c h a p t e r [4]

1496 Words
Keenan's POV Aku nggak lagi mimpikan?? Gibran nyapa aku?! Dia manggil nama aku?! Dan dia tau nama lengkap aku?! Walaupun nggak pake 'Dinata' sih. Tapikan sama aja. Akkh, Gibran! Buat aku jantungan aja. "Lo tau nama gue?" tanya Gibran membuatku gelagapan. "Eh. Itu, hehe." aku hanya bisa nyegir buat nutupin rasa malu. "Oh iya, kemarin, kalo nggak salah, gue ketemu bokap lo di gerbang. Dia minta tolong sama gue buat bilang sama guru kalo lo sakit. Nah guenya ngangguk-ngangguk aja. Tapi waktu udah di dalem sekolah, gue bener-bener lupa buat ngasih tau ke guru lo, kalo lo sakit." penting ya Gibran ngejelasin hal ini ke aku?? "Oh, yaudah." ucapku sambil tersenyum. "Lo nggak papa??" "Nggak kok, gue nggak apa-apa. Juga bukan salah lo kan kalo lo lupa. Udahlah, lupain aja, santai! Kayaknya dibikin alfa juga ngga buruk-buruk amat deh." aku berkata sambil terkekeh pelan. "Oh iya, gue masuk duluan ya. Sekali lagi maaf." ucap Gibran lalu masuk ke pekarangan sekolah.  Aku tak bisa menyembunyikan senyumku memikirkan Gibran yang meminta maaf tadi. Padahal dia kan nggak salah. Aku tersadar saat rambutku ditarik oleh seseorang. "Ciee," teriak dua kunyuk yang ternyata masih ada disampingku. "Apaansih lo berdua!" ucapku kesal. "Alah, gaya lo. Sebenernya seneng tuh." ucap Remy. "Emang!" ucapku tersenyum lebar lalu melangkahkan kaki memasuki pekarangan sekolah. - Aku hanya menatap malas ke depan. Kenapa jam pertama hari ini harus sejarah sih?? Males kalo harus ngeliatin pak Dedy. Ni guru satu kayaknya harus aku suruh move on deh. Aku meletakkan kepalaku diatas kedua tanganku yang terlipat manis di atas meja. Semoga Pak Dedy nggak liat kalo aku mau pergi sebentar ke alam mimpi. Baru terpejam lima detik, suara berat langsung menginstupsiku. "Keenan! udah yang keberapa kalinya kamu kayak gitu di kelas saya??" tanya Pak Dedy menatapku dengan garangnya. "Kayaknya belum sering deh pak." jawabku sambil tersenyum manis. "Malah ngejawab lagi kamu. Sekarang keluar dari kelas ini!" nahlo?? Emang salah ya kalo aku jawab, tadikan Pak Dedy nanya. Huaaa, mama!! Akhirnya aku keluar dengan muka kesal. Sebenarnya aku sedikit bahagia karna bisa pergi dari kelas dengan guru yang nggak pernah mau move on. Tapi ntah kenapa aku merasa sedikit rindu pada kepala botak Pak Dedy. Aku melangkahkan kaki ke arah kantin. Aku benar-benar merasa lapar sekarang. Aku langsung memesan soto bang somad dan memakannya di meja sudut. "Kok disini?" sebuah suara membuatku berhenti memakan sotoku. "Eh, lo?" aku melihatnya dengan seragam olahraga dan keringat membasahi rambutnya. Ya Allah, bantu Keenan. "Dihukum ya?" tanyanya. Dan itu sungguh membuatku malu. Ketahuan di hukum di depan calon pacar, kan ngga elit!! "Hehe, habisnya, nggak ngerti deh sama jalan pikiran Pak Dedy, tadi dia nanya, udah berapa kali gue hampir ketiduran pas jam dia, nah gue jawab aja, kayaknya belum sering deh pak. Lah dia malah usir gue." jelasku panjang lebar. "Ckck, kalo pertanyaan kayak gitu mending lo diemin aja deh." ucapan Gibran ada benarnya. "Oh iya, kita belum kenalan secara resmi. Gue Keenan Adelia, dan lo bisa manggil gue Keenan." ucapku menjulurkan tangan pada Gibran. "Gue Gibran, Gibran Athalla." Dan kemudian, seperti mendapat harapan, aku yakin, mimpiku selama ini bisa aku wujudkan. - Jam istirahat, aku memilih meninggalkan Mikha dan Remy yang baru saja sampai di kantin. Aku meninggalkan mereka karna ada alasan yang sangat penting. Aku melangkahkan kakiku dengan semangat. Saat sudah sampai di depan pintu dengan tulisan 'Ruang Majelis Guru', aku langsung merapikan bajuku. Aku melihat ke arah makanan yang baru saja aku beli. Menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Aku masuk ke ruangan itu dengan hati-hati. Dapat kurasakan beberapa guru yang berada di ruangan ini menatapku bingung. Aku tidak peduli, dan terus mencari seseorang yang berjasa di hidupku. Saat pandanganku jatuh ke guru yang tidak memiliki sehelai rambutpun di kepalanya, senyumku langsung merekah sempurna. Aku berjalan mendekati meja guru tersebut. Selama di ajar oleh guru ini, baru kali ini aku berterima kasih padanya. "Pak Dedy." panggilku lembut padanya. Pak Dedy yang dari tadi hanya sibuk melihat ke kertas dihadapannya langsung mengangkat kepalanya. Dapat kulihat ekpresi kaget dari mata itu. "Ngapain kamu disini?" tanya Pak Dedy seperti curiga padaku. "Gini pak, saya mau ngasih ini sama bapak." lalu aku menyodorkan plastik berisi makanan yang baru saja aku beli. "Ini apa?" tanya Pak Dedy sambil melihat isi dari plastik tersebut. "Makanan? Kamu mau racunin saya ya?" tanyanya membuatku kaget. "Siapa yang mau racunin bapak? Saya ngasih ini, karna saya itu berterima kasih sama bapak. Karna berkat bapak, mimpi saya akan segera terwujud." ucapku sambil tersenyum. "Haa?" tanya Pak Dedy bingung. "Udadeh pak, bapak terima ya makanannya. Sumpah pak, nggak saya kasih racun kok. Saya ngga sejahat itu kalo benci sama orang." ucapku. "Jadi kamu benci sama saya? Dasar kamu!" "Haa? Saya ngga bilang saya benci bapak. Malah saya itu sayang banget sama bapak. Setiap habis shalat, saya itu terus doain bapak." dapat kulihat mata Pak Dedy berkaca-kaca. "Saya berdoa semoga rambut bapak cepet numbuh." dapat kulihat tatapan marah yang diberikan Pak Dedy padaku. "Apa?" "Iya pak. Yaudadeh pak, saya permisi, makanannya jangan lupa dimakan pak. Assalamualaikum." ucapku setelah bersalaman dengan Pak Dedy. - Aku kembali ke kantin, tetapi saat perjalanan ke kantin, kudengar seseorang memanggilku. "Kee." langsung saja aku melihat ke belakang. Aku langsung menghela nafas saat mengetahui siapa yang memanggilku. "Kenapa?" tanyaku langsung. "Liat Remy nggak? Tadi gue udah nyariin dia di kelas lo, tapi nggak ada." ucapnya. "Kayaknya di kantin deh." "Nggak ada juga." "Toilet?" "Iya kali ya, yaudah deh, thanks, Kee. Bye." ucapnya lalu pergi meninggalkanku. Lagi. Aku kembali menghela nafas kesal. Tumben dia nggak ngajak aku kelahi dulu? Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku langsung pergi menuju kantin. "Eh, nyet." panggilku, dan Remy langsung menoleh. "Tadi si Rachel nyariin lo. Dia udah nyari lo ke kantin, tapi lo nya nggak ada. Terus sekarang kayaknya dia ke toilet cowok deh." "Serius lo?? Yaah, berarti tadi dia nyampe duluan dong di kantin?? Lo sih, Mik, pake minta temenin ke post satpam lagi." "Ya elo, gue kan ngga tau kalo tu kunti satu nyariin lo." jawab Mikha tak mau kalah. "Enak aja lo manggil pacar orang kunti. Yaudah deh, gue ke toilet cowok dulu." aku hanya mengangguk lalu membiarkan Remy pergi sambil berlari. "Eh, tau nggak?" ucapku pada Mikha yang sedang sibuk makan. "Nggak." jawabnya cuek. "Ish. Tadi, gue kenalan lo sama Gibran." ucapku sambil membayangkan hal tadi. "Serius lo? Keknya tambah lancar nih?" respon Mikha tertarik. "Doain aja deh." "Boleh gabung?" refleks aku langsung melihat ke samping. Dan disana Gibran berdiri dengan gagahnya. "Eh? Lo mau makan satu meja ama gue?" tanyaku tak percaya. "Boleh nggak?" tanya Gibran. "Boleh dong." Gibran tersenyum lalu dia ikut duduk disampingku. "Gue perpus dulu ya. Mau balikin buku." ucap Mikha lalu langsung pergi. Dan sekarang, tinggal aku berdua dengan Gibran. Aku berdehem kecil untuk menutupi kegugupanku. Dan langsung memakan bakso yang kurasa milik Remy yang sudah hampir habis. "Lo makan lagi?" tanya Gibran seperti tak percaya. Duh, udah dua kali aku bikin malu di depan Gibran. "Eh, hehe. Masih laper habisnya." "Mau nambah lagi nggak?" tanya Gibran membuatku kaget. Jadi dia tak mempersalahkan aku yang makan banyak? Ahh, Gibran! "Nggak perlu deh kayaknya. Ini juga udah cukup." "Yakin?" tanyanya sambil menaikkan sebelah alisnya. Ahhk, kenapa Gibran harus gemesin banget sih. "Yap." jawabku setelah aku menghabiskan bakso milik Remy. "Temenin gue makan ya?" pintanya padaku. Aku hanya mengangguk sambil berusaha menahan teriakan yang akan keluar. Nggak, sekarang bukan waktunya buat teriak. Aku memperhatikan Gibran makan dengan seriusnya. Alisnya, hidungnya, bibirnya, matanya, wait, matanya? Mata itu seperti mata seseorang. Siapa ya? Kenapa sangat mirip? Aku langsung tersadar karna ternyata aku dan Gibran sedang bertatapan sejak tadi. Aku langsung menunduk karna malu. Dan dapat kudengar Gibran terkekeh pelan. Ya Allah, ini udah yang ketiga kalinya Keenan buat malu di depan calon pacar. - Bel pulang sekolah berbunyi, dan aku langsung keluar kelas bersama Mikha dan Remy. Aku sedang berusaha membujuk Mikha agar dia mau bermain di rumahku. Tapi dia menolak dengan alasan kalau dia harus mengantarkan papa dan mamanya ke bandara. Dan setelah mendengar alasan itu, aku langsung bungkam. Setelah berpisah dengan Mikha di gerbang, aku langsung menarik Remy agar kami segera pulang. "Gimana si Rachel?" tanyaku saat kami di perjalanan pulang. "Ternyata dia emang nungguin gue di depan toilet cowok sambil nelfonin gue. Dia kesel karna gue nggak jawab telfonnya." jelas Remy padaku. "Kenapa nggak lo angkat, Rem?" tanyaku bingung. "Itu dia masalahnya, hp gue ketinggalan di kamar." "Oouh." Lalu aku dan Remy asik bercerita, Remy tentang Rachel, dan aku tentang Gibran. Kami terus bercerita hingga kami sampai di depan rumahku. "Mau mampir dulu nggak?" tanyaku saat Remy mengeluarkan motornya dari halamanku. "Nggak deh, bilangin aja kalo gue pulang dulu. Nggak enak, keknya rumah lo ada tamu deh." ucap Remy dan aku langsung sadar saat melihat pintu rumah terbuka lebar. "Gue balik dulu ya. Daaah." "Hati-hati." teriakku. Aku langsung masuk ke dalam rumah dan kaget saat melihat tamu yang sedang bercerita dengan mama. Kok dia bisa disini? Dan dapat kulihat dia melihat ke arahku lalu menyeringai, dan melihat seringaian itu, aku bergidik ngeri. Vommentnya ditunggu ya:3 :)))  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD