Keenan's POV
"Hai, Kagib." Kiko berteriak sambil melambaikan tangannya. Yap, yang datang adalah Gibran.
Dapat kulihat dia menatapku sambil tersenyum sendu. Entahlah. Apa dia merasa bersalah? Jujur aku memang sedikit kesal, tapi hanya sedikit, mungkin saja alasan dia pulang terburu-buru kemarin karna ada sesuatu yang penting. Seperti, panggilan alam?
"Ngapain lo berdiri disitu, Gib? Masuk aja." kudengar Remy berteriak sambil menggerakkan dagunya untuk menyuruh Gibran masuk.
"Hai, Kee." ucapnya setelah duduk di antara kami bertiga.
"Hai, Gib." ucapku berusaha tenang.
"Karem, temenin Kiko bentar yuk." ucap Kiko yang langsung membuatku melihat ke arahnya dan Remy. Jangan bilang mereka mau ninggalin aku berdua ama Gibran? Enaksih cuma berduaan, tapi pasti ini bakal jadi awkward gitu. Ahh gaasik.
"Ooh yaudah." kenapa Remy pake mau segala.
"Kita jalan sekarang yuk, Karem." lalu kulihat dua kunyuk itu sudah berlalu meninggalkan aku dan Gibran.
"Ehem." kudengar deheman ringan yang pastinya berasal dari Gibran.
"Gue minta maaf." ucapnya membuatku langsung menoleh ke arahnya. Dapat kulihat mata itu menatapku sendu.
"Buat?"
"Yang kemarin. Gue nggak sopan banget ya, pulang nggak pamit sama lo dan keluarga lo." ucapnya sambil memandangku intens. Dan langsung saja aku mengalihkan pandanganku dari matanya. Ya Allah, Keenan bisa meleleh kalo ditatap intens kayak gitu. Akh mamaaaaaa, Keenan malu, seneng jugasih.
"Nggak papa, gue mikirnya lo buru-buru gitu pasti karna ada urusan penting." apanya yang nggak papa, sampe nangis gitu karna Gibran tiba-tiba pergi.
"Beneran? Tapi gue masih nggak enak ama orang tua lo." ucapnya dengan nada menyesal.
"Beneran, mama papa kayaknya ngerti kok. Oh iya, emangnya lo kemarin pergi kayak gitu karna ada apaan sih?" tanyaku penasaran.
"Gue, nggak, itu, kemarin, ayam gue, haa iya ayam gue, ayam gue masuk rumah sakit." jawaban Gibran sukses membuat mulutku terbuka lebar.
"Ayam lo? Masuk rumah sakit?" tanyaku bingung. Gibran punya ayam? Kok aku gatau. Tapi sebenernya, aku salut sama ayam Gibran, sakit dikit berani banget ke rumah sakit. Aku aja beraninya cuma ke rumah tante Nola, yaah, yang kemarin karna dipaksa mama sih, ditambah tante Nola juga udah nggak di Jakarta.
"Hehe." Gibran tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang entah gatal atau tidak.
Lalu kami terdiam sampai terdengar suara pagar dibuka. Dan dapat kulihat dokter Ferdi berjalan santai ke arah rumah setelah dia melemparkan senyum manisnya pada aku dan Gibran. Kubalas senyuman hangat dari dokter Ferdi lalu kembali menatap ke arah Gibran. Kenapa Gibran kelihatan tegang?
----------------------
"Kok gak bilang dari tadi malem sih ma?" tanyaku memelas pada mama yang kini duduk di sofa tepat di depanku.
Kini, aku, Gibran, Remy, Kiko, Dogi, uhm maksudku dokter Ferdi, mama dan papa sedang berkumpul di ruang tamu rumahku. Sekarang kami sedang membicarakan sesuatu yang menurutku tidak penting, yaitu kami akan pergi ke rumah orang tua dokter Ferdi.
Kenapa harus ngajak aku segala? Nggak penting!
"Ini dokter Ferdi baru bilang sekarang, Kee."
"Maaf sebelumnya, sebenarnya ini juga merupakan permintaan dari orang tua saya untuk mengundang keluarga om dan tante datang kerumah saya. Dan mereka juga baru mengabarkan hal itu pagi ini. Sekali lagi saya minta maaf."
"Apaan sih lu dok, lu pikir ini hari lebaran, minta maaf mulu." langsung saja aku mendapatkan tatapan tajam dari mama.
"Kita boleh ikut kan dokter Ferdi?" terdengar suara Kiko.
"Lebih banyak lebih baik." kulihat dokter Ferdi tersenyum memandang ke sampingku. Tepatnya ke arah, Gibran?
"Jadi nanti acaranya jam berapa?" tanya mama.
"Acaranya akan dimulai jam 2 tante."
"Oh bagus deh, jadi tante sama yang lain bisa siap-siap dulu."
"Terima kasih karna tante dan yang lainnya mau berniat hadir. Kalau begitu saya permisi tante. Assalamualaikum." setelah dokter Ferdi pulang, aku dan yang lainnya, kecuali mama dan papa memilih keluar dan duduk di depan ayunan seperti tadi.
"Lo pergi, Rem?" tanyaku pada Remy.
"Gue usahain ya, soalnya gue ada janji ama Rachel hari ini. Siang ini gue mau balik, papa tadi juga udah ngirimin gue sms gitu."
"Karakelnya diajak aja Karem." kudengar suara Kiko. Kenapa jadi begini? Bukankah Kiko suka Remy?
"Yakin lo?" dan yang kudapatkan adalah anggukan polos dari seorang Kiko. Ya Tuhan.
"Lo datengkan, Gib?" tanyaku pada Gibran, dan dia hanya tersenyum tipis.
"Gue balik dulu ya." ucap Gibran. Yaah, kenapa balik? Cepet banget.
"Gitu ya? Yaudadeh, hati-hati, Gib." ucapku tersenyum kecil.
-----------------------------
"Lo yakin ngebiarin Remy ama Rachel?" tanyaku pada Kiko yang sangat kelihatan cantik dengan dress biru laut selututnya. Mukanya dipoles make-up tipis. Terlihat natural. Dan rambutnya ia hias dengan model messy updo menyisakan sedikit anak rambut disekitar pipinya.
Sedangkan aku, aku memilih memakai dress yang baru mama belikan dua minggu yang lalu. Sebuah dress berwarna maroon dengan pita di bagian pinggangnya. Make-up ku juga tampak natural dan dengan gaya rambut yang simple model gucci.
Ya, ternyata tadi dokter Ferdi menelfon ke rumah dan mengatakan bahwa acara yang akan diadakan adalah ulang tahun dokter Ferdi. Dan dress code-nya adalah formal. Aku bingung kenapa dokter Ferdi memilih merayakan ulang tahunnya di rumah. Tapi yasudahlah, untuk apa aku peduli.
"Kiko yakin kok. Terus doa Kiko buat kelanggengan hubungan mereka itu juga tulus, Kakee. Kiko sadar kalo sebenernya Kiko itu nggak ada perasaan apa-apa sama Karem. Kalo kata bunda, Kiko itu bersikap kayak gitu ama Karem karna Kiko pengen punya abang." aku tersadar dari lamunanku saat mendengar Kiko yang menjawab pertanyaanku. Syukurlah Kiko tidak menyukai Remy dan terobsesi dengan Remy.
"Jadi Kiko suka ama siapa?" tanyaku ingin tau.
"Nggak sama siapa-siapa." jawabnya sambil mengayunkan kakinya yang terpasang flat shoes berwarna putih s**u.
Kami sekarang sedang duduk di ayunan sambil menunggu yang lainnya. Remy dan Rechel sebentar lagi akan sampai. Sedangkan mama dan papa masih siap-siap. Gibran? Aku tak tau apakah dia pergi atau tidak. Lalu aku melihat ke arah samping rumahku dan melihat dokter Ferdi memasuki mobilnya.
Dokter Ferdi menjalankan mobilnya dengan pelan lalu berhenti di depan rumahku. Dia keluar dan aku sempat kaget melihatnya. Kemeja putih dibalut jas mahal, celana kain serta sepatu pantofel hitam mengkilat. Dia berjalan ke dalam halaman dengan gagahnya.
"Oh ya dok. Happy birthday ya." ucapku dan Kiko bersamaan.
"Terima kasih." lalu dokter Ferdi kembali tersenyum dan entah kenapa aku seperti tenang melihat senyuman itu. Mirip Gibran?
"Mama papa kamu udah siap?" pertanyaan dokter Ferdi membuaku tersadar. Kemudian sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku, Remy dan Rachel. Dan setelah itu terdengar suara mama yang baru keluar bersama papa.
Ya, tanpa perlu menjawab pertanyaan dokter Ferdi aku mengajak Kiko berjalan ke arah mobil papa. Kami langsung memasuki mobil sambil melihat yang lainnya sedang berbincang di luar sana. Beberapa saat kemudian, papa dan mama masuk ke mobil dan kurasakan mobil berjalan pelan.
Setengah jam kemudian mobil ini berhenti di sebuah rumah yang yang sangat-sangat besar. Jangan bilang ini rumahnya? Lalu kenapa dokter Ferdi memilih tinggal di samping rumahku?
Mobil papa terus memasuki pekarangan rumah yang ternyata sudah dihias elegan. Jadi acaranya bukan di dalam rumah? Aku keluar dari mobil dan tepat saat itu aku langsung kepikiran Gibran. Yah, dia tak akan datang. Aku yakin itu.
Halaman rumah ini sangat besar. Dan rumah ini tepat dibangun di tengah-tengah halaman. Jadi kita bisa puas mengelilingi rumah ini tanpa terhalang apapun. Lagipula bukan cuma halaman depan yang dihias, tapi kiri, kanan, belakang juga. Dan semua tempat itu ramai diisi oleh tamu undangan. Kebanyakan teman dokter Ferdi kurasa.
Beberapa saat kemudian acara dimulai. Setelah mendapat kata sambutan dari orang tua dokter Ferdi sang mc kembali mengambil alih acara. Tapi tunggu, sepertinya aku pernah melihat tante Anna -mama dokter Ferdi- tapi dimana ya? Kenapa aku mendadak amnesia.
Kemudian kulihat dokter Ferdi menaiki panggung dan kemudian mulai berbicara. "Terima kasih telah menyempatkan waktu kalian untuk datang ke acara ini. Dihari yang berbahagia ini, saya hanya berharap, semoga setelah ini hubungan saya dan seseorang dapat berjalan baik kembali. Selama ini saya sangat ingin mengatakan ini, kalau saya sangat-sangat menyayangi dia. Saya tak pernah membencinya. Jadi, jangan takut lagi pada saya. Karna sampai kapanpun, kamu tetap adik saya. Adik kandung saya." aku fokus mendengarkan dokter Ferdi berbicara. Jadi dia punya masalah dengan adiknya? Dan dia sengaja membuat acara ini agar adiknya tau kalau dokter Ferdi sangat menyayangi adiknya? Tapi kenapa adiknya takut dengan dokter Ferdi?
Lalu kulihat dokter Ferdi yang turun dari panggung dan suara mc kembali terdengar. "Baiklah, sekarang mari kita sambut sang adik dari Ferdian. Ini pertama kalinya dia ingin membuka diri dalam acara-acara seperti ini."
Aku fokus melihat ke atas panggung sampai aku melihat seorang lelaki berjalan pelan sambil menunduk ke arah microphone. Saat dia sudah sampai dimana seharusnya dia berdiri, dia mulai memperlihatkan wajahnya. Dan wajah dari lelaki itu mampu mendatangakan sebuah petir besar di kepalaku.
Semoga nggak pada bingung plus bosan yaw sama cerita ini:))
Oh iya, jangan malu buat nekan lambang bintang kalau kalian suka sama ceritanya ya;)) Terus kalau kalian bingung sama ceritanya tinggal komen ato inbox aja.
#kayakadaajayangbacaceritaini:(
#authorberharapsemogaadayangbaca;)