"Saat masa lalu membelenggu, ingin melangkah saja rasanya ragu."
???
"Turun!" perintah Raga ketus pada Echa. Echa menurutinya. Dia tidak banyak protes. Dilihat dari wajah dan didengar dari suaranya, mood Raga sedang buruk, entah karena apa. Dia tidak ingin membuatnya makin buruk.
"Santai aja kali ngomongnya." Echa melirik Raga sekilas.
Raga bergeming
Sesaat, Echa masih terdiam. Lalu, dia menyapukan pandangannya ke sekeliling. Dia baru sadar jika tempat di mana dia berdiri itu adalah pinggir danau.
"Waw!! Amazing!! Ini keren banget!!!!" Echa berjingkrakan, "kamu sering kesini, Ga?" tanyanya antusias.
"Waktu kecil." Raga mengamati gadis di sampingnya yang sedang tersenyum lebar sambil merentangkan tangan.
Echa berlari mendekati air. Raga mengekor.
"Perasaan Echa doang atau emang kenyataannya?" Echa menatap Raga penuh tanda tanya.
"Soal?"
"Jangan ledekin Echa tapi." Echa mengerucutkan bibirnya kesal.
"Hm, soal apa?"
"Soal ini. Echa rasa, Echa pernah ke sini." Echa menerawang. Pandangannya lurus ke tengah danau. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya membuat anak rambut Echa berlarian di wajahnya.
"Bisa jadi. Bokap lo 'kan orang Bandung. Siapa tahu lo pernah ke sini." Raga mendaratkan pantatnya di rerumputan. Echa mengikuti.
"Hilang, Ga."
Raga menaikkan alisnya bingung.
"Ada yang hilang dari hidup Echa. Echa nggak tahu yang hilang itu apa, kapan, dan di mana. Echa pengin bisa dapetin kenangan itu lagi." Dia menatap Raga sendu.
"Emang penting banget ya kenangannya?"
"Kata hati Echa begitu, tapi nggak tahu juga."
"Kalau ternyata kenangan itu bakalan nyakitin perasaan lo gimana?" Raga menatap wajah Echa serius.
"Nggak apa. Kalau emang bakal bikin Echa sakit hati, ya orang yang bikin Echa sakit hati Echa suruh ngobatin." Echa memeluk lututnya.
Raga mematung "Sok bijak lo!" Raga menonyor jidat Echa.
"Apaan, sih!" Echa berkacak pinggang.
"Jidat lo lebar, enak ditonyor." Raga terkekeh geli.
"Enak aja! Jidat kamu, tuh, yang lebarrr. Selebar jalan kenangan."
Raga mencebik.
"Kamu mau bantuin Echa nggak, Ga?"
"Bantuin apa?"
Echa tersenyum. Matanya menatap Raga lembut. "Nyari kenangan itu."
Raga tertegun. Dia berpikir sejenak. "Oke, tapi nggak sekarang," setujunya.
Echa mengangguk kecil.
"Kalau gue nggak sibuk, ya?"
"Iya." Echa tersenyum lebar. Masa bodoh dengan Raga yang mau berbaik hati membantunya. Yang dia pikirkan hanya keinginan besarnya bertemu anak laki-laki di mimpinya itu. Jika Raga ingin membantunya, itu artinya kesempatan itu makin dekat untuk terwujud.
"Mau naik itu?" Raga menunjuk sebuah rakit di pinggir danau.
"Emangnya boleh?"
"Boleh."
"Wahhh, mau banget! Ayo!" Echa menarik lengan Raga menuju rakit di pinggir danau.
Raga mengulum senyum. "Nggak takut nyemplung?" goda Raga.
"Kalau Echa nyemplung, kamu juga nyemplung, jadi ngapain takut." Echa tersenyum smirk.
Raga memicikkan matanya. Echa nyengir.
"Kalau misal Echa nggak nyemplung- nyemplung, ntar Raga aja yang Echa cemplungin ke danau. Enak, tuh, kayaknya."
Echa tertawa sambil membayangkan betapa lucu wajah Raga saat nggak bisa berenang di tengah danau. Namun, Raga langsung menatapnya tajam. Echa tak bisa berkutik.
"Emang lo berani?" Raga mulai naik ke atas rakit.
"Berani!"
"Gue pelototin aja mingkem."
Echa merengut. Mencubit pinggang Raga. Raga mengaduh.
"Rasain!" Echa menjulurkan lidahnya.
Raga tertawa.
Perlahan, lelaki itu mendayung rakit menuju ke tengah danau. Semilir angin, kicauan burung, dan langit biru menemani mereka. Echa tampak menikmati kebersamaannya dengan Raga. Ternyata, Raga itu nggak kaku kaku amat, pikir Echa.
"Bagus nggak pemandangannya dari sini?" tanya Raga saat telah sampai di tengah danau.
"Bangetttttttt." Senyum Echa makin lebar. Matanya menatap takjub sekeliling.
"Jangan cepet-cepet Raga!!! Aren takut!!" Gadis kecil itu mengeratkan pelukannya pada Raga.
"Nggak usah takut, ini pelan kok." Raga mendayung sampannya perlahan, namun gadis yang memeluknya masih berteriak-teriak meminta dipelankan mendayungnya.
"Buka mata kamu." Raga menginterupsi Aren untuk membuka matanya saat telah sampai di tengah danau, danau itu memang tidak terlalu besar.
Aren membuka matanya perlahan, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membuat seulas senyum.
"Bagus, 'kan?"
"Bagus banget, Raga!! Makasih...."
"Raga!!" Seorang wanita paruh baya memanggil namanya.
"Raga!!" Echa mendumal.
"Raga! Ngapain ngelamun?!!" Suara Echa membuyarkan lamunan Raga, kenangan-kenangannya bersama Aren selalu tersimpan di hati dan pikirannya. Gadis kecil itu selalu menjadi bayang-bayang Raga.
"Eh, enggak. Gue nggak ngelamun. Mau jalan lagi?" Raga mengalihkan pembicaraan.
"Yuk, ke mana?" Echa tampak antusias.
"Tempat favorit gue sama orang yang gue cinta."
Kok aneh, ya, rasanya?
"Cinta?" Echa mengerutkan keningnya.
"Hmmm. Cinta pertama gue."
Duh, ini makin aneh aja sih perasaan Echa?
"Ohh. Ya, udah, ayo." Echa tersenyum tipis.
Raga kembali mendayung rakitnya sampai tepi danau. Menggandeng tangan Echa, membawanya ke rumah pohon.
"Buruan naiknya!!" Echa menggerutu di belakang Raga yang sedang mencoba naik ke rumah pohon.
"Sabar dikit kek." Suara dingin Raga mulai terdengar lagi.
"Cewek yang kamu suka itu, apa kamu sering perlakuin dia dengan baik?" Echa mencubit lengannya sendiri, kenapa dia bertanya seperti itu?
Raga berdehem. "Bukan sekedar suka, tapi cinta. Suka sama cinta itu beda, ya."
Echa memelototi punggung Raga. Dia kembali menaikki satu persatu anak tangga dan tak menghiraukan jawaban Raga.
"Lo pernah bilang sama gue kalau lo suka sama Jiwa, 'kan?"
"Iya. Kenapa? Berubah pikiran untuk bantuin Echa?"
Raga terkekeh sinis. "Nggak. Gue cuma mau ngasih saran. Resapi dulu apa yang lo rasa, baru boleh disimpulkan," kata Raga.
"Maksudnya?"
Raga tak menjawab pertanyaan Echa.
"Dasar," Echa mencemooh.
"Kakek lampir nyebelin."
"Ngeselin."
"Nenek Lampir cerewet!"
Echa kicep.
Akhirnya, mereka sampai di atas. Echa mengamati setiap inci bangunan kecil dari kayu tempatnya berpijak. Seulas senyum terlukis di,wajahnya.
"Bagus, ya? Ini Raga yang buat?" Echa menatap Raga dengan senyum lebarnya.
Raga menganggat bahunya acuh. Echa mendengus. Dia beralih ke dalam. Di sana sempit. Mungkin cukup untuk empat orang dewasa. Di dalamnya kosong, hanya ada gambar-gambar dari crayon, seperti gambar anak TK di dinding. Rata-rata di sana bergambar sepasang anak kecil dan pepohonan.
"Ini Raga?" Echa menunjuk gambar anak laki-laki yang sedikit abstrak. Raga menganguk sambil memperlihatkan senyum tipisnya. Seperkian detik Echa tak berkedip menatap wajah tampan Raga. Ada sebuah desiran di hati Echa saat mengamati wajah Raga saksama. Lelaki itu makin tampan jika tersenyum.
"Heh, jangan lupa kedip, ntar naksir baru tahu rasa." Raga meraup wajah Echa.
"PD! Siapa yang liatin kamu! Echa liat gambar di belakang kamu kok!" Echa berkilah, memalingkan wajahnya yang merona.
Raga tertawa. "Pakai blushing segala lagi," ledeknya.
"Enggak! Kata siapa blushing?!" Echa menatap Raga berang.
"Ini apa?" Raga mencubit kedua belah pipi Echa, membuat siempunya meringis kesakitan.
"Lepasin! Sakit Raga!" Echa mencubit lengan Raga.
"Habisnya lucu." Raga terkekeh geli.
"Ha? Apa, Ga?" Echa mengorek-ngorek kupingnya. Dia tidak salah dengar, 'kan?
Menyadari apa yang baru saja dia katakan, Raga langsung mengubah wajahnya menjadi sedingin mungkin, datar, tanpa ekspresi.
"Kenapa? Katanya lucu? Kenapa nggak ketawa lagi?" Echa tersenyum smirk.
"Serah guelah bibir-bibir gue, mau ketawa kek mau cemberut ya suka-suka gue," ketus Raga.
"Serah kamu aja, tapi emang Echa beneran lucu?" Ada senyum jail di bibir mungil Echa.
"Nggak ada!"
"Dih, ngambek. Ada nggak? Jujur, bohong itu dosa."
"Enggak!"
"Ngaku aja, deh!" Echa mengerucutkan bibirnya.
"Iya!!"
"Yuhuuuuu, Echa lucu! Echa kiyutt! Echa imut-imut!" Echa bersorak kegirangan sambil meninju-ninju udara kosong.
"Diem lo!!" Kembali mata elang itu kembali muncul membuat Echa terdiam seribu bahasa. Dia kembali mengamati sekelilingnya.
Dia berdehem. "Dan ini cewek yang kamu bilang?" Echa mengusap gambar itu perlahan.
Kali ini tatapan Raga tampak sendu. Dia mengangguk dan memaksakan sebuah senyuman.
"Jangan pernah senyum, tapi terpaksa kalau lagi sama Echa. Echa nggak suka. Mending nggak usah senyum sekalian," ketus Echa.
"Lo berani ngatur gue?" Suara Raga meninggi.
Echa menganggat bahunya dan menaikkan alisnya. "Ntahlah, Echa nggak suka liat kamu kayak tadi." Terdengar tulus di telinga Raga.
Mata Echa melebar saat di sebuah sudut rumah pohon itu tertera dengan jelas nama "Aren cantik".
"Raga ini apa?!! Sini liat! Aren? Kamu kenal Aren?!" tanya Echa sambil menutup mulutnya, terkejut.
Raga memasang muka datarnya. "Enggak, emangnya kenapa?"
"Aren itu 'kan nama kecil Echa. Kenapa bisa ada di sini?" Echa menatap nanar tulisan itu sambil mengusapnya perlahan.
"Mungkin lo pernah ke sini dulu," Raga mati-matian menahan rasa sesak di dadanya, "atau itu nama orang lain."
Echa menggeleng. Air matanya tumpah. Dia tidak tahu kenapa dia menangis. Dia terlalu bingung dengan semuanya sampai merasa tertekan. "Kita pulang."
Raga menatap Echa kasihan. Dia mengangguk. Menggandeng tangan Echa turun dari rumah pohon.
"Ya, kita pulang."
???
"AAAAA PASAR MALEMM!!!" Echa berteriak histeris saat ternyata Jiwa membawanya ke pasar malam. Tadinya, Raga sudah ingin berpamitan pulang karena kejadian tadi. Namun, Jiwa malah mengusulkan untuk pergi ke pasar malam dulu.
"Alay banget sih lo!!" cibir Raga.
Echa hanya mendengus kesal lalu menggandeng lengan Jiwa menuju ke wahana-wahana yang tersedia.
Raga juga mendengus kesal. "Bukan tempatnya orang pacaran."
"Sirik aja lo." Jiwa terkekeh melihat tingkah adiknya.
Echa melepas gandengan tangannya. "Reflek."
Jiwa menautkan jari-jemarinya pada jari-jemari Echa. "Nggak usah di dengerin. Gandeng aja nggak apa."
Echa tersenyum malu-malu.
"Mau naik apa?" tanya Raga yang mulai bosan.
"Biang lala aja," usul Echa.
Mereka bertiga akhirnya memasuki biang lala. Jiwa duduk di samping Echa dan Raga di seberangnya.
"Kenapa?" tanya Jiwa saat melihat Echa menatap lurus ke arah bintang di langit.
"Coba ada bintang jatuh." Tatapannya menerawang.
Jiwa mengulum senyum. "Percaya begituan?"
"Nggak juga. Iseng aja."
"Emangnya minta apa?"
"Jiwa kepo, deh." Echa tertawa. Jiwa tertular.
Biang lala yang mereka naiki berhenti tepat di paling atas. Echa menatap ke depan. Matanya menyipit melihat Raga yang duduk kaku dengan pandangan lurus ke bawah. Matanya sesekali terpejam.
"Raga cemen ternyata." Echa tertawa mengejek. Dia baru sadar bahwa Raga tak bersuara sejak tadi karena terua menatap ngeri ke bawah.
"B*cod lo!!"
"Uluh-uluh kasian." Echa menjulurkan lidahnya.
Brukk
Saat tubuh Echa sedikit maju kedepan, biang lala itu kembali berjalan dan membuat tubuh gadis itu terhuyung ke depan dan menindih tubuh Raga. Tangannya bertumpu di samping tempat duduk Raga, wajah keduanya benar-benar dekat, hanya berjarak lima centi saja.
Echa bisa merasakan deru napas Raga, begitu pula sebaliknya. Jantung keduanya berdebar seenak jidatnya.
Echa menelan ludah. Raga mengepalkan tangannya di sisi tubuh.
"Ini bukan tempat orang pacaran."