"Sudah cukup, bik!" ucap Kayla saat bik Marni memberi beberpa baju.
Saat ini mereka berada di sebuah supermarket. Galvin menyuruh bik Marni untuk menemani Kayla membeli beberapa perlengkapannya.
"Buat Liora butuh banyak, Kayla." Bik Marni menyerahkan beberapa baju anak kecil yang seukuran dengan badan Liora. "Setelah ini kita akan cari popok dan s**u untuk Liora. Liora masi Asi?" tanya bik Marni sambil mendoring troli belanjaan mereka.
"Sudah mulai berkurang, bik. Karena Asi ku tidak lancar lagi." Kayla berjalan di samping Bik Marni dan mengikuti langkahnya.
"Bik, susunya jangan yang mahal." Kayla merasa tidak enak diperlakukan seperti keluarga.
"Kata pak Hakam, buat Liora harus yang terbaik. Kalian beruntung banget bisa bertemu dengan Pak Hakam. Dia baik bangeet." kata Bik Marni sambil tersenyum.
Kayla tidak akan memanfaatkan kebaikan Hakam, setelah ia memiliki uang, Kayla akan berjualan kembali dan mengumpulkan uangnya dan mencari tempat tinggal. Ia tidak ingin selamanya menumpang di rumah Hakam.
"Pak Hakam memiliki kelainan Jantung. Dia juga tidak boleh makan sembarangan. Dulu dia termasuk anak yang manja. Namanya Galvin Hakam, tapi semenjak Bapak dan Ibu meninggal, Pak Hakam tidak ingin di panggil Galvin. Ia lebih suka di panggil Hakam. Apa lagi semenjak lukisannya viral dan banyak di terjual di kalangan orang atas. Ia terkenal dengan sebutan Hakam." Bik Marni menjelasakan semua yang ia tahu tentang majikannya itu. Sambil mengambil beberapa barang yang mereka butuhkan.
Kayla sendiri, bisa melihat wajah Hakam yang terlihat pucat, badan yang kurus. Awalnya ia mengira karena Hakam berambut gondrong dan sedikit tidak terurus badannya.
Setelah selesai membayar semua belanjaannya, mereka berjalan ke arah parkiran mobil dan terlihat lelaki yang tak asing di mata Kayla. Danu menerima belanjaan mereka dan memasukannya kedalm mobil. Kayla tidak ingin berkomentar. Ia lebih memilih diam dan masuk kedalam mobil. Kayla juga berharap, Danu tidak menceritakan keadaannya pada Renata dan ibunya. Kaylaencobaengalihakn pandangannya pada anaknya. Liora tertidur pulas digendongannya.
Saat mobil memasuki pekarangan rumah, terlihat lelaki memakai helem dan jaket membawa motornya keluar dari pagar rumah. Kayla tidak bisa melihat jelas lelaki yang membawa motor besar itu. Namun Kayla seperti tak asing dengan postur tubuhnya.
"Itu kakak pak Hakam. Jarang berkunjung ke rumah ini. Dia sama baiknya dengan pak Hakam. Tapi kalau sudah marah, taringnya bisa keluar. Menakutkan." kekeh bim Marni.
"Ganteng, pintar, tapi... Palyboy." tambah bik Marni lagi.
"Tapi di rumah pak Hakam tidak ada foto keluarga." jawab Kayla yang pernah melihat isi rumah Hakam. Hanya terlihat beberapa lukisan hasil karya coretan Hakam.
"Memang tidak ada, bukan berarti dia todak sayang dengan kakaknya. Semenjak orang tua mereka meninggal. Pak Hakam menyimpan semuanya, agar tak teringat dengan bayangan orang tuanya.
Kayla dan bik Marni memasuki rumah lewat pintu samping, terlihat Hakam yang duduk di kursi santainya.
" Nomorku dan Bik Marni sudah aku simpan." Hakam berdiri dan mendekat kearah Kayla yang berada di samping Bik Marni lalu memberikan sebuah benda pipih.
"Maaf, Hakam." Kayla mendorong tangan Hakam dan menolak pemeberian Hakam. "Aku tidak bisa menerimanya." Kayla menunduk, ia merasa Hakam terlalu baik padanya. "Tempat tinggal, pakaian, sekarang ponsel. Bagaimana aku membalasnya?" ujar Kayla.
Hakam menarik tangan Kayla dan meletakkan ponsel yang di tangannya ke tangan Kayla. "Jadi perempuan yang bahagia, pintar, sukses. Agar kamu bisa membalas mereka yang menyakitimu."
****
Rian melihat Galaksi berjalan di koridor kantor. Rian muak dengan lelaki sombong pemilik Bantul Grup itu. Selama ini, ia jarang melihat Galaksi berada di kantor. Bahkan dulu, ia mengira Bantul Grup milik Johan, Papa Gisel.
Rian sudah membayangkan bisa tinggal di rumah mewah dan megah milik keluarga Gisel. Dulu Rian pikir dengan menjerat Gisel bisa menguasai harta Bantul Grup, ternyata Johan dan Gisel tidak berkutik jika Galaksi sudah mengambil keputusan.
"Terimakasih undangan pernikahannya, Rian!" Arya teman satu divisi menerima kertas undangan dan menepuk pundak Rian.
"Wah, kamu bakalan masuk di keluarga terpandang dan terkaya sei Indonesia. Hebat Rian." Puji Santi yang menerima undangan pernikahan itu.
Rian tersenyum lebar. Setidaknya teman-teman sekantornya lebih menghormatinya. Tidak ada ruginya.
"Ajak pasangan kalian untuk datang ke pernikahanku." Usai memberi undangan itu Rian melangkah ke arah ruangannya.
"Pasti itu. Kami pulang dulu." Ujar Arya dan melangkah keluar kantor.
****
Galaksi berjalan kearah sudut kantor, terlihat dari pembatas kaca yang sebagai penghalang ruangan yang satunya k ruangan tempat Rian bekerja.
Rian mengamati Galaksi, ingin sekali dia mencari celah agar bisa mengambil hati Galaksi dan bisa memberi kepercayaan padanya untuk mengolah perusahaan.
Gisel datang dari arah belakang dan memeluk tubuh Rian dari belakang, "kamu pasti lagi nunggu aku, kan sayang?" Ucap Gisel dengan penuh manja.
Rian berbali badan dan merangkul Gisel, melangkah ke ruangam Rian yang ada di hadapan mereka. "Setelah kita menikah nanti, aku tidak ingin kamu bekerja!"
"Tidak bisa, sayang." Tolak Gisel.
"Bukankah kalau kamu tidak bekerja tetap mendapat, uang dari Galaksi?"
"Setelah menikah dengan mu, Galaksi juga menghentikan uang jajan pada ku." Jelas Gisel.
"Apa?" Rian terkejut dan menatapa wajah Gisel lalu melepas rangkulannya. "Keterlaluan sepupumu itu." Rian mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Makanya kamu harus pintar memgambil hati Galaksi, supaya kamu di berikan jabatan yang tinggi di perusahaan ini." Kata Gisel sambil mengusap d**a bodang Rian dengan tangan lentiknya.
Galaksi menepis tangan Gisel dan berjalan kbali ke arah pintu, ingin ia keluar dari ruangannya itu, "mau kemana kamu?" Tanya Gisel dan menangkap tangan Rian yang hendak keluar.
"Kenapa? Aku mau pulang." Jawab Rian cepat dan mengelak pelukan Gisel.
"Ayolah sayang!" Rengek Gisel dan kembali meraih tangan Rian.
"Mau ngapain?"
"Making Love. Sebentar saja." Gisel menarik tangan Rian hingga mereka terjatuh ke sofa. Tepat Rian berada di atas tubuh Gisel. Tangan Gisel yang terus meraba d**a Rian dan membuka satu kancing kemejanya.
"Kamu sedang hamil muda, Gisel." Tolak Rian langsung berdiri dan menjauh dari Gisel.
"Pelan-pelan sayang. Aku ingin merasakan sensasi bermain di kantor." Suara Gisel di buat seseksi mungkin, dan kakinya yang sedikit terbuka, memperlihatkan paha mulusnya. Namun tidak membuat Rian terpancing.
"Lebih baik kita pulang." Rian menolak tawaran Gisel dan merapikan kemejanya. "Kalau ketahuan Galaksi, aku yang Rugi."
Gisel merasa kesal, Rian tidak mau memenuhi hasratnya. Padahal dia sudah memancing Rian agar mau melakukannya di kantor bersamanya.
Rian menarik tangan Gisel hingga ke lift dan turun ke parkiran kantor. Gisel hanya diam dan cberut dengan wajah juteknya.
Rian mengantar Gisel pulang ke kediaman orang tuanya. Dan Rian memilih pulang ke rumah orang tuanya, tanpa memperdulikan kekesalan Gisel padanya.