Chapter 20

728 Words
Dari jarak yang cukup jauh Nevan dapat melihat Nia sedang menarik-narik tas seorang anak laki-laki sambil mengomel tidak jelas. Sedangkan si laki-laki itu berusaha melepaskan tangan Nia yang sedang menahan tas nya. Merasa akan terjadi hal-hal yang Nevan takuti, Nevan berjalan menghampiri Nia. "Jangan g****k!" "Apa sih. Lepas ah." "Belom aja Lo kena cubitan maut gue!" "Heh-heh! Kenapa ini?" Tanya Nevan ketika sudah berdiri di depan Nia dan anak laki-laki yang sedang berdebat kecil dengan Nia. "Saya..." Nia kembali menarik tas temannya hingga membuat anak laki-laki tersebut hampir terjungkal. "Kakak gak boleh kasar." Nevan memegang kedua bahu Nia menarik anak gadisnya untuk mendekat padanya. "Kamu mau ngomong apa?" Tanya Nevan pada teman Nia yang sedang tersenyum penuh kemenangan pada Nia. "Saya suka sama anak Om." Mata Nevan membulat lebar. Sedangkan kedua tangan Nia sudah terkepal kuat. "Sekian, Om." Setelah itu anak tersebut langsung pergi masuk ke dalam mobil berwarna putih. Nevan menatap Nia yang sepertinya sedang menahan emosinya. "Dia suka sama kakak?" Nia menoleh pada Nevan. "Dia tuh orang gila, gak usah didengerin." Balas Nia berjalan terlebih dahulu dengan sesekali menghentakkan kakinya. Nia yang baru saja melewati Aya berjalan mundur kemudian berdiri tepat di depan adiknya yang sedang bermain boneka di depan kamar Nevan dan Reya. Mata Nia tidak tertuju pada Aya melainkan pada uang kertas berwarna merah yang ada di dekat boneka Aya yang lainnya. Nia bisa jamin uang itu adalah uang asli. Untuk soal uang jangan ditanya seberapa besar tingkat kepekaan Nia dalam membedakan uang asli dan uang mainan. "Itu uang siapa?" Aya mendongak menatap Nia yang sedang menunjuk ke arah uang seratus ribu. "Uang Aya." "Dikasih siapa?" "Opa. Kak Ia gak dikasih." Aya menjulurkan lidahnya bangga terhadap dirinya sendiri. Nia tersenyum licik. "Mau tukeran sama uang kakak gak?" Aya langsung menggeleng. "Kak Ia bohong!" "Enggak, gak bohong. Bentar deh." Nia berlari ke arah kamarnya. Tak lama gadis itu sudah kembali dengan membawa uang yang bertuliskan seratus ribu rupiah. Lebih tepatnya uang mainan. "Nih, kakak ada uang. Gak mau?" Aya menatap uang yang Nia sodorkan kepadanya. "Tukeran sama punya kakak. Punya Aya kan cuma ada satu, punya kakak ada dua nih." Nia tersenyum dan bersorak di dalam hari saat Aya mengambil uang yang ia pegang. Sreek! Aya merobek uang mainan tersebut membuat mulut Nia terbuka lebar. "Kak Ia bohong!" Aya langsung mengambil uangnya lalu bangkit berdiri dan berlari ke arah kamar Nevan dan Reya. Nia menghela napas karena niat jahatnya tidak dapat terlaksanakan. "Calon-calon susah ditipu tuh anak." "Papi, Nia mau dong ulang tahunnya dirayain!" Nevan tidak menggubris Nia karena ia sedang sibuk dengan pekerjaannya. "Papi!" "Fazra gak mau. Lagian kemaren kita udah makan malem di restoran bintang lima, sesuai sama keinginan kakak." Nevan menatap sekilas Nia. "Ih, tapi Nia mau nya dirayain. Temen-temen Nia tuh ulang tahunnya pada dirayain." "Ntar aja nunggu 17 tahun." "Kelamaan dong!" "Daripada gak dirayain samsek?" Tanya Nevan. "Emang harus nunggu Fazra mau biar ulang tahunnya dirayain, gitu? Fazra mulu deh sekarang." Nevan menghela napas menyingkirkan kertas yang ia pegang. "Bukan masalah Fazra terus. Tapi Papi takut salah. Kakak mau ulang tahunnya dirayain tapi Fazra enggak. Kalo Papi nurutin kemauan kakak Papi takut Fazra mikir kalo Papi lebih perhatian sama kakak. Kayak sekarang, Papi gak mau nurutin kemauan kakak tapi kakak malah mikir Papi lebih mikirin Fazra. Papi jadi serba salah sekarang." Nevan terlihat benar-benar lelah. Lelah karena pekerjaan lelah karena masalah keluarganya. "Ya udah deh." Nia pergi dari ruang kerja Nevan dengan wajah yang ditekuk. Nevan menghela napas panjang seraya menyandarkan tubuhnya dan sesekali memijat kepalanya. Mata Nevan yang baru saja terpejam mulai terbuka ketika mendengar suara pintu terbuka. "Abang mau ngomong sama Papi atau lagi pengen sesuatu?" Fazra duduk di depan Nevan. "Mau ngomong." Nevan tersenyum mendekatkan tubuhnya ke tepi meja dengan kedua tangan yang saling bertautan. "Mau ngomong apa?" "Rayain aja ulang tahunnya untuk Nia." Nevan mengerenyit. Sedetik kemudian pria itu tersenyum. "Abang mau ulang tahunnya dirayain?" Fazra menggeleng. "Abang gak mau. Abang tadi denger Nia minta ulang tahunnya dirayain tapi Papi malah mikirin Abang. Abang gak papa, gak masalah juga kalo ulang tahunnya Nia mau dirayain." Fazra mengalihkan matanya bolpoin yang ada di meja pada Nevan. "Jangan mikirin Abang." Lanjut Fazra memberikan seulas senyum untuk Nevan. Ucapan sekaligus senyum Fazra seolah memberi semangat untuk Nevan. Rasa lelahnya hilang seketika melihat anak laki-lakinya tersenyum. Memang hanya seulas senyum tipis, namun terlihat sangat tulus dan manis di mata Nevan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD