Bukan Keluarga

1046 Words
Malam itu, di kediaman Johan, ayahnya Gisel sedang bicara dengan keponakannya bernama Galaksi. Salah satu pewaris dari keluarga Wins yang anti dengan pernikahan. "Ada gosip di kantor, kalau Gisel dekat dengan pegawai bernama Rian Anggara asisten pemasaran di kantor. Sayang sekali Rian lelaki yang sudah menikah." Ujar Galaksi. "Soal itu aku tahu, sebelumnya Gisel juga sudeh cerita padaku. Dan dalam waktu dekat ini mereka akan bercerai." Jelas Johan. "Lagian wanita seperti itu buat apa dipertahankan, mereka bilang kalau istrinya selingkuh, kedapatan menjual d*r* di rumah bordil." "Oh ya?" Galaksi merasa tidak yakin dengqn penuturan pamannya. Banyak lelaki yang akan menjelek-jelekkan pasangannya karena tertarik dengan perempuan lain. "Rian pekerja keras, dan berprestasi dengan perusahaan kita. Dia pintar dalam mengelola pekerjaannya." Johan memuji Rian. Galaksi menyesap kopinya, ia teringat akan sosok wanita yang rapuh itu. Ia tidak yakin kalau Kayla sejelek itu. "Sebaiknya kamu bertemu dan mengenal Rian lebih dekat lagi." Saran Johan. "Karena dia akan menjadi menantuku." "Aku tidak berminat bertemu dengannya, om." Ujar Galaksi lalu meletakkan cangkir kopinya di meja. "Ayolah, Si.." Gisel muncul dari teras dengan penampilan seksinya. Memakai baju mini dres berwarna hitam. "Apa tidak ada lelaki lain?" Galaksi merasa aneh dengan Rian, lelaki yang baru beberapa bulan dikenal Gisel. "Tidak bisa. Hubungan kami sudah sangat jauh. Rian juga lelaki yang baik. Dia lelaki yang jujur." Bela Gisel intuk kekasihnya. "Om, aku tidak ingin Rian naik jabatan begitu saja, hanya karena dia menantumu. Ingat itu, dia harus mengikuti proses seperti pegawai lainnya." Tegas Galaksi. "Kok gitu sih, Si?" Protes Gisel, dengan wajah memelas. "Itu keputusanku, Gisel." Tegas Galaksi *** "lima ratus ribu sebulan, mbak." Ujar pemilik kos, yang berukuran tiga kali tiga meter per kamarnya. Kayla memandangi kamarnya, kamar berukuran kecil, terdapat sebuah ambal tipis untuk alas tidur, bantal, lemari dan kamar mandi dan dapur kecil disebelahnya. "Ini sudah termasuk paling murah di daerah sinj, mbak." Jelas pemili kos itu lagi. Kayla memilih mencari kos-kosan yang sedikit jaih dari komplek tempat tinggal dia dulu. Tawaran Bu Lastri awalnya, ia ingin terima. Namun ada sebagian warga yang menjadi profokator, membuat Kayla harus keluar dari komplek perumahan mereka. "Jelas dia di ceraikan. Penampilan sok suci, tapi kelakukan menjijikkan." Ucap bu Rara tetangga lama mereka dulu. "Kayla itu ketahuan selingkuh, makanya rIan menceraikannya. Wajar sih saya rasa diceraikan, gak tau diri. Suami kerja banting tulang mencari nafkah. Eh dia malah enak-enakan jalan sama lelaki lain." ujar salah seorang warga lagi. Ucapan ibu-ibu komplek itulah yang membuat Kayla menolak tawaran Bu Lastri. Setelah mendapat kosan yang tepat, Kayla pergi pulang ke rumah lama mereka untuk membereskan beberapa barangnya yang tersisa. Saat sampai di depan rumah, Kayla terkejut melihat beberapa kardus dan tas berisi pakaiannya dan Liora ada didepan pintu. "Sudah pulang? Baguslah, segera pergi dari sini. Bawa semua barang busuk mu, ini!" Ujar Surti ibu mertua Kayla. Lebih tepatnya mantan mertuanya. "Masih ada tiga hari lagi, bu." ucap Kayla, seraya memasukan bajunya yang berjatuhan di lantai teras rumah. "Sekarang aku yang menentukan." Surti maju beberapa langkah dan memberikan uang berwarna merah sebanyak dua lembar. "Untuk ongkos taksi." "Kami harus pergi kemana, bu?" Kayla menghembuskan nafas. "Liora cucumu ,bu", ujar Kayla seraya menatap wajah Surti. Surti tidak berkomentar, ia masuk ke rumah dan menutup pintu. "Liora, mari kita pergi, tempat kita tidak di sini lagi nak." Kayla berkata pada anaknya yang terlelap di gendongannya. Ia menghapus air matanya dan mengangkat barang-barangnya. "Liora, kelak nanti kita akan memiliki rumah yang nyaman dan mobil yang ber AC." Kayla berjalan kaki dengan bersusah payah membawa barangnya. Ia masih bingung harus kemana. Jika ke kosan harus membersihkan kosan itu terlebih dahulu. Saat ini pikirannya hanya tertuju pada rumah Bu Lastri. Hanya Bu Lastri yang menjadi teman bahkan keluarga yang bisa mendengar keluh kesahnya. Kayla berjalan hingga ke rumah Bu Lastri, namun terlihat toko dan rumahnya tutup. Karena hari sudah terlihat gelap, ia lebih memilih menunggu di teras rumah Bu Lastri, ada sebuah kursi bambu panjang. Ia meletakkan barang bawaannya dan meletakkan anaknya di kurai bambu itu. Hampir tiga puluh menit ia menunggu, sang pemilik rumah pun tiba, dengan jas hujan yang melekat di tubuhnya. "Kayla, kenapa kamu ada di sini?" tanya Bu Lastri saat melihat Kayla dan anaknya di teras rumahnya. "Aku di usir dari rumah, bu." Kayla terisak memceritakan perlakuan ibu mertuanya. "Ya Tuhan, tega sekali mereka." Bu Lastri membuka pintu Rumahnya. "Ayo masuk dulu. kebetulan ada pisang. Liora pasti lapar." Bu Lastri memberikan sebuah pisang pada Kayla, ia tak tega melihat keadaan Kayla dan Liora saat ini. "Tinggallah di sini, sampai kamu mendapat tempat kos. Jangan dengarkan omongan orang untuk saat ini." Bu Lastri mengelus pundak Kayla. Ia bisa merasakan beban yang di rasakan Kayla. Kayla meletakkan Liora di sofa empuk milik Bu Lastri, lalu memberikan pisang pada anaknya. "Keluarga suamimu sudah keterlaluan, aku ingin sekali melempar batu pada mereka." Ujar Bu Lastri yang berjalan ke dapur untuk mengambil teh hangat. Kayla menghapus air matanya, benar kata Bu Lastri, bahwa keluarga suaminya tidak memiliki hati. Bahkan mereka rela, darah dagingnya terlantar bersamanya. "Sebenarnya aku gak kuat, bu. Hanya karena Liora aku harus bertahan." Setelah menaruh teh hangat dan roti di meja, bu Lastri memeluk Kayla. "Menangislah, Kayla. Jangan di tahan. Puaskan saja. Setelah itu simpan air mata mu. Buktikan bahwa kamu bisa sukses. Biar orang-orang juga bisa menilai bahwa bukan kamu yang salah." Bu Lastri memberi semangat pada Kayla. Ia sudah menganggap Kayla seperti anaknya. Tubuh Kaylapun berguncang kuat, ia menumpahkan semua kesedihannya di pelukan Bu Lastri.Ada benarnya kata Bu Lastri. Ia harus bisa bangkit dan membalas semuanya pada keluarga Rian. "Ibu yakin, kamu wanita tangguh, anakmu juga akan mengerti dengan keadaanmu. Jadilah ibu dan Ayah untuk anakmu." Bu Lastri memberilan teh hangat pada Kayla, agar Kayla sedikit leboh tenang. Bu lastri memangku Liora, dan tersenyum pada bayi mungil itu. Anak yang tidak berdosa, bahkan tidak mengerti akan masalah orang dewasa, harus merasakan imbasnya. Sebenarnya ingin sekali Bu Lastri menolong Kayla, namun perkataan warga dan Kepala RT mereka menolak jika Kayla harus tinggal bersama Bu Lastri. "Selama belum dapat tempat tinggal, biarlah kalian di sini dulu. Kasihan anakmu kalau harus kamu bawa-bawa terus untuk mencari tempat tinggal kalian." "Terimakasih, bu. Hanya ibu saat ini yang saya punya. Hanya ibi yang bisa mengerti keadaanku saat ini, Bu." "Sudahlah, kamu bawa anakmu kekamar, istirahatlah terlebih dahulu. Kasian juga Liora, dia pasti lelah juga."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD