Pasang CCTV

822 Words
Suara Meresahkan di Kamar Tamu Bab 2 : Pasang CCTV Setelah berhasil membeli kamera CCTV, aku segera kembali ke kantor. Rasanya sudah tidak sabar untuk memasang benda kecil ini di kamar tamu yang menurut dua anakku ada hantunya itu. Sebaiknya, sebelum malam aku harus sudah memasang kamera tersembunyi ini yang tentunya tak ada yang boleh tahu, termasuk Syilvina, istriku. Kulirik jam di pergelangan tangan yang sudah menunjuk ke arah pukul 16.00, pekerjaanku sedikit lagi rampung. Setengah jam lagi, aku harus berkemas pulang. Sebelum magrib, aku harus sudah berada di rumah. Segera kupercepat penyelesaian mengoreksi berkas-berkas yang diberikan atasanku ini. Dua puluh menit kemudian, aku sudah mengemasi meja, semua pekerjaanku sudah rampung. Saatnya pulang, aku segera keluar dari ruangan kerja. "Udah mau pulang, Bro?" sapa Hilman, temanku. "Iya, duluan, ya." Kutepuk pundaknya sambil berlalu menuju anak tangga. Pukul 16.30, aku sudah berada di mobil dan memacunya menuju pulang. Suasana jalanan lumayan sepi, jadi aku bisa memacu kendaraan secepat mungkin. Satu jam kemudian, aku sudah tiba di rumah. Anak-anak menyambutku dengan girang. Maklum, kalau hari biasanya aku pulang ketika semuanya sudah tertidur. Jadi, kalau bisa pulang sore, sensasinya sungguh menyenangkan karena anak-anakku akan menyambut dengan suka cita. Aku menyayangi mereka semua, anak-anak juga istriku. “Tumben pulang awal, Bang?” sambut Syilvina sambil salim kepadaku lalu membantu membawakan tas kerja juga jasku. “Kerjaan sudah rampung, jadi Abang bisa pulang awal,” jawabku sambil menggendong Arshi, putri bungsuku. "Papa, es krim," ocehnya samping menatapku dengan bola mata lucunya. "Nanti, Sayang, es krimnya." Kudaratkan ciuman di pipi chabbynya. "Hmmm .... " Dia merengut. "Besok saja, ya." Kuciumi lagi pipi sebelahnya sambil duduk di sofa ruang tengah. Rasanya senang sekali bisa pulang awal begini, jadi bisa bercengkrama dengan keluarga kecilku. Oh iya, jangan sampai lupa, misiku pulang awal karena ingin memasang kamera CCTV. “Sayang, Abang lapar, tolong siapkan makanan, ya!” ujarku kepada wanita yang sudah kurang lebih lima belas tahun kunikahi itu. “Arsha, bawa Arshi main ke kamar! Papa mau mandi dulu,” sambungku sambil melambaikan tangan kepada putri tertuaku. Syilvina melangkah menuju dapur, ketiga anakku menuju ruang tengah. Kini saatnya aku menjalankan misi memasang kamera CCTV itu. Dengan langkah cepat, aku segera menuju ruangan pojok kanan yang tak jauh dari tangga untuk menuju ke lantai atas. Kubuka perlahan kamar itu lalu menyalakan lampunya. Aku mengerutkan dahi saat melihat tempat tidur yang terlihat kusut dan acak-acakan, padahal tak ada yang tidur di sini sejak beberapa bulan terakhir. Kamar ini hanya akan digunakan jika ada orangtuaku atau juga orangtua istriku yang datang berkunjung ke sini. Ah, sebaiknya aku cepat memasang mamasang benda kecil ini. Semoga aku bisa mengetahui jenis hantu yang membuat resah Arsha dan Arka. Kasihan mereka, tidak bisa tidur dengan nyenyak sebab kamarnya berdekatan dengan kamar angker ini, begitu Arka menyebut kamar dengan nuansa cat warna biru muda itu. Kuedarkan pandangan ke sekitar kamar, mencari tempat yang aman untuk benda kecil ini agar tak ada yang tahu akan keberadaannya. Kutarik kursi meja rias dan meletakkannya ke atas tempat tidur lalu memasangkan kamera CCCT itu di dekat lampu agar bisa merekam seluruh area kamar tamu ini. Oke, selesai. Aku segera turun dan mengembalikan perabotan sesuai posisi semula. Segera kumatikan lagi lampu lalu menutup pintu. Baguslah, tak ada satu pun anggota keluarga yang tahu apa yang kulakukan tadi. Kulangkahkan kaki menuju kamar, lalu meraih handuk dan mandi. Hingga aku selesai menunaikan sholat magrib, Syilvina belum juga masuk ke kamar. Apa dia sedang memasak? Biasanya ia tinggal memanaskan saja, sebab ia sudah memasaknya sejak siang. Aku keluar dari kamar, lalu mendapati tiga anak-anakku sedang menonton televisi acara kartun upin dan ipin sambil mencemil sepiring sosis yang dipotong kecil-kecil. "Papa." Arshi menoleh kepadaku dan melambaikan tangannya. "Iya, Nak, Papa mau ke dapur dulu, ya." Kuhampiri sebentar ketiga anakku dan mengusap kepala mereka bergantian. Aku tersenyum dan melewati mereka lalu menuju dapur. Syilvina pasti sedang berada di dapur, mungkin dia tak sempat memasak tadi siang atau mungkin sudah habis dimakan anak-anak dan adik iparnya. “Eh, Abang .... “ sapa Riko saat kami berpapasan di dekat pintu masuk ke dapur. Dia terlihat sangat terkejut, aku hanya tersenyum tipis, lalu melanjutkan melangkah menuju dapur. Aku tersenyum simpul saat melihat Syilvina sedang mencuci piring dengan posisi membelakangi. Aku melangkah perlahan dan langsung memeluknya dari belakang, Syilvina meliuk tubuhnya, namun membiarkanku menciumi leher jenjang itu sebab rambut ia sanggul ke atas. “Beb, udah ah!” ucapnya masih dengan mengeliutkan tubuh, mungkin ia sedang menahan geli atau juga hasrat. Aku mengerutkan dahi, tumben sekali dia memanggilku ‘Beb’? Biasanya juga Abang atau juga sayang. “Hmm ... Sayang, kok tumben maanggil ‘beb’?” bisikku di telinganya. “Eh!” Syilvina langsung membalikkan tubuhnya dan menatapku dengan terkejut. Aku masih menautkan alis, panggilan ‘beb’ membuat otak jahatku berpikir yang macam-macam. Sejak dari masa pacaran, tak pernah dia memanggilku begitu. Panggilan kami hanya kata ‘sayang’ saja. Syilvina terlihat gugup dan keringatan, sedangkan mataku menatap tajam ke arahnya. Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD