Part 3

1008 Words
Pagi ini semua terasa berbeda dari sebelumnya. Doni dan istrinya sudah duduk di meja makan untuk sarapan sementara satu-satunya anak mereka tidak kunjung keluar dari kamar. Satu minggu setelah peristiwa itu. Bianca lebih banyak menyendiri di kamarnya. Setelah pulang bekerja dia akan langsung masuk ke  kamar dan mengurung dirinya. Sementara Doni, dia seperti menjauh dari sang putri. Janeta sang Ibu tidak bisa berbuat banyak.  Gerakan tangan Doni yang hendak mengambil gelas terhenti melihat penampilan putrinya. Bianca memakai celana jeans sebagai bawahannya lalu memakai kaos lengan panjang di tambah sweter dua lapis sebagai atasannya. Dia duduk berhadapan dengan mamanya.  "Bi, kamu yakin mau pakai itu ke kantor?" tanya Janeta mengerutkan keningnya. Ini musim kemarau, dimana panas di kota itu bisa mencapai 31 derajat celcius. Bianca menunduk melihat penampilannya. Menurutnya tidak ada yang salah. Justru dia ingin menambahkan sweter lagi untuk menutupi tubuhnya, dia merasa seperti telaanjang jika tidak memakai pakaian berlapis.  "Ada yang salah dengan pakaian aku, Ma?" tanya Bianca bingung. Janeta dan Doni saling berpandangan.  "Kamu tidak merasa gerah dengan baju berlapis begitu, Sayang?" Bianca menggeleng. Sejak dia melihat fotonya yang tidak memakai pakaian di tunjukkan Alex, Bianca mulai merasa tidak nyaman dengan gaya berpakaiannya dulu. Dia merasa seperti tidak memakai baju kalau hanya memakai pakain satu lapis. Bianca kehilangan kepercayaan dirinya. Setiap ada yang menatapnya buru-buru dia akan memerika penampilannya. Terkadang dia bertanya-tanya. Apakah orang melihatnya telanjangg? Siapa sangka foto itu merusak kepercayaan diri Bianca sangat dalam.  Doni menyelesaikan sarapannya lalu berangkat ke kantor lebih dulu. Bianca melihat papanya dengan tatapan sendu. Seperti ada jarak yang diciptakan papanya. "Papa sepertinya sangat membenciku, iya, Ma," kata Bianca.  "Tidak, Sayang. Papa sangat menyayangi kamu. Dia hanya kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi kamu." Janeta mengusap tangan putrinya. Menguatkan anaknya agar tidak putus asa.  "Ma, bagaimana kalau aku pergi saja."  "Pergi ke mana, Sayang?" "Ke tempat di mana tidak satu pun orang yang mengenaliku. Di sini, aku merasa malu setiap bertemu orang. Aku merasa tidak memakai baju saat mereka menatap ku lebih lama."  "Itu sebabnya kamu memakai baju berlapis seperti itu?" Bianca mengangguk dua kali. Janeta tersenyum menutupi sakit hatinya.  "Itu tidak benar, Sayang. Tidak ada yang memandang kamu seperti itu." Yang tidak keduanya ketahui adalah bahwa Doni belum benar-benar pergi. Dia masih berdiri di balik tembok yang menjadi pemisah dapur dan ruang keluarga. Pria paruh baya itu mengepalkan tangannya kuat. Doni tidak akan pernah memaafkan Alex.  "Sudah jangan berpikiran buruk. Sekarang kamu harus berangkat ke kantor sebelum terlambat." Langkah Bianca berat keluar dari rumahnya. Rasanya benar-benar tidak nyaman meninggalkan rumah itu. Tempat ternyaman untuknya bersembunyi dari banyak orang.  Begitu tiba di kantor, pandangan orang-orang di sana semakin membuat Bianca tidak nyaman. Semakin banyak orang memperhatikannya semakin dia ketakutan. Bianca melarikan dirinya ke toilet bersembunyi di sana hingga satu jam. Berusaha menenangkan dirinya dari ketakutan yang membuatnya sampai menggigil. Keringat dingin mengucur dari kening Bianca saat dia kembali ke meja kerjanya. Tidak, Bianca tidak bisa menahan ini terus menerus. Dia akhirnya berdiri lalu mengambil tasnya. Dia akan berhenti bekerja. Bianca tidak bernai bertemu dengan orang lagi. Rasa malu, rasa takut karena foto telanjang itu membuatnya bisa mengangkat wajahnya di hadapan orang lain.  Doni mendengar kabar itu dari sekretarisnya. Kabar bahwa putrinya lari dari kantor seperti orang ketakutan. Doni menghela napasnya kasar. "Kamu sudah mendapatkan buktinya?" tanya Doni pada sekretarisnya sekaligus orang kepercayaannya. Pria berusia empat puluh tahun itu mengangguk. "Saya mendapatkannya, Pak. Ini adalah rekaman dimana Nona Bianca di bawa masuk ke dalam apartemen oleh tuan Alex. Apartemen itu terdaftar atas nama Alexander Harisson." Jhon— sekretarisnya memberikan semua bukti yang dia dapatkan kepada Doni.  Doni mengambil berkas itu, wajahnya mengeras mengingat begitu santainya Alex mempermalukan putrinya. Tidak merasa takut atapun merasa bersalah telah menghancur Bianca. "Pak, apa yang Anda lakukan." tanya Jhon menunggu perintah pria itu. Dia siap melakukan apapun utuk bosnya karena Doni telah banyak membantunya. Doni menggeleng seraya tersenyum sendu.  "Aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri, Jhon." Wajah Doni terlihat begitu dingin, seolah tidak ada emosi di sana. Jhon mengangguk lalu pamit keluar dari ruang kerja Doni. Sepeninggalan Sekeretarisnya, Doni duduk termenung. Apa kesalahan putrinya sehingga Alex tega melakukan hal seperti itu pada anak kesayangannya itu? Apa hanya karena Bianca mencintai Alex? Sehingga pria itu tega merusak anak satu-satunya yang dimiliki Doni. Memberikan Alex pelajaran sama dengan merusak persahabatanya dengan Lukas yang sudah terbangun puluhan tahun. Antara sahabat dan putrinya, Doni harus memilih salah satu.  *** Bianca duduk di kamarnya menghadap jendela, memandang keluar. Dia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Tidak pernah sekali pun dia melupakan perbuatan Alex. Tidak ada air mata lagi, dia sudah lelah menangisi kebodohannya yang mencintai pria itu selama bertahun-tahun. Sesekali Bianca menertawakan dirinya lalu diam dan termenung. Janeta berdiri di ambang pintu kamar Bianca. Dia melihat putrinya dengan tatapan khawatir.  Janeta mengetuk pintu kamar Biancca untuk mengalihkan perhatian perempuan itu. "Mama?" Bianca berbalik lalu memberikan senyum tipisnya pada wanita yang sudah melahirkannya itu.  "Makan siang sudah Mama siapkan. Kamu mau makan di bawah atau di sini?"  "Di sini," jawab Bianca cepat. Bianca bahkan takutdan merasa malu bertemu dengan pekerja rumahnya.  "Iya sudah. Nanti Mama akan minta Mbak Ina mengantar makan siangmu ke sini." Bianca menggeleng.  "Jangan! Jangan Mbak Ina. Mama saja yang mengantarnya," kata Bianca seperti orang ketakutan. Janeta mengangguk, lidahnya kelu untuk mengatakan sepatah kata pun. Janeta keluar dari kamar putrinya lalu menyiapkan makan siang putrinya sambil menahan air matanya. Hatinya hancur melihat kondisi Bianca. Janeta mengusap air matanya, dia tidak ingin Bianca melihatnya sedih.  "Kamu harus makan banyak. Lihat, kamu semakin kurus," kata Janeta meletakkan makan siang yang sudah dia siapkan di hadapan Bianca.  "Terima kasih, Ma," ucap Bianca pelan. Bianca makan dalam diam di temani mamanya.  "Teman Mama nanti akan datang, kamu mau, iya menemuinya." Bianca sontak melihat mamanya.  "Tidak perlu takut, Sayang. Dia tidak akan menyakitimu atau memandang buruk dirimu. Dia orang baik." Bianca mengangguk setuju. Meskipun sedikit ragu. Janeta tersenyum  lalu mengelus kepala putrinya sayang. Sebenarnya orang yang akan menemui Bianca adalah psikolog. Doni dan Janeta memutuskan untuk melakukan konsultasi melihat keadaan Bianca yang semakin memburuk. Bukan fisik perempuan itu akan tetapi, mentalnya.  Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD