"Aku istrimu, Mas. Aku berhak tahu. Cicilan Motor dan hutang pada temanmu. Semua bohong kan?" Suara Kayla sedikit meninggi, matanya memanas berusaha menahan air mata.
"Iya. Hanya ada cicilan rumah. Sekarang pulanglah. Tidak ada yang perlu di jelaskan lagi."
Bersamaan dengan itu, masuk seorang pria berpakaian kemeja putih polos juga. "Rian, kamu di panggil Bu Sesil keruangan." Katanya, lalu memandang Kayla."Siaoa Dia?"
Pekerja di rumahku. Mengantar Ponsel. Terimkasih, kami boleh pulang." Rian menatap tajam Rian.
Kayla keluar ruangan dengan perasaan marah dan terluka. Suaminya sudah keterlaluan. Ia berlari ke arah lift dan segera menekan tombol lift agar segera terbuka. Ia mengusap air matanya dengan ujung kain gendong anaknya.
****
Mata sifit, itu menatap seorang bayi mungil nan lucu yang sedang terlelap tidur. Satu-satunya keluarga yang ia miliki adalah anaknya. Penyemangat disaat ia terpuruk.
Kayla seolah baru terbangun dari tidur panjangnya. Selama bertahun-tahun dirinya sangat bodoh. Ia mau saja di bohongi dan dimanfaatkan oleh suaminya sendiri. Kayla pernah berharap, pernikahannya akan seindah cerita dongeng, yang berkorban dan akan bahagia akhirnya. Rupanya, pengorbanananya dibalas dengan kebohongan.
Terdengar suara pintu yang terbuka, lalu suara langkah kaki yang semakin dekat.
"Mulai bulan depan, aku akan membagi gajiku dengan adil." Kata Rian saat masuk kedalam kamar bernuansa putih itu.
"Kenapa tidak sekarang saja, Mas?" tanya Kayla menatap sang suami.
"Sudah habis, Kayla. Mengertilah." Sahut Rian dengan ketus.
"Mengerti yang bagai mana? kamu tidak pernah mengatakan sudah naik jabatan. Kamu bahkan mengganti bajumu di temlat pekerjaan. Beli motor cash, tapi bilangnya kredit. Kamu berpura-pura sudah berapa lama, Mas? berapa gajimu saat ini. Mas?" akhirnya air mata yang ia tahan, luruh begitu saja di pipinya. Setelah menumpahkan semua kekesalan di hatinya.
Rian mendecak kesal. "Enam bulan, Kay! kamu pikir berapa tahun. Gajiku juga hanya sepuluh juta. Sudahlah, bicara dengan wanita bodoh sepertimu tidak ada artinya."
"Aku memang bodoh, selama ini akudimanfaatkan." Kayla menjawab dengan lantang
"Lebih baik aku kerumah ibu. Lelah aku hadapi kamu yang tidak pernah mengerti keadaan." Rian keluar dengan membanting pintu kamar. Membuat anak mereka terkejut dan menangis. Kayla menghembuskan nafasnya dan menghapus air matanya. Harusnya dirinyalah yang lelah, bukan Rian. Tak ada yang perlu di tangisi.
****
Sesuai janji Rian, saat Rian menerima gaji dari perusahaan, Rian memberikan gajinya tiga kali lipat kepada Kayla. Namun, hampir sebulan itu pula mereka sering pisah ranjang. Rian jarang pulang kerumah. Lebih sering menginap dirumah ibunya.
"Ini buat kamu, jangan protes lagi!" ucap Rian meletakkan amplop coklat diatas meja makan. "Ganti baju lusuhmu itu..."
"Kalau sedari dulu kamu jujur padaku, pasti lemariku sudah penuh dengan baju bagus, Mas." Kayla mengambil amplopnya dan menghitung isinya.
"Masih pagi, Kay. Jangan buat aku marah dan tidak berselera untuk sarapan di sini.
Kayla tidak merasa bahagia, walau gajinya di beri sesuai perjanjian. Sikap Rian yang semakin hari semakin dingin, tidak peduli dengannya. Bahkan pada darah dagingnya sendiripun Rian terkadang tidak peduli.
Setelah sarapan, Kayla membersihkan piring kotor yang ada di meja.
"Kayla!" Surti, ibu mertua Kayla menerobos masuk.
"Ibu, ada ap..."
"Gara-gara kamu, Rian mengurangi bulananku. Kamu telah meracuni putraku!" tuduh Surti.
"Aku tidak meracuni Mas Rian, Bu. Itu sudah kewajiban Mas Rian sebagai suami." Sahut Kayla setenang mungkin.
"Aku ibunya, aku yang melahirkan dan membesarkannya. Aku yang berjasa pada dia. Dulu kamu memaksa Rian untuk mengambil KPR rumah, padahal gajinya tidak sebanyak sekarang." Surti ngotot tidak terima. hingga urat lehernya terlihat saat berbicara pada menantunya Kayla.
"Lalu mau ibu apa?" Kayla bertanya dengan tetap tenang dan berdiri dihadapan ibu mertuanya.
"Dasar menantu durhaka. Sudah miskin, tidak tahu diuntung, kamu." Pekik Surti menunjuk wajah Kayla.
"Lebih baik ibu pulang." Kayla membelakangi Surti dan membereskan pekerjaannya.
"Akan aku pastikan, Rian akan meninggalkanmu. Banyak perempuan diluaran sana yang lebih cantik darimu dan bisa nurut denganku." Surti tersenyum sinis. "Siap-siap saja kamu. Dan aku pastikan kamu akan keluar dari rumah ini."
"Sudah selesai mengancamku, Bu?" Kayla menatap lawan bicaranya tak lain adalah ibu mertuanya.
"Dasar menantu.."
"Cukup, Bu! Jangan menghinaku." Kayla memotong ucapan Surti.
"Kau... Akan aku pastikan kau akan menyesal. Ternyata kau tidak selugu yang aku pikir, Kayla." Rahang Surti mengeras. Ternyata menantunya yang sekarang tidak seperti dulu lagi. Dulu, Kayla selalu menurut setiap kali apa yang diperintahkan Surti. Bahkan sedikitpun Kayla tidak pernah protes tentang mertuanya yang selalu ikut campur dengan rumah tangganya. Namun, semenjak semua terungkap, Kayla yang ia kenal dulu sudah berbeda.
"Aku bersikap sesuai dengan cara Ibu memperlakukan ku. Ibu baik, maka aku akan baik, Ibu manis, aku juga akan manis pada Ibu. Tapi jika ibu ingin membodohiku lagi, maaf. Aku bukan Kayla yang dulu ibu kenal. Aku akan mempertahankan hakku sebagai istri. Ini rumah tanggaku dengan Mas Rian. Aku yang menikah dengannya."
"Cukup Kayla." Rian baru saja selesai mandi dan melihat aksi adu mulut antara ibu dan istrinya.
"Mas...." Kayla melihat suaminya yang seakan memikih membela sang ibu.
"Dia ibuku, bisakah kamu bersikap baik pada ibu?" Rian mendengkus kesal. "Kurang apa lagi, Kay? aku sudah memberikan sesuai janjiku padamu."
"Bukan aku yang memulai, Mas. Ibu yang datang marah-marah dan menghinaku."
"Cukup. Ayo bu, jangan sampai darah tinggi ibu naik." Rian mengajak sang ibu keluar rumah dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada ibunya. Dan menyuruh ibunya untuk pulang.