Keenan's POV
Mataku masih menatap tak percaya pada lelaki yang kini sedang berdiri di atas panggung tersebut. Jadi Gibran adalah adik dari dokter Ferdi? Tapi kenapa mereka berlagak seperti tak saling mengenal. Ini aneh! Benar-benar aneh!
"Selamat siang semuanya, perkenalkan nama saya Gibran Athalla, saya anak kedua dan lebih tepatnya, saya adik dari Dokter Ferdian. Sebelum saya mau bicara tentang hal lain, saya mau bilang, happy birthday kak Adnan, semoga tahun ini kakak bisa dapetin apa yang kakak mau. Mungkin di tahun sebelumnya ada beberapa hal yang ga bisa kakak raih karna ulah seseorang, semoga tahun ini hal yang sempat tertunda itu bisa terwujud." dapat kurasakan nada gugup dari gaya bicaranya. Tapi tunggu, Adnan? Siapa Adnan? Dokter Ferdi-kah?? Itu pasti!
Aku berusaha mengingat nama panjang dokter Ferdi. Dan yap, aku ingat. Ferdian Adnan Bagasditya. Tunggu, jadi singkatan huruf B yang selalu ditutupi Gibran selama ini adalah Bagasditya?
"Ok mungkin hal yang bakal saya sampaikan bakal buat kalian mati kebosanan atau sebagainya atau malah sebaliknya saya ga tau. Jadi, An mau nyampein sesuatu sama kak Adnan, kalo An mau minta maaf, An tau An salah dan An nyesel. An ngerasa gaenak tinggal di rumah sedangkan kakak harus pergi ninggalin rumah. Rasa bersalah An makin gede waktu tau kakak malah kayak ngehindarin An. Kejar kak apa yang kakak mau, An gamau jadi penghalang lagi, kalau misalnya memang An yang harus pergi, An bakal pergi. Cukup sekali An ngelakuin kesalahan fatal dan An gamau itu terulang lagi. An gamau jadi pengecut kak. Sekali lagi, happy birthday kak Adnan." Aku tersadar saat Gibran mulai kembali berbicara. An? Jadi Gibran dipanggil 'An' oleh keluarganya? Tapi kenapa Gibran harus minta maaf pada dokter Ferdi?
Setelah itu kulihat dokter Ferdi berjalan naik ke panggung lalu langsung memeluk Gibran. Senyumku terukir sebentar. Lalu berganti menjadi datar mengingat kelakuan Gibran dan dokter Ferdi beberapa hari belakangan ini.
"An! Adnan!" kepalaku refleks berputar ke belakang.
Setelah itu, mataku berfokus pada seorang wanita cantik dengan tubuh yang sangat indah. Langsing, tinggi layaknya model. Apakah dia model? Rambutnya panjang bergelombang. Wajahnya mulus di hias make up natural, atau dia tak memakai make up sama sekali?!
Lalu pandanganku beralih pada pakaiannya. Kenapa dia memakai pakaian seperti itu? Ya aku tau, walaupun kaos tanpa lengan di tambah dengan kardigan yang panjangnya mencapai lutut lalu dipadu dengan jeans berwarna navi tetap membuatnya bak malaikat tanpa sayap. Tapi bukankah seharusnya dia mencocokkan dengan dress code nya? Tapi koper disampingnya seperti menjawab pertanyaanku tentang kedatangannya dengan baju seperti itu.
"Kak Nindy." kudengar suara Gibran samar samar karna dia berbicara cukup dekat dengan mic.
Kulihat Gibran berlari menuruni panggung lalu dengan cepat berlari ke arah perempuan yang kutau bernama kak Nindy itu. Tampak Gibran yang langsung memeluknya erat. Sangat erat. Melihat ini aku tak mungkin cemburu, aku juga tak yakin Gibran memiliki hubungan dengan seseorang yang ia panggil kakak barusan.
Ntah apa yang mereka bicarakan, karna yang dapat kulihat Gibran hanya mengangguk lalu terdengar suara mc dari arah panggung.
"Mari hadirin semuanya. Kita lanjutkan acara hari ini." lalu setelahnya terdengar tepuk tangan meriah memenuhi lingkungan luas ini.
***
Menjelang malam, kami baru beranjak pulang. Kupikir acara yang akan diadakan hanya sedikit. Ternyata, sangat banyak dan melelahkan. Aku dan Kiko yang sedari tadi terus saja bersama hanya menikmati hidangan yang disediakan. Makan dan makan.
"Kakee kenapa? Kok dari tadi keliatan gak semangat gitu." ucap Kiko saat kami berada di mobil.
"Gak kenapa napa. Cuma ngantuk aja." ucapku sambil memejamkan mata.
"Perempuan yang tadi siapa sih kak? Cantik banget tau gak. Padahal stylenya simple banget. Itu kali ya yang buat dia cantik. Kesederhanaan." aku hanya mendengarkan Kiko tanpa berniat meresponnya.
"Ih Kakee kacang ah, gaseru." lalu hening...........
***
Sudah beberapa hari sejak ulang tahun dokter Ferdi. Aku tak melihat Gibran. Remy seperti menjauh dan hubungannya dengan Rachel terlihat seperti ada kemajuan. Sedangkan Mikha, dia masih saja gila seperti dulu. Ya, sahabatku ini memang tak pernah waras.
"Jadi lo pulang pergi sendiri ni ceritanya?" tanya Mikha saat kami berada di kantin.
"Hmm."
"Hmm? Maksudnya iyakan?"
"Eh, sama papa ganteng deng."
"Lo kenapa sih? Ada masalah cerita dong. Kayak mayat idup tau gak. Nyeremin nyet."
"Lo nanti ada acara gitu gak sih sama keluarga lo? Lo kan sok sayang keluarga!"
"Enak aja lo. Gue kan anak yang berbakti! Emangnye elo, kerjaannya ngerjain orang tua mulu." si Mikha ternyata balik nyolot. Gabisa dibiarin kalo gini mah.
"Dasar lo kunti keriting. Gue mah anaknya keren, penyayang, suka nolongin orang." ucapku menggebu gebu.
"Iya lo mah emang nolongin orang, tapi kalo ngabisin makanan dirumah gue mah itu bukan nolong namanya."
"Apaan, itu nolong tau. Nolong lo dalam menghabiskan makanan."
"Njir, emang dasar monyet kelaperan lo." setelah itu kami tertawa kemudian lanjut makan.
"Eh gue nanya gak dijawab jawab. Entar ke rumah gue yaa, ato gue yang ke rumah lo deh."
"Lo yang ke rumah gue aja gimana? Kakek hari ini gue yang jaga. Pulang sekolah ntar mama sama papa bakalan pergi. Terus hari ini kakek juga ada pemeriksaan gitu. Tapi pemeriksaannya kayaknya malem deh. Habis maghrib gitu."
"Ooh yaudah, sekalian gue nebeng makan malem deh. Gue kangen sambel buatan si Minah." kenapa aku jadi rindu gini sama pembantunya Mikha. Eh maksudku sama sambel buatannya. Si Minah, gak pernah mau dipanggil mbak. Katanya gak kece. Lebih kecean kalo Minah aja. Tapi manggilnya gak pake aja. Cukup Minah.
***
"Jadi...." tanya Mikha saat kami sedang berada di ruang tv.
Aku menghembuskan nafas kesal. "Sebenernya ini tentang Gibran."
"Kenapa pacar lo?"
"Belum, doain aja."
"Jadi kenapa si Gibran?"
"Kemarin tetangga gue ngadain pesta ulang tahunnya. Tapi ngadainnya di rumah orang tuanya. Terus kita kesanakan. Nah waktu ada acara apa gitu, kayak sambutan, ternyata yang maju si Gibran."
"Kenapa si Gibran maju? Dia ada hubungan sama keluarga tetangga lo itu?" tanya Mikha yang langsung kuangguki.
"Dia adiknya tetangga gue." dan yang kudapat adalah muka kagetnya si Mikha.
"Tunggu, tunggu, bukannya lo pernah cerita sama gue kalo tetangga lo itu gak kenal sama Gibran. Bahkan kemarin mereka sempat kenalan kan? Sebelum Gibran ngilang gitu aja."
"Yap, dan itu yang buat gue bingung sampe sekarang. Kenapa mereka berdua harus pura-pura gakenal"
"Hmm, Kee. Gue kira kalo buat masalah ini, lo gak perlu ikut campur. Apalagi cuma karna hal ini lo jadi orang gajelas banget."
"Iyasih, ngga seharusnya gue ikut campur masalah Gibran ama dokter Ferdi. Tapi gue masih takut, gimana kalo ntar Gibran milih pergi?!" tanyaku saat mengingat perkataan Gibran yang akan rela pergi demi membuat dokter Ferdi bahagia.
"Pergi gimana maksud lo?" tanya Mikha dengan raut wajah bingungnya.
"Jadi Gibran tadi bilang, kalo dia bakal ngelakuin apa aja supaya dokter Ferdi bahagia."
"Dan lo pikir dokter Ferdi bakal ngebiarin Gibran pergi gitu?" tanya Mikha membuatku tersadar, ya, dokter Ferdi tak mungkin membiarkan Gibran pergi, aku yakin itu.
"Ya gue gatausih, tapikan---"
"Udahdeh, positive thinking aja."
"Ntah kenapa gue gabisa Mik, apalagi waktu Gibran bilang dia pernah ngelakuin hal fatal dulu."
"Hal fatal?" dengan cepat aku mengangguki ucapan Mikha. "Hal fatal gimana maksud lo, emangnya masalah mereka seserius itu?" tanya Mikha.
"Bener bener lo ya, lo ngeh ngga sih sama apa yang gue bilangin tadi? Kalo masalah mereka ga serius, mereka gabakal pura pura gakenal gitu."
"Kayanya lo emang harus cari tau deh, Kee." ucap Mikha.
"Kok lo labil sih Mik?"
"Iyakan gue labil demi lo juga." mungkin aku memang harus mencari tau masalah mereka.
"Oh iya, beberapa hari ini gue juga galiat Gibran. Kemana tu anak?" pertanyaan Mikha membuat ku kembali berfikir dimana Gibran sekarang.
"Gua gatau, dia juga gaada ngasih tau gue semenjak gue dateng ke acara dokter Ferdi." ucapku menghela nafas pelan.
***
Aku baru saja selesai mandi dan tidak mendapati Mikha di kamarnya. Langsung saja aku berjalan keluar dan ternyata mendapati Mikha sedang makan malam. Tak ingin ketinggalan akupun ikut memakan masakan buatan Minah.
"Ada tamu? Tumben pintu kebuka."
"Iya itu dokternya udah dateng, lagi periksa kakek." aku hanya mengangguk lalu kembali makan.
"Ganteng?"
"Ganteng banget, nyesel gue kenapa baru sekarang mau nemenin kakek."
Setelah makan kami memilih menonton TV. Saat terdengar bunyi pintu terbuka dan tertutup langsung saja membuat aku dan Mikha menolehkan kepala ke arah kamar kakek. Dan disana keluar seorang dokter muda, saat dokter itu berbalik langsung saja aku kaget mendapati ternyata dokter Ferdi-lah orangnya.
"Dokter Ferdi." ucapku begitu saja.
"Dokter Ferdi?" tanya Mikha seperti kaget dengan ucapan ku barusan. "Jadi?"
"Lah? Lo gatau nama dokternya?" dan yang kudapati hanya gelengan dari Mikha. Sangat pintar.
"Eh Kee." sapa dokter Ferdi membuatku langsung menoleh ke arahnya.
"Eh hai dok." tak tau harus melakukan apa dengan cepat aku menoleh ke arah Mikha dan meminta bantuannya. "Eh Mik, minjem hape lo dong, hape gue low, mau nelfon papa." tiba-tiba saja kalimat itu yang keluar dari mulutku.
"Eh kamu mau pulang?" langsung saja aku menoleh saat mendengar dokter Ferdi bertanya.
"Eh apa dok?" tanyaku gugup. Lah kenapa aku mendadak gugup?
"Kamu mau pulangkan? Bareng saya aja." eh? Dan setelah kalimat itu perdebatan mulai terjadi dan diakhiri dengan kekalahanku.
Akhirnya aku pamit dan setelah itu pulang bersama dokter Ferdi. Selama diperjalanan kami hanya diam. Sesampainya di depan rumah dokter Ferdi aku langsung turun setelah mengucapkan terima kasih.
Baru ingin melangkahkan kaki menuju rumah, suara tawa membuatku menolehkan kepala ke arah rumab dokter Ferdi. Kaget. Saat melihat Gibran sedang asyik tertawa bersama wanita cantik hari itu.
Beberapa hari ini dia menghilang, dan saat aku melihatnya lagi dia malah bersama wanita lain? Bercanda dan tertawa seperti tak pernah menghawatirkan sesuatu. Tapi saat suara di kepalaku berbicara, semua menghentikan kekesalanku.
"Kamu siapa Keenan? Kamu bukan siapa siapa bagi Gibran. Kamu hanya orang baru yang tiba tiba masuk ke dalam hidupnya tanpa permisi, sekarang pergilah tanpa permisi juga. Tapi wanita cantik tadi, bisa jadi dia adalah segalanya bagi Gibran."
Yah, cinta memang tak pernah sopan! Selalu datang dan dan pergi tanpa permisi!
****
Hai readers keceku:))
Minal Aidin Walfaizin, mohon maaf lahir dan batin yaa:))
Masih ada yang nungguin cerita ini?? Semoga masih yaa:')
Jangan lupa vote dan commentnya yaa. Xx