersamanya.
Mungkin sudah menjadi rahasia umum jika perjalanan pulang jauh lebih singkat daripada perjalanan pergi. Mungkin hanya perasaan atau mungkin karena memang demikian. Entahlah yang jelas itu masih menjadi misteri. Maka tak perlu lama-lama, mobil sedan berwarna putih itu telah berada di parkiran pondok.
Melihat Ana pulang, Alipeh dan Reni langsung menggadang-gadangnya. Mereka telah menunggu-nunggu saat-saat ini, saat-saat untuk menginterogasi Ana.
“Bagaimana?” tanya Reni tak sabar.
“Apanya yang bagaimana?”
“Ya elah, pura-pura nggak paham segala. Dasar ratu drama,” protes Alipeh.
Ana terkekeh. Ia pun menatap temannya secara bergantian lalu kabur.
“Ana, cerita!!!” teriak Alipeh sembari mengejarnya.
“Kalau nggak mau cerita, kutipuk pake sendal.” Reni pun turut mengejar Ana.
Ana tak menghiraukan teman-temannya. Hatinya terlalu penuh dengan bunga untuk mengungkapkannya sekarang. Maka dari itu, ia langsung lari terbirit-b***t. Secepat kilat ia mengambil mushaf, lalu ke balkon pondok tempat favoritnya. Namun ia malah tidak hafalan. Matanya sibuk mengawang, menggambarkan setiap lekuk wajah Gus Fikri di langit.
Apakah ia tengah jatuh cinta? Ana pun tak tahu. Hanya saja ketika awang-awangnya semakin menjauh, ia langsung ditarik kembali ke kenyataan. Panji entah di mana, mungkin masih menantinya. Menanti dirinya menjadi hafizah.
Senyum Ana memudar. Mata bulatnya yang tadi tengah mengukir wajah Gus Fikri, meredup. Dengan cepat mulutnya mengucap istighfar.
Ya muqollibal qulub, Tsabbit qolbi ‘ala diinik.
Ya Alloh, tolong tenangkan hatiku kepada agamamu. Dan tolong jaga hatiku agar tetap bersama Kang Panji. Karena pengorbanan dia lah, aku bisa berada di pondok ini, mengeja setiap kalam-Mu yang agung. Amiin.
Doa Ana menggetarkan semesta. Betapa tidak. Ana sendiri tak yakin dengan doanya. Matanya penuh menatap langit. Ia ingin sekali mencari jawaban di antara awan-awan itu. Sayangnya jawabannya masihlah samar, bahkan mungkin tidak ada.
Telepon beberapa waktu lalu, begitu menggetarkah hati Ana. Ia sama sekali tak mampu menerka apa yang berusaha Panji sampaikan dengan maafnya. Tapi layaknya air bening yang dibiarkan terus-menerus, lama kelamaan juga akan keruh. Seperti itulah Ana. Semakin lama Ana tak menemukan jawaban, maka setan yang siap berbisik untuk menjelek-jelekkan Panji.
Astaghfirulloh ....