Keenan's POV
Saat makan aku tak bisa menyembunyikan senyumku saat melihat Gibran juga ikutan makan. Senangnya, ternyata papa, mama, dan kak Ryan sangat menerima Gibran.
Setelah selesai, aku langsung pamit pada semuanya begitupun Gibran. Aku menariknya pelan lalu berteriak. "Keenan pergi sekolah dulu, Assalamualaikum!" ucapku lalu keluar pagar diikuti Gibran.
"Gibran, kita jalan kaki aja ya?" pintaku dan dapat kulihat alis Gibran naik sebelah lalu senyum merekah di bibirnya. Sepertinya dia setuju.
"Jadi motor gue ditinggalin aja ni ya?" tanya Gibran dan aku hanya mengangguk.
"Ntar pulangnya kita barengan lagi. Kan kita pulangnya sore tuh, jadi bakalan adem, nggak bakal panas." jelasku, lalu kulihat Gibran tersenyum sambil mengacak rambutku pelan.
Ya ampun Gibran, kenapa buat aku jantungan sih. Deket-deket sama dia aja udah buat aku deg-degan nggak jelas. Apalagi rambut aku diacakin sama dia. Bisa-bisa mati ditempat aku. Ntar deh, aku ngajakin mama buat periksa jantung aku.
"Eh, itukan?" dapat kudengar suara kecil Gibran sambil memandang ke satu arah.
Aku menghela nafas kasar. Kenapa Gibran harus ngeliatin sih Dogi sih. Dengan malas, aku menyapa si Dogi. Karna mama mengajarkan begitu. Harus saling menyapa. Ya tak ada salahnyakan aku mengajak si Dogi berteman.
"Pagi, dok." ucapku, dapat kulihat dia menatapku bingung. Kayaknya ada yang salah sama panggilanku. "Gue manggilnya d-o-k, kok. Bukan d-o-g. Ya walaupun lebih cocok Dogi sih. Tapi kan gue baik. Mau kemana dok?" tanyaku.
"Rumah sakit." jawabnya lalu melihat Gibran yang berada di sampingku dengan pandangan sedikit aneh. Rindu mungkin? Lalu aku melihat ke arah mereka berdua secara bergantian dengan alis bertaut. Kenapa ni orang aneh ya??
"Gib." panggilku pada Gibran.
Lalu Gibran melihatku dan baru kusadari satu hal. Mata itu, mata Gibran, sangat mirip dengan mata si dokter. Apa ini hanya kebetulan, atau, ada sesuatu? Aku memilih tak mau tau lalu menarik tangan Gibran untuk pergi ke sekolah.
"Gue pergi dulu ya dok. Assalamualaikum, lo hati-hati, dok" ucapku sambil melambaikan tangan ke arah si dokter.
Dapat kulihat dokter itu tersenyum walau tipis. "Walaikumsalam, hati-hati dijalan. Belajar yang bener." teriak si dokter membuatku tersenyum.
"Lo kenapa, Gib?" tanyaku pada Gibran yang sedari tadi hanya diam.
"Nggak, nggak kenapa-napa." jawabnya sambil tersenyum manis.
"Remy kemana ya? Kok nggak mampir ke tempat gue?"
"Emangnya kenapa?" tanya Gibran.
"Nggak, biasanya kan Remy selalu pergi bareng sama gue. Walau nggak sering sih." jelasku membuat Gibran mengangguk.
"Ooh."
Setelah itu kami hanya diam. Saat sudah di dekat sekolah, aku langsung bertanya pada Gibran maksud dari jawabannya tentang dia yang sudah melaporkan ketidak hadiranku pada guru piket.
"Lo beneran udah ngelaporin tentang gue ke guru piket atau belum sih?" tanyaku bingung.
"Eh itu---" jawaban Gibran terpotong saat terdengar suara teriakan Mikha.
"Eh, gue kirain Remy. Pantesan agak aneh. Ternyata Gibran." ucap Mikha saat sudah berada di dekatku dan Gibran.
"Aneh gimana?" tanyaku bingung.
"Nggak. Kepo lo!" ucap Mikha sambil memeletkan lidahnya padaku.
"Issh."
"Gue duluan ya." ucap Gibran. "Nanti pulang sekolah gue jemput di kelas lo." dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum membiarkan Gibran pergi. Walau sebenarnya sedikit tak rela membiarkan Gibran pergi.
"Dia jemput lo, nyet?" tanya Mikha padaku dan aku menjawabnya dengan tersenyum bangga.
Kami terus berjalan ke arah kelas. Saat sampai di kelas aku dapat melihat Remy yang sepertinya sedang gelisah.
"Kenapa lo, Rem?" tanyaku langsung duduk di kursi di depan Remy.
"Nggak. Nggak apa-apa." jawabnya cuek.
"Tadi kenapa nggak mampir?" tanyaku heran.
"Eh kunti, gue nggak sejahat itu. Emangnya lo pengen gue gangguin acara lo sama Gibran. Ya nggaklah." ucapnya membuatku mengerti.
Jadi tadi sebenernya Remy mau mampir, tapi waktu ngeliat motor Gibran, niatnya harus diurungkan, karna Remy nggak mau gangguin aku.
-
Jam istirahat, dapat kulihat Gibran yang berdiri di depan pintu kelasku. Aku langsung menghampirinya dan menanyakan mengapa dia datang.
"Kantin bareng?" tawarnya dan aku mengangguk senang.
"Boleh. Bentar ya!" ucapku lalu masuk kembali ke kelas dan mengatakan pada Mikha dan Remy bahwa aku akan pergi ke kantin dengan Gibran.
Setelah itu, aku kembali menghampiri Gibran. Dan setelah itu kami langsung pergi ke kantin. Aku masih kepikiran dengan pertanyaan tadi pagi. Kenapa Gibran bilang udah? Apa karna yang nanya papa?
Saat kami sudah duduk menikmati makanan yang kami pesan. Aku kembali menanyakan tentang hal tadi.
"Gib, sebenernya lo udah bilang belum sih sama guru piket??" tanyaku, kali ini sedikit memaksa.
"Ekhem, gini deh. Sebelumnya gue minta maaf sama lo. Gue bakal ceritain semuanya dari awal." aku yang mendengarkan itu hanya mengangguk pelan.
"Dari awal masuk sekolah, waktu kita mos, waktu lo dikerjain kakak kelas, dan disuruh nembak ketos, dari situ gue udah kagum sama lo." aku ingat, ya, saat itu aku memang dikerjain buat nembak ketos, dan untung aja, ketosnya nolak aku. Tapi tunggu, Gibran kagum sama aku dari kita mos??
"Semenjak itu gue terus merhatiin lo. Sampe ternyata perasaan itu dateng. Gue nggak mau gegabah, jadi gue milih buat nunggu. Nunggu saat yang tepat buat kenalan sama lo, buat deket sama lo. Sampe papa lo nyuruh gue buat lapor ke guru piket kalo lo itu sakit. Pertamanya gue kaget, gue tanya sama diri gue sendiri, ini nggak mimpikan? Yang minta tolong sama gue ini beneran papanya keenan, kan?? Setelah itu gue buru-buru ke meja piket. Buat bilang kalo lo nggak bisa hadir karna sakit." dapat kulihat Gibran menarik dan menghembuskan nafas perlahan. Tunggu, kenapa sama lagi? Kenapa caranya menarik dan menghembuskan nafas sangat sama dengan si dokter gila??
"Terus gue cerita ke Rio, sahabat gue, tentang hal itu, dan dari situ dia dapetin ide gimana gue bisa deket sama lo. Dia nyuruh gue buat minta maaf ke elo dengan alasan karna gue lupa bilang ke guru piket tentang lo yang nggak hadir. Dan ternyata berhasil. Dan yang paling buat gue seneng, ternyata lo tau nama gue. Tapi gue tau, gue nggak akan bisa sembunyiin kebohongan gue itu selamanya. Dan buktinya, kebohongan gue udah kebongkar hari ini." ucapnya mengakhiri penjelasan dengan tersenyum manis.
"Jadi lo modus ni ceritanya?" entah kenapa mengetahui hal itu membuatku senang bukan main.
"Yap, kurang lebih begitu."
"Dengan alasan?" tanya gue lagi.
Gibran tak menjawab, tapi dia hanya mengeluarkan senyum misterius yang entah mengapa membuat ketampanannya meningkat.
Gibran sok modus:( wkwkwkwk;D
Vomment??:))