c h a p t e r [9]

901 Words
Keenan's POV Aku terduduk lemas di kasurku. Setelah mendengar cerita dari Remy, perasaanku mendadak tak enak. Ya, yang datang dan memanggilku di rumah dokter Ferdi tadi adalah Remy. "Gue udah muak, Kee. Gue capek. Jujur gue nggak pernah ngurusin apapun yang dia lakuin, selama hal itu nggak pernah ngusik gue. Tapi dia sadar gasih, dengan cara dia bawa wanita asing ke rumah, itu ngusik gue banget, Kee" kulihat Remy terdiam sebentar. "Gue rindu mama, Kee. Gue rindu mama." kulihat Remy mengacak rambut hitam tebalnya. "Rem..." ucapku sambil menepuk pundaknya pelan berniat menguatkan. "Oke gue gak masalah kalo dia mau nikah lagi, tapi seenggaknya waktu gue udah pindah ke Bandung. Dia cuma harus nunggu kurang lebih 4 bulan lagi sebelum ujian kelulusan dimulai. Bahkan setelah perceraian itu, gue nggak pernah liat mereka ngomong lagi. Bisa nggak sih mereka pura-pura baik di depan gue, gue gak masalah kalo itu cuma pura-pura. Seenggaknya gue bisa liat mereka harmonis." dapat kulihat air mata yang mau menetes dari matanya, tapi dengan cepat dia menghapusnya. "Rem, itu semua nggak mudah buat mereka, menurut gue. Gue tau, banyak yang bilang, seharusnya orang tua bisa bertahan demi anak. Bisa ngejaga perasaan si anak. Tapi orang tua kadang bisa jadi makhluk yang paling lemah. Tapi mereka nggak mau nunjukin itu. Karna mereka takut, kalau anak-anak mereka ngeliat mereka lemah, anak-anaknya mau berlindung sama siapa." "Terus kenapa mereka harus bersatu, kalo akhirnya mereka pisah?" "Pertanyaan lo sama kayak, kenapa manusia harus hidup, kalo akhirnya dia harus mati. Asal lo tau, tante Nola sama om Roland itu dipersatuin buat satu alasan, yaitu buat ngehadirin seorang anak yang hebat kayak lo. Kalo akhirnya mereka pisah, berarti itu memang udah jalannya." seketika, Remy sadar, mungkin itu memang yang terbaik untuk mama dan papanya. Dengan rileks, dihembuskannya nafas secara perlahan. "Thanks, Kee." "Ok, lo istirahat aja, tapi Rachel udah tau masalah ini?" tanyaku. "Nggak. Dia belum tau." aku yang mendengarnya hanya dapat menghela nafas pelan. Cerita singkat Remy yang berhasil terekam oleh otakku kembali berputar. Aku tertawa kecil mengingat bagaimana aku menasehati Remy tadi. Bukankah aku terlihat sangat keren saat itu? Dengan cepat aku mengusir pikiran konyol itu dari otakku. Dan langsung memilih tidur. ------------------ Saat ini kami sedang berada di ayunan depan rumahku. Setelah sarapan kami memilih duduk disini, karna aku dan Remy baru sadar kalau ternyata hari ini tanggal merah. Karna tadi kami sudah memakai seragam, dan saat melihat papa yang hanya memakai pakaian santainya, barulah kami sadar kalau hari ini libur. Aku yang sedari tadi melihat ke arah jalanan di depan langsung melihat ke arah Remy. Dan dapat kulihat dia yang langsung memalingkan mukanya untuk menghapus air matanya. "Kenapa sih, Rem? Kenapa lo harus pura-pura kuat. Kapanpun lo mau cerita, gue selalu siap buat dengerin itu Remy. Tapi, lo selalu acting pura-pura kuat. Pura-pura tegar. Layaknya superhero. Lo tau nggaksih, cowok juga berhak nangis, cowok pasti pernah sakit. Sekali lagi lo pura-pura kuat depan gue, gue tabokin lo. Kalo lo mau nangis ya nangis aja kali, bukan cuma cewek yang boleh nangis." "Gue udah mikirin ini semaleman, dari malam-malam yang lalu gue juga mikirin hal ini, kalo gue, mau pindah aja ke Bandung." ucapnya setelah menghela nafas panjang. "Pindah gimana?" tanyaku tak percaya. "Orang bentar lagi kita bakal ujian kelulusan." "Ya, pindah. Sekolah, rumah, cari suasana baru, dan mungkin juga, nata ulang perasaan gue karna ulah seseorang." jujur! Aku tak mendengar kalimat terakhir dari Remy. "Lo ngomong apa tadi?" "Pindah sekolah?" kulihat Remy yang tampak gelagapan. "Bukan! Yang kalimat terakhir. Tadi perasaan gue denger kata 'nata' gitu." ucapku memaksa. "Ooh. Bantuin mama nata barang-barang di rumah barunya." "Kampret lu." ucapku sambil menendang ayunan yang dia duduki. Kami kembali terdiam dengan aku yang sibuk mengayunkan ayunanku. "Hai Karem, Kakee." aku yakin kalian tau siapa yang memanggil kami. "Kiko darimana?" tanya Remy sambil memandang Kiko, dan Kiko yang dipandang oleh Remy malah senyum-senyum tak jelas, yah, kami semua bahkan Remy sudah tau kalau Kiko menyukai Remy. "Ciee, Karem perhatian ama Kiko." ucap Kiko lalu memasuki halaman rumahku. "Kiko habis makan bubur di depan komplek." "Bunda ga buat sarapan?" tanyaku. Biasanya tante Mira -bunda Kiko- termasuk ibu rumah tangga yang gemar memasak, sama seperti mama. "Buat kok, tapi Kikonya aja yang lagi pengen makan bubur buk Tia." jawabnya lalu duduk di rerumputan, lalu aku dan Remy juga ikut duduk disamping Kiko. "Kok nggak ngajak?" tanya Remy membuat Kiko seperti merasa bersalah. "Yah, Kiko nggak tau kalo Karem ada disini. Kalo Kiko tau, pasti tadi Kiko udah manggilin Karem." ucapnya dengan wajah melas. "Ama Remy aja, cepet lo." ucapku. "Karem masih sama ka---" sepertinya Kiko lupa siapa nama pacar Remy. "Rachel." ucapku. "Iya, Karakel." ucapnya hati-hati. Dan dapat kulihat Kiko yang memaksakan senyumnya saat Remy mengiyakan pertanyaannya. "Ooh, semoga langgeng ya Karem." aku tau doa itu, Kiko sering curhat denganku tentang ini. Dari mulut, Kiko memang mendoakan yang baik, tapi tidak dari hati, Kiko akan mendoakan semoga Remy dan Rachel cepat putus. Yah, kalau aku boleh sedikit menilai, aku ingin bila Remy dengan Kiko. Rachel memang baik, tapi entah kenapa aku lebih menginginkan Kiko dengan Remy. "Ehem." deheman seseorang ternyata mampu menginstrupsi obrolan kami pagi ini. Aku melihat ke arah pagar rumah, dan kaget dengan siapa yang ada disana. Dia, dengan training hitam, running shoes hitam, serta kaos putih pas badan, serta keringat membasahi rambut dan tubuhnya, sudah berdiri tepat di depan pagar rumahku. Maaf kalo ngebosenin:( Semoga tetap pada mau baca cerita ini yaps:) Vomment??:))  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD