12.HINAAN LINTANG

1118 Words
"Hei.. jalang. Kau mau kemana." Teriak Lintang sambil menggemakan tawa bersama teman-temannya. Sementara Hasbiya sudah berlari dengan tangisannya. Ia kembali ke kantor Arvi namun dirinya tidak kembali bekerja, Habisya justru berdiam diri di mushola kantor Arvi. Entah berapa lama dirinya diam termenung di tempat yang begitu tenang untuk Hasbiya. 'Ya Allah hentikan semua ini. Kenapa aku terjebak disituasi begitu sulit. Apa rencana-Mu untuk takdirku ini.' Doa Hasbiya dalam hati. Hasbiya merintih tangisnya yang tak bisa di bending lagi, untungnya tidak ada seorang pun di mushola tersebut. Terdengar adzan ashar sore itu, Hasbiya bergegas sholat. Tentunya akan membuat hatinya lebih tenang. Setelah usai sholat Hasbiya memutuskan untuk pulang kerumah Arvi, bahkan tanpa sepengetahuan Arvi. Ia hanya memberitahu Anisa jika dirinya ingin pulang. "Loh.. Has, mau kemana." Tanya Anisa. "Pulang." Hasbiya menoleh kearah Anisa. "Enggak enak badan." "Gara-gara soal tadi ya." To the point Anisa. "Kamu tu gal bisa diam aja. Lintang udah keterlaluan." "Sudahlah.. aku enggak mau bahas ini." Hasbiya menggibas tangannya seakan meminta melupakan semua yang telah terjadi. "Ya Ampun.. kamu baik banget sih. Kalau aku jadi kamu, belum tentu terima hinaan dari Lintang tadi." Gerutu Anisa yang geram ketika mengingat kejadian makan siang tadi. "Lupain aja. Aku pulang dulu!" Pamit Hasbiya yang berburu. Tak lama dari itu Arvino keluar dari ruangannya, ia mencari Hasbiya yang tak terlihat sama sekali di meja kerjanya. Arvino menanyakan pada karyawan yang tak jauh dari meja Hasbiya, ia pikir mungkin mereka tau keberadaan Hasbiya. "Eh.. kamu. Lihat Hasbiya." Tanya Arvi dengan nada sangat dingin pada salah seorang karyawan. "Tidak, Pak." "Kalau kamu?" Tanyanya lagi pada karyawan yang lain. "Setau saya.. Hasbiya belum kembali sejak makan siang." Ungkap karyawan tersebut membuat Arvi kaget. Ya.. tentu saja. Ia tau jika Hasbiya bukan orang yang tidak displin, istrinya itu selalu tepat waktu. Tapi kenapa Hasbiya tidak kembali. 'Kemana Hasbiya. Kalau mau pergi seharusnya bilang dulu sama aku.' Ucap Arvino dalam hati. Arvi mencoba menanyakan pada Anisa yang berada di lobby tersebut. "Anis, liat Hasbiya?" Tanya Arvi. "Pulang." Ketus Anisa. Arvi mengkerut dengan sambutan anisa yang barusan. Tidak biasa Anisa bersikap judes seperti itu. "Lo kenapa?" Arvi mendongakan kepalanya mencoba mencari tau sikap aneh Anisa. "Gw punya salah." "Bukan tapi Lintang istri lo. Dia udah nyakiti hati Hasbiya." Kontan Anisa tanpa berpikir panjang. "Maksudnya." Arvi menyatukan alisnya yang terkesan heran pada perkataan Anisa. "Jangan berekspresi bego kayak gitu. Lintang udah hina Hasbiya depan semua orang, dia bilang Hasbiya jalang lah.. murahan lah.. banyak lagi, pastinya buat Hasbiya sakit hati. Gw aja dengernya sakit hati apalagi Hasbiya." Gerundel Anisa panjang lebar. Arvi masih tak percaya, ia menatap Anisa penuh curiga. "Gw tau lo enggak percaya. Tanya aja Ibra kalau lo masih ragu dengan omongan gw." Anisa mengepal tangannya, rasanya ingin sekali menghantam Arvi dengan buku laporan besar yang berada di mejanya. Arvi menghela nafas berat setelah mendengar penuturan Anisa yang membuatnya termangu sejenak. Ia tau jika Ibra pasti tak mungkin berbohong. 'Bagaimana mungkin Lintang bisa bersikap buruk seperti itu. Pantas Hasbiya menghilang begitu saja.' Wajah Arvi memerah menahan amarah pada Lintang yang tak disangka bersikap sangat buruk di luar dugaannya. "Ck" Arvi berdecak kesal menuju kearah parkiran mobil. "Pak, pulang kerumah. Cepatan ya!!" Perintah Arvi yang menduduki kursi belakang mobilnya. *** Hasbiya sudah berada di rumah, ia memutuskan untuk mengurung diri didalam kamarnya. Penat.. Mungkin inilah yang dirasakan Hasbiya. Menjadi istri kedua bukanlah hal yang mudah, mendapat cemohan terutama dari Lintang yang berstatus istri pertama Arvino. "Lintang!! Lintang!!" Teriakan Arvi terdengar dari kamar Hasbiya. Dengan sigap Hasbiya keluar dari kamarnya, ia melihat kemarahan Arvi yang seakan meluap. "What is this?" Lintang keluar dari kamar tanpa rasa bersalah. "Kenapa kau berteriak? Apa kau pikir aku tuli?" PLAK.. Tamparan melayang di pipi Lintang. Hasbiya terjungkit melihat kejadian barusan dari atas. Dengan cepat ia turun untuk mendamaikan kedua orang tersebut. "Shit." Umpat Lintang. "Beraninya kau." "Tunggu." Hasbiya menghentikan Lintang yang hendak ingin membalas tamparan Arvi. "Ini kenapa? Kalian kenapa bertengkar." "Kau ingin ikut campur." Cerca Lintang menggeram giginya karena kesal. "Maaf. Aku hanya tidak ingin berdebat." "Oowhh.. ternyata kau sangat manis. Tapi aku tidak butuh itu." Lintang melekat wajahnya pada Hasbiya. "Lintang cukup!!" Bentak Arvi yang panik jika Lintang melakukan luar batas pada Hasbiya. "So sweet.. kau takut, aku menyakiti istri keduamu ini." "Jangan keterlaluan. Tidakkah kau puas telah menghina Hasbiya di depan umum." "Ternyata istrimu ini pengadu." "Aku tidak pernah mengatakan apa pun." Sambung Hasbiya merasa takut dengan pandangan Lintang menyeramkan. "Ah.. bullshit. Kau itu bukan saja perebut. Tapi kau itu penjilat." "Stop it!! Tutup mulut kamu Lintang." Sergah Arvi lalu menarik tangan Lintang untuk ke kamarnya. Hasbiya merasa suatu tidak beres terjadi. Ia mondar-mandir karena bingung harus berbuat apa. We Ia merasa gelisah yang tidak menentu. 'Ada apa ini. Kenapa tuan Arvi begitu marah apa. Apa yang terjadi.' Gumam Hasbiya dalam hatinya. Hasbiya menatap luar jendela, ia berharap seorang datang menghentikan pertingkaian kedua orang itu. "Apa kau tidak punya otak. Bagaimana bisa wanita terhormat seperti menghina Hasbiya. Dia hanya wanita kampung." "Karena dia wanita kampung, seharusnya dia tau diri." "Cukup!! Jangan memancing amarahku." "Persetan." Teriakan demi teriakan terdengar dari telinga Hasbiya. Mata Hasbiya berkaca mendengar suara Arvi dan Lintang yang bertengkar. Mendadak sebuah mobil berhenti tempat dihalaman rumanya. Seorang paruh bayah keluar dari mobil itu, Hasbiya menyungging senyum melihat wanita yang datang kerumah Arvi. "Mama Novi." Lirih Hasbiya berburu membuka pintu. "Hasbiya." Sapa Novi dengan senyum. "Ma, untunglah disini." Panik Hasbiya. "Ada apa. Terdengar panik. "Ada masalah?!?" "Ii--itu ma.. Mba Lintang dan tuan Arvi berantem. Tadi saja tuan Arvi menampar mba Lintang." "Kejutan. Arvi menampar Hasbiya, setau mama dia sangat mencintai Lintang." Ujar Novi melangkah masuk rumah. "Mama harus hentikan mereka." "Dimana mereka." "Kamarnya." Sahut Hasbiya. Novi berlenggang menuju kamar Arvi, wanita perempuan paruh bayah itu tidak terlalu peduli sebenarnya. Namun karena Hasbiya yang minta.. mau tak mau dia menuruti permintaan Hasbiya. "Ada apa ini." Seru Novi memasuki kamar yang begitu tegang. "Mama." Kaget Arvi, diikuti oleh Lintang. "Kenapa kalian bertengkar." Novi menatap kedua orang tersebut dengan tatapan tajam. "Mama, bisa tanya pada putra kesayangan mama ini." Sindir halus Lintang. "Oh my God. Lintang kau tidak merasa bersalah. Kau sudah menghina Hasbiya." "Benar itu Lintang." "Ya.. aku tau mama tidak mungkin membela aku. Lebih baik aku pulang rumah." Gertak Lintang. "Keputusan yang baik." Novi menyimpul senyumnya. "Ma." Sentak Arvi tak percaya. "Ada apa." Novi mengerdik bahunya seakan kedua tangannya melayang di udara. "Dia yang menginginkan itu." Arvi menggeleng perlahan. "Lintang, cukup. Jangan membuat masalah semakin besar." "O.. tidak ini sudah keputusan benar. Aku akan pergi, setidaknya aku tidak menganggu pengantin baru." Putus akhir Lintang tak ingin di gugat. Lintang pun pergi dengan kemarahan dihatinya. Ia merasa cemburu itu pasti, begitu cepat Hasbiya mengambil hati semua orang. Ya.. itulah kenyataan pahit yang harus diterima Lintang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD