"Apa yang kamu lakukan saat tidak melukis?" Tanya lelaki tua yang memakai topi bulatnya dan sebuah rokok jadul ada di tangannya.
"Makan dan tidur." Jawab Hakam singkat.
"Pekerjaan orang kaya." Balas lelaki itu yang dikenal oleh banyak publik karena hasil karyanya.
Hakam tersenyum, banyak orang yang tidak mengetahui siapa dirinya dan dari mana asal usul keluarganya. Galvin Hakam, terkenal dengan sebutan Hakam di kalangan publik, terkenal karena hasil karya lukisannya yang banyak di sukai orang. Salah satunya Pak Antonin, Lelaki tua yang sedang bersamanya di sebuah galery milik Pak Antonin.
Hakam sendiri lebih suka menghabiskan sisa waktu hidupnya dengan kuas dan kertas kanvas. Jika ia tidak memiliki kegiatan, maka ia ke rumah singgah miliknya, yang terdapat beberapa anak-anak seperti dirinya. Hakam memiliki kelainan jantung sedari kecil, hidupnya tergantung pada obat yang selalu ia konsumsi. Itulah sebabnya ia berbeda dengan saudaranya bernama Galaksi, Galaksi lebih fokus memgembangkan usaha orang tua mereka,
Hakam juga tidak tertarik dengan wanita, bukan dia tak ingin memiliki pasangan, namun Hakam tidak ingin meninggalkan duka untuk wanita yang bersamanya.
"Aku pulang dulu, Pak Anton. Terimakasih untuk jamuannya." Hakam berdiri.
"Aku ingin kau ikut di pameran galeriku." Ucap pak Antonin.
"Akana aku usahakan."
Hakam melangkah keluar rumah bersama supirnya.
"Pak, kita mau kemana lagi?" Tanya Danu supir Hakam saat membukakan pintu mobil, untuk majikannya.
"Pulang saja."
Hakam masuk ke dalam mobil dan Danu menutup pintunya.
"Pak, Apa boleh saya meminjam rumah yang di Bandung?" Tanya Danu dengan hati-hati sambil melajukan mobilnya.
"Kau masih membohongi calon istrimu?" Tanya Hakam sambil menaikan kedua alisnya.
"Ibunya menginginkan menantu yang kaya, pak."
Beberapa bulan yang lalu, Hakam berpura-pura menjadi supir Danu. Dia ingin tahu keberadaan keluarga supirnya. Hakam sendiri merasa heran, kenapa Danu bisa jatuh cinta pada wanita yang hanya menyukai hartanya saja.
Hujan deras membasahi jalanan, hakam menatap keluar jendela mobil yang disampingnya. Ia melihat sebuah tas besar terletak di pinggir jalan dan seseorang terletak di trotoar dengan kain gendong menutupi anaknya.
"Danu, bsrhenti." Danu kaget dan mengerem secara tiba-tiba. Untung saja jalanan sepi.
"Ada apa pak?"
"Ada perempuan yang pingsan. Mundurkan mobilnya." Hakam langsung membuka mobilnya dan melihat wanita itu, ia tidak memperdulikan hujan yang membasahi tubuhnya.
"Bawa perempuan itu ke dalam mobil." Perintah Hakam, Hakam langsung mengambil anak wanita tadi.
****
Hakam yang duduk di hadapan kertas kanvasnya ingin menuangkan imajinasinya, namun bayangan beberapa jam yang lalu membuyarkan konsentrasinya. Hakam menghembuskan nafasnya. Wajah Kayla terlintas di benaknya. Perempuan itu yang ia antar beberapa bulan lalu pulang ke rumahnya, seusai dibentak oleh suaminya.
Hakam keluar kamar dan menghampiri Danu yang berada di dapur.
"Kamu kenal Kayla, kan?" Tanya Hakam.
"Tidak begitu kenal pak, lebih tepatnya tidak kenal. Saya hanya tahu, dia istri dari Rian, kakanya Renata. Waktu itu saya dan Renata pernah melihatnya di jalan. Saya pernah melihat fotonya di rumah Renata." Jelas Danu
"Owh..." Hakam mengangguk dan meneguk segelas air.
"Saat ini dalam proses perceraian, mungkin akan selesai. Menurut cerita Renata, dia di ceraikan karena selingkuh."
Hakam hanya menyimak penjelasan Danu.
"Menurut Renata juga, Rian kakaknya akan menikah dengan Gisel. Putri seorang direktur, di perusahaann besar keluarga bapak. Mungkin anda kenal, pak."
Jadi lelaki bodoh yang di sebut Galaksi adalah Rian. Batin Hakam.
"Jangan katakan apapun tentang Kayla pada Renata, apa lagi saat ini dia di sini. Kalau kamu masih mau bekerja disini dan berpura-pura kaya." Printa Hakam
"Iya, pak. Saya orang paling setia bekerja di sini. Saya siap melakukan apa aja yang bapak perintah."
****
"Pak Hakam..." Kayla menghampiri Hakam yang duduk di pinggir kolam mini milik Hakam. "Saya mau pamit, terimakasih."
"Kamu mau kemana?" Ujar Hakam.
"Uhm... saya tidak tahu, pak." Kayla menjawab jujur.
Hakam meletakkan buku putih polosnya, dan menatap wajah pucat Kayla. "Tinggallah dirumahku, ada kamar kosong di belakang. Kamu bisa tinggal di situ. Ucap Hakam.
Kayla menggigit bibirnya, ia bingung, saat ini ia tidak memiliki tempat tinggal untuk membawa putrinya dan juga tidak punya uang. Kayla juga berat hati menerima bantuan dari orang asing.
"Pikirkan putrimu." Bujuk Hakam. "Kamu bisa bantu-bantu Bik Matni, atau bergabung bekerja di rumah ini."
"Baik pak, saya akan mengerjakan pekerjaan rumah di sini. Pekerjaan apapun itu akan saya usahakan melakukannya." Kayla tidak punya pilihan selain menerima tawaran Hakam.
"Jangan panggil aku Pak. Panggil saja Hakam. Anggap saja aku saudara lelakimu." Hakam tersenyum manis. "Selama ini alu ingin memiliki saudara perempuan." Balas Hakam lagi.
"Baiklah." Jawab Kayla dengan ragu.
"Kayla, duduklah di sini. Ada yang ingin aku tanyakan." Hakam menunjuk bangku kayu yang ada di sampingnya. Kayla melihat bangku itu dan duduk di sebelah Hakam yang berjarak oleh meja bulat. Di atas meja banyak terdapat jenis kuas, pensil dan beberapa jenis pewarna.
"Apakah benar kamu selingkuh dan suamimu menceraikanmu?" Tanya Hakam hati-hati.
Kayla mengerutkan alisnya dan menatap wajah Hakam. "Itu tidak benar. Suamiku yang berselingkuh dengan perempuan kaya." Kayla menarik nafasnya, mengingat akan kisah rumah tangganya. " Dari mana kamu tahu akan hal itu?" Tanya Kayla merasa bingung dengan pertanyaan Hakam, lelaki yang baru saja ia kenal, bisa tahu tentang dirinya.