PERCUMA

1005 Words
"Apa yang sudah diberikan putraku kepadamu?" tanya ayah Ducan dengan nada tenang. "Sena, habiskan makanan kamu sebelum aku menyuruh Ducan menghabiskan semua makanan di atas meja." Sudah menjadi rahasia umum, Ducan selalu cerewet dalam menjaga makanan dan berat badannya. Sena memainkan makanannya dengan raut wajah bosan. Dia sudah tahu semua belang suaminya. Ayah Ducan bertanya lagi. "Ada apa? Kenapa tidak bicara? Aku sudah mendengar suara teriakan kamu di luar sana." Wanita itu hanya ingin bertemu Ducan, mengira di dalam hanya ada Ducan dan istrinya, tapi ternyata ada tuan besar di dalamnya. "Tuan muda memberikan banyak cinta dan kenyamanan untuk saya." Jawab wanita itu. Jawaban sederhana dan terlihat dangkal. Ducan menatap cemas ayahnya. "Ayah." "Dia hanya berselingkuh dengan kamu?" tanya ayah Ducan sambil menyerahkan potongan daging ke Sena. Sena terkejut lalu menatap ayah mertuanya. "Kenapa kamu berhenti makan? Apakah Ducan mengejek berat badan kamu?" Sena benar-benar tidak paham dengan isi pikiran ayah mertuanya. "Kenapa anda tahu kalau Ducan-" "Aku tahu semua perilakunya, hanya tidak menyangka dia berani berbuat sejauh ini. Sena, kamu bisa melapor padaku jika dia berbuat macam-macam." Sena memotong kecil-kecil daging steak pemberian ayah mertuanya. "Baik, ayah." "Tuan besar, saya tidak bersalah. Tuan Ducan merayu saya dan menjanjikan cinta." Wanita itu berusaha menyelamatkan dirinya sendiri ketika melihat perlakuan ayah Ducan. "Mataku tidak buta, apa perlu aku menunjukkan jumlah rekening yang dikirimkan Ducan kepadamu?" Ducan semakin mengerut, tidak berani melawan otoritas ayahnya. Sena menatap suaminya dengan muak. Kamu memang pria bodoh, jika bisa bermain pintar- harusnya mengambil hati ayah lalu mendapatkan kepercayaan untuk melawan otoritas ayah. Sena memakan irisan daging yang dipotongnya. Nikmat sekali, lebih nikmat daripada dulu, sebelum aku bunuh diri. "Sena, apakah Ducan membelikan kamu perhiasan?" Sena memiringkan kepalanya. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? "Gaji Adrian tidak sebanyak gaji sekretaris putraku sehingga mampu membeli berlian seharga ratusan juta. Apakah kamu pernah dibelikan perhiasan oleh Ducan?" Sena tanpa sadar menyentuh lehernya yang kosong, tidak ada apapun. "Ayah, Sena memiliki banyak koleksi perhiasan dari keluarganya. Jadi tidak perlu membeli mahal perhiasan, benar kan Sena?" Sena menatap kosong Ducan. "Sena, bilang ke ayah kalau kamu tidak butuh perhiasan." Sena menatap bingung Ducan lalu bertanya. "Bukankah minggu lalu kamu baru beli stik golf untuk dibawa ke luar negeri?" Ducan mengatupkan rahang. "Sena, harga stik golf tidak sebanding dengan harga perhiasan. Ayah lihat, bagaimana bisa aku membelikan dia perhiasan sementara dia tidak tahu apapun?" Sena tersenyum. "Tapi aku beli perhiasan kok." "Apa?" "Apa kamu tidak cek kartu kredit dan debit yang diberikan padaku? Uangnya terpakai untuk membeli perhiasan." Ducan tidak tahu harus menjawab apa, dia merasa dipermainkan Sena. Sikap Sena tadi seolah dirinya tidak pernah dibelikan perhiasan dan sekarang istrinya malah bilang sudah membeli perhiasan dari uang miliknya? Dengan gugup, Ducan melirik ayahnya yang sedang menatap tajam dirinya. Sena memang sengaja membuat jebakan untuk Ducan, biar pelakunya yang bicara sendiri. "Aku tidak menyangka kamu pilih kasih, dulu aku selalu setia kepada ibumu dan sekarang putraku malah melakukan perbuatan b***t. Sean, jika kamu sudah bosan hidup, beritahu ayah. Ayah bisa mengirim kamu ke cabang di luar negeri." "Ayah, tidak. Aku minta maaf, aku akan memperhatikan Sena." "Lalu bagaimana nasib selingkuhan kamu ini?" Ducan menjawab dengan tegas. "Dia mengandung anakku, aku harus merawat mereka dengan baik." Selingkuhan Ducan senang sekaligus lega mendengarnya, itu berarti sang anak akan menjadi pewaris Emrick. "Dia tidak bisa menjadi nyonya rumah kamu, tapi dia bisa menjadi gundik. Kamu sudah terlanjur menikahinya secara agama?" Ducan mengangguk kecil. "Anaknya bisa dirawat di sini, tapi dia tidak akan bisa menjadi pewaris. Hanya dari rahim istri sah, baru aku bisa menyerahkan warisan." Ducan sekali lagi mengeratkan rahangnya dengan marah. "Ayah, Sena tidak bisa punya anak." "Apakah kamu sudah mengujinya?" Sena baru tahu tentang itu. Tidak, hasil tes sebelum menikah menyatakan dirinya sehat dan bisa memiliki anak. Tapi kenapa Ducan dengan percaya diri mengatakan hal itu?" "Aku yakin sekali karena kami sudah melakukan hubungan suami-istri bertahun-tahun tapi dia belum menghasilkan apapun." Sena melihat kebodohan Ducan. "Ducan, setiap hari kamu membuang s****a kemana-mana, tentu saja kualitas s****a kamu akan menurun. Apakah kamu tidak membaca buku kesehatan?" Selalu saja seperti ini, jika seorang istri belum bisa menghasilkan keturunan, yang disalahkan adalah istri bukan suami. Padahal untuk mendapatkan anak, harus dua orang. "Hei, aku berhasil membuat hamil dia. Bagaimana bisa kamu meragukan kualitas spermaku?" "Itu, jika dia benar-benar mengandung anak kamu." Wanita itu menggelengkan kepala dengan cepat. "Saya tidak melakukan perselingkuhan, ini memang anak anda. Nyonya, tolong jangan menghina saya. Nyonya yang harusnya intropeksi karena belum bisa menghasilkan keturunan untum tuan." Brak! Ayah Ducan memukul meja sekuat tenaga. "Kamu bicara apa? Bagaimana bisa seorang wanita rendahan menghina menantuku?! Ducan, kamu bahkan diam saja ketika Sena dihina!" "Ayah, apa yang dikatakannya merupakan fakta. Sena tidak bisa memiliki anak, justru ayah mendapatkan cucu dari menantu lain." Ducan mengangkat kedua bahu dengan santai. Sena menghela napas panjang, berusaha mengatur emosi supaya tidak menangis. Ayah Ducan melihat wajah pucat Sena dan menjadi tidak tega. "Sena, masuk ke dalam kamarmu. Aku ingin bicara dengan Ducan." Tanpa bicara, Sena menuruti perintah ayah mertuanya dan keluar dari ruang makan. Adrian yang sedari tadi berdiri di luar ruangan, melihat Sena berjalan dengan keluar dengan anggun lalu mengikutinya diam-diam supaya tidak ada yang mengganggunya. Ini adalah perintah tuan besar. "Kamu keterlaluan! Bagaimana bisa menghina Sena seperti itu?" "Ayah, dari awal aku sudah bilang kalau tidak mencintainya. Dia hanya wanita kaku dan memiliki dunianya sendiri, dia tidak cocok denganku. Aku juga tidak suka sifat muramnya." "Kamu- waktu itu kamu setuju menikah dengannya." "Aku hanya ingin menghormati semua keputusan ayah." "Kamu bahkan selingkuh dengan sepupu Sena." "Dia yang datang sendiri kepadaku, aku tidak akan menolak." "Bahkan kamu tidak menutup semua kelakuan bejatmu!" Bentak ayah Ducan. "Ayah, aku akan menjaga Sena dengan baik. Satu-satunya istri sah secara hukum dan agama hanyalah dia." "Bagaimana bisa kamu menjaganya sementara dia kamu pukuli?!" "Aku hanya menghukum, dia harus tunduk padaku." Ayah Ducan memang mengajarkan putranya untuk bertindak superior, tapi sayangnya superior Ducan mengarah ke hal yang salah. "Sepertinya terlambat memperbaiki sifat sembrono kamu, satu-satunya cara hanyalah menutup semua kesalahan kamu." Ducan tersenyum. "Itulah tugas seorang ayah, melindungi anaknya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD