"Gak apa-apa, bik. Bik, aku izin masuk kekamar dulu ya." Kayla berjalan menuju kamarnya, ia berniat untuk segera pergi dari rumah megah ini. Kayla merasa tidak enak untuk berlama-lama di rumah lelaki yang sudah baik padanya.
"Sepertinya tabunganku cukup untuk menyewa kosan untuk sebulan kedepan." Kayla menghitung uang receh hasil jualannya selama berada di rumah Hakam. "Dia terlalu baik padaku dan putriku. Aku harus tahu diri, apa lagi aku seorang janda." Ujar Kayla seorang diri. Kayla kembali teringat akan pertemuannya dulu dengan Rian, perjuangannya yang membela sang suami dan membiayai kuliahnya hingga lulus dan bekerja. Namun pembalasan yang ia dapatkan hanya penghianatan. Kembali ia meneteskan air matanya, karena teringat akan perlakuan sang mantan suaminya. Sampai pada akhirnya ia harus menjual d*r* untuk melunasi hutangnya yang telah di jebak oleh Renata.
Ia teringat akan pernikahan Rian dengan Gisel, wanita pilihan mantan suaminya yang lebih cantik darinya. Akankah Kayla hadir di acara pernikahan sang mantan suami, agar terlihat susah move on, atau menghindar untuk tidak menghadirinya.
Tok...tok...tok... suara ketukan pintu kamar terdengar dan terlihat wajah bi Marni dibalik pintu.
"Ya, bi, kenapa?" Tanya Kayla saat melihat kearah pintu kamar.
"Di cari bapak, di tunggu di taman belakang katanya." Ujar bi Marni sambil tersenyum. "Liora biar bibik yang jaga, sana kamu temui bapak dulu."
Kayla mengangguk dan membereskan barang-barangnya. Dan meninggalakn kamarnya menuju taman belakang. Teihat lelaki nerambut panjang dengan syal di lehernya, dan terlihat wajahnya yang sedikit pucat.
"Ehhem..." Kayla berdiri di belakang Hakam demgan memberi kode suaranya. Hakam berbalik dan tersenyum melihat Kayla.
"Sini duduk," sambil menunjuk arah kursi yang berada di sampingnya, yang hanya terpisah oleh meja bulat.
"Saya punya sesuatu untuk mu," Hakam menyerahkan sebuah kotak silver besar.
"Apa ini?" Tanya Kayla sambil menerima kotak yang cukup besar itu.
"Bukalah, dan saya harap kamu bisa memakainya esok di pernikahan mantan suamimu."
Kayla membuka kotak silver yang berbalut pita, ia takjub dengan isinya. Terdapat sebuah heghils Silver dan gaun atau bisa di sebut gamis silver lengkap dengan jilbab syarinya yang terlihat sangat mewah. "Ini.... ini sangat berlebihan, Kam. Aku..."
"Terimalah dan pakai esok. Aku akan temani kamu. Kamu harus bisa buktikan pada mantak suami dan mertuamu kalau kamu sudah move on dan kamu tidak Kayla yang dulu lagi."
"Tapi..." Kayla merasa terharu, memang sebenarnya dia ingin menunjukan pada mantan keluarganya itu kalau dia bukan wanita lusuh lagi. Tapi dengan pemberian Hakam, ia merasa minder. "Aku tidak pantas mendapatkan ini dari mu!" Kayla menunduk dan merasa sedih.
"Sudahlah, kamu tidak pantas untuk di sakiti. Aku harap esok jam sepuluh kamu sudah siap dengan gaun ini. Sekarang pergilah, istirahat. Aku ada urusan." Halam meninggalkan Kayla sendirian dan ia pergi bersama Danu yang sudah menunggu di mobilnya.
"Kita pergi sekarang." Ujar Hakam saat memasuki mobil miliknya.
"Pak, apa tidak sebaiknya bapak jujur saja pada Kayla?" Tanya Danu yang sudah tahu tentang perasaan majikannya itu.
"Tidak sekarang. Aku ingin terlihat sehat di hadapannya. Aku ingin menjaganya di sisa usiaku yang mungkin bisa bertahan dua puluh tahun lagi. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia ini. Begitu juga menjaganya dari kekasihmu itu.
Danu mengangguk, Hakam sudah tahu, apa lagi saat dulu ia yang berpura-pyra sebagi supir Danu saat berkunjung ke rumah orang tuanya Renata.
"Kenapa kamu masih juga bertahan dengan dia? Sudah jelas-jelas mereka hanya mengharapkan hartamu. Aku beepikir, kalau mereka tahu siapa kamu sebenarnya, pasti nasibmu tidak akan jauh berbeda dengan Kayla."
"Iya pak, awalnya saya memang jatuh cinta pada Renata, tapi setelah saya melihat kenyataannya saya jadi berpikir ingin memberi mereka pelajaran." Jawab Danu dengan tersenyum.
"Ternyata kamu pintar juga, tapi jangan sampai keenakan dan kamu punya tanggung jawab."
"Kalau itu aman, pak. Tinggal cabut dan buang di luar saja," tawa Danu, "apa lagi dia sudah pernah saya pake pak." Jawab Danu dengan siara pelan.
"Apa?" Hakam terkejut dan melempar kepala Danu dengan botol mineral yang ia pegang. "Dasar... aku tidak pernah mengajarimu seperti itu," Hakam menggelengkan kepalanya.
"Bukan saya yang pertama pak, awalnya saya di tawarin, ya laki-laki mana yang tidak tertarik, saya sosor sajalah pak."
"Memang kamu ya, aku tidak habis pikir sama hubungan kalian, menikah saja belum tapi sudah sejauh itu kalian melakukannya."
Mobil terus melaju hingga ke sebuah banguan bertingkat yang luas. Hakam keluar dari mobilnya dan berjalan seorang diri. Ia membiarkan Danu menunggunya di mobil. Aroma khas obat-obatan dan orang-orang yang berlalu lalang, membuat Hakam memperlambat jalannya. Tujuannya ke lantai dua, ia menaiki lift dan menuju ruangan poli jantung. Memasuki ruangan yang tak luaa itu dan duduk di hadapan dokter yang sudah beemabut putih, "selamat sore dok.." sapa Hakam.
"Sore, pak Hakam, akhirnya anda datang juga. Terlihat di wajah anda raut kebahagiaan. Saya harap ini bisa membuat anda juga lebih bersemangay untuk melakukan pengobatannya."
"Benar, pak. Saya menerima tawaran anda untuk melakukan pencangkokan jantung. Kapan kira-kira saya bisa melakukannya?"
"Wah... saya bahagia mendengarnya... kita akan persiapkan semuanya dan kita bisa lakukan dalam dua hari lagi jika kondisi fisik anda stabil. Saya harap, dalam dua hari ini anda menjaga pola istirahat dan makan anda. Agar semua bisa berjalan dengan baik."
"Baik, dok. Saya akan datang dua hari lagi ke sini. Kalau begitu saya permisi dulu." Hakam berdiri dan meninggalkan ruangan dokter spesialis jantung tersebut setelah berjabat tangan. Hatinya sangat bahagia. Ia menghubungi Galaksi dan memberikan kabar baik ini, "Halo, bro.. aku akan melakukan oprasi pencangkokan jantung dua hari lagi. Semoga Tuhan bisa memberikan aku kesempatan hidup lebih lama lagi." Ujar Hakam langsung bahagia, membuat Galaksi merasa heran.
"Apa yang membuat saudaraku ini begitu bersemangat dan suaranya yang sangat bahagia? Apakah kamu sudah menemukan wanitamu?" Tanya Galaksi.
"Bukan wanita biasa, tapu dia sudah seperri bidadari bagiku. Dan karena dialah aku bersemangat untuk menjalani hari-hariku.
"Siapa dia? Kenapa kamu tidak perkenalkannya padaku?"
"Sudahlah, nanti ada waktunya. Aku harap kamu temani aku saat aku di Rumah Sakit. Aku mau jalan lagi, aku tutup telfonnya. Ujar Hakam dan mematikan telfonnya. Hakam berjalan menuju mobilnya dan memasukinya. Lalu mereka meninggalkan lokasi tersebut dan Hakam ongin membeli kejutan untuk Kayla