JATUH

1069 Words
"Anda istri Ducan Emrick?" tanya salah satu wanita dengan gelang emas banyak di tangannya. "Memperkenalkan diri sendiri?" Para nyonya kaya menertawakan Sena. Sena menegakkan punggung dan tersenyum. "Benar, saya memperkenalkan diri sendiri sebagai istrinya. Mungkin anda semua terkejut karena kami tiba-tiba menikah begitu saja." Orang-orang yang bergosip dan menertawakan Sena, terdiam. "Tapi saya menghormati para tamu yang bersedia datang untuk menghargai niat baik suami saya." Adrian yang mendengar itu mengangkat sudut bibir, begitu Ducan melihat dirinya, segera mengangkat gelas koktail untuk bersulang. Ducan menatap masam Sena dan tidak bisa berbuat apa pun. Mungkin karena tekad untuk menang dan melangkah maju, Sena mulai bisa berbaur dengan para istri kaya, meskipun sempat ada yang menyindir, dia bisa menanganinya dengan mudah. Adrian bergumam kecil. "Sampah yang tidak paham arti dari berlian." ------- Ducan marah melihat tindakan Sena yang bergaul dengan para nyonya kaya, dia tidak suka istrinya menjadi sorotan hari ini. Malam ini, dia akan memberikan pelajaran kepada wanita tidak tahu malu itu. Sena izin istirahat ke kamarnya terlebih dahulu karena terlalu lelah menghadapi para tamu. "SENA!" BRAK! Sena yang masih memakai gaun pesta dan sedang melepas anting-anting di telinganya, menoleh ke arah pintu masuk. "Ada apa?" "Kamu- apa yang kamu perbuat malam ini?" "Perbuat? Memangnya aku berbuat apa?" "Kamu- kamu bergaul dengan orang-orang itu." Sena tahu apa yang akan dilakukan suaminya, dia meletakkan perhiasan di dalam kotak lalu dimasukan ke dalam brankas, hanya dia yang tahu nomor kodenya. Semua perhiasan ini adalah pemberian ayah mertuanya. "Memangnya kenapa jika aku bergaul dengan mereka? Sebagai istri, tentu saja bertukar informasi adalah hal yang wajar." Ducan menarik rambut Sena ke belakang lalu melemparnya ke lantai hingga jatuh terjengkang ke belakang. "Kamu tahu konsekuensi yang kamu dapatkan?" Sena yang memegang rambutnya dengan kesakitan, menatap marah Ducan. "Aku hanya melakukan tugas seorang istri, kenapa kamu melarang?" "Kamu sudah berani membantah sekarang?" Sena tertawa mengejek. "Aku tidak boleh bergaul dengan orang lain, lalu bagaimana dengan para wanita kamu yang lain? Mereka bebas melakukan apa saja." Ducan melepas sabuk mahalnya dan langsung menyabet kaki Sena. Sena yang merasakan sakit, menatap benci Ducan. "Istri hanya di rumah, mengurus rumah! Tidak ada namanya keluyuran keluar! Dosa kamu sekarang berpindah kepadaku!" Sena tertawa mengejek. "Kamu takut aku melakukan dosa dan kamu kena imbasnya, lalu bagaimana dengan kamu sendiri? Selingkuh dengan banyak wanita." Ducan kembali memukul Sena dengan sabuknya secara membabi buta, Sena yang dulunya diam karen malu dan takut menjadi omongan orang lain, melawan. Dia menendang kaki Ducan hingga terjatuh, lalu melarikan diri, keluar dari kamarnya. Ducan yang terjatuh karena tidak siap, segera mengejar Sena dengan sabuk di tangan, hati dan matanya buta karena emosi, mengabaikan keberadaan para tamu di bawah. Sena yang berada di ujung tangga, balik badan, menatap Ducan yang berjalan perlahan karena emosi. Kekasih Ducan yang ada di bawah, menyadari perilaku itu dan menggeleng ketakutan. Para tamu yang penasaran, otomatis melihat peristiwa di lantai dua. Sena tertawa mengejek. Ducan yang melihat itu, segera mengangkat tangan yang memegang sabuk dengan marah. Raut wajah Sena berubah ketakutan dan berteriak. "SUAMIKU! AKU HANYA INGIN BERKENALAN DENGAN PARA TAMU!" "AKU SUDAH MENYURUH KAMU UNTUK TIDAK BERGAUL DENGAN SIAPA PUN DI LUAR RUMAH!" Sena bertaruh. Hanya jatuh di tangga, tidak akan menimbulkan kematian, mungkin hanya sedikit patah tulang. Ducan mengayunkan sabuk dengan cepat, Sena yang pura-pura ketakutan mundur dan menjatuhkan diri ke tangga. "Aaaa!" Semua orang berteriak ketakutan. "Nyonya!" "Astaga!" Para pelayan rumah bergegas menyelamatkan Sena yang sudah bersimbah darah di tangga kedua, sementara orang-orang menjadi saksi di bawah tangga. Ducan tertawa puas lalu berubah pucat ketika melihat kerumunan tamu sedang menatap dan menunjuk dirinya dari bawah. "Tidak- aku- aku-" Ducan tidak bisa mengelak lagi, apa yang dilakukannya kepada Sena sudah dilihat banyak orang. Adrian menyuruh bodyguard untuk menarik mundur Ducan yang masih berdiri di tempat dengan sabuk di tangan. ------------ Beberapa hari kemudian, Ducan yang dihukum kurung, akhirnya bertemu dengan sang ayah. "Ayah, aku tidak bersalah. Mereka hanya membuat kebohongan, mereka iri. Ayah bisa melihat cctv kalau Sena sempat bicara dengan mereka, mungkin mereka ingin bekerja sama menjatuhkan kita." "Ducan, aku tidak tahu- apakah kamu bodoh karena didikan atau aku terlalu memanjakan. Semua orang melihat dan mendengar teriakan kalian berdua." "Ayah, aku hanya dijebak Sena!" "Dokter sudah memeriksa seluruh tubuh Sena, ada banyak bekas luka lama dan baru. Kamu masih ingin membantah?" Ducan menatap ngeri ayahnya. "Se- Sena pasti menunjukkannya pada kalian, dia menyiksa dirinya sendiri. Coba ayah bertanya pada para pelayan di rumah. Mereka pasti akan mengatakan hal yang sama." Ducan merasa percaya diri karena para pelayan rumah selalu tunduk dan takut pada dirinya. "Ayah, aku anak ayah. Bagaimana bisa ayah membela wanita asing yang bisa mencuri harta keluarga kita?" "Apakah itu yang ada di pikiran kamu mengenai Sena?" "Tentu saja, apalagi? Orang tuanya menjual anak demi uang dari ayah, apakah ayah tahu- aku menjadi bahan lelucon orang lain karena membeli istri." Ayah Ducan merasa marah dan muak melihat kelakuan putranya. "Apakah aku salah mengambil anak di panti asuhan?" Adrian tersenyum, menatap dingin Ducan. "Anda sudah melakukan tes dna berulang kali, tidak mungkin ada kesalahan." Ada satu hal yang tidak diketahui orang luar, hanya keluarga dekat Emrick yang mengetahuinya. Saat berusia empat tahun, Ducan diculik dan penculiknya meminta tebusan sejumlah uang. Tapi nahas, penculik meninggal dalam kecelakaan setelah berhasil membawa kabur uang tebusan, di dalam mobil tidak ada Ducan sama sekali. Dua tahun pencarian, akhirnya keluarga besar Emrick menemukan kabar bahwa Ducan ada di panti asuhan yang terletak di perbatasan kota. Ducan berhasil dijemput dan pulang ke rumah dengan selamat, semua orang memanjakan pewaris kecil hingga berubah manja dan tidak bisa dikendalikan seperti sekarang. Penyesalan selalu datang terlambat. "Ayah, tolong aku. Jangan hukum aku, sebentar lagi aku harus bertemu dengan orang, kami sudah berjanji jauh hari. Aku tidak ingin proyek gagal." Ayah Ducan melempar asbak di atas meja ke dekat kaki Ducan. "KAMU MASIH MEMIKIRKAN PROYEK SETELAH MENGHANCURKAN IMAGE KELUARGA EMRICK?!" Ducan menunduk ketakutan. "Ayah, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya." "Tanpa perlu mengatakannya, kamu memang tidak boleh mengulang kesalahan sama, Ducan! Batalkan semua proyek kamu! Aku tidak peduli kegagalan apa yang kamu dapatkan nantinya!" "Ayah!" teriak Ducan ketika melihat kursi roda ayahnya sudah keluar dari kamar. Adrian menatap datar punggung pria tua itu yang sudah menjauh bersama kepala pelayan. Tiba-tiba Ducan menarik celana Adrian. "Adrian, kamu bisa merayu ayahku! Bilang aku tidak bersalah! Itu ulah Sena, kalau saja dia bisa menurut-" Adrian mundur cepat, hingga Ducan jatuh ke depan. "Anda sudah dewasa, atasi sendiri tanpa saya." Ducan meratap kecewa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD