Permainan di Ranjang

1136 Words
Selama dua hari ini Liora anak Kayla demamnya tak kunjung reda, bahkan hari ini demamnya semakin tinggi. Kayla meminta tolong bantuan Bu Naomi untuk membawa Liora ke rumah sakit. Namun saat di rumah sakit, Kayla terkejut dengan BPJS miliknya yang sudah tidak aktif. Padahal selama ini mereka memakai BPJS mandiri yang di bayar setiap bulannya. Ternyata Rian sudah tidak membayar iyurannya selama setahun. Mau tidak mau, Kayla mendaftarkan anaknya sebagai pasien umum di kelas tiga. Secepatnya Liora harus mendapat perawatan. Kayla sedikit gugup, ia bingung harus kemana mencari uang untuk pengobatan anaknya. Sedangkan ia tidak memiliki tabungan yang banyak. "Kay, kamu yang sabar." Bu Naomi mengelus pundak Kayla. Ia duduk didekat Kayla saat Liora sudah berada di kamar rawat. " Kamu sudah coba hubungi suamimu?" Kayla menghapus air matanya dan menatap Bu Naomi yang berada disampingnya. "Sudah bu, tapi tidak di angkat. Bahkan pesanku pun tidak di baca mereka, Bu." ujar Kayla sambil mengecek ponselnya kembali. "Apa kamu tidak ingin mendatangi rumah mereka? walau bagaimanpun, Liora masih tanggung jawab mereka." Kayla menarik nafas dan menghembuskan. Ujian hidupnya sepertinya tidak ada habisnya. Baru saja di usir oleh mertuanya dan di fitnah sebagai wanita malam, kini anaknya harus terbaring lemah di rumah sakit. "Ibu paham, Kay. Tapi kamu harus kuat demi Liora. Pergilah, katakan pada mereka, kalau Liora sedang di rawat." ujar Bu Naomi memberi semangat pada Kayla. Tidak ada pilihan lain bagi Kayla, Ia memilih untuk pergi bertemu keluarga suaminya, atau lebih tepat mantan suaminya. Dengan ojek online Kayla menuju kediaman Rian dan ibunya. Setelah sampai di kediamaan rumah keluarga Rian, ia langsung menekan bel berulang kali, karena hari sudah larut, pintu rumah itu tak kunjung terbuka. Namun saat Kayla mencoba kembali menekan bel dan mengetuk pintu, tampak Renata yang membuka pintu rumah, "Mau apa sih malam-malam kesini?" tanya Renata yang berada di balik pintu. "Mas Rian di mana? aku mau bertemu dengannya." ujar Kayla dengan cepat dan berharap bisa bertemu ayah dari anaknya. "Belum pulang, mungkin masih bersama calon istrinya." Jawab Renata jutek. "Dimana alamatnya? aku ingin bertemu dia. Liora sakit, sekarang di ruamh sakit. "Aku gak tahu. Di rumah sakit apa Liora di Rawat?" tanya Renata. "Medica Persada, kamar anggrek tiga." "Nanti aku beritahu Mas Rian..." "Ada apa ribut malam-malam?" tanya Surti yang muncul dari belakang tubuh Renata. "Bu, Liora di Rawat di rumah sakit. Butuh biaya. Aku ingin bertemu mas Rian, Bu." Jelas Kayla dengan nada memohon. "Tunggu di situ." Titah Surti yang melangkah pergi. Tak berselang lama, Surti kembali mendatangi Renata dan Kayla yang berada di depan pintu utama mereka. "Ambil uang itu, pakai mulutmu. Kamu minta uang untuk Liora kan?" Surti menghamburkan uang yang di ambilnga tadi di hadapan Kayla. Hati Kayla memanas, "Liora cucumu, darah dagingmu, Ibu Surti terhormat." Tangannya mengepal, ingin rasanya ia membalas perbuatan mantan mertuanya itu. "Liora bukan cucuku. Ayo masuk Renata." Surti dan anaknya masuk dan membanting pintu, meninggalakn Kayla yang masih berdiri di luar dengan uang yang berserakan di teras rumah mereka. Kayla memandang uang yang berserak di kakinya. Ia menghapus air matanya, dan meninggalakan rumah mantan mertuanya itu tanpa mengambil uang yang lemparkan oleh Surti. *** Kayla kembali menuju Rumah sakit, namun sebelum memasuki lorong ruang rawat anaknya, Kayla memilih ke arah kantin, membeli beberapa bungkus roti dan teh panas. Lalu kembali ke ruangan anaknya. "Bu, maaf aku lama." ujar Kayla saat masuk dan melihat masi ada bu Naomi yang duduk di samping tempat tidur anaknya. "Bagaimana? apa kamu sudah ketemu ayahnya Liora?" tanya Bu Naomi saat melihat Kayla masuk. Ruangan rawat yang berisi empat bed itu. "Tidak, bu. Ponselnya pun tidak aktif." Kayla menahan tangisnya. "Kalau berkenan izinkan saya membantu..." Kayla melihat kearah suara yang berada di belakang mereka. Terlihat wanita paruh baya berdiri di ujung ranjang anaknya. "Maaf, Kay... tadi ibu sempat cerita pada Ibu Fani, soal keadaan kamu." Jelas Ibu Naomi. " Perempuan paruh baya itu meletakkan amplop berwarna coklat di ujung ranjang. "Pakai saja dulu, cucuku juga sakit di kamar sebelah. Aku tahu rasanya di posisi kamu. Aku juga dulu pernah sepertimu. Aku tidak ada maksud apa-apa. Sebagai seorang ibu aku paham betapa terpukulnya hati seorang ibu melihat anaknya terbaring lemah. Kayla merasa bimbang, di satu sisi ia sangat membutuhkan, disisi lain ia merasa tidak enak karena di bantu oleh orang asing. "Akan saya simpan, siapa tahu nanti Ayahnya Liora datang melihat Liora dan uang ibu akan saya pulangkan." Ujar Kayla sambil mengambil amplop coklat itu dan memasukkannya ke tasnya. Wanita paruh baya itu tersenyum dan menatap wajah lelah Kayla, "Kamu harus tetap kuat dan sehat demi anakku." Kayla menatap wajah teduh Fani, terlihat walau sudah tua namun Ibu Fani sangat ramah dan peduli padanya. Semoga aja Ibu Fani adalah malaikat penolong baginya saat ini. Tapi walau bagaimana pun ia harus tetap menggantinya di saat ia punya uang nanti. *** Di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen, dua orang yang terlelap karena lelah setelah memadu kasih, Gisel terbangun saat mendengar ponsel Rian berdering, berulang kali ponsel itu berdering, namun di abaikan oleh Gisel. Bahkan pesan masuk [Mas, Liora sakit, sekarang masuk Rumah sakit] Gisel membaca pesan tersebut, namun langsung di hapusnya, dan menonaktifkan ponsel milik Rian. Hari semakin pagi, Gisel memainkan lidahnya di telinga Rian yang terlelap, mencium wajah Rian yang membuat Rian terbangun. "Sudah jam berapa ini?" tanya Rian "Baru jam pagi, sayang." Ujar Gisel yang berada di atas tubuh Rian. Rian mendorong tubuh Gisel,dia harus segera mandi dan berangkat kerja. "Kenapa buru-buru,sayang. Aku ingin lagi." Rajuk Gisel yang langsung kembali naik ketubuh Rian dan memainkan jarinya di tubuh Rian. "Aku harus ngantor." "Sepuluh menit saja. Tidak akan membuatmu terlambat." ujar manja Gisel dan memainkan matanya. "Gisel, aku tidak bisa. Kalau libur, kamu mau nambah dua kali juga tidak masalah." Tolak Rian, ia harus menghemat energinya karena harus bekerja seharian. Gisel merengut dan turun dari ranjang lalu memakai kimononya. Dia menyiapkan sarapan untuk Rian. Banyak lelaki yang dekat dengan Gisel, namun hanya pada Rian ia betah berduaan, Rian sangat membuat ia tergila-gila. Gisel tidak peduli kalau Rian sudah memiliki istri. Yang ia tahu, Rian sangat liar di ranjang membuat ia ingin selalu berada didekat Rian. Gisel termasuk anak manja, karena anak satu-satunya dan selau di turuti setiap kemauannya. Sehingga, ia ingin Rian juga harus menjadi miliknya tak peduli apapun itu rintangannya. "Setelah kita menikah, aku pastikan jabatan kamu akan naik dan gajimu akan dua kali lipat dari sekarang." ujar Gisel yang menyiapkan sarapan untu Rian. "Karena Papa juga menyukaimu." Gisel mendekat dan memainkan tangannya di leher Rian, ia dudul di atas pangkuan Rian. "Sayang, aku harus kekantor, tolong jangan seperti ini." Rian meneguk kopi yang dibuatkan Gisel dan memakan roti bakar yang ada dihadapannya. "Kamu sangat menggodaku, Kamu sangat pintar membuatku ketagihan dengan permainanmu di ranjang." Gisel bermanja di d**a bidang Rian, yang membuat hormon lelakinya meningkat kembali. Tapi Rian harus tetap melawan hormonya karena jam sudah menujukkan pukul tujuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD