undian berhadiah

980 Words
Kayla meletakkan ponselnya di meja dengan kasar. Bisa-bisanya Rian mengundang Kayla ke acara pernikahannya. Kayla sempat memberikan nomor ponselnya pada Rian dua bulan yang lalu untuk urusan sidang perceraian mereka. "Kenapa?" Tanya Hakam yang baru saja selesai melukis di taman belakang. Dan masuk membawa perkakasnya, ke ruangan khusus dan melihat Kayla baru saja menerima telfon dengan muka keselnya. "Mantan suamiku. Bisa-bisanya dia mengundang aku ke pesta pernikahannya." "Datang saja. Tunjukan pada dia kalau kamu sudah move on." Jawan Hakam sambil duduk di kursi yang ada di hadapan Kayla. "Bagaimana kalau aku yang temani kamu?" "Tidak, Hakam. Itu bukan ide yang bagus...." jawab Kayla. Ia tidak ingin melihat mantan keluarganya dulu, apa lagi bertemu dengam mantan ibu mertuanya yang matre. "Kalau kamu hadir, dengan wajah yang lebih ceria dan penampilan yang berbeda, mereka akan mengira kamu tidak ada masalah. Dan dengan begitu kamu bosa tunjukan dirimu bisa bahagia tanpa mereka. Lagian aku juga di undang." Jelas Hakam. Kamu kenal dengan Rian atai Gisel?" Tanya Kayla. "Tidal keduanya, hanya keluarga Gisel pernah membeli lukisanku. Dan kami kenal hanya sebatas penjual dan pembeli." Senyum Hakam. Ia tidak ingin menunjukan siapa jati dirinya. "Akan aku pikirkan." Jawab Kayla sambil berdiri dan membawa piring kotor yang ada di meja kearah wastafel. Hakam melangkah hendak pergi ke arah kamarnya, namun melihat sebuah kertas terdapat sebuah sketsa mahkota, di atasnya terdapat ponsel Kayla. "Ini?" Hakam mengambil kertas tersebut. "Hanya sketsa mahkota biasa." Jawab Kayla dengan malu sambil membersihkan piring-piring yang ada di wastafel. "Bagus." Hakam berjalan ke arah ruangan tempat penyimpan perkakas melukisnya dan mengambil sebuah buku dan alat tulis. Lalu kembali ke arah Kayla yang sedang mengerjakan pekerjaannya. "Mulai sekarang, kamu menggambar di buku ini, jangan di kertas seperti itu lagi." Hakam meletakkan peralatan yang ia ambil tadi di meja dekat ponsel Kayla. "Terimakasih, Hakam." Kayla tersenyum. "Oh iya, aku harus mengantar pesanan." Kayla teringat akan pesanan bu Rina klien Hakam yang tinggal di Apartemen tidak jauh dari rumah yang Kayla tempati. Hakam pernah memposting beberapa hasil jualan Kayla, dan beberapa kenalan Hakam memesannya melalui Hakam. Kayla mengeringkan tangannya dan bergegas untuk mengantar pesanan tersebut. "Liora sedang tidur kan? Biarkan dia tinggal. Kamu pergilah." Ujar Hakam yang melihat kayla hendak melangkah ke kamarnya. "Tapi..." "Sudah, pergilah. Kasian pelangganmu jika menunggu lama." "Terimakasih, kamu saudara yang paling baik, Hakam." Kayla membawa kantungan plastik yang berisi peyek pesanan bur Rina dan memilih pergi dengan sepeda motor matic milik Hakam. Hakam memberikan izin pada Kayla untuk memakainya di saat Kayla membutuhkan. Hakam melihat langkah Kayla yang keluar dari pintu samping, ada rasa yang tak bisa ia utarakan saat dekat dengan Kayla. Awalnya Hakam ingin menjadikan Kayla menjadi adiknya, namun saat ini ia ingin lebih. "Tak perlu berharap lebih Hakam, usiamu hanya sebentar lagi." Gumam Hakam berbicara pelan dan hanya dirinya yang mendengar. Kayla tiba di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Ia melihat pesan pribadi di ponselnya dari Bu Rina, dan bertanya pada securyty untuk lantai tempat tinggal bu Rina. Saat Kayla hendak memasuki lift, kayla tidak sengaja melihat Galaksi dengan wanita berkemeja merah berjalan ber iringan, keluar dari lift. Kayla menghindar dan bersembunyi di balik pot bunga yang besar. "Kenapa aku harus menghindar?" Gumam Kayla merasa heran dengan dirinya. Jantungnya berdetak kencang tidak seperti biasanya. Ada getaran aneh dalam dirinya saat bertemu dengan Galaksi. "Kayla?" Rini yang dari luar menatap Kayla. Sekilas dia pernah melihat wajah Kayla saat Hakam memposting foto Kayla saat membuat dagangannya. "Eh... iya.." jawab Kayla gugup. "Saya Rini, teman Galvin Hakam, yang memesan rempeyek pada Mba Kayla." Jelas Rini dan tersenyum melihat bawaan Kayla. "Ternyata kamu lebih cantik aslinya dari pada di foto. Pacarnya Galvin Hakam, ya?" Goda Rini. "Bukan.... kami hanya teman. Dan Hakam sudah saya anggap seperti saudara saya sendiri." "Lebih dari saudara juga gak pa-pa, mbak." Goda Rini kembali. "Oh iya pesanan saya ini ya? Tempo hari Hakam pernah bilang pada saya, katanya rempeyek buatan kamu itu enak, gurih, gak bosan makannya." Rini mengambil bungkusan di tangan Kayla. "Saya ini pecinta makanan tradisional seperti ini. Rasanya tidak pas kalau makan tidak pake ini." Ujar Rinj. Kayla hanya menyimak dan tersenyum Setelah menerima pembayaran dari Rini, Kayla berpamitan pulang, karena ia teringat dengan Liora yang ia tinggalkan di rumah. Galaksi yang sempat melihat Kayla berbicara dengam wanita paruh baya itu, hendak menghampirinya. Namun adiknya menelfon membuat Galaksi kehilangan jejak Kayla. "Apa? Kamu yakin?" "Aku yakin, aku sudah siap untuk melakukan oprasi." Jawab Hakam di sebrang telfon. Galaksi yang tidak fokus, matanya melihat dan mencari keberadaan Kayla. Kayla yang sudah berjalan keluar mengambil sepeda motornya yang terparkir dan melajukan kendaraannya. Galaksi sempat melihat Kayla yang menggunakan gamis kuning dan jilbab hitam membawa motor. Ingin ia mengejarnya, namun ia tak mungkin mengabaikan telfon dari sang adik. "Aku tahu, kemungkinananya untuk sembuh saat ini sangat kecil. Tapi aku ingin mencobanya, mungkin saja dengan oprasi bisa memperpanjang usiaku. Galaksi... aku merasa, setiap hari tubuhkan semkain memburuk." Suara Hakam melemah. Membuat Galaksi kembali fokus dengan telfonnya. "Kalau itu keputusanmu, aku tidak bisa mencegah mu." Jawab Galaksi. "Kau tahu... setidaknya aku ingin hidup dua pulih tahun lagi." "Aku juga inginnya seperti itu, Galvin. Hanya kau yang ku miliki saat ini. Aku sendiri jika kau tak ada di sini. Setelah menutup telfon dari adiknya, Galaksi mencari ibu-ibu paruh baya yang duduk di dekat ruangan santai. Ia berpura-pura ingin menanyakan siapa wanita yang bersama dia tadi. Rina yang sedang menikmati peyek, di hampiri Galaksi, "maaf bu, kalau saya boleh tau, beli peyek ini d mana ya? Saya ingin membelinya untuk nenek saya." Galaksi berbohong hanya demi mendapatkan informasi tentang Kayla. "Oh ini, saya pesan lewat mba Kayla. Buatannya enak, rapuh. Saya juga suka." "Boleh saya minta no ponselnya? Saya ingin pesan buat nenek saya." "Boleh. Ini kamu catet saja." Rina menyerahkan nomor ponsel Kayla, Galaksi tersenyum bahagia sekaan ia mendapatkan undian berhadia, saat mendapatkan nomor Kayla. Dengan cepat ia menyalin nomor Kayla. Dan setelah itu mengucapkan terimkasih lalu meninggalkan apartemen tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD