Kayla kembali ke kosnya, ada beberapa mata yang menadangnya dengan tatapan tidak suka, ada juga yang merasa iba dengannya. Syukurnya, pemikik kos tidak mempermasalahkan kejadin itu. Kayla masih tetap bisa tinggal di kamar kos yang cukup kecil itu.
Kayla masuk kekamarnya dan membersihkan dirinya. Ia kemas gaun, sepatu dan selendang yang ia dapati dari Fani. Kayla ingin menghapus semua kejadian yang terjadi malam itu. Bahkan ia telah memasukan semua yang diberikan Fani kedalam kantongan pelastik berwarna hitam.
Kayla membuka celengan tempat ia ini selama ini menyimpan uangnya, karena saat ini ia sudah tidak memiliki apapun lagi, bahkan ponselnyapun tak tahu di mana keberadaannya.
Terdapat uang lembaran dua ribu, lima ribh dan dua puluh ribuan. Dia mentotal semua isi tabungannya, terdapat delapan puluh lima ribu, ia genggam uang itu. Akan ia gunakan sisa uang yang tak banyak itu, untuk membeli makanan untuk Liora.
"Keluar Kayla!!" terdengar ketukan yang kuat dan teriakan ibu-ibu dari luar. Kayla sedikit takut dan bingung. Apakah ada hala buruk lagi yang akan menimpanya.
Kayla membuka pintu, dan benar saja, terlihat beberapa ibu-ibu sudah berdiri di hadapan pintu kos Kayla dengan amarah yang memuncak.
"Pergi kamu dari sini! Dasar pe la cu r..." teriak salah seorang ibu.
"Saya bukan Pe la cu r, bu. Semua itu salah paham." jawab Kayla dengan hati yang sangat pedih.
"Maling mana ada yang mau ngaku. Sudah jelas kamu berbuat makhsiat. Kamu hanya bisa mengotori tempat ini saja."
"Nih ibu-ibu ada foto, dia masuk ke apartemen mewah dan pulang pagi dari sana di antar mobil mewah. Apa lagi namanya itu kalau bukan pe la cu r." Provokasi seorang ibu-ibu yang menjukkan foto di ponselnya.
"Makanya suaminya mencampakkannya dan meninggalkan anaknya. Karena dia menjual dirinya."
"Itu tidak benar..." bela Ibu Naomi tetangga Kayla yang selama ini membantu Kayla.
"Apapun itu ceritanya dia harus pergi. karena sudah jelas ada buktinya dia ini wanita ja lang."
"Baik aku akan pergi." Kayla terbawa emosi dan langsung memasukan barangnya ke dalam tas dan menggendong Liora. "Aku akan kembali dan membakar kalian yang sudah menuduh ku seperti ini. Akan aku buktikan aku bukan seperti yang kalian ucapkan." Teriak Kayla dengan emosinya dan air mata yang tak terbendung.
Ibu Naomi berusaha mencegah, karena hari sudah mulai malam. Ia khawatir dengan Liora. "Baiknya besok saja, Kay." tahan Bu Naomi. Namun Kayla menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya keluar dari lingkungan tempat tinggalnya.
Ibu-ibu yang menjadi profokator tadi tertawa bangga, karena telah berhasil mengusir Kayla dari lingkunga mereka.
Saat berjalan di atas trotoar, tubuh Kayla terasa lemah, kepalanya pusing dan sperti melihat dunia berputar dan akhirnya ia jatuh dengan tetap memeluk anaknya. Saat terjatuh, terdengar suara lirih Kayla menyebut nama "Liora...."
******
"Bagaimana keadaan anaknya, bik?" tanya lelaki berabut sedikit gondrong itu.
"Bayinya tidak apa-apa pak, sepertinya dia tahu kalau ibunya sedang sakit, sudah tidak rewel dan tertidur pulas." Jawab Bik Marni, asisten di rumah yang tidak terlalu megah itu, namun penuh dengan beberapa jenis lukisan.
"Terimkasih bik, sekarang bibik boleh istirahat."
"Baik pak, kalau ada apa-apa, panggil bibik saja ya, pak." Bik Marni pun melangkah keluar dan meninggalkan majikannya.
Lelaki berambut gondrong itu, duduk di kursi dan mengamati wajah Kayla. Lelaki itu melihat Kayla terjatuh sambil menggendong anaknya, ia tak sengaja melihatnya saat melintasi jalan. Sisi manusianya merasa kasihan dan membawanya pulang kerumahnya. Ia memanggil Dokter keluarga mereka dan membiarkan dokter itu memeriksa keadaan wanita yang telah ia tolong.
Dokter mengatakan, wanita itu hanya kelelahan dan kurang nutrisi, sehingga badannya lemah. Untuk keadaan anaknya tidak ada yang di takuti.
Kayla mulai sadar, Ia membuka matanya secara perlahan, pandangannya masih kabur, ia melihat sosok lelaki yang ia tidak kenal.
"Kau... kau siapa? di mana anakku?" Kayla tersentak kaget dan ingin bangun, tapi kepalanya terasa berat dan todak kuat untuk mengangkat tubuhnya.
"Jangan khawatir, Kayla, putrimu tidur di box bayi itu." jawab lelaki itu sambil menunjukkan sebuah box bayi yang ia letakkan disebelah tempat tidur dimana Kayla berbaring.
"Darimana kau tahu namaku?" Kayla kembali meletakkan tibihnya di ranjang setelah melihat keadaan anaknya yang tertidur pulas.
"Ada di identitas dalam tasmu, maaf aku membukanya." lelaki itu tersenyum ramah. "Aki tidak akan menyakitimu. Yang mengganti pakaianmu, bukan aku, tapi Bik Marni. Dia pekerja di rumah ini."
"Kamu siapa?" tanya Kayla, walau ada sedikit kelegaan tapi dia tetap harus waspda. Namun sesikit mengusik pandangannya, saat melihat jelas wajah lelaki yang di hadapannya, sekilah terlihat seperti Galaksi lelaki yang menjadi kliennya kemarin.
"Namaku Galvin Hakam. Kamu boleh panggil aku Hakam. Orang-orang biasa memanggilku Hakam, aku seorang seniman." Jawab Hakam tersenyum.
Kayla sedikit mengingat antara wajah Galaksi dan Hakam, terlihat serupa. Ingin ia tanya kan namun ia urungkan.