HUKUMAN?

1012 Words
Sena yang mendengar kabar itu, minum teh dengan tenang di atas tempat tidur. "Nyonya, anda baik-baik saja? Tuan besar menyarankan anda untuk pergi berlibur." "Tidak, terima kasih." Tolak Sena. "Saya tidak mau menghabiskan uang ayah mertua, suamiku selama ini hanya merepotkan ayah mertua. Sebagai seorang istri, inilah yang terbaik." "Nyonya, untung saja tangga dipasang karpet tebal sehingga anda tidak terlalu-" "Tidak apa, memang aku yang salah. Selama ini tidak bisa mengikuti perintah suami dan selalu merepotkan kalian." "Nyonya, jangan bicara seperti itu. Kami sendiri tidak menyangka tuan akan melakukan hal sejahat itu kepada anda. Jika anda perlu sesuatu, anda bisa memanggil kami." Sena tersenyum manis. "Terima kasih sudah peduli padaku." "Sudah menjadi tugas saya." Pelayan senior menutup pintu, Sena tertawa bahagia tanpa suara. Dulu dirinya takut berinteraksi dengan orang-orang rumah ini karena merasa terintimidasi sekaligus malu bahwa dirinya hanyalah anak yang dijual orang tua, sekarang setelah sedikit berusaha untuk membuka mata mereka- Sena akhirnya memiliki keberanian. "Aku tidak menyangka bisa semudah ini." Sena melihat kedua tangannya yang gemetar karena senang. "Rencanaku ternyata berhasil." Sena melihat jendela luar. "Ducan saat ini dihukum, bagaimana dengan kekasihnya?" Tidak ada yang memberitahu Sena, nasib kekasih gelap Ducan. Dia mengetahuinya ketika makan malam bersama keluarga tiba. "Aku dengar, sekretaris kamu yang sekarang sudah menjadi selingkuhan kamu dan berani provokasi istri sah." Ayah Ducan angkat bicara ketika makan malam sedang berlangsung. "Sena, tubuhmu kurus sekali. Apakah kamu memikirkan gaya hidup Ducan selama ini?" "Ayah, apakah Sena mengadu kepada ayah?" tanya Ducan dengan kesal. "Sena, permasalahan rumah tangga tidak bisa disebar luas. Jika kamu tidak puas, bisa bicara langsung kepada suamimu ini." Lihatlah, bahkan pertengkaran ayah dan anak sampai melibatkan diriku. Sena tersenyum ke ayah mertuanya. "Ayah, tidak apa. Selama ini aku menjalani hidup dengan baik, masalah perselingkuhan Ducan, siapa yang memberitahu ayah?" Sena melirik Ducan dengan arti 'lihatlah, bukan aku yang mengadu.' Emosi Ducan semakin memuncak ketika Sena melarikan diri ke arah tamu dan jatuh ke tangga, seandainya dia melarikan diri ke tempat lain seperti dulu- mungkin tidak akan pernah terjadi hal seperti ini. "Tidak peduli siapa yang memberitahu aku, perselingkuhan tetap salah. Ducan, kamu tidak bisa melakukan hal hina ke istri sendiri." Ducan yang tidak terima disalahkan, menjawab. "Ayah, suami memiliki banyak istri tidak masalah bukan? Selama aku bisa bersikap adil." Sena tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. "Apakah kamu sudah gila?" Kedua mata Ducan bergetar ketika Sena melontarkan pertanyaan diluar dugaan. "Siapa yang mengajari kamu kalimat itu?!" Sena meniru jawaban ayah mertuanya. "Tidak peduli siapa yang memberitahu aku, perselingkuhan tetaplah salah, suamiku." Ducan menatap Sena dengan marah. Suasana ruang makan semakin memanas, Sena menikmati makannya dengan tenang. Tidak lama, suara ribut di luar semakin keras. Terdengar suara wanita hendak memaksa masuk ke dalam. "Apakah anda tidak bisa bersikap sopan?!" "Aku istrinya, kenapa aku tidak bisa masuk ke dalam?!" "Masuk? Anda bukan bagian dari keluarga Emrick!" Suara teriakan itu semakin kencang, sepertinya mereka bertengkar tepat di depan pintu. "Aku hanya melihat kondisi suamiku yang sudah difitnah wanita gila itu!" Sena tertawa muram sementara Ducan hanya terdiam, tidak berani mengeluarkan komentar apa pun. "Mau kemana Sena?" tanya ayah Ducan yang melihat menantunya bangkit dari kursi. "Kamu belum menghabiskan makanan." Sena kembali duduk dengan raut wajah datar. "Aku rasa, Ducan tidak bisa menerima posisiku sebagai istri, lebih baik aku kembali ke kamar." Dahi Ducan berkerut, dia bingung dengan perubahan Sena yang terbuka. Bukankah kamu selalu diam dan tidak melawan? Kenapa malah- BRAK! "Ducan, aku dengar kamu mendapat masalah karena wanita gila itu! Apakah kamu baik-baik sa-" Sena bisa melihat wajah wanita itu yang angkuh dan ingin pamer ke semua orang siapa dirinya, berubah pucat ketika melihat ayah Ducan. "Tu- tuan besar." Wanita itu menggigil ketakutan dan menyebut ayah mertua Sena. Ayah Ducan berkomentar. "Lihatlah Ducan, kebohongan selalu datang sendiri tanpa aku pinta." Ducan melirik kesal wanita itu sekilas lalu berusaha meluruskan ke ayahnya. "Ayah, jangan percaya dengan kata-kata dia, hubungan kami tidak sedalam itu." Sena menenggak minumannya dengan puas, perasan menyesal muncul ketika mengingat masa lalunya yang bodoh. Tidak semua hal harus disimpan dengan baik, suami adalah manipulator terbaik ketika membuat aib dan menyalahkan istri ketika aib tersebar keluar. "Kamu jelas-jelas mengkhianati Sena, aku dengar dengan telingaku sendiri. Jangan-jangan saat kalian satu tempat tidur, menyumpahi Sena." Ayah Ducan menatap curiga putranya. "Kamu bisa melakukan hal ini ke istri, berarti kamu juga bisa melakukan hal ini kepada ayahmu sendiri." "Ayah, aku tidak bisa melakukan hal sekeji itu kepada ayah. Bagaimana bisa ayah bicara seperti itu?" Ducan terlihat putus asa untuk membela dirinya sendiri. Sena tidak tahu harus tertawa atau menangis ketika melihat duo pasangan selingkuh tidak berkutik sama sekali. Padahal dulu mereka, suka menghina dirinya. Aku dulu mencintai Ducan karena dia adalah suamiku, ternyata aku salah. Tidak seharusnya aku jatuh cinta pada pria b******k. "Tu- tuan, saya sudah menjalin hubungan dengan tuan muda, sangat lama. Tolong jangan pisahkan kami, saya saat ini sedang hamil sekarang." Sena memijat keningnya. Lelucon apalagi yang dikeluarkan mereka? Jika istri sah belum memiliki anak sementara selingkuhan memiliki anak, mau ditaruh kemana wajah mereka? "Tu- tunggu! Kamu tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku sebelumnya!" Teriak Ducan. Sena melihat raut wajah jijik suaminya ke selingkuhan. Hoo- menarik, dia bahkan tidak mau bertanggung jawab terhadap darah dagingnya sendiri. Ayah Ducan yang sedari tadi diam dan menilai reaksi Sena, bertanya ke menantunya dengan penasaran. "Sena, kamu tidak marah atau menangis?" Perhatian Sena teralihkan, menatap mertuanya dengan bingung. Reaksi apa yang diharapkan ayah mertua kepadaku sekarang? Aku sudah terlalu sering melihat perselingkuhannya. Ayah Ducan menghela napas panjang. "Baik, aku mengerti. Tidak usah dijawab, hatimu sudah mati karena perilaku Ducan selama ini. Aku sudah mendengar semua laporannya, aku tidak menyalahkan kamu." Di luar dugaan, reaksi ayah mertua Sena terlihat mendukung reaksi menantunya yang sudah kebal. "Ayah tidak marah?" "Ducan yang salah, kenapa aku harus marah kepadamu?" Sena tidak pernah tahu, lebih tepatnya tidak mau berharap. Normalnya di rumah tangga lain, ketika seorang suami selingkuh berkali-kali, kebanyakan istri yang minta bantuan kepada keluarga suaminya, dianggap dosa dan tidak menghargai pernikahan. Mereka cenderung lebih membela suaminya. Ayah Ducan yang terlihat sebagai pengusaha veteran dan menikmati berbagai macam hal duniawi, ternyata berada di pihak Sena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD