Setelah kericuhan terjadi diluar kantor akibat tengkulak dari desa Hasbiya, wanita itu menemui Arvi yang sudah didalam ruangannya.
Tok.. Tok.. Tok..
Hasbiya mengetuk pintu ruangan yang tertutup rapat, ia masuk setelah ada jawaban dari Arvi.
"Masuk."
"Boleh saya masuk, Tuan." Tanya Hasbiya memasuki kepalanya lebih dahulu.
"Masuklah." Jawab Arvi yang tengah duduk dikursi kebesarannya.
"Tuan, saya cuma mau terima kasih atas pertolongannya. Saya janji akan kembalikan uangnya." Seru Hasbiya dengan lembut.
Oh.. Sepertinya ini kabar baik untuk Arvino Anggaro. Bagaimana tidak, tentu saja ini kesempatan yang baik untuk bisa dimanfaatkan dirinya.
"Tentu.. kau harus membayarnya tapi tidak dengan uang." Seru Arvi dengan culas.
"Maksud, tuan." Hasbiya mengkerut dahinya bingung.
"Menikah denganku." Kontan Arvi memandang Hasbiya.
"Apa.." Jerit Hasbiya.
Ternyata Arvi masih menginginkan Hasbiya menjadi istrinya, ia berpikir selama ini Arvi sudah lupa untuk menikahinya.
Celakanya Hasbiya merasa terjebak, ia sungguh tak percaya dengan semua ini.
"Jangan kaget."
"Tapi, tuan. Permintaan anda tidak masuk akal."
"Kenapa tidak."
"Aku tunggu besok di KUA. Kau harus datang kalau tidak kau tahu aku bisa lebih nekad dari ini." Ancam Arvi.
"Tapi, Tuan..."
"Sstttt.." Desis Arvi mendekat pada Hasbiya.
Deg..
Hasbiya mulai tak mengerti dengan jantungnya, ada suatu yang berbeda.
"Tuan, tolong menjauh." Hasbiya berjalan mundur hingga ketembok.
"Hasbiya, besok jangan lupa datang. Aku tunggu."
"Ii--yaa."
Entah kenapa dia dengan mudah mengata iya. Perasaannya bercampur aduk. Rasa takut pun menghantam wanita ini.
'Ya Tuhan.. Kenapa aku setuju menikah dengan pria ini. Apa dia jodohku atau apa. Tuhan tolong berikan yang terbaik dalam hidupku.' Gumam Hasbiya dalam hati.
Hasbiya meredam amarahnya setelah Arvi pergi meninggalkannya sendiri. Tubuhnya gemetar, dadanya ada yang mengganjal.
Wanita itu menghembus nafasnya lalu pergi dari ruangan itu.
"Astagfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah.." Habisya beristrhfar tiga kali, ia tak tahu apa yang dilakukannya sudah kehendak Allah.
Hasbiya menuju mushola kantor untuk menenangkan dirinya. Ia sejenak berpikir, apa semua ini benar.
Dengan menikah seorang pria untuk membayar hutangnya. Ini bukan pernikahan yang sesungguhnya. Apa bisa bahagia pernikahan seperti ini. Batin Hasbiya menangis dalam langkah kakinya.
Ia sampai ditempat biasa dirinya mengadu rasa sakit yang di punyanya.
Perlahan wanita itu menghamparkan sejadahnya, ia sholat menenangkan dirinya. Ia panjatkan doa untuk kehidupannya kelak bersama Arvi.
"Ya Allah.. Ya Tuhanku.. yang maha pengasih dan penyayang. Ampuni lah dosa hamba. Berikan yang terbaik atas keputusan hamba.
Ya Allah berikanlah petunjukkan untuk hamba yakin pada tuan Arvi. Jika tuan Arvi baik untuk hidupku, tolong dekatkan kami, Tapi jika tidak jauhkanlah kami." Doa Hasbiya dalam hatinya dengan tangisnya.
Tanpa diketahui Hasbiya, ternyata ada seorang pemuda memperhatikannya di dalam mushola yang sama.
Ibrahim pria yang rajin beribadah dan taat beragama, ia adalah sahabat dari Arvino yang menanam sahamnya empat puluh persen di perusahaan yang atas nama Arvino.
Ibrahim wakil direktur perusahaan Arvi. Ialah selama ini membantu Arvino membangun perusahaan sejak dulu. Hingga merilis perusahaan sebesar sekarang.
Sedangkan Arvi juga berdiri memandang Hasbiya dari luar mushola.
Walau pun dirinya jarang sholat, tapi Arvi merasa tidak akan salah pilih, Apalagi melihat Hasbiya yang rajin beribadah.
Dia berharap kehadiran Hasbiya bisa membuat Lintang berubah sikapnya lebih lembut seperti kelamnya Hasbiya.
"Assalamualaikum." Sapa Ibrahim pada Arvu.
"Wa'alaikumsalam." Jawabnya membuyar dalam lamunannya.
"Tumben...Mau sholat." Tanya Ibrahim.
Dengan tegas Arvi menggeleng tegas. "Tidak."
"Lalu."
"Sudahlah lupakan. Bagaimana kalau secangkir kopi." Tawar Arvino pada Ibrahim.
Mereka pergi kedai kopi yang tak jauh dari kantor tersebut. Perbincangan santai dilakukan kedua orang ini.
"Bra, lo jadi ta'aruf dengan pilihan orang tua lo." Tanya Arvi.
"Insya Allah."
"Gimana sih rasanya ta'aruf. Bukannya enggak saling cinta, Apa bisa bahagia."
"Bagaimana dengan kau sendiri. Apa bahagia hanya dengan cinta." Tanya balik Ibrahim membuat Arvi tergemap.
Ia termangu, sejujurnya penuturan Ibrahim membuatnya berpikir satu hal, ternyata hanya cinta saja tak cukup.
Sikap Lintang yang keras padanya, kadang membuatnya jenuh. Apalagi semenjak kejadian buruk menimpa Lintang.
Semakin membuat Lintang menjadi-jadi, tidak pernah menunjukkan sikap baik pada suami sendiri.
"Arvi." Panggil Ibrahim.
"Arvino." Suara Ibrahim meninggi membuat lamunan Ibrahim membuyar.
"Hah.. Maaf."
"Kau benar, cinta saja tak cukup. Lalu apa yang membuat Kita bahagia dalam rumah tangga." Tanya Arvino.
Walaupun Ibrahim belum pernah menikah tapi ia tahu cara memperlakukan wanita yang baik.
"Agama, itu kunci tiang rumah tangga. Jika rumahmu terasa hampa karena tak pernah adanyaa sholat atau pun gaji. Tentunya akan hampa rumah tangganya." Jelas Ibrahim lalu menyesap kopi yang panas.
"Apa seperti itu. Mungkin karena itu pernikahanku dan Lintang.."
"Mungkin, hanya Allah yang tau, Ar. Cobalah belajar memimpin rumah tangga dengan aturan. Sholat lima waktu, jangan tinggal kan itu semua. Insya Allah pernikahanmu akan bahagia."
Arvi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Semua ini memang kesalahan dirinya. Seharusnya dia bisa memimpin rumah tangga yang baik. Tapi selama ini ia yang selalu membebaskan Lintang.
Drrt.. Drrtt.. Drrtt..
Mendadak suara getaran ponsel Arvi membuat keduanya menoleh asal suara itu.
'Lintang.' Ternyata Lintang yang menelpon Arvi, "Halo." Jawab Arvi.
"Aku tidak pulang, aku pergi kebandung bersama teman-temanku."
"Tapi--"
Tut.. Tut.. Tut..
Lintang memutuskan telpon sepihak. Membuat Arvino kesal pada istrinya, ia merasa tak pernah dihargai sebagai seorang suami.
Padahal dia sudah semampunya ingin membuat Lintang bahagia, namun ternyata rasanya dia gagal menjadi seorang suami.
"Lintang." Ujar Ibrahim.
"Iya, Bra. Seperti biasa pergi bersama temannya ke Bandung."
"Kau izin kan."
"Izinku atau tanpa izinku, dia akan tetap pergi." Gusar Arvi dengan wajah menahan amarahnya.
Ibrahim sungguh iba dengan nasib pernikahan Arvino sahabatnya. Ia tahu betul, bagaimana Arvino begitu mencintai Lintang.
"Ar, bimbinglah Lintang jalan yang benar mungkin bisa membuatnya sadar."
"Sulit kurasa." Komentar Arvi.
"Pasti ada cara untuk yakinkan Lintang."
"Peristiwa itu membuat Lintang berubah."
Ya.. kehilang seorang bayi dikandungnya dua tahun yang lalu membuat istri Arvi terpukul. Apalagi setelah rahimnya diangkat, pastinya tidak bisa memiliki seorang anak.
Tapi impian Lintang dalah seorang anak, sedangkan Arvi tidak bisa sama seksli berbuat apapun.
Dulu pastinya Lintang tidak seperti ini, ia selalu bersikap baik pada Arvi. Tidak pernah menyela apapun pada dirinya.
Ditambah lagi orang tua Arvi sudah menginginkan seorang cucu, pernikahanerela sudah lima tahun tapi belum dapat punya anak.
Kebahagiaan Lintang purna begitu saja semenjak kejadian mengiris perasaan Lintang, tidak ada lagi yang bisa membuat wanita itu berubah. Untuk saat ini pria itu berharap kehadiran Hasbiya yang akan menjadi istrinya nanti bisa membuat Lintang berubah.
"Berdoalah Arvi pasti akan ada jalan." Titah Ibrahim.
"Terima kasih mas bro. Setidaknya bicara dengan Pak ustad ini bisa lebih tenang." Arvi menepuk pelan pundak Ibrahim.
"Arvi jangan mulai. Aku bukan ustad." Sergah Ibrahim.