Apa iya?

1084 Words
"Hakam...." kayla membuka pintu kamar Hakam dengan hati-hati. Sebelumnya dia telah mengetuk pintu kamar Halam namun tidak ada suara. Kayla melihat tubuh Hakam yang masih meringkuk di balik selimut. Sudah dua hari Hakam tidak keluar kamar, sebelumnya bik Marni telah mengakatan kalau majikannya itu sering mengalami sesak nafas secara tiba-tiba. Kayla merasa iba, kenapa kakaknya Hakam tidak memilih tinggal bersama adiknya. Apakah kakaknya sejahat itu, sehingga tidak peduli dengan keadaan adiknya. Batin Kayla. Kayla termenung menatap Hakam yang masih meringkuk menahan sakit di balik selimutnya. Kayla tersentak kaget saat Liora menarik roknya dari arah belakang. Putrinya itu sedang belajar jalan. "Kamu lapar ya sayang?" Tanya Kayla sambil menggandeng tangan putrinya.. Kayla membawa Liora ke taman belakang dan menyuapinya. Ponsel yang ia letak di meja, berbunyi menandakan ada notifikasi masuk. Ia memgecek ponselnya dan terlihat sebuah pesan [ Mba Kayla, saya pesan rempeyek nya 1 kg dan donat 100 pcs. Untuk pesanan besok di antar ke komplek perumahan Ardana Bantul.] Kayla melihat nomor baru yang masuk di ponselnya, melihat foto profil, terlihat hanya tangan memakai jam. Kayla berpikir, si pemesan adalah lelaki. [Untuk pembayaran apakah saya transfer sekarang atau pembayaran di tempat setelah pesanan sampai?] Kembali masuk notifikasi pesan dari nomor yang sama. Setiap pelanggan baru, Kayla selalu meminta pembayaran di awal sistem transfer. Kayla membalas pesan tersebut, dan kembali menyuapi anaknya. Tak lama kembali masuk notifaksi dari M-banking pemberitahuan pembayaran sukses. Dan pesan dengan nomor yang sama kembali masuk ke ponsel Kayla. [Sudah saya transfer, dan ini bukti pembayarannya. Atas nama Safira.] Kayla tersenyum dan semakin bersemangat untuk berjualan. Ia segera membereskan sisa makam Liora dan membawa sang anak masuk ke dalam. *** Paginya Kayla bersemangat untuk mengantar pesanan yang sudah di bayar cash di awal. Ia menitipkan anaknya pada Bi Marni, karena Kayla harus mengantar pesanan Safira. Saat memasuki sebuah komplek perumahan elit, Kayla bertanya pada security alamat Safira. Setelah mendapat petunjuk rumah Safira, Kayla membawa pesanan itu dan memcoba menghubungi nomor Safira namun tidak di angkat. Sebuah bangunan di mana terdapat sebuah plank, Asrama Anak Surga. Kayla merasa heran. Apakah ia salah alamat, namun ada ibu-ibu yang baru saja membuang sampah, Kayla langsung memanggilnya, "Bu, ibu..." Kayla turun dari motornya dan berlari menghampiri seorang wanita paruh baya. "Iya, mbak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya ibu tersebut. "Saya mencari alamat ini, dan pengirim atas nama Ibu Safira." Ucap Kayla sambil menunjukkan sebuah kertas yang sudah ia tuliskan sebuah alamat. "Iya benar, ini alamatnya." Jawab ibu paruh baya yang berpakaian daster panjang dan hijab panjang. "Tapi Safira tidak di sini, mbak", jawab ibu itu. "Iya, bu, tapi Ibu Safira memesan beberapa makanan dengan saya dan menyuruh menghantarkan makanan itu ke sini." "Oh itu pak Galvin, pasti dia yang memesan." "Pak Galvin?" Kayla terdiam, namun ia langsung menyerahkan bungkusan makanan yang sudah di pesan untuk di hantar ke alamat tersebut. Dalam perjalanan menuju pulang, Kayla berpikir, apakah sipemesan bernama Safira, adalah asisten Hakam? Namanya Galvin Hakam, dan juga Kayla pernah mendengar kabar kalau Hakam memiliki asrma untuk anak-anak yang menderita penyakit kanker. Tapi kenapa harus melalui orang? Batin Kayla. Sesampainya di twmpat tinggalnya, Kayla menghampiri Bi Marni yang sedang bermain dengan putrinya. "Bik, maaf sudah merepotkan bibik." Kayla tersenyum dan Liora langsung berlari menghampirinya. "Bik, semenjak kemarin, aku gak pernah liat Hakam keluar dari kamarnya, apa dia baik-baik saja?" Tanya Kayla, ia masih penasaran dengan si pemesan makanannya tadi. "Bibik juga kurang tahu pastinya, semalam juga Danu tidak pulang. Dan sampai sekarang Danu juga belum kembali ke rumah." Jelas bi Marni. "Apa mereka sering pergi tanpa kabar seperti ini, bik?" "Iya, tapi dulu kami di ingatkan kalau bapak pergi berarti ada urusan pekerjaan. Pak Hakam kan punya banyak klien yang bekerja sama untuk promosi lukisannya. Jadi kami tidak pernah tanya-tanya lainnya lagi." Ada rasa gelisah dalam benak Kayla. Beberpa hari yang lalu, Hakam tidak keluar kamar karen sakit, dan ini hari, ia tidak ada kabar, bahkan tidak pulang. Kayla masih merasa ada sesuatu, dia mencoba menghubungi Hakam namun tidak bisa. Kayla kembali melakukan pekerjaannya, ia tetap melakukan pekerjaan rumah, karena ia tahu dirinya hanya menumpang dan berusaha tetap memberi yang terbaik untuk sang pemilik rumah. Pekerjaan yang biasa dikerjakan bik Marni ia ambil alih. Kayla terpikir untuk mencari tempat kos yang baru, karena ia tidak ingin selamanya menumpang di tempat Hakam, walau Hakam sangat senang ia tetap berada di rumah itu. Setelah pekerjaan selesai, Kayla menghubungi pemilik kos, yang ia dapat dari marketplace alun sosial medianya. Kosan yang berukan 5x3, dengan harga delapan lima ratus ribu sebulan. Cukup untuk menampung dirinya dan Liora putrinya. "Kamu yakin mau nge-kos?" Tanya bik Marni. Sebelumnya bik Marni tidak sengaja mendengar percakapan Kayla di telfon. "Iya, bik. Aku tidak enak hati, jika harus menumpang terus di sini. Hakam sangat baim padaku, aku tidak mungkin menfaatin kebaikan Hakam." Bik Marni mengangguk, ia juga bisa merasakan kebaikan Hakam yang tulus membantu orang lain. Tidak memandang dari golongan mana mereka. "Danu juga awalnya seperti kamu, Kay.." Bik Marni teringat akan kisah Danu yang saat pertama kali di tolong oleh majikannya itu. "Sekitar lima tahun yang lalu, Danu di PHK dari perusahaannya, di mana perusahaannya itu tempat Pak Hakam bekerja sama dalam pemasaran lukisannya." Kayla menatap bik Marni, ia teringat akan mantan adik iparnya yang selalu membanggakan Danu kekasihnya itu orang kaya. "Dulu Danu di PHK karena ketahuan melakukan kesalahan. Namun Pak Hakam tidak memandang kesalahan masa lalu Danu. Pak Hakam langsung memberi tawaran pada Danu untuk menjadi supir pribadinya, bahkan bisa di bilang sebagai asisten pribadinya juga" "Kenapa Hakam begitu gampangnya percaya sama orang lain ya bik?" Tanya Kayla "Itulah sifat pak Hakam. Dia tidak memandang orang lain itu berbeda. Dia menganggap semua orang itu baik, kalau kita bisa memperlakukannya dengan baik. Danu juga pernah berpura-pura menjadi majikan pak Hakam. Kalau bibik gak salah saat itu Danu ingin melamar kekasihnya, dan dia bertukar peran dengan pak Hakam." "Maksudnya bertujar peran gimana, bik?" Bik Marni tersenyum, teringat akan ide konyol Danu yang di terima oleh Hakam. "Danu punya pacar, tapi pacarnya itu kalau bibik nilai pasti matre. Emang sih, bibik gak pernah liat dan ketemu langsung dengan pacar Danu, tapi dari cerita yang bibik dengar sih pacarnya itu banyak maunya." Kayla teringat akan Renata, benar yang di katakan bik Marni, kalai keluarga mantan suaminya itu matre dan mata duitan. Pantas saja saat lamaran itu, Danu berpenampilan selayalnya bos besar. Dan supir itu yang saat menghantar dia? Hakam? Apa iya? Gumam Kayla, membuat bik Marni yang di sampingnya menoleh pada Kayla. "Apa iya, apanya, ndok?" Tanya bik Marni merasa heran dengan tingkah Kayla
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD