9. Kata Nenek

1199 Words
"Kamu itu seperti langit. Kadang mendung dan sangat gelap seperti siap memuntahkan semua kemarahan, tetapi malah tidak terjadi apa-apa. Kadang tampak sangat biru, tetapi hujan badai setelahnya." ??? Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam, akhirnya mereka sampai di rumah nenek Raga dan Jiwa. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung yang melelahkan bagi Echa karena harus adu mulut dengan Raga. Setelah keluar dari mobil, Echa meregangkan otot-ototnya. Gadis itu mematung saat melihat rumah bercat putih yang tampaknya tak berpenghuni. Bukan rumah nenek Raga, melainkan rumah yang berada tepat di sebelah rumah nenek Raga. "Ini ada orangnya nggak, sih?" tanya Echa penasaran. Yang mendengarnya hanya Raga karena Jiwa sedang mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil. "Enggak, kenapa emangnya?" Raga sedikit takut, takut jika Echa mengingat sesuatu. "Kayak nggak asing aja. Kayak pernah ke sini. Dan, kayaknya nggak cuma sekali." Echa tampak murung sambil terus mengamati rumah yang berdiri kokoh itu. "Perasaan lo aja kali. Nggak usah sok-sokan pernah keliling dunia." Echa mencubit perut Raga. "Bukan keliling dunia, cuma rumah ini." Echa mulai kesal dengan Raga. "Alah apaan, pas kita ke pantai lo juga ngomong gitu!" Raga mengusap-usap perutnya yang nyeri karena dicubit Echa. "Hehehe, iya, ya." Echa cengengesan. "Masuk, yuk," ajak Jiwa. Echa mengangguk. Dia menjajari langkah Jiwa. Sedang Raga berada di belakang Echa dan Jiwa sambil mengumpat. Mereka disambut hangat oleh nenek kakek Raga dan Jiwa. Terutama Echa, dia langsung diberondong nenek Raga dengan pertanyaan-pertanyaannya. "MasyaAllah.... Cantik bangetttt. Anak siapa ini?!? Kamu pacar siapa? Raga atau Jiwa? Tapi keliatannya kamu pacar Jiwa. Iya, 'kan? Mana mungkin kamu mau sama cucu nenek yang nakal ini." nenek Raga yang bernama Sasmita itu mencubit pipi Raga gemas. "Ih, Nenek apa-apaan sih!" Raga menatap marah neneknya. Sasmita mengerling. "Em..., Echa bukan pacar siapa-siapa, Nek." Sasmita tampak kecewa. "Kenapa nggak iya aja. Si Jiwa kayaknya siap, tuh." Jiwa meringis mendengar celotehan neneknya. Dan Raga, lelaki itu menekuk wajahnya. "Cupu, jadi nggak?" Raga mengalihkan pembicaraan karena kupingnya makin panas dengan ocehan neneknya yang tak bermutu, pikir Raga. "Eh, kamu anak nakal! Nama bagus-bagus malah dipanggil cupu!" Sasmita berkacak pinggang. "Nenek sok tahu! Cupu itu panggilan sayang Raga ke Echa! Panggilan sayang Echa ke Raga itu Kakek Lampir! Jadi jangan sotoy, deh, Nek." Echa melotot mendengar jawaban Raga. Namun, saat Echa ingin merevisi, Raga menatapnya dengan tajam membuat Echa mengurungkan niatnya. "Jadi, kamu sukanya sama anak bandel ini?" Sasmita tampak tidak percaya. "Enggak, Nek. Echa nggak suka sama dia!" Echa panik sendiri. "Tapi, asal kamu tahu, Raga itu sebenarnya baik kok. Tapi ya gitu, gengsian, kurang belaian lagi jadi suka marah-marah nggak jelas. Maklumin aja, ya." Sasmita terkekeh geli. "Eh, Nek. Raga itu gentle. Jangan seenaknya ngomong." Raga cemberut. Pemandangan baru bagi Echa, lucu. Sasmita mencibir. "Kalau bisa, kamu rubah sifat seenak jidatnya itu." Wanita itu tampak serius sekarang. "Iya, Nek. Tapi jujur Echa nggak suka sama Raga atau Jiwa." Ahayy, tapi boong. "Mungkin beberapa hari lagi?" Tanpa disuruh Echa udah suka sama Jiwa, tapi nggak tahu ke depannya. Echa membatin. "Liat nantinya aja, Nek." Echa tersenyum kecil. "Jadi nggak, Cupu?" "Baru sampai juga. Entar aja, sama Jiwa sekalian." Echa menatap Jiwa yang fokus berbincang dengan kakeknya. "Jangan ajak dia!" Raga menatap Echa kesal lalu menggenggam tangan Echa posesif. "Kenapa?" Bagi Echa, sikap Raga padanya sangat aneh. "Benerkan kata Nenek. Dia itu gengsian, mau bilang cemburu aja nggak bisa." Sasmita menjawil lengan Raga. Raga memelototinya lalu melepas genggaman tangannya pada tangan Echa. "Hehehe, Nenek bisa aja." Echa tersenyum kikuk. "Echa, keluarga kamu orang mana?" Andoro, kakek Raga bertanya pada Echa. "Bandung, Kek." "Siapa namanya? Mungkin Kakek kenal." Sial, gawat ini!!! Alarm tanda bahaya berbunyi nyaring. Raga sangat cemas sekarang. Lelaki itu langsung memutar otaknya. "Ada kecoak!!!!" Raga ingat betul bahwa Echa takut kecoak. Mendengar nama hewan itu, Echa melompat, memeluk erat Jiwa yang ada di sampingnya. Dia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa. Sebenarnya, Raga kesal karena Echa memeluk Jiwa, tetapi apa boleh buat? Daripada semuanya terbongkar? "Buang jauh-jauh, Raga! Buang!" Echa masih memeluk erat Jiwa. Yang dipeluk? Tentu kesenengan. "Udah pergi," ketusnya. Sasmita dan Andoro masih celingukan. Echa langsung melepas pelukannya pada Jiwa. Jiwa tampak kecewa karena aksi pelukan itu berakhir. Echa nyengir. "Nek, Kek, Raga sama Echa mau jalan-jalan dulu, ya," Raga menarik lengan Echa lembut, membuat Echa tak menolak. "Gue ik-" Omongan Jiwa terpotong. "Lo nggak usah ganggu!" Alhasil, dengan kecewa Jiwa di rumah saja mengobrol dengan kakek neneknya. "Siapa yang ngajak siapa yang ditinggal," cibir Jiwa. ??? Raga kembali menggandeng tangan Echa posesif. Lelaki itu mengajaknya berkeliling desa. Echa mengamati jari-jemarinya yang saling bertautan dengan jemari Raga, rasanya hangat dan aman. "Nenek kamu lucu, ya?" "Lucu dari mananya?" Raga tampak sewot. "Udah tua, tapi masih semangat banget kalau ngobrol. Suka bercanda, apalagi godain cucunya." Echa menatap Raga sambil tersenyum lebar. "Maksud lo apa?!" Raga menatap tajam Echa membuat senyum di wajah Echa pudar. Echa menunduk. Bagi Echa, tatapan elang Raga itu selalu sama, membuatnya takut untuk menatapnya. "Ngapain nunduk? Di bawah ada yang lebih menarik daripada gue?" Aneh, Raga memang aneh. Dia sekarang tampak seperti seorang pacar yang diselingkuhi. Echa menggeleng. "Enggak. Kamu aneh tahu." Raga yang baru sadar dengan apa yang dia lakukan tadi langsung melepas genggamannya. Tangan Echa langsung hampa. Kedengarannya alay, tetapi memang benar. Echa merasa ada yang hilang saat Raga melepas genggaman tangan mereka. "Kenapa dilepas? Tadi kayak nggak mau kehilangan gitu?" Echa terkekeh geli melihat raut wajah Raga. "Apaan sih lo?!" Raga menatap tajam Echa, tapi kali ini dengan semburat merah di pipinya. Echa tertawa terbahak-bahak. "Mata kamu tajem banget, suaranya juga sewot, eh pipinya kenapa, tuh?" Echa menjawil pipi Raga. "Diem!!" Raga meninggikan suaranya. "Jujur, Echa suka bingung sama kamu, Ga. Kadang marah-marah, kadang bersikap kayak Echa punya Raga, kadang sewotnya minta ampun, kadang manis banget." Echa mematung, bagaimana bisa dia berkata seperti itu?!! Dia merapatkan bibirnya. Raga menatap Echa. Dia jelas tahu bahwa dirinya sangat aneh di mata Echa, tetapi dia tidak tahu alasannya kenapa. Yang dia tahu, dia memang ingin melakukan hal itu. Hening. Keduanya saling menatap. "Lupain!" Echa mengibaskan tangannya, "mana janji kamu?" Echa menodongkan tangannya. Raga mendengus. "Ini, cepetan naik!" Raga berjongkok agar Echa dengan mudah naik ke punggungnya. Echa tersenyum senang. Dia nemplok di sana. "Lo makan apaan aja, berat banget gini." Raga mulai melangkahkan kakinya menelusuri jalanan di desa neneknya. Begitu pula pikirannya yang tidak bisa diam, terus berpikir alasan di balik keanehannya. "Apa aja yang penting halal," jawab Echa acuh tak acuh. Raga berdecih. "Kita mau ke mana?" Echa menaruh dagunya di bahu Raga. Hembusan napasnya yang hangat menerpa leher Raga. "Ke mana aja." "Yang pasti, dong." Echa mencebik. Di sana, sebenarnya terdapat banyak tempat menarik seperti taman, danau, rumah pohon yang Raga buat, dan warung makan pinggir jalan. Namun, Raga bingung harus membawa Echa ke mana. Sejujurnya, dia takut Echa akan mengingat sesuatu dari masa lalunya. Jika itu terjadi, Echa pasti akan membencinya. Raga tidak ingin hal itu terjadi. Tapi, Raga sadar. Mereka sudah berada di sini. Semua sudah digariskan oleh-Nya. Kemungkinan besar, Echa bisa mengingatnya. Entah sekarang, nanti, atau beberapa hari ke depan. Dan jika takdir sudah membuat dia dan Echa berada di sini, maka itu artinya dia harus menunjukkan kepada Echa bagaimana kisah mereka, kisah sepasang anak kecil yang dulunya bahagia bersama. Raga harus. "Cha?" "Hm?" "Kita ke danau."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD