c h a p t e r [11] REMY 'S POV

1984 Words
Remy's POV Kalian tau rasanya bersahabat dari kecil hingga SMA seperti ini? Bersahabat dengan Keenan memang membuat hari-hariku menyenangkan. Masuk TK yang sama, SD yang sama, SMP yang sama, bahkan SMA yang sama. Sebenarnya nilai akhir SMP-ku dan Keenan sangat berbeda. Aku yang seharusnya bisa memasuki sebuah SMA ternama dengan prestasi para muridnya di luar kota. Tapi aku menolak tawaran yang diberikan mama. Yap hanya mama. Karna dari SMP papa dan mama sudah berpisah. Papa tinggal di rumahnya sedangkan mama dan aku memilih tinggal dirumah yang mama beli sendiri. Tapi sekarang mama harus pindah ke Bandung karna pekerjaannya. Dan mama tak mengizinkan aku untuk tinggal sendirian di rumah miliknya. Terpaksa aku harus tinggal bersama papa kurang lebih 4 bulan lagi. Dan masalah alasanku yang menolak tawaran mama, itu karna putri dari om Kendra dan tante Nanda, Keenan. Dia alasanku untuk tetap disini. Aku tak pernah bisa berpisah dengannya. Mengenalnya selama ini ternyata mampu membuat perasaan itu muncul. Katakan aku b******k, berpacaran dengan Rachel tapi hatiku malah setia dengan Keenan. Dari dulu sebenarnya aku ingin menolak Rachel. Tapi melihatnya menyatakan cinta padaku di depan puluhan orang membuatku tak enak hati menolaknya. Selama satu minggu, aku terus berusaha membuat Rachel menjadi benci padaku. Tapi ternyata Rachel pantang menyerah. Dan dia malah meminta agar aku belajar menerima dan mencintainya. Dia akan menunggu itu dengan sabar. Sedangkan Keenan, dari awal masuk SMA dia sudah mengagumi lelaki bernama Gibran. Terkadang mendengar Keenan membicarakan Gibran entah kenapa membuat kupingku menjadi panas. Tapi yang aku lakukan hanya memendam semuanya. Aku tak mungkin menyatakan perasaanku pada Keenan. Ya, aku sudah terjebak frindzone dalam waktu yang bisa terbilang lama. Waktu itu minggu, aku sedang menemani Rachel membeli buku. Dan saat aku mengantarnya pulang, dia mengatakan padaku kalau supirnya sedang sakit. Dan dia memintaku untuk menjemputnya besok. Dan itu berarti aku tak bisa pergi bersama Keenan. Aku mengangguk pelan mengiyakan permintaan Rachel dan setelah itu aku pamit pulang. Keesokan harinya aku dan Rachel pergi bersama. Setelah tiba di sekolah kami langsung berpisah karna Rachel sudah sampai di kelasnya, dan waktunya aku berjalan ke kelasku. Sudah hampir bel, dan Keenan juga belum datang. Aku berniat menelfon Keenan tapi aku baru sadar satu hal, HP-ku mati sejak tadi malam. Jadi aku meminta Mikha meng-sms-nya, dan jawaban yang kami terima dari Keenan membuatku tambah lesu. Aku berniat menjenguk Keenan, tapi aku harus mengantar Rachel pulang sore ini. Dan biasanya mama Rachel akan duduk-duduk di halaman depan menunggu Rachel pulang sekolah. Dan saat dia melihatku, dia akan menyuruhku untuk masuk dulu. Malamnya fikiranku tak lepas dari Keenan. Kapan aku bisa melupakannya. Haruskah aku menyatakan perasaanku padanya dan setelah itu memilih pindah ke Bandung? Aku benar-benar bingung. Angin malam membuatku tersadar dari lamunanku. Kulihat jam di HP-ku, ternyata sudah larut. Dan setelah itu aku memilih berlalu dari balkon kamarku dan memilih tidur. Keesokan harinya, senyumku merekah. Dengan cepat aku mengendarai motorku untuk pergi menjemput Keenan. Saat sudah sampai kulihat dia sudah berjalan sedikit, dengan cepat aku berjalan mengikutinya. "Eh, kunti." teriakku pada Keenan. "Apa-apaan sih lo, Rem??" aku sangat menyukai ekspresi kesalnya. "Kemana lo kemarin??" tanyaku pura-pura tak tau sambil mengeluarkan nada sinis. "Kepo lo." jawabnya lalu memeletkan lidah ke arahku. "Sialan lo." "Bleee, biarin." "Kemana sih lo kemarin?" "Gue sakit, Rem. Terus ni ya, kemarin gue ke rumah sakit. Terus dokter yang meriksa gue itu ganteng bangeet. Lo lewat deh, Rem." kenapa harus bangga-banggain dokter sih?? "Oh, terus gue peduli?!" tanyaku. "Harus dong. Yok cabut!" ajak Keenan lalu menarik tanganku. "Kenapa ngga naik motor gue aja sih?" sebenarnya aku lebih suka berjalan daripada naik motor, karna dengan begitu aku dapat memandang muka Keenan sesuka hatiku. "Eh, Remy kunyuk. Dari sini ke sekolah kita itu cuma lima belas menitan. Lebay banget sih lo, jalan dikit doang juga. Kalo lo ngga mau yaudah, ambil tu honda lo." ceramahnya padaku. "Iye-iye." Saat berjalan ke sekolah dapat kurasakan jantungku berdegup kencang. Ya, tak seharusnya aku biarkan perasaan itu. Kami tiba tepat di gerbang sekolah dan tepat juga saat itu suara cempreng Mikha terdengar. "Woi, mak lampir! Kemana aja lo kemaren? Sok-sok males ngejelasin ke gue lewat sms lagi." teriak Mikha. "Gue sakit. Emangnya lo ngga liat bokap gue dateng ya?" tanya Keenan. "Nggak. Gue ngga ada liat om Kendra kemarin. Tante Nanda juga." jawab Mikha. "Kalo mamasih, dia nemenin gue ke rumah sakit. Kalo papa, lo bener-bener ngga liat papa??" tanya Keenan tampak bingung. "Nggak." kali ini aku yang bersuara. Sedangkan Mikha, dia hanya menggeleng. "Keenan Adelia?" panggil seseorang pada Keenan, membuatku dan Mikha ikut menoleh ke belakang. "Gibran?" kudengar Keenan berucap lirih, sepertinya dia tak sadar. Aku kembali pada fikiranku, kenapa Gibran manggil Keenan? Aku mendengarkan percakapan mereka dengan serius. Jadi kemarin om Kendra ketemu sama Gibran? Kenapa nggak ngasih kabar ke aku atau Mikha aja? Mengetahui hal itu lagi-lagi aku hanya mampu menahan semuanya. Aku tak berhak marah, aku tak berhak kesal. Saat jam pelajaran sejarah aku hanya dapat menghela nafas panjang, ini bukan pertama kalinya Keenan di usir di jam pelajaran Pak Dedy. Memang, dari SMP Keenan tak pernah menyukai pelajaran yang mengingat tentang masalalu. Seperti sejarah. Saat istirahat aku sudah ada janji dengan Rachel. Tapi Mikha mengajak aku ke pos satpam untuk mengambil sesuatu. Saat tiba di kantin aku langsung memesan bakso dan mulai memakannya. Tak lama Keenan datang dan mengatakan kalau Rachel sedang mencariku. Dan dia sekarang ada di toilet pria. Dengan cepat aku melangkah ke arah toilet pria. Dan menemukan Rachel sedang berdiri di depan dinding sambil menunduk dan memainkan ponselnya. "Hei." ucapku, langsung saja Rachel mendongak dan sebuah cengiran tampak disana. "Hai." ucap Rachel lalu memasukkan ponselnya ka saku roknya. "Kenapa nggak ngangkat panggilan aku?" tanya Rachel. "Itu, hp aku ketinggalan di kamar." jawabku. "Kita ke kantin lantai 2 aja yuk. Kantin disini lagi rame banget." "Apa bedanya? Kayaknya semua kantin selalu rame deh, Chel." "Tadi aku abis lewat sana, sepi kok, sepi banget malah. Katanya di lantai dua lagi ada pemeriksaan buat anak kelas 11. Jadi mereka belum istirahat." lalu yang kurakasan adalah tanganku ditarik oleh Rachel. Tuhan, izinkan aku mencintai perempuan ini. ------------------------ Malamnya, aku kembali berfikir tentang Keenan. Kapan aku bisa melupakan perempuan itu? Bahkan disaat aku tau kalau Keenan tak pernah melihatku, aku masih setia menunggunya. Haruskan aku jujur pada Keenan? Atau aku langsung pergi tanpa pamit? Tidak, pilihan kedua tak akan pernah aku lakukan. Keesokan harinya, aku berniat menjemput Keenan. Tapi saat sudah sampai di depan rumahnya, niatku terhenti. Sebuah motor yang aku kenal ternyata sudah terparkir lebih dulu disana. Helaan nafasku terdengar keras, lalu dengan berat hati aku pergi meninggalkan rumah Keenan. Saat di kelas, aku tak dapat berhenti memikirkan Keenan. Entah kenapa memikirkan dia berjalan bersama dengan Gibran membuat hatiku panas. Tapi lagi, aku tak berhak marah. Aku melihat Keenan memasuki kelas dengan senyum mengembang di wajahnya bersama Mikha. Akhirnya dia datang. "Kenapa lo, Rem?" tanya Keenan lalu duduk di kursi di depanku. "Nggak. Nggak apa-apa." jawabku berusaha terlihat cuek. "Tadi kenapa nggak mampir?" dia menanyakan ini? Oh Tuhan Keenan. "Eh kunti, gue nggak sejahat itu. Emangnya lo pengen gue gangguin acara lo sama Gibran. Ya nggaklah." langsung saja kuceramahi dia, dan setelah itu aku merasa diriku lebih baik dari sebelumnya. Jam pulang sekolah akupun sendiri. Keenan tentu saja pulang dengan Gibran. Aku memarkirkan motorku di halaman rumahku. Aku memasuki rumah dan kaget saat melihat papa yang tampak mesra dengan seorang wanita asing. Sungguh, aku tak mengira kalau selera papa seperti ini. Aku memandang miris ke arah wanita itu. Jika aku boleh membandingkan, mama jauh lebih baik dari wanita ini. Aku tersentak saat sebuah pikiran menghantam kepalaku. Apakah papa ingin menikah dengan wanita ini? Oh God! Jangan sampai itu terjadi. Sampai kapanpun aku tak akan pernah setuju. Karna yang aku mau dari dulu adalah, papa kembali rujuk dengan mama. Aku sebenarnya memang tak punya hak untuk menentang papa jika ia ingin menikah lagi, tapi setidaknya dia tak perlu membawa wanita lain ke rumah disaat aku juga masih tinggal dirumah itu. Tak bisakah dia menunggu sebentar lagi? Aku memandang datar saat wanita itu memandangku dengan pandangan yang menggelikan. Langsung saja aku berlalu menuju kamar. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, suara berat papa sudah terdengar. "Sejak kapan kamu jadi nggak sopan begini?" kulihat papa yang sudah berdiri dari duduknya. "Pa, Remy pernah bilangkan sama papa. Papa boleh ngelakuin apa aja. Asal hal itu nggak pernah ngusik Remy. Tapi papa malah bawa wanita asing itu kerumah?" tanyaku masih menatap papa. Aku tak akan pernah mau menatap wanita itu. "Asal papa tau, kegiatan papa yang satu ini, bener-bener ngusik Remy." "Kamu nggak perlu ngurusin papa, Remy." "Pa, papa tau apa yang buat Remy masih tahan tinggal sama papa? Remy cuma punya satu alasan disini, pa. Dan Remy harap papa ngerti. Alasan Remy masih mau disini karena, Remy capek liat mama nangis terus, pa." akhirnya, aku mengatakannya, setelah sekian lama kata-kata itu hanya bisa menyangkut di tenggorokanku. Kulihat papa hanya diam seperti menunggu kelanjutan kata-kataku. "Hampir tiap malem di rumah, mama selalu nangis mandangin foto papa. Setiap kalian ketemu, papa selalu aja dingin. Coba pa, coba papa hilangin gengsi papa. Disana mama sakit pa. Mama butuh papa. Dan Remy yakin, papa juga butuh mama. Remy emang nggak tau apa alasan kalian pisah, tapi seenggaknya kalian pikirin lagi. Remy bener-bener ga tega pa, hampir tiap malem pa, tiap malem, cuma mandangin foto papa, air mata mama langsung netes. Remy cuma berharap kalian bisa bersatu lagi, kayak dulu, buat Remy. Dan tolong kurangin sikap dingin papa, buat mama." setelah itu aku langsung pergi ke kamar dan membawa beberapa baju dan sepasang baju seragamku, dan setelah itu keluar dari kamar. Saat melewati ruang tamu, tak ada siapa-siapa lagi. Apa papa pergi? Cepat-cepat aku keluar rumah, dan kaget saat melihat mobil papa masih berada di garasi. Aku hanya bisa menghela nafas sambil bersyukur, setelah itu memilih pergi, entah kemana, yang penting aku menjauh dulu. Setelah melakukan shalat maghrib di tempat Akbar, teman yang juga dekat denganku di sekolah, aku memilih undur diri. Entah kerasukan apa, ternyata motorku sudah terparkir rapi di depan halaman rumah Keenan. Aku melirik ke samping dan menemukan Keenan yang sepertinya sedang mengobrol ringan dengan tetangganya. Setelah bertemu dengan tante Nanda dan om Kendra dan izin untuk menginap, kemudian aku berniat menyusul Keenan. "Kee." panggilku saat sudah berdiri di depan pagar rumah tetangganya. Aku dapat melihat ekspresi kaget dari matanya. - Setelah aku menceritakan semua masalahku dengan Keenan, perasaanku menjadi lebih baik dari tadi. Keenan benar, mungkin perpisahan kedua orang tuaku memang sudah takdirnya. Tapi tetap, memikirkan mama yang menangis tiap malam membuatku kembali takut. Takut apabila keputusanku membiarkan perpisahan mereka akan berdampak buruk untuk mama. Sebenarnya aku tau perasaan papa pada mama, perasaan itu masih sama, tak pernah berubah. Papa yang lebih bersikap dewasa sedangkan mama yang lebih kekanak-kanakan. Aku tak habis fikir saat papa malah menyetujui permintaan mama untuk bercerai. Sedangkan mama, semenjak bercerai aku tau dia hanya pura pura bersikap kuat. Karna selama ini aku selalu mendengar isak tangisnya dari balik pintu kamar. Kadang, jika aku sudah tak kuat, aku akan memilih masuk dan memeluk mama berniat menenangkannya. - Paginya aku mendapat pesan dari papa. Papa ingin aku pulang, tapi sayangnya aku belum ingin pulang pagi ini. Karna aku baru menyadari ternyata hari ini adalah tanggal merah. Aku sudah berniat pulang siang ini dan setelah itu akan pergi jalan-jalan bersama Rachel. Ya, seharusnya aku memang belajar mencintainya. Selama pagi ini, aku bertemu Kiko, tetangga Keenan yang sangat sering menggodaku, tapi aku hanya menganggapnya adikku. Kiko terlalu sempurna untuk lelaki jahat sepertiku. Lalu Gibran, dan tetangga Keenan yang ternyata berniat mengundang kami ke sebuah acara yang dibuat di rumah orang tuanya. Siang ini aku pergi menjemput Rachel dengan mobilku, tak mungkin aku pergi dengan motor. Aku juga sudah memberi kabar tentang ulang tahun dokter Ferdi dan dress codenya adalah formal. Setelah sampai disana, aku tak dapat menyembunyikan senyumku saat melihat seorang putri cantik sedang berdiri menunggu kedatangan pangerannya. Ya, mulai sekarang, aku harus berusaha mencintai Rachel. Vote sama commentnya ditunggu yaa:3  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD