"Tidak ada kebohongan yang abadi."
???
"Anak Papa udah cantik aja pagi-pagi begini. Mau ke mana, Sayang? Sini, sarapan dulu." Ben menarik kursi di sampingnya untuk Echa.
"Papa, nih. Masa baru sadar kalau anaknya cantik?" Echa duduk di samping Ben.
Ben tertawa.
Echa mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. "Echa mau jalan-jalan sama temen, Pa."
"Temen apa temen?" goda Ben.
Pipi Echa langsung memerah. "Temen Echa Pa.... Nggak usah mikir aneh-aneh, deh." Echa memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.
"Anak Papa udah gede ceritanya." Ben terkekeh.
"Iya, dong. Masa udah dikasih makan nggak gede-gede." Echa ikut terkekeh. Dia jadi teringat sesuatu saat membahas anak kecil.
"Echa mau nanya sesuatu sama Papa. Tapi, Papa harus jawab yang jujur. Oke, Pa?" Echa meletakkan sejenak sendoknya.
"Apa?" Ben melipat tangan dimeja, menyadari anaknya sedang ingin membicarakan hal serius.
"Aren itu siapa?"
Sekujur tubuh Ben memanas. Haruskah dia berbohong?
"Aren itu kamu, Sayang. Nama panggilan kamu waktu kecil." Ben mengusap puncak kepala Echa.
"Emm.... Apa Echa punya temen masa kecil yang belum Echa tau?"
"Nggak ada, tuh. Kamu udah tahu semuanya. Papa 'kan udah pernah ceritain semuanya ke kamu. Emangnya kenapa?" Ben menatap Echa dengan gelisah. Namun, Echa tak menyadari akan hal itu.
"Nggak ada apa-apa. Echa cuma ngerasa mimpi Echa belakangan ini itu aneh aja. Berasa nyata, kejar-kejaran di,pantai sama anak laki-laki. Umurnya..., mungkin 7 tahunan." Echa kembali mengingat-ingat mimpinya setelah pingsan.
"Mungkin itu cuma bunga tidur."
Mungkin itu cuma bunga tidur, sama kayak yang Raga bilang.
Setelah Echa selesai sarapan, dia pamit lagi pada Papanya. "Pa, Echa berangkat, ya? Nanti kayaknya bakal sampai malem. Tapi tenang aja, temen Echa bisa jaga Echa semua kok, soalnya pinter berantem. Terus, ya, Pa, mereka nggak akan berani macem-macem sama Echa. Dijamin aman sentosa
Jadi, Papa nggak usah khawatirin Echa." Echa menghirup oksigen banyak-banyak, dia bicara dalam satu tarikan napas.
"Hm." Ben menyerutup kopinya.
Echa mendengus kesal, dia ngomong panjang lebar, eh responnya? 2 huruf doang?!
Tin!
Tin!
"Assalamualaikum, Papa jutek. Tuh temen Echa udah jemput, jadi Echa berangkat dulu, oke?" Echa mencium tangan Ben dan berlari keluar rumahnya.
"Jangan kangen!!"
"Anak Papa beneran udah gede ternyata, nggak nyangka kamu masih ada di samping Papa. Bahkan, dulu kesempatan kamu untuk hidup itu tipis sekali, Cha. Papa salut sama kamu," Ben menggumam, mengembangkan senyum bangganya.
???
Echa memanyunkan bibirnya kesal. Tadi, dia sudah mau duduk di sebelah Jiwa yang mengambil kemudi mobil. Namun, Raga malah membentaknya. Katanya, Echa harus siaga 24 jam buat Raga. Nyebelin 'kan? Memangnya dia siapanya Echa? Anaknya? Akhirnya, Echa duduk di belakang bersama Raga.
"Kamu, tuh, nyebelin banget, sih. Kasihan, tuh, Jiwa duduk sendirian!" Echa menatap Raga sengit.
"Kata siapa Jiwa sendirian? Orang dia malah berduaan sama stir mobil gitu." Raga memutar bola mata malas.
Pletakk
Echa menjitak jidat Raga kesar. "Sakit!" Raga menajamkan mata elangnya. Echa cengengesan.
"Berantem mulu bawaannya, kuping gue bosen dengernya." Jiwa terkekeh.
"Tujuan pertama ke mana?" Echa mengalihkan pembicaraan.
"Makan dulu aja. Gue belum sarapan," Raga memberi usul.
"Nggak apa-apa 'kan, Cha? Gue juga belum sarapan soalnya." Jiwa memokuskan matanya pada jalanan di hadapannya.
Echa tersenyum. "Nggak apa-apa kok, Ji," jawabnya halus.
"Sama Jiwa aja kalem." Raga mendengus kesal.
Echa tersenyum jail. "Cieee cemburu, ya?" godanya.
"Ish, amit-amit gue cemburu sama cewek kerempeng kayak lo, nggak ada untungnya tahu!"
Bugh
Echa menonjok pipi Raga cukup keras. "Kamu, tuh, jadi cowok peka dikit kenapa? Yang namanya cewek itu nggak suka ya kalau dikatain gendut apalagi kerempeng!" Echa menatap sinis Raga.
Raga terkekeh. "Itu kenyataan, Bego."
Echa manyun. Mengusap-usap dadanya. "Yang waras ngalah.... Yang waras ngalah.... Karena Echa waras, iyain aja, deh."
Raga mencubit kedua belah pipi Echa gemas. "Lo ngatain gue gila gitu?!"
"Aduh, duh, sakit, Raga!!"
"Ekhem!" Jiwa berdehem.
"Kayaknya gue beneran jadi obat nyamuk, deh, sekarang. Kasian banget nasib gue." Jiwa ternyata sedari tadi mengamati dari kaca mobil.
Perkataan Jiwa menghentikan perdebatan Echa dan Raga. Echa fokus pada coklatnya dan Raga pada ponselnya. Jiwa tertawa geli.
Sebelum mereka sampai disebuah warung bakso di pinggir jalan, Echa sempat membeli sekotak donat untuknya. Karena tadi dia sudah sarapan dan sekarang ingin makan yang manis- manis.
"Habis ini mau ke mana, Ji?" Echa menggigit donat kejunya.
"Ke rumah nenek gue."
"Uhuk, uhuk." Raga tersendak saat mendengar kata nenek.
Apa Jiwa sudah gila? Dia mau membawa Echa ke rumah neneknya? Yang otomatis, persis di sebelahnya adalah rumah milik Echa. Raga menatap horor Jiwa, jika dia bilang pada Jiwa tentang semuanya, tamatlah riwayatnya, Jiwa pasti tak akan membiarkan Echa bersamanya.
Echa menyodorkan jus jeruk milik Raga. Raga menerimanya dan meminumnya sampai tandas.
"Mendingan kita cari tempat lain. Ngapain juga, sih, ke rumah nenek? Emangnya di sana ada apaan?" Raga menatap Jiwa sambil memasukkan sebuah bakso ke mulutnya.
"Lo nggak kangen sama nenek? Dia nanyain lo mulu." Jiwa menatap sengit Raga.
Raga berpikir keras. Kenapa dia baru ingat? Bukannya Echa lupa ingatan? Ah, bodoh sekali Raga. Kenapa tidak dari tadi? Raga meruntuki diri sendiri.
"Ya, udah nggak masalah. Gue juga kangen sama mereka." Raga memasukkan kembali bakso ke mulutnya.
"Cucu durhaka!" Jiwa menonyor jidat Raga. Raga memelototi Jiwa. Echa yang melihat itu hanya bisa tertawa.
Jiwa memasukkan bakso terakhirnya ke,dalam mulut, setelah itu menandaskan jus jeruknya. Dia mengamati Echa yang asyik menggigiti donat stroberinya.
Echa yang menyadari bahwa dari tadi Jiwa memperhatikannya, menoleh. "Jiwa mau?" Echa membelah donat yang tadi dia gigit dan memberikan separuhnya yang belum dia makan pada Jiwa.
Jiwa tersenyum, lalu membuka mulutnya. Echa tersenyum kecil, memasukkan donat itu ke,mulut Jiwa.
"Kayak anak kecil tahu." Echa terkekeh.
"Donatnya enak, apalagi disuapin sama lo."
Pipi Echa merona.
"Bisa aja kamu, Ji."
Raga menatap kesal keduanya. Echa kembali menggigit donatnya. Gadis itu tersentak kaget saat Raga mendekatkan wajahnya lalu menggigit donat yang sedang Echa gigit.
"Kamu ngapain, sih!?" Echa memekik.
"Nyobain donatnya. Kayaknya enak banget sampai gue dikacangin," Raga tersenyum sinis, "dan ternyata donatnya-"
Echa memasukkan sisa donatnya ke,dalam mulut Raga. "Jigong kamu nempel di sini. Echa nggak mau makan ini. Jadi, buat kamu aja." Echa mendengus.
Raga menatap Echa tajam. Echa menunduk. Mata itu selalu sama, mata elang yang mampu membuatnya terdiam seketika.
"Dia itu iri soalnya nggak disuapin sama lo."
Echa mendongak mendengar perkataan Jiwa.
"Ogah banget cemburu sama dia!" Raga masih menatap Echa tajam membuat Echa menunduk lagi.
Aneh banget jadi orang. Kadang senyum-senyum, kadang marah-marah nggak jelas, pengen banget Echa blender itu mulut.
Echa memberanikan diri menatap Raga, lalu membalas tatapan tajamnya dengan sengit.
"Ya udah, yuk. Kita lanjutin perjalanannya." Jiwa berdiri dari duduknya. Tangannya terangkat untuk menggandeng tangan Echa. Echa menelan ludah kasar. Tangan Jiwa begitu hangat. Hangatnya merambat ke dadanya dan membuat ritme jantungnya meningkat.
Jiwa memberi senyum. "Boleh 'kan?"
Senyum itu menular. Echa mengangguk. Dia berusaha tetap tenang.
Nggak boleh oleng...
Nggak boleh oleng...
Jiwa tersenyum senang. Keduanya berjalan keluar dengan Raga yang mengekor sambil menggerutu.
"T*i"
???
"Lo mau ikut OSIS nggak, Cha?" Jiwa melirik Echa dari kaca mobil di depannya.
Echa berpikir sejenak.
Oh, iya. Jiwa 'kan ikut OSIS. Gimana kalau Echa ikut juga? Modus dikit nggak apa kali, ya? Hehe.
Mendadak, Echa tersenyum malu-malu.
Raga di sisinya bergidik. "Lo gila, ya, Cupu? Senyum-senyum sendiri kayak gitu." Ditonyornya jidat Echa.
"Apaan, sih." Echa mengusap jidatnya. Dia mendelik pada Raga. Tak ingin menghiraukannya, Echa bertanya pada Jiwa penuh keantusiasan. "Emang pendaftarannya kapan, Ji?"
"Besok. Gue besok yang nyebarin informasi sama formulirnya."
"Oh, iya. Kamu 'kan ketua OSIS." Echa pura-pura lupa.
Biar modusnya nggak kelihatan.
"Jadi, lo mau ikut?" Jiwa menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak ada temennya." Echa jual mahal. Dia ingin tahu seberapa jauh Jiwa akan membujuknya.
Raga menepuk-nepuk pipinya. "Nyamuk, nyamuk."
"Tenang aja, 'kan ada gue. Gue bakal nemenin lo ke,mana aja." Jiwa tersenyum sambil menepuk-nepuk dadanya.
Pipi Echa merona mendengar perkataan Jiwa. "Bisa aja kamu."
Raga terasingkan.
"Jadi, mau nggak? Kalau mau biar gue daftarin ke panitia. Nanti lo nggak perlu repot-repot lagi. Tinggal nunggu pengumuman doang."
Echa kini benar-benar berpikir. Ikut OSIS itu menjadi keinginannya sejak SMP. Bukan semata-mata karena ada Jiwanya. Walau itu juga bagian dari alasannya ingin bergabung dengan organisasi itu. Namun, menjadi anggota OSIS pasti diberi tanggung jawab yang besar. Dia jadi ragu.
"Gimana?"
Echa menghela napas. Keputusannya sudah bulat, dia akan ikut agar bisa lebih mudah mendekati Jiwa. "Echa ikut." Dia tersenyum lebar.
"Idih, sok cantik lo," Raga mencibir.
"Emang cantik." Echa menjulurkan lidahnya.
"Lo ngelunjak ya sekarang?!" Suara Raga meninggi, tampaknya dia sedang marah.
"Santai aja ngomongnya."
"Nggak bisa. Siapa lo ngatur-ngatur gue?" Raga mulai sewot.
"Baru aja baik, eh.... Udah kambuh lagi, habis apa gimana, sih, obatnya?" gumam Echa yang terdengar jelas di kuping Raga.
"Ngomong apa lo?!"
"Uluh-uluh Raga ganteng banget sih." Dalam hatinya dia mengumpati Raga.
"Baru nyadar lo?" Raga melipat tangan di depan d**a. Narsis.
Echa memasang muka enek, tetapi itu membuatnya terlihat menggemaskan.
"Berani ya sama gue?" Raga melotot.
Detik itu juga tawa Echa pecah. Menurutnya, wajah Raga itu kadang lucu jika marah. Ingat kadang. Soalnya, kadang juga wajahnya seperti orang kelaparan. Melas.
"Lo kok malah ketawa, sih?" Raga tampak kesal. Dia menghela napas kasar.
"Hahaha, habis kamu lucu, sih."
"Jiwa! Adik kamu nakal banget.... Bwahahahaha." Raga tak tinggal diam. Dia menggelitiki Echa, ingin balas dendam.
"Hahaha, kasian Echanya, Ga." Jiwa hanya bisa tertawa melihat Echa dan Raga yang saling menjaili semenjak naik ke mobil tadi.
"Nggak usah ikut campur. Dia pernah kelitikin gue soalnya." Raga terus menggelitiki Echa. Entah sejak kapan dia mengagumi senyum dan tawa gadis itu.
"Udah, Ga.... Echa salah.... Maafin Echa.... Jangan balas dendam, bwahaha." Echa sudah sangat lemas.
"Kamu 'kan udah hukum Echa!" Echa cemberut saat Raga menghentikan aksinya.
"Yang mana?"
"Katanya Echa disuruh nemenin kamu kalau kamu ke kantin." Echa menatap marah Raga.
Raga mencoba mengingatnya. "Oh, iya, hehehe sorry." Raga menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Nyebelin banget!" Echa mencubit pinggang Raga sekuat tenaga.
"Aduhh!!!" Raga menggosok pinggangnya yang nyeri.
"Dasar! Nggak bisa nepatin omongan sendiri." Echa melipat tangannya di depan d**a.
"Ya, maaf." Raga meraih tangan Echa dan digenggamnya.
Echa termenung, hatinya menghangat saat Raga memperlakukannya seperti itu. "Ada syaratnya,"
Raga memanyunkan bibirnya. "Ya, udah. Apaan?"
Jarang-jarang Raga mau seperti ini. Entah kesambet setan apa. Echa tersenyum nakal. "Nanti, kalau sampai di rumah nenek kamu, gendong Echa sambil keliling cari udara segar, ya?"
"What?!!"
"Mau nggak?
" .... "
"Syaratnya cuma itu. Nggak bisa diganggu gugat."
" .... "
"Terima aja, Ga," kata Jiwa.
Raga mendesis. "Iya, mau."
Echa memekik kesenangan. "Anak pinter!!!" Dia mengacak rambut Raga dengan mata berbinar dan tawa di wajahnya.
Ada, ya, bidadari secantik ini?