Fakta Sebenarnya

1097 Words
"Empat Juta, bu." Jawab Kayla sesuai sepengetahuannya. "Apa kamu tidak merasa curiga?" Tanya Lastri merasaaneh dengan sikap suami Kayla. "Ibu rasa, kamu sudah di bohongi olehnya. Setahu ibu ya, karyawan yang bekerja disana gajinya di atas lima juta perbulan. Maaf, Kay, bukan ibu tidak suka dengan kamu menitip barang jualanmu di sini. Hanya saja ibu kasihan lihat kami. Kamu seperti istri yang tidak diurus. Kamu terlalu lugu, dan baik hati pada keluarga suamimu." Lastri mendekat dan mengelus pundak Kayla. "Saran ibu sih, ada baiknya kamu selidiki suamimu." Kayla menarik nafas, "Iya, bu." Haruskah dia mematai Rian? Padahal pernikahan mereka sudah hampir enam tahun. Sejak bekerja, memang Rian lebih peduli pada Ibu dan adik perempuannya. Kayla tidak berlama-lama dirumah ibu Lastri, teringat akan pekerjaan rumah yang masih sangat banyak harus ia kerjakan. Sampai dirumah, Kayla langsung membaringkan Liora putrinya di box bayi usang yang diberikan oleh ibu Lastri, bekas pemakaian cucunya. Kayla hendak melangkah keluar kamar, namun terhenti saat melihat ponsel Rian tertinggal di atas bantal kamar mereka. Bendah pipih ituengeluarkan suara dan yerlihat sebuah notifikasi muncul di layar depan. Kayla melihat dan membaca dengan jelas pesan yang terpampang di layar depan pada ponsel Rian [Rian, jangan lupa jatah bulanan kami] kemudian terlihat kembali di barisan bawah notifikasi pesan masuk bernama Renata [Makasih buat jajan bulananlu, Mas] Kayla melihat dua pesan yang berbarengan itu, membuat hatinya sedikit teriris. Ia teringat akan ucapan Bu Lastri untuk menyelidiki suaminya. Namun pikirannya teralihkan oleh notifikasi di ponselnya yang ada disaku roknya. Terlihat pesan masuk dari Ibu Rita meminta pesanan Bolu dan peyek sebanyak tiga ratus ribu. Hatinya sedikit terobati karena ia akan mendapat uang tambahan lagi. Saat telah membalas pesan Bu Rita, Kayla membuka beberapa deretan status wa pada ponselnya. Terlihat deretan paling atas adalah status Renata yang baru saja di upload satu menit lalu. Kayla merasa penaran dan melihat isi story adik iparnya itu. [Mas Rian is the best, makasih Mas,sering-sering terakti kita ya!] terlihat foto bahagia Renata dan ibunya disebuah pusat perbelanjaan dan foto tas baru yang dipamerkan Renata. Kembali hati Kayla merasa perih, jangankan membeli tas, untuk membeli baju saja ia berpikir dua kali, karena memikirkan ekonomi keluarganya. Selama ini ia sangat berhemat dan berusaha untuk mencari kegiatan lain yang bisa membantu perekonomian keluarga. Namun kenyataannya sang suami selama ini telah berbohong tentang gajinya. Ia sedikit kecewa dengan Rian. Semasa kuliah dulu, Rian sangat banyak di bantu Kayla untuk biaya perkuliahannya, bahkan dulu Rian sempat berjanji akan memberikan kebahagian untuk Kayla jika Rian sukses. Kayla meraih gendongan anaknya dan mengangkat tubuh anaknya. Ia berniat untuk mendatangi kantor sang suami dan menanyakan langsung pada Rian. Setelah Kayla sampai di kantor Rian, ia langsung mendatangi meja resepsionis. "Selamat pagi, saya ingin bertemu..." "Maaf bu, Sepatu ibu sangat kotor." Ujar sang resepsionis yang berdiri dibalik meja tersebut. Ia melihat penampilan Kayla dari ujung kaki sampai kepalanya. "Lain kali kalau berkunjung ke sini, berpakaianlah yang rapi. Ini Kantor besar. Bukan pasar." ujar ketus wanita yang menjadi resepsionis tersebut Kayla melihat penampilannga, ia memang menggunakan sebuah rok lusuh dan baju kaos yang warnanya sudah usang. Mungkin tak akan ada yang percaya dengannya jika sang suami adalah pegawai di kantor itu. "Lebih baik ditelfon saja temanmu yang kamu cari. Petugas kebersihan di sini kan?" Tanya wanita yang berpakaian modis itu. "Ponselnya tertinggal, saya tidak bisa menelfonnya."Jawab Kayla pelan sambil menunjukkan ponselnya. "Selamat pagi, Pak." Ujar wanita yang ada dihadapannya untuk menyapa pria yang baru saja tiba. "Pagi juga Alexa." Jawab Pria bermaskes tersebut. "Ada apa?" tanya pria jtu pada resepsionis yang bernama Alexa. "Ini ada ibu-ibu yang mencari temannya, Pak." Jawaban sang wanita itu sangatlah ramah, beda saat berbicara dengan Kayla. "Siapa nama temannya, Bu?" tanya pria yang berpakaian rapi dan menggunakan masker tersebut. "Rian Anggara, Pak." Jawab Kayla sambil melihat wajah pria yang berdiri disampingnya. Ia seperti tak asing dengan wajah pria yang ada disampingnya. "Oh pak Rian, Asisten manager pemasaran." Jawab sang resepsionis yang mendengar nama tersebut diucapkan Kayla. "Ruangannya ada dilantai dua, nanti keluar lift belok kanan." Jawab Alexa sambil menunjuk arah lif. "Terimakasih." ucap Kayla sambil tersenyum. Kayla merasa jadi pusat perhatian, karena penampilannya yang lusuh dan menggendong seorang bayi. Kayla berjalan menuju lift dan menekan tombol dua. Sesuai arahan sang resepsionis. Ia berjalan dan menuju ruangan suaminya. Namun ia terhenti saat melihat di sisi kanannya sangat banyak lorong panjang kanan dan kiri dipenuhi meja kubiker dan ruangan-ruangan dengan pintu kaca dan jendela. Juga manusiq yang bekerja. "Masih belum ketemu?" Kayla menoleh kearah datangnya suara, "Saya tidak tahu, Pak." jawab Kayla terdiam dan bingung harus melangkah kemana. Lelaki bermasker tadi mendekati meja kubikel yang ada di arah jarum jam dan bertanya pada pria yang bekerja di sana. Dan dia kembali mendekati Kayla, "Ruangan paling ujung sebelah kanan." Ujar Pria itu pada Kayla sambil menunjuk ruangan Rian. "Terimakasih, Pak." ucap Kayla sambil tersenyum. "Sama-sama." Jawab lelaki itu dan meninggalkan Kayla berlawanan arah. Kayla berjalan sesuai arah petunjuk yang diberikan padanya. Hatinya sedikit bertanya, selama ini suaminya hanya mengatakan sebagai karyawan biasa, namjn fakta yang ia dapat hari ini, suami bekerja sebagai asistem manager pemasaran. Sudah berapa lama Rian menemapti posisi tersebut? kenapa Rian tidak pernah cerita padanya. Saat tiba di depan pintu kaca, Kayla dapat melihat langsung bayangan sang suami yang berada didalam ruangan tersebut, tampak berbeda saat suami berangkat dari rumah. Saat dari rumah, sang suami berangkat dengan kemeja biru. Namun saat ini, ia melihat sang suami mengenakan kemeja putih pas di badan dan jam tangan yang mewah. Kayla masuk tanpa mengetuk pintu. Rian yang berada didalam terperanjat kaget saat melihat istrinya berada diahadapannya. "Kayla." ucap Rian kaget. "Aku baru saja menyuruh seseorang kerumah untuk mengambil ponselku. Dengan baju seperti itu kamu datang kekantorku? Memalukan." Kayla meraih ponsel di meja suaminya. Ternyata suaminya memiliki dua ponsel. Bagaimana ia tidak tahu, kalau selama ini Rian memiliki dua ponsel, bahkan ponsel yang baru saja ia pegang seharga sepulih juta lebih, bahkan lebih. "Itu ponsel hanya untuk klien dan rekan kerja." Rian berdiri dan mengambil ponsel ditangan Kayla. Rian berjalan menutup tirai agar tak terlihat dari luar. "Kenapa Mas?" Kayla tidak bisa menahan air mata dan rasa perih dihatinya. "Ibu dan adikmu menikmati gajimu, sedangkan aku harus berhemat." "Kamu tidak suka aku memberikan sebagian gajiku pada ibu dan adikku? mereka selalu ada untukku, Kayla." "Aku tidak iri, jika kamu berlaku adil. Aku juga selalu ada untuk mu, Mas.Siapa yang membiayai kuliahmu dulu? Siapa yang memberikan mu makan saat kamu nganggur setelah tamat kuliah?" Kayla mencoba menahan suaranya agar tak terdengar dari luar. "Alah, kamu cuma dua tahun membiayai hidupku. Sedangkan ibuku dari bayi aku sudah dibiayainya." Jawab Rian tidak peduli dengan perasaan Kayla.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD