13. OBAT PERANGSANG

1021 Words
Waspada!! Diharapkan dibawah umur jangan membaca episode ini..!! Setelah kepergian Lintang yang belum lama, dengan sengaja Novi ibu dari Arvi menyerah seluruh pelayan dirumah putranya untuk bercuti. Tentu maksud Novi agar Hasbiya dan Arvi hanya bisa berduaan saja. Ia ingin segera memiliki seorang cucu dengan segala cara di milikinya. Seakan semua telah di atur wanita paruh bayah itu, ia memujuk putranya untuk bisa menyentuh Hasbiya. Arvino sedang dalam keadaan kalut diruangan kerjanya, terlihat pria itu duduk dengan memijit kepalanya. "Arvi." Panggil Novi. "Apa yang kamu lakukan sendiri disini." Ia menoleh kearah pintu terbuka lebar, pastinya melihat mama Novi datang menghampirinya. "Ada apa lagi, ma." Tanya Arvi dengan muka tampak Tak bersemangat. "Arvi, mama pikir sudah waktunya." "Waktu apa?" "Kamu pasti tau maksud mama." Novi mengelus rambut putranya dengan lembut. "Tolong, ma. Jangan berteka-teki Arvi tidak mengerti." Seru Arvi memejamkan matanya. "Kamu harus memberikan mama cucu dengan segera." Ucap pelan Mama Novi. Arvi membuka matanya lebar. "Apa maksud mama?" "Hasbiya denganmu.. harus memberikan mama cucu." Sejenak Novi menghentikan ucapannya. "Mama sudah membuat semua pelayan dirumahmu cuti. Lagi pula Lintang tidak dirumah. Lakukan kewajibanmu." Arvi menekan salivanya. "Ma, aku nikahi Hasbiya bukan untuk itu." "Lalu." Singkat mama Novi. "Arvino, kamu harus Adil terhadap keduanya. Kalau kamu tidak melakukannya, mama pasti kan malam ini terjadi sesuai keinginan mama." Gertak Mama Novi membuat Arvi menghela nafas beratnya. Arvi penasaran apa yang akan dilakukan mamanya, ia tau betul jika Novi sangat menginginkan cucu darinya. Apalagi sekarang dirinya memiliki istri selain Lintang yang di vonis tak dapat lagi mengandung. Harapan Mama Novi sudah pasti hanya Hasbiya seorang, tak perduli bagaimana caranya pasti mamanya akan melakukan suatu diluar dugaan Arvino. "Sekeras apa pun, aku tidak akan melakukannya." "Baik! Kita lihat saja nanti." Tantang Arvino. Novi sendiri memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Arvi, ia ingin mengunjungi keluarganya yang berada di Jakarta. Tepatnya sengaja ingin meninggalkan keduanya agar bisa berdua saja. Sebelum kepergiannya, ia memberi Hasbiya s**u dan memastikannya untuk menghabiskan susunya itu. "Hasbiya, ini minum." Pinta Novi memberikan s**u pada Hasbiya. "Sini, ma." Hasbiya mengambil s**u yang di tangan Novi lalu menyimpannya di meja hiasnya. "Minum susunya." "Nanti saja, ma." Ucap Hasbiya yang tengah memakai lation ditubuhnya. "Aku masih pakai lation." "Sekarang Hasbiya!" Perintah Novi tegas. "Baiklah." Habis menyimpul senyumnya. Hasbiya dengan cepat meneguk s**u yang di beri mertuanya hingga tandas. Tidak ada tersisa setetes pun. Novi menyungging senyum pada Hasbiya. "Semoga berhasil." Hasbiya mengeryit bingung. "Maksud mama." "Berikan cucu untuk mama." "Hah?!?" Wajah Hasbiya yang polos terlihat kecut. "Mama, harus pergi. Mau nginap dirumah saudara mama. Kamu baik-baik ya sama Arvi." Pamit Novi seraya mengelus kepala Hasbiya yang di balut pasmina. "Hati-hati ya, ma. Mau Hasbiya antar." Tawar Hasbiya dengan ramah. Tidak usah." Tolak Novi. Tak lama kepergian Mama Novi, Hasbiya merasa tubuhnya kepanasan. Padahal pendingin di kamarnya paling full. Tapi masih saja Hasbiya kepanasan. 'Kenapa ini, aku kok merasa panas. Ac itu full tapi masih aja panas.' Rasanya tubuh Hasbiya kebakar, ia tak mampu lalu membuka pasmina yang digenakannya. Bahkan ia menyimpul rambut panjangnya agar gejolak panas didadanya menghilang. Namun sepertinya tetap saja sama, itu tidak membuat suatu yang aneh yang membara didadanya terhenti. Berbagai cara ia lakukan agar bisa menghilangkan rasa panas meresap tubuhnya. Ia mengganti pakaiannya dengan sebuah celana pendek dan tank top. 'Ya Allah ada apa ini. Kenapa perasaan ini aneh. Semua tubuhku merasa gerah.' Arvi mendadak datang memasuki kamar Hasbiya yang penampilannya berbeda. Hasbiya membuat hasrat Arvi sebagai seorang laki-laki meningkat. Apalagi keringat kecil membasahi dahinya. Membuat Hasbiya tampak lebih seksi. Arvi menelan air liurnya. 'Apa ini yang di maksud mama. Menyuruh Hasbiya berpakaian seksi.' Jantung Hasbiya berdebar menahan gairahnya. Ia tak ingin menyentuh Arvi kecuali pria itu menginginkannya. Sekuat mungkin Hasbiya menahannya, ia merebahkan tubuhnya dengan menutupi selimut seluruh tubuhnya. Tingkah laku Hasbiya membuat Arvi curiga, ia tau Hasbiya tak pernah seperti ini. "Hasbiya, kau kenapa." Tanya Arvi. "Tuan, menjauhlah. Pergi dari sini." Nafas Hasbiya terdengar berat. "Hasbiya, buka selimutmu." Pinta Arvi namun tak ada jawaban Hasbiya. Tanpa ragu Arvi membuka selimut Hasbiya yang tampak wanita itu sedang ingin suatu di luar nalarnya. "Hasbiya." Kaget Arvi. "Apa yang kau minum." Tanpa berucap Hasbiya menunjuk kearah segelas kosong yang terletak di meja hias. Dengan langkah cepat Arvi mencium gelas tersebut. Ia tau jika ada campuran obat perangsang diminuman Hasbiya. Arvi tau jika ini perbuatan mamanya. Sungguh ia tak habis pikir mamanya bisa berbuat seperti ini agar dirinya mau menyentuh Hasbiya. 'Bagaimana ini apa yang harus kulakukan." Gusar Arvi menatap Hasbiya yang merasa sangat gerah. Hasbiya tak mampu lagi, ia membuka tank top dan celana pendek yang menutup tubuhnya. Arvi seorang pria yang waras, lelaki mana pun hasratnya akan memuncak melihat tubuh Hasbiya yang mulus, Apalagi buah d**a di milikinya sangatlah montok. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, ia tak bisa menolak sebelum Hasbiya membuka semua tersisa ditubuhnya. Arvi menutup pintu kamar Hasbiya dengan rapat lalu memastikan menguncinya. Ia melekati tubuh Hasbiya, untuk pertama kali dirinya menyentuh tubuh Hasbiya. Sebelum Arvi menyosor, Hasbiya sudah lebih dulu mencium bibir Arvi. Pria itu membalas menikmati ciuman yang Hasbiya berikan. Tangan Arvi bermain di buah d**a ranum milik Hasbiya. Hasrat Arvi meningkat ketika Hasbiya tidak memakai sehelai apapun. Bahkan pria itu juga ikut membuka seluruh balutan ditubuhnya, ia melepas tanpa tersisa apa pun. Ciuman Arvi berpindah semakin kebawah, ia membuat Hasbiya merasa nikmat. Tanpa ragu Arvi menjilati sangkar milik Hasbiya yang sudah basah. Hasbiya tentunya sudah berdesah nikmat dengan suara kuat. Ah.. untungnya tidak ada satu orang pun yang berada dirumahnya. Padahal Lintang saja tidak pernah ia jilati, tapi entah kenapa Hasbiya berbeda. Dia mampu membuat Arvi menginginkan lebih. Setelah puas menjilati sangkar milik hasbiya, Arvi memasuki suatu yang besar miliknya. Ya mungkin.. akan membuat Hasbiya merasa lebih nikmat lagi. "Hasbiya, kau sungguh.." Arvi tak mampu melanjutkan kata-katanya. Bulan, bintang dan Langit telah menjadi saksi mereka bercinta malam ini. Walau pun awalnya bukan keinginan mereka tetap saja Arvi telah memberikan haknya untuk Hasbiya. Mungkin Arvi tidak bisa melupakan kejadian malam ini, bahkan dia lupa memiliki Lintang. Ia tak perduli hal itu. Awalnya Arvi hanya ingin membuat Hasbiya lebih tenang karena pengaruh obat. Tak bisa di elak lagi, ia justru mengikuti gairah dimilikinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD