Selama dua bulan berturut-turut, Rian mengirim uang lima ratus ribu rupiah sesuai janjinya pada Kayla. Rian saat ini berada di rumah ibunya, duduk dikursi meja makan. Jarinya menekan M-banking.
"Gak usah di kasih uang lagi, biar aja dia usaha sendiri si perempuan kampung itu." Surti merebut ponsel Rian. Bibir perempuan tua itu merengut.
"Tapi aku sudah janji, bu. Lagi pula tidak banyak, bu." Ujar Rian.
"Enak saja, ibj tidak akan setuju. Urus saja perceraianmu secepatnya pada Kayla. Surti kembali menaruh ponsel Rian.
Proses perceraian Rian dan Kayla sedang berlangsung. Gisel yang membayar pengacara untuk cepat selesai. Rian dan Gisel sudah melakukan persiapan pernikahan mereka, salah satunya foto praweding dan memesan gaun pengantin.
"Bagaimana renovasi rumahnya, bu?" Tanya Rian. Ia memilih saran dari ibunya, tidak jadi mengirim uang pada Kayla. Padahal seharusnya itu adalah kewajibannya sebagai seorang ayah pada anak perempuannya.
"Sudah hampir selesai. Ibu akan pindah ke sana, dan rumah ini akan ibu kontrakan." Jawab Surti. Ia sudah membayangkan menjadi orang kaya, tajir melintir. Mengharapkan uang mengalir terus dari kontrakannya, dan menantu yang kaya raya.
"Bu, calon suamk Renata usaha apa? aku hanya ingin tahu." tanya Rian.
"Perusahaan retail katanya." Jawab Surti
"Nama Perusahaannya?"
"Wah, ibu enggak tahu. Lupa tanya. Lagian dari mobilnya kita kan sudah tahu."
Rian mengetik nama Danu Brata di pencarian Google, namun tidak di temukan. Pikir Rian, mungkin orang tua Danu yang kaya dan lebih di kenal orang.
"Ibu sudah pernah kerumah Danu?" Selidik Rian.
"Sudah, rumahnya bagus sekali, besar dan mewah, pokoknya seperti istana. kamu mencurigai Danu?" tanya Surti. "Orang tuanya juga baik pada ibu dan Renata."
"Kapan-kapan aku ingin mengundang Danu dan orang tuanya untuk makan di restoran." Papar Rian.
"Nanti ibu sampaikan ke Danu."
"Aku tungggu." Rian lantas berangkat kerja, saat ini ia tidak memakai motornya lagi, melainkan mobil sedan pemberian Gisel.
Siang harinya, Surti dan Renata di jemput Danu, mereka menuju rumah milik Surti yang pernah di tinggali Rian dan Kayla. Surti berharap, rumahnga segera seleai, ia tidak sabar ingin segera pindah. Karena rumah itu cukup besar dibanding rumah tempat tinggalnya saat ini.
"Danu, Rian ingin mengundangmu makan siang bersama di reatoran." Ujar Surti.
"Kebetulan Ayah dan Ibu sedang berada di luar negri, bu. Nanti kalau sudah pulang aku sampaikan pada mereka, bu." Sahut Danu yang sedang nyetir.
"Sayang, setelah menikah, kita tinggal dirumah kamu, ya!" rengek manja Renata.
Untuk sementara kita tinggal di rumah saja ya, aku bosan tinggal di rumah besar." Danu menepikan mobilnya dan melihat ponselnya berdering. Mukanya tegang saat mengangkat panggilan masuk di ponselnya.
"Baik, Pak. Saya akan segera kesana." Danu Menatap Renata, "Maaf Renata. Ada urusan mendadak, kalian naik taxi saja, ya."
"Haduh, gimana sih?" Dewi melipat tangannya dan kesal pada kekasihnya. "Antar kamu dulu." ujar Renata tegas.
"Tidak bisa, Ren. Aku ada urisan lebih penting." Danu turun dari mobil dan membuka pintu Renata dan membuka sabuk pengaman Renata.
"Maaf, bu Surti. Aku ada urusan mengenai hidup dan mati pekerjaanku."
"Ayo Renata, turun. Sebagai calon istri kamu harus peka terhadap pekerjaan calon suamimu.
Renatapun turun dengan wajah cemberut. Dia menghentakkan kedua kakinya. Niat hatinya ingin memamerkan pada tetangga kakaknya dulu, kalau dia bisa lebih dari Kayla dulu. Memiliki calon suami kaya dan dirinya lebih cantik dari mantan kakak iparnya itu.
***
Kayla berada di sebuah kamar kost yang kecil, bisa dibilang setengah dari kamar dia dulu saat bersam Rian. Kayla terkejut saat melihat pesan masuk di ponselnya.
[Mulai saat ini, aku tidak mengirim uang lagi.]
Sebuah pesan masum di aplikasi berwarna hijau di ponsel Kayla, pemilim pesan itu adalah lelaki yang akan menjadi mantan suaminya. Jari jempolnya sudah siap ingin membalas pesan tersebut, tapi ia urungkan dan hapus kembali. Kayla gidak ingin memohon dan mengemis pada Rian. Mulai saat ini, ia gidak akan mengharapkan apapun dari lelaki yang tidak pernah bertanggung jawab dengan kata-katanya.
Kayla melanjutkan tugasnya, selama di tempat tinggalnya yang baru, Kayla tetap membuat Peyek, dan donat untuk dititip di warung-warung. Terkadang ia menerima jasa cuci gosok di dekat kosannya.
Kayla meraih kain gendong, ia mengangkat tubuh mungil Liora dan membawa dagamgannya untuk di titip di warung-warung.
"Mbak, Kayla, Maaf saya tidak mau lagi menerima titipan rempeyek dan donat milik mbak Kayla." ujar pemilik warung, saat Kayla sampai ingin memberikan dagangannya.
"Kenapa, Bu?" tanya Kayla sedikit terkejut.
"Karena, mbak Kayla wanita tidak beres."
"Enggak beres gimana, bu?" tanya Kayla sedikit heran.
"Mbak Kayla kalau malam jadi kupu-kupu malam. Ada yang lihat, katanya seperti itu." Papar pemilik warung.
"Itu enggak bener, bu." Sanggah Kayla.
"Maaf Mbak, Saya tidak bisa terima barang dari wanita yang menjual dirinya. Ini juga yang kemarin-kemarin tidak laku. Silahkan bawa pulang dan pergi dari sini."
Kayla pergi dan membawa barang dagangannya. Ia melangkah pergi dengan hati yang teriris. Siapa yang berani nebar fitnah seperti ini. Bahkan di warung satunya pun demikian. Barang dagangan Kayla di tolak hanya karena dia di anggap sebagai wanita malam. Kayla berjalan pulang dengan perasaan kecewa dan sedih. Pekerjaan apa lagi yang harus ia lakukan?
"Kok dibawa pulang lagi daganngannya?" tanya Bu Naomi, tetangga kost Kayla.
Kayla kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Bu Naomi.
"Aku sudah dengar dari seminggu yang lalu. Tapi aku tidak percaya. Lah wong kamu setiap hari di rumah terus." ujaf Bu Naomi.
Kefika melepaskan kain gendong dan meletakkan Liora di tikar, ia merasakan tubuh anaknya hangat.
"Ibu mau peyek dan donatnya? ambil saja, Bu."
"Mending di jual di tempat yang jauh dari sini. Tempat yang tidak kenal kamu." Saran Bu Naomi. Ia jugaa kadang merasa iba dengan Kayla. Setiap hari Ia bisa melihat aktifitas Kayla, pagi-pagi Kayla sudah mengambil pakaian kotor di rumah tetangga untuk dicuci dan strekia olehnya, setelah itu ia kepasar belanja bahan dagangannya. Kadang ibu Naomi ingin membantu, namun ia juga memiliki keterbatasan ekonomi.