001:
Edward melirik kertas ujiannya di tangan Jack. Memandang hasil raport semester ganjilnya, ia tidak heran lagi apabila nilai ujiannya akan mencengangkan seisi kelas.
"Widih!! Ed, lo dapat nilai sempurna lagi?!!" Ujar sahabatnya sambil mengangkat tinggi kertas ujiannya.
Edward tertawa geli. Menyikut Jack, ia mengambil kertas ujiannya dan menyimpannya dalam tas. "Kau luar biasa berlebihan"
"Lebih bagus berlebihan daripada menjadi pangeran bucin kayak kamu," cetus Jack jengkel. Duduk di kursi sebelahnya, ia menopang dagunya sembari memperhatikan jam dinding yang berdetak.
TENG-TENG-TENG!!
Bel sekolah bergema di seisi sekolah. Murid-murid membanjiri lorong secepat kilat. Tersenyum riang, Edward berlari menuju ambang pintu kelasnya. Meneriaki nama adik kelasnya yang berada di ujung lorong.
Tersipu malu, perempuan berkacamata itu memalingkan kepalanya dan berbalik arah. Akan tetapi lirikan matanya melekat pada sosok berambut cokelat yang melambaikan tangannya tinggi memanggilnya sampai ia hilang dari pandangan.
"Oi, pangeran- Mau sampai kapan buncinnya? Ayo piket!" Panggil Jack sembari menyeret Edward kembali kedalam.
"Iya, iya.. Aku nggak lupa kok. Lagian hari ini kan cuman kita berdua aja"
"Tsk, nggak lupa apanya. Kalau nggak ku panggil pasti udah langsung keluar kelas"
Edward mengangkat alisnya melihat Jack mulai sebel. Tangannya meraih sapu di pojok ruangan, meminta maaf pada temannya agar ia tidak lagi kesal. Jack mengiyakannya singkat. Menyuruhnya menyapu, matanya mengikuti gerak-gerik Edward selama beberapa saat.
Ruangan hening dan mentari senja menyinari kelas. Suasananya terasa sedikit tegang dan santai di saat bersamaan. Menemukan Jack memperhatikannya sedari tadi, ia memintanya berhenti menatapnya.
"... Baik, kau menyebalkan sekali"
"Apa ada masalah? Kau bisa mengatakannya padaku"
"... Bukannya kau bisa membantuku juga. Ini bukan apa-apa"
Edward tersentak kecil. Menoleh pada Jack, ia menangkap sesuatu yang salah. Tetapi ia tidak mampu menanyakan lebih dari ini sebab ia tahu ia adalah penyebab Jack bersikap begini.
"Hei.. Kau mau ke kafe habis ini?" Tanya Edward, mengalihkan topik pembicaraan. Sayangnya, Jack tidak menanggapinya. Hingga sampai akhir piket, ia diacuhkan olehnya.
Tidak tahan lagi, ia menghela nafas panjang. "Apa kau baik-baik saja? Kau mengkhawatirkanku"
Jack menghentikan langkahnya menuju pintu. Kepalanya tertunduk. Ia menggigit bibirnya sebelum mengatakan sesuatu yang membungkam Edward.
.
.
.
"—— Bisakah kau menjauh dari Liana?"
Jack berbalik menatap sahabatnya. Keduanya membeku di tempat. Beribu pertanyaan menyerbu benak Edward. Membuka mulutnya, ia tidak bisa menjawabnya satu kata pun. Ia tidak bisa melakukan hal yang diminta sahabatnya.
Bagi Edward, tiada orang yang dapat menggantikan adik kelasnya yang ia cintai. Liana adalah seseorang yang mengisi kekosongan dalam hidupnya. Setiap kali ia bersamanya, ia merasa sangat bahagia. Ia adalah orang yang mengambil hati Edward.
Seseorang yang dapat melihat Edward dibalik semua topeng yang ia kenakan. Perempuan dingin tersebut dapat melihat dibalik kebohongannya.
"Ed, mengapa kau menyukainya?"
"... Aku.. sudah lama berakting. Aku selalu merasa hampa akan semuanya padahal akulah yang membangun diriku seperti ini. Tetapi rasanya berbeda dengannya"
Bersamanya, ia bisa menjadi dirinya sendiri. Ia tidak perlu berakting sebagai seorang Santo ataupun pria sempurna dengannya.
Namun, bukan berarti ia melupakan sahabatnya yang selalu bersamanya. Jack adalah orang paling dekat yang ia punya. Keduanya mengenal satu sama lain seperti telapak tangannya sendiri. Ia tidak ingin hubungan mereka pecah sebab sebelum Liana, dialah orang pertama yang menerimanya.
"Mengapa.. kau menanyakan pertanyaan ini?"
".... Haaa.. Kau sungguh menyebalkan, pangeran"
Jack mendesah panjang. Menggaruk belakang kepalanya, ia berjalan mendekati Edward dan menepuk pundaknya. " Kau adalah orang yang baik. Tetapi aku tidak akan kalah darimu"
"Apa? Apa maksud-"
"—— Aku mencintai Liana lebih dibandingkan dirimu"
"!!!..." Edward membesarkan matanya. Tangannya berkedut, tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
'Bagaimana sekarang?'
Pertanyaan itu muncul sewaktu tubuhnya terasa mati rasa dari perkataan yang memahitkan dirinya.
"Sejak kapan?"
"Lebih lama daripadamu. Dibandingkan apapun, aku tidak ingin melepaskannya"
Edward tidak percaya perkataan itu muncul dari mulut sahabatnya sendiri. Ia tidak bisa mendeskripsikan perasaan meluap ini. Memaksakan senyum tipis, ia mengangguk pelan meresponnya.
"Aku akan mempertimbangkannya," jawabnya dengan suara kecil. Meraih tasnya, ia berjalan melewati Jack sambil menunduk. Ia tidak mampu melihat kebelakang.
Liana adalah orang yang ia cintai. Nakun sebelumnya, ada satu orang terpenting yang ada dalam hidupnya. Ia tidak ingin hubungannya dengan sahabatnya rusak akibat hal sepele ini. Jack adalah sahabatnya yang paling berharga.
".. Apa yang harus kulakukan?"
********
.
.
.
Edward terbaring lemah. Ia tidak bisa tidur semalaman dan matahari sudah duluan terbit. Tidak menunggu alarm nya berbunyi, ia segera turun dari ranjangnya. Kakinya melangkah menuju dapur gelap.
Tidak ada orang disini selain dirinya sendiri. Orangtuanya terlalu sibuk bekerja. Mereka tidak pernah pulang dalam 10 tahun terakhir. Yang mereka tinggalkan hanyalah uang untuk Edward gunakan dalam tabungan.
Edward tidak membenci orangtuanya. Ia mengerti dan berterimakasih pada mereka. Ia tahu orangtuanya bekerja banting tulang demi dirinya. Meskipun ia tidak menyukain kesepian yang mereka berikan, ia tetap menyayangi mereka.
"HOAM.. s**l- Makan malah tambah ngantuk"
Edward melirik jam dindingnya menunjukkan pukul 6 pagi. Ia tidak bisa tidur lagi maupun ia memiliki niat pergi ke sekolah. Hari ini adalah hari festival seni. Sebagai ketua klub teater, ia tidak bisa tidak menghadiri acara ini karena klubnya diminta menyumban sebuah drama.
Rencananya, ia akan menembak Liana setelah drama kelasnya selesai. Sayangnya, rencana tersebut berakhir di tong sampah dalam waktu sedetik setelah keluar dari kelas.
".. Aku tidak ingin bertemu siapapun hari ini- Aku terlihat sangat menyedihkan"
Edward berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Melihat refleksinya di cermin, ujung bibirnya secara refleks terangkat naik- berusaha menampilkan ekspresi 'normal' nya. Tapi kali ini, ia tidak bisa menyembunyikan kelelahannya dibalik senyuman. Dari luar sampai dalam, ia merasa keterlaluan kosong.
Memaksakan dirinya untuk pergi melakukan rutinitasnya, ia mandi dan mengenakan seragam sekolah. Tidak lupa, ia mengenakan jam tangannya sebelum berangkat ke sekolah melalui sepeda.
Sesampainya di depan gerbang, ia langsung disapa oleh keramaian lapangan. Sejenak, tubuhnya membeku dan jantungnya berdegup cepat. Pandangannya terjatuh pada sosok adik kelasnya dalam seragam OSIS.
Edward melambaikan tangannya ketika mata mereka bertemu. Ia menahan langkah kakinya untuk menghampirinya. Sebelum Liana sempat melambaikan tangannya balik, ia sudah lebih dulu berjalan pergi.
Sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan muncul. Ia tidak pernah menyadari ternyata mencintai seseorang begitu menyakitkan. Ia tidak mengenal nama perasaan ini. Seakan-akan ia tidak pernah memiliki tubuh ini.
Perih setiap kali ia bertemunya dan hampa setiap kali ia tidak bersamanya. Sayangnya, ia tidak bisa bersamanya. Edward baru menyadari ia sangat terikat pada Liana dalam segala hal.
——Ia menamakan perasaan berdenyut dalam hatinya itu cinta.