Siapa Wanita itu?

1023 Words
Kayla memamdang Rian yang sedang asik bermain ponsel sambil senyum-senyum sendiri. "Mas, bisa minta tolong jaga Liora. Aku harus mengantar pesanan. Kayla memberikan Liora putri mereka pada Rian. "Aku sibuk. Kamu udah dikasih uang belanja lebih, masih juga jualan." Omel Rian dan menolak anaknya di titip padanya. Lumayan buat tabungan, Mas. Lagian ini juga pesanan pelanggan lama aku. Gak baik kalau menolak rejeki." Sahut Kayla. "Aku mau keluar." Rian beranjak dari kursinya dan berjalan kekamar mengganti pakaiannya lalu pergi keluar tanpa berpamitan dengan taxi online yang sudah menunggu di depan rumahnya. Kayla hanya menarik nafas. Kayla mengambil bungkusan pesanan orang yang akan ia antar, dengan menggendong anaknya dan menaiki sepeda motor miliknya, menuju rumah Bu Linda yang tidak jauh dari komplek rumahnya. Setelah mengantar pesanan Bu Linda dan menerima sisa pembayaran, kayla menuju sebuah supermarket. Ia hendak membeli perlengkapan sang anak dan kebutuhannya. Saat berada dideretan barang yang ia cari, Kayla bertemu dengan Emma teman adik iparnya. "Sendirian aja, Mba?" Tanya Ema saat melihat Kayla sedang berbelanja. "Berdua sama Liora." jawab Kayla dengan senyuman. "Akhir pekan gini, kenapa tidak ditemani Mas Rian? masa iya, Mas Rian kerja di akhir pekan, Mba." "Mas Rian lagi ada kegiatan di luar, Em." jawab Kayla singkat "Calon suami Renata pengusaha kaya ya, Mba?" "Kurang tahu!" "Di statusnya kok selalu pamer mobil sedan silver dan sering pamer barang-barang mewah gitu." Ujar Emma, yang mengikuti Kayla berbelanja. Emma adalah teman satu kelas dengan Renata saat dibangku SMA. Bukan Kayla tidak mengetahuinya. Kayla tahu, kalau Renata sering pamer barang-barang mewah dan foto kemesaraannya dengan tunangannya. Renata yang berusia dua puluh tiga tahun tidak bekerja, walaupun bekerja hanya bertahan sebulan saja. "Renata pasang status..." Emma menatap kayla dan melihat kembali ponselnya. "Baru saja unggah foto makan bersama kakak ipar cantik di Resto Ran's. Mungkin foto lama ya, Mbak Kay? Mbak Kayla aja berada disini." ucap Emma. Kayla mengbil ponselnya, selama ini ia tidak pernah makan diresto mewah itu. Kakak ipar siapa yang dimaksud Renata? "Mbak Kayla, aku duluan ya!" Emma melambaikan tangan dan berjalan kearah kasir. Sedangkan Kayla tidak jadi membeli baju dan meletakkan kembali barang-barang yang sempat ia masukkan kekeranjangnya. Ia cek kembali ponselnya dan melihat setatus Renata sudah di hapus. *** Sementara itu, di toilet Restoran mewah itu, Surti menatap kesal pada anaknya Renata. Sedikit-dikit buat status di aplikasi hijau. "Sudah aku hapus, Bu. sudah aku ganti dengan status lain, bu." "Kita harus menyembunyikan ini dari Kayla." "Halah, gitu aja Ibu taku." ucap renata kesal karena ibunya terlihat tidak suka. "Bukan takut, tapi waktunya saja belum tepat. Sudah ayo kita kembali ke meja." Renata mengikuti langkah Surti, " Sepertinya kita akan masuk dilingkaran orang elit, bu." "Sebentar lagi Rian akan membuang si wanjta kampung itu, karena sudah tidak berguna lagi." ucap Surti yang menggandeng tangan Renata, ia sedikit memainkan kalung dan gelang di tangannya. Perhiasan yang sangat mengkilau, salah satu pemberian dari wanita yang bergaun merah. Wanita yang duduk di dekat jendela restoran. "Leora gimana, bu?" tanya Renata "Biar saja dia ikut Kayla." "Kasihan, bu. Bagaimana pun ,dia cucu ibu, anak dari Mas Rian, Bu." "Sst.. Tutup mulut mu." Hardik Surti saat sudah mendekati meja makan. Supir taxi menatap wajah Kayla dari kaca spion depan, "Restoran Ran's, Bu? "Iya, Pak. Sesuai titik ya!" balas Kayla dan menatap kesamping pintu. "Resteron mewah itu, Bu. Harus resirvasi dulu..." "Saya cuma ingin bertemu seseorang. Bukan makan." "Owh, mau bertemu majikan ya?" "Bukan.." Kayla menyadari penampilannya yang sederhana. Perempuan miskin yang tidak akan mungkin makan direstoran mahal. Itu sebenarnya yang tergambar pada dirinya, sehingga wajar kalau supir taxi bertanya demikian padanha. Dimana-mana penampilanlah yang lebih di utamakan, dan orang kayalah yang akan disegani. Mobil taxi berhenti agak jauh dari restoran. Kayla membayar sesuai tarif yang tertera di aplikasi. Ia hendak turun, tapi ia urungkan. Seketika ia melihat Rian suamjnya berjalan keluar restoran bersama seorang wanita modus bergaun merah, dengan mengapit pinggang gadis itu dan tertawa bahagia. Terlihat wajah bahagia terpancar di wajah Rian. Selama ini ia tak pernah melihat suaminya sebahagia itu. Kayla terus melihat langkah mereka, dan memasuki sebuah mobil mewah berwarna hitam. "Sudah sampai, bu." ucap sang supir taxi "Pak, tolong ikuti mobil hitam itu.Saya akan membayarnya!" Pinta Kayla "wehh... mana bisa, Bu!" tolak supir taxi tersebut. "Tolong, Pak. Lelaki itu adalah suami saya." Kayla memohon. Supir taxi merasa kasihan. Akhirnya menuruti permintaan Kayla, dan mulai mengikuti mobil yang di bawa Rian. Tapi, jangan libatkan saya, Bu!" "Iya, Pak." Siapa wanita itu, bahasa tubuh mereka leboh dari teman. "Mereka kehotel bintang lima, Bu. Mana bisa kita ikuti masuk." Ujar sang supir taxi saat melihat mobil yang mereka ikuti memasuki arena hotel berkelas itu. Kayla menarik nafas, mana mungkin ia bisa masuk ke hotel itu. Baru masuk saja mungkin akan di usir oleh securyty dengan penampilannya seperti ini. Akhirnya Kayla meminta supir untuk mengantarkannya pulang. *** Rian membelai pipi mulus wanita yang berada dihadapannya. Lelaki itu memutus jarak, dan langsung mendekatkan wajahnya pada wanita diahadapannya. Mencium bibir wanita itu dengan penuh hasrat. "Rian, tangannya jangan nakal.." Ujara wanita di hadapannya dan menepis tangan Rian yang mulai nakal di area dadanya. "Lalu, mau apa ke hotel?" tanya Rian, namun tangannya berpindah ke bagian belakang tubuh wanita itu. "Kamu belum menceraikan wanita miskin itu, Papa pasti tidak akan setujj dengan hubungan kita." Ujar Gisel, anak durektur pemilik perusahaan, dimana Rian bekerja. Sudah hampir dua bulan mereka menjalin kasih. Berawal dari Gisel datang berkunjung kekantor Papanya, namun tidak sengeja bertemu dengan Rian saat Rian rapat berdua dengan Pimpinan direktur, Yaitu Papa Gisel. "Secepatnya sayang, sebenarnya sudah lama aku ingin menceraikannya. Hanya saja, aku kasihan padanya." Jawab Rian "Jangan kasihan dong. Apa sih yang kamu lihat dari dia. Penampilan yang kampungan. Kemana-mana pakai penutup kepala." Dengkus Gisel sambil meninggalkan Rian dan Gisel lebih memilih mengambil air mineral yang ada di dalam kulkas mini, yang ada di kamar hotel tersebut. "Aku akan membantumu naik jabatan, dan otomatis gajimu pun akan naik dua kali lipat." Rian menelan ludahnya, melihat reaksi Gisel yang membungkukkan badannya saat mengambil air mineral. Ia lupa akan istrinya yang lebih cantik dari Gisel, hanya karena kurang polesan saja. Rian langsung menyambar Gisel. Melupakan istrinya yang setia, bahkan yang menangis saat inj di rumah mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD