Menata Hati

1008 Words
Apa yang dilakukan suaminya di hotel? Bahkan sampai malampun Rian belum pulang. Kayla menimang-nimang anaknya yang rewel. Tidak sepertu malam biasanya, Liora akan tertidur dengan sendirinya. Suara ketukan pintu dari arah depan terdengar. Kayla bergegas membuka pintu. Ia mengira Rian yang pulang, ternyata saat membuka pintu, yang terlihat Pak RT. "Mbak Kayla, baru saja ada yang melapor pada saya, ada pria asing masuk ke rumah mbak Kayla." Kata pak Agung "Enggak ada tamu, Pak. Mungkin salah liat. Kalau tidak percaya silahkan periksa setiap sudut rumah saya, Pak." Jelas Kayla. "Siapa yang melapor, Pak?" "Salah satu warga perumahan, mbak." Jawab Pak Agung. "Saya percaya sama mbak Kayla. Tidak akan mungkin Mbak Kayla seperti itu." Pak RT akhirnya berpamitan pulang dan meninggalkan rumah Kayla. Kayla menutup pintu, ia penasaran siapa yang melapor tidak benar. Sekitar pukul dua belas malam. Rian pulang ke rumahnya. Kayla membiarkan suaminya membersihkan dirinya terlebih dahulu. "Mas, tadi siang aku melihat kamu keluar dari restoran mewah, dan berjalan bersama wanita menuju hotel. Rian yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk, menatap Kayla saat pertanyaan itu keluar. "Gisel namnya, Pacarku." Jawab Rian, dengan santai tanpa merasa bersalah. "Apa?" Kayla terkejut dan hampir limbung. Kayla memegang sudut meja untuk tetap berdiri tegak. "Sebaiknya kamu tahu dari sekarang. Kamk akan menikah." "Mas!!! aku istrimu." Suara Kayla bergetar, dadanya sangat sesak. Ia tak menyangka kalau suaminya rela berkhianat padanya yang telah memberikan keturunan, bahkan segalanya di korbankan oleh Kayla. "Setuju atau tidak, dalam waktu dekat kamu akan aku ceraikan." Ujar Rian sambil memainkan ponselnya. "Mas... " Akhirnya Kayla luruh ke lantai dan menangis menahan sesak didadanya. "Aku menikahimu bukan karena cinta. Aku hanya butih batu pijakan untuk bisa tetap kuliah." Rian tersenyum miring. "Kalau aku memberikan nafkah batin, itu karena kebutuhanku sebagai seorang lelaki. Dan, tubuhmu indah sangat indah." "Kayla bangkit dan mendorong tubuh Rian. "Tega kamu, Mas!!"teriak Kayla. Rian mencekram bahu Kayla. "Sekarang aku butuh batu loncatan yang lebih tinggi dari kamu. Supaya bisa mencapai kesuksesan. Dia Gisel, bukan kamu..." Tubuh Kayla di dorong Rian menyebabkan ia terjatuh ke belakang. "Karena aku menceraikanmu, tinggalkan rumah ini. Aku memberikan waktu padamu dua minggu." "Bagaimana dengan Liora?" Kayla menghusap pipinya yang basah. Nyeri didadanya sangat kuat, namun ia harus bisa tetap berdiri kuat. "Bawa Liora. aku akan memiliki anak dari Gisel. Dari keturunan terpandang dan mendapatkan garis keturunan orang kaya." "Gak ada mantan anak, Mas!" teriak Kayla "Aku tidak peduli, kamu jangan kawatir. Aku akan tetap membiayainya setial bulan.ima ratus ribh cukupkan?" Senyum Rian seolah mengejek. Kayla menatap Rian. Pikirannya kosong. Kayla telah dibohongi selama ini, dan sekarang malah di khianati. Sunggh sangat sakit. Wanita itu tidak bisa tidur semalaman. Hatinya sangat nyeri, apa lagi suaminya tega mengusir dia dan anaknya dari rumah yang selama ini mereka tempati. Kemana ia harus pergi? sedangkan keluarga satupun tak ada yang ia punya lagi Kayla yang terduduk di lantai kamar, hanya bisa memeluk kedua lututnya dan menangisi dirinya. Ia sempat berpikir akan mengahibi waktunya di dunia bersama Liora. Akan tetapi, Kayla tidak ingin anaknya merasakan kesedihan. Ia bangkit dan mempersiapkan MPASI untuk anaknya. "Tentu aku akan menjemputmu, tapi dengan motor, Kamu tidak keberatankan?" terdengar suara Rian yang sedang mengobrol di telfon bersama Gisel. "Kalau kita sudah menikah, kita akan berangkat kerja bareng, sayang." Masih pagi, Namun Kayla sudah mendengar suara menjijikan dari suaminya yang bahkan sebntar lagi akan menjadi mantan suaminya. "Mobil? Sementara aku akan memakai mobilmu? Oke aku otewe sekarang, sayang!" Rian mihat Kayla yang sedang memotongi sayur, "Sebentar lagi aku akan menjadi orang terpenting diperusahaan." Katanya dengan sombong Kayla mendengarnya walau tidak menggubris. Ada rasa perih di hatinya. Namun ia hafus kuat demi anaknya Liora. "Sudah menemukan tempat tingg?" tanya Rian saat ingin berlalu. "Belum, kamu pikir mudah mencari kost hanya semalam?" jawab Kayla. "Aku harap secepatnya kamu keluar dari sini. Karena rumah ini akan ditempati ibu. Jangan harap harta gono gini. Karena aku yang bekerja banging tulang mencari uang." "Tentu saja, hanya kamu yang bekerja." Kayla hampir saja meledak kalau tidak mendengar suara tangisan Liora dari kamarnya. Air matanya kembali menetes saat menggendong tubuh mungil anaknya. Menahan tangis dan berusaha tetap tersenyum dihadapan anaknya. "Kita akan pergi, nak. Kita akan tinggal di rumah yang lebih bagus dan di rumah yang seperti istana." Kayla berkata demikian untuk menghibur dirinya. Liora seolah paham, dan tersenyum memandang wajah ibunya. Tangan mungilnya menyentuh hidung sang ibu. Kayla membawa anaknya ke dapur dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Sudah tak terlihat Rian di rumah itu. Sudah di pastikan dia akan bersenang-senang kembali dengan wanita pilihannya sekarang. Kayla hanya bisa menguatkan hatinya, dan akan menata hidupnya yang baru bersama sang buah hati. Rencanya akan mencari-cari kos-kosan murah untuk sementara waktu. Selama ini ia memiliki tabungan dari hasil jualan rempeyek dan kue yang dititipkan di beberapa warung. Hari ini Kayla akan ke rumah bu Lastri. yang selama ini ia jadikan tempat curhatan, ia berharap ada solusi terbaik dari wanita paruh baya yang selama ini ia anggap seperti ibunya. Kayla juga akan mencari pekerjaan lain untuk tetal bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka. Ia akan bekerja sebagai tukang jahit lagi. Menjahit adalah salah satu keahliannya yang dulu pernah ia kerjakan. *** "Bu...." Kayla memeluk Lastri dan kembali menangis. Sebelumnya Kayla sudah memberi kabar lewat ponselnya. Keluarga satu-satunya yang ia punya hanya Lastri. Itu juga berawal dari Kayla yang meinitipkan jualannya di toko milik Lastri. "Kamu harus kuat, kay. Jangan pernah tangisi manusia seperti mereka. Bila perlu, tunjukkan pada mereka kalau kamu bisa sukses tanpa mereka." ujar lastri sambil mengelus pundak Kayla. "Aku bingung, bu. kemana aku harus mencari pekerjaan, sedangkan Liora masih kecil." "Sementara waktu kamu boleh tinggal dengan ibu. Kamu bisa mencari pekerjaan lain, biarla Liora, ibu yang jaga." Lastri merasa tak tega melihat Kayla diperlakukan seperti saat ini. Lastri juga memiliki anak perempuan yang sudah menikah dan saat ini ikut dengan suaminya di luar kota. "Kamu tidak usa sungkan, selama ini juga kamu udah ibu anggap seperti anak ibu, Kay. Aniyah akan senang kalau kamu tinggal menemani ibu di sini." Kayla menghapus air matanya. Ia sangat bersyukur ternyata masih ada orang yang baik seperti bu Lastri yang mau menerima keadaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD