Jakarta 08.00.am
Menjelang pagi hari, seperti perintah Arvino, Wanita berhijab ini sudah berada di KUA. Hasbiya sudah berbalut kebaya sederhana dikenakannya sedangkan Arvi dengan setelan jasnya.
Mereka tinggal menunggu antrian, Hasbiya juga sudah membawa pamanya sebagai wali. Wanita itu anak yatim piatu, tidak punya siapa pun. Untungnya pamannya mau datang dari kampung setelah di telpon Hasbiya.
"Tuan, ini masih lama." Tanya Hasbiya merasa gerah dengan kebaya yang di belikan Arvino.
Bagaimana tidak, walau tampak sederhana, bahannya cukup tebal hingga Habisya merasakan panas.
"Tunggu aja." Singkat Arvi.
Drrttt.. Drrttt.. Drrttt..
Sedari tadi ponsel Arvi selalu bergetar. Siapa lagi yang telpon berulang kali. Tentu saja Lintang, tanpa ragu menganggu Arvi.
Tak lama giliran mereka melakukan akad nikah sederhana. Tidak ada pesta, hanya sebuah akad nikah yang sederhana.
Setelan mengucap ijab kabul, pernikah kedua ini sah dimata agama maupun hukum. Tidak ada keraguan lagi dihati Hasbiya.
Ia benar-benar yakin jika Arvino pilihan Allah untuknya. Apalagi setelah ia melakukan sholat istikarah, hatinya lebih tenang dan yakin.
Kedua suami istri ini telah berada di dalam mobil.
"Pak, tolong antar kerumah lama Hasbiya tempati." Perintah Arvi pada Supirnya Pak agus.
"Baik, tuan." Jawab Pak Agus.
"Mau pulang kerumah Saya."
"Iya." Ketus Arvi.
'Ya Allah nih orang aneh, kadang baik, kadang nyebelin kayak sekarang. Huft.. kesal.' Batin Hasbiya memanyunkan bibirnya.
Arvino sesekali menatap Hasbiya yang memalingkan wajahnya dari Arvino. Ia memandang bibir Hasbiya yang memanyun.
Kontan Arvi meletakan jari telunjuknya dibibir Hasbiya, membuat istrinya itu berdebar, Hasbiya tak mengontrol deruhan nafasnya terasa sesak.
Jantungnya berdetak hebat, perasaan yang tak bisa dimengerti. Perasaan yang tak pernah dirinya rasa begitu hebat pada mas Danu sekali pun suaminya dulu yang telah meninggal.
"Ini bibir jangan manyun jelek." Arvi berseru seraya mengulum senyumnya.
"Tuan, jangan begini." Ucap Hasbiya merasa tak enak.
"Kenapa?? Aku suamimu, tidak ada yang salah." Arvino semakin mendekatkan wajahnya pada Hasbiya, membuat wanita itu semakin tak karuan.
Sepertinya Arvino sengaja melakukannya, ia tak sedikit pun mencintai Hasbiya mana mungkin ingin melakukan suatu yang aneh pada perempuan satu ini.
"Tu--tuan." Gugup Hasbiya sambil mendorong d**a Arvi perlahan.
"Setelah ini kau ganti baju, kita akan kekantor. Dan jangan lupa kemasi barangmu, mulai Hari kamu tinggal di rumahku." Ujar Arvi lalu memundurkan wajahnya.
Deg..
'Hah..?!? Ternyata dia hanya ingin bilang itu, astaga.. Hasbiya bodohnya kau sudah ketakutan seperti apa.' Pikir Hasbiya serayaa menepuk jidatnya menyadari kebodohannya.
Tak beberapa mereka sampai dirumah yang tidak terlalu mewah. Ya.. itu rumah yang pernah Arvi pada Hasbiya.
"Tunggu sebentar, tuan. Saya ganti pakaian dulu."
"Hhmmm.. aku tunggu dimobil saja. Cepat sedikit Hasbiya." Seru Arvi pada Hasbiya.
'Tuan' perempuan ini memang bin ajaib, kenapa dia masih memanggilku tuan, padahal aku sudah menjadi suaminya. Benar-benar berbeda dengan Lintang.' Gumam Arvino dalam hati.
"Astaga, aku lupa. Lintang dari tadi menelponku." Gusar Arvino.
Dengan cepat ia meraih ponselnya, dilihatnya sudah 35 panggilan tak terjawab dari Lintang semua.
"Halo, Lintang Aa--"
"Arvino Anggaro darimana saja." Teriak Lintang diseberang sana.
"Maaf, aku sedang meeting tadi."
"Sepagi itu."
"Sudahlah aku tak ingin berdebat." Kesal Arvi.
"Ah.. baiklah, itu lebih bagus. Besok pagi aku akan pulang tolong kirim supir ke bandung." Pinta Lintang.
"Hmm."
Telpon terputus begitu saja, sepertinya Arvi mulai terbiasa dengan hal itu.
"Tuan, aku sudah selesai." Ucap Hasbiya dengan nafas tersengal-sengal.
Habisya berburu ketika membereskan barangnya, apalagi Arvi memintanya untuk cepat. Hingga ia tak bisa mengatur nafasnya sendiri.
"Hasbiya, Ada apa dengan nafasmu." Tanya Arvi heran.
"Tuan, kan meminta untuk cepat jadi saya terburu-buru." Jujur Hasbiya.
Arvino menggeleng dengan kelakuan Hasbiya. "Ya sudahlah. Kalau begitu sekarang ke kantor. Ingat Hasbiya Jangan ada yang tau jika kita menikah." Gertak Arvi.
"Baik, tuan."
Saat itu jalan Jakarta, sangat macet. Banyak motor yang berlalu lalang. Cuacanya juga panas, hingga Arvino menyalakan AC mobilnya dengan full.
Tapi ternyata masih saja Arvino kepanasan, hingga ia membuka jas dan kancing kemeja sedikit.
Tertampak dadanyaa yang bidang membuat Hasbiya tertegun. Ia rasanya tak sanggup melihat pemandangan ini.
Wanita itu memalingkan wajah kejalan sedangkan Arvino memejamkan matanya sejenak sambil bersender di dikursi belakang mobilnya.
Menunggu cukup lama, akhirnya kedua orang ini sampai didepan kantornya.
"Hasbiya, turun. Saya ingin bicara dengan Pak Agus." Pinta Arvi.
Hasbiya turun lalu pergi segera mungkin. Untuk menghindari pertanyaan Anisa, ia berusaha menghindari wanita itu. Namun sepertinya Anisa lebih dulu melihat Hasbiya.
"Hasbiya." Panggil Anisa pada Hasbiya.
"Eh, Anis. Ada apa."
"Tumben telat, kenapa."
"Kesiangan." Ucap asal Hasbiya.
"Hah.." Anis menatap curiga pada Hasbiya yang terlihat gelisah.
"Kesiangan, seorang Hasbiya bisa kesiangan. Bukannya kamu selalu bangun subuh."
Ya Ampun bisa-bisanya Hasbiya melupakan hal itu, kenapa mulutnya bicara tanpa berpikir.
"Sudahlah, Anis. Aku buru-buru udah telat." Tutup Hasbiya lalu pergi begitu saja.
Huh...
Hasbiya menghembus nafas panjang. Ia benar-benar lega, rasanya takut Anisa melontarkan banyak pertanyaan pada dirinya.
Sambil berjalan menuju lorong kantor itu, pikirannya kembali melayang pada Arvino bos perusahaan ini sekaligus suaminya.
'Hidup itu aneh, disaat dirinya telah terpuruk kepergian seorang. Seorang yang lain datang kehidupanku tanpa diundang. Tidak ada cinta, hanya meminta sebuah ikatan.'
Berbeda dengan Arvino yang masih didalam mobil. "Pak Agus, nanti sore ke Bandung ya. Jemput Lintang, dia ada di Bandung."
"Tapi, tuan. Gimana..??"
"Saya bisa pulang menggunakan mobil kantor." Jawab Arvino.
"Oh ya.. tolong koper Hasbiya bawa pulang kerumah, bilang bi Siti letakkan dikamar atas. Bereskan sekalian." Ucap Arvino seraya memasang jasnya yang rapih.
"Baik, tuan."
Arvino pun langsung keluar dari mobilnya dengan sangat elegan. Semua mata memandangnya, ketampanannya memikat kaum hawa.
Mungkin ini hal gila yang dilakukan Arvi. Ia memanfaatkan Hasbiya untuk mendapatkan cinta Lintang yang telah memudar.
Entah kenapa ia sanggup melakukan mempermainkan pernikahan yang sakral ini. Sedangkan Hasbiya wanita yang menjunjung tinggi dan menghormati pernikahan tentunya.
Bagaimana jika Hasbiya mengetahui hal itu, Apa mungkin marah besar. Apalagi jika Lintang tahu kehadiran Hasbiya, Tidak tahu semarah apa lintang pada Arvino.
Kegusaran yang didapat Arvino, sedikit membuatnya frustasi. Ada sedikit penyesalan didadanya, tapi sudah sangat terlambat semua itu.
Arvino memasuki ruangannya, ia mendarat dikursi kebesarannya. Sebelumnya ia menatap Hasbiya yang sibuk dengan kerjaanya. Ada rasa pedih melihat keluguan Hasbiya.
Tok.. Tok.. Tok..
Arvino masih termangu, ia tak mendengar ketukan pintu diluar sana.
"Tuan, ada berkas ditanda tangani." Ucap Hasbiya membuat Arvino tersadar dari lamunanya.
"Hasbiya, sejak kapan disini."
"Baru, tuan." Ucap Hasbiya tertunduk.
"Saya tadi sudah mengetuk tapi tuan tak menjawab jadi.."
"Jadi kau mutuskan untuk masuk." Potong Arvi.
Hasbiya mengangguk tegas. Kepalanya masih saja tertunduk.
"Ini, kembali ke tempat. Dan ia nanti makan siang bersamaku, ada yang ingin ku bicarakan." Pinta Arvino.
Dan Hasbiya pun kembali ke tempatnya. Ia benar-benar salah tingkah berhadapan Arvino.
***