c h a p t e r [7]

1334 Words
Keenan's POV Bel pulang sekolah terdengar, membuatku dan teman-temanku berteriak kegirangan. Sedangkan guru yang mengajar kami hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil membereskan barang-barangnya. "Lo pulang ama Gibrankan?" tanya Remy yang ternyata sudah berdiri di depanku. "Yoi." jawabku tersenyum lebar. "Lo pulang ama Gibran?" langsung saja aku menutup kedua telingaku akibat suara cetar Mikha. Lebih baik jika aku harus mendengar teriakan mama. "Iya dong, gue gitu." jawabku tersenyum sombong. "Serius lo?" tanya Mikha masih terlihat tak percaya. "Serius dia, noh, lo liat ke pintu." ucap Remy dan refleks aku langsung melihat ke pintu. Dan ternyata disana sudah ada Gibran yang terlihat sedang sibuk dengan ponselnya. "Gue balik duluan ya." ucapku lalu langsung pergi dari hadapan Remy dan Mikha. "Hei." panggilku dan Gibran langsung menoleh ke arahku lalu mematikan ponselnya. "Hai." jawabnya sambil tersenyum. "Yuk." ucapnya langsung menarik tanganku lembut. Aku tak dapat menyembunyikan senyumku saat Gibran melihat ke arahku. Kami berjalan di depan koridor kelas 10 dan 11. Dan dapat kurasakan tatapan kecewa dari mereka karna ternyata lelaki pujaan satu sekolah, sedang menggenggam erat jemariku. Sampai di gerbang pun, Gibran belum melepaskan tangannya. Karna sedari tadi jantungku tak bisa diajak damai, aku mencari ide agar tanganku dapat terlepas. Pandanganku jatuh ke arah satu lelaki yang aku kenal, Eza. "Eh Gib, bentar ya." ucapku lalu melepaskan tanganku yang sedari tadi di genggam oleh Gibran. Dengan cepat, aku berjalan menghampiri Eza. "Eza!" panggilku saat sudah dekat dengan Eza. "Eh lo, ada apaan?" tanya Eza sepertinya penasaran kenapa aku memanggilnya. "Eh nggak, gue cuma mau nanya, tugas dari Mr. Dio tadi apa aja?" tanyaku, yah walaupun sebenarnya aku sudah tau apa tugas yang diberikan. "Eh he, gue ga tau, Kee. Nggak nyatet gue, tadi si Miko ngajakin gue ngobrol mulu." jawabnya, dan aku hanya bisa menarik nafas mendengar kelakuan Eza. Entah karna alasan apa aku dan anak-anak di kelasku memilih Eza sebagai ketua kelas kami. "Yaudadeh, gapapa. Ntar gue tanyain yang lain aja. Thanks ya, Za. Gue cabut dulu, bye." ucapku lalu langsung berbalik untuk berjalan ke tempat sebelumnya aku dan Gibran berdiri. Aku tak melihat Gibran. Kemana dia? Baru ingin mencarinya, sebuah tangan yang menyentuh pundakku dan suara memanggil namaku membuatku mengurungkan niatku. Aku berbalik dan mendapati Gibran melihatku sambil tersenyum. Ya Allah, senyumnya si Gibran kenapa manis gini! Keenan ga kuat ya Allah. Batinku bersuara. Untung hanya batinku, bukan mulutku. "Yuk." ajakan Gibran membuatku tersadar. Dengan cepat aku menormalkan tubuhku yang sedari sudah gugup. "Yuk." jawabku, lalu kamipun berjalan meninggalkan sekolah. "Ehm." deheman dari Gibran membuatku tersadar kalau kami sedari tadi hanya diam. Awkward moment!! Dan aku membenci hal itu. "Boleh nanya sesuatu?" ucap Gibran lagi. Kuyakin keningku berkerut sekarang. Dan dengan cepat aku menganggukkan kepala. "Ehm, yang tadi. Laki-laki yang tinggal di sebelah rumah lo. Dia udah lama tinggal disana?" tanya Gibran membuatku bingung. Kenapa malah nanyain si Dogi, kenapa bukan nanyain aku aja. Misalnya, lo makan sehari berapa kali? lo biasanya ngapain kalo sore? Lo malam tidur nggak? Lo cewek ato cowok sih? Oke ini ngelantur. Balik kepertanyaan Gibran tentang Dogi. Tapi kalo dipikir-pikir kayaknya nama Dogi jelek deh buat dokter seganteng dokter Ferdi. Oke ini ngelantur lagi. "Kee." panggil Gibran membuatku tersadar. "Eh itu, dia tinggal disana kayaknya baru dua hari yang lalu. Tapi nggak tau deh." jawabku sambil menendang batu yang tergeletak di jalanan. "Oh gitu." ucap Gibran sambil mengangguk. "Kok kayaknya lo kepo sih tentang dokter Ferdi?" tanyaku penasaran. Walau sebenarnya aku ingin sekali mengatakan pada Gibran kalo dia dan si dokter bisa dibilang mirip. Walau tak terlalu jelas. "Nggak! Nggak ada, cuma pengen nanya aja sih." jawab Gibran terlihat gugup. Aku mengalihkan pandanganku pada jalanan di depanku. Baru sadar ternyata aku sudah berada tepat di depan rumah si dokter. Dapat kulihat dokter Ferdi yang lagi asik main basket. Dia nggak kerja? Tanyaku bingung. "Assalamualaikum, dok." sapaku dan mampu membuat dokter Ferdi mengalihkan tatapannya ke arahku. "Walaikumsalam." jawabnya tenang sambil tersenyum walau tipis ke arahku dan Gibran. "Lo pande main basket, dok?" tanyaku, oh tidak, itu pertanyaan bodoh. How stupid i am. "Menurut kamu?" dan jawaban dari dokter Ferdi hanya kutanggapi dengan cengiran. "Oh iya dok, kenalin nih, temen gue, namanya Gibran. Kapten basket loh dok di sekolah gue. Hebatkan gue, bisa temenan sama kapten basket." ucapku sambil tersenyum lebar. Saat pandanganku beralih ke Gibran, kurasakan keningku kembali berkerut. Kenapa pandangan Gibran untuk dokter Ferdi seperti itu. Kemudian pandangan dokter Ferdi untuk Gibran pun membuatku sedikit kaget. Agar awkward moment ini tidak terus berlangsung, aku langsung mengajak Gibran untuk memasuki pagar rumah dokter Ferdi, dan setelah itu menyuruhnya untuk bersalaman. "Ferdi." ucap Ferdi gugup. "Kenapa---" "Keenan!" kudengar teriakan mama dan aku langsung menoleh ke belakang dan mendapati mama sedang berdiri di depan pintu. "Pulang dulu, Kee. Bajunya diganti dulu. Itu kak Ryan mau pamit sama kamu." ucap mama masih berteriak. Langsung saja aku pamit pada dokter Ferdi dan Gibran. Dan mengatakan kalau nanti aku akan kesini lagi. Setelah keluar dari pagar aku melirik sedikit ke arah Dokter Ferdi dan Gibran, entah mengapa aku merasa mereka sedang terlibat percakapan serius. Entah benar, atau hanya perasaanku saja. Saat sudah berada di ruang keluarga, dapat kulihat papa dan mama, kak Ryan yang sudah rapi dan wangi. Dan sangat sangat kaget saat mendapati seorang perempuan cantik, berdiri tepat disamping kak Ryan. Rambutnya yang bergelombang ia ikat satu dan diletakkan di bahu sebelah kanan. Baju kaos berwarna putih lengan panjang serta jeans melekat pada tubuh tingginya yang langsing. Terlihat sempurna menurutku. "Assalamualaikum." ucapku lalu menyalami semua yang ada disana. Saat menyalami mama, dapat kudengar mama berbisik pelan padaku. "Ganti baju sana, tapi jangan baju yang aneh aneh, mama tau kalau kamu mau balik lagi ke rumahnya dokter Ferdi. Jadi cari baju yang panjang kalo bisa." Dan langsung saja kujawab dengan suara yang lumayan besar sambil menaiki tangga, "iya, ntar pake mukenah sekalian." Aku memasuki kamar dan langsung melakukan kegiatan seperti biasa, ganti baju, ambil wudhu, shalat. Setelah melakukan semuanya, aku langsung berdiri di depan kaca. Melihat penampilanku. Kaos lengan panjang dengan sebuah tulisan be brave menjadi pilihanku. Dan celana jeans selutut menurutku tidak buruk. Setelah itu aku langsung keluar kamar dan melihat mereka sudah tertawa tak jelas. Aku memilih duduk di sebelah mama. Dan dengan cepat mama merangkul tubuhku ke dalam dekapannya. "Ini ni Syilla, anak bungsu kesanyangan tante sama om, adik kesayangan Ryan juga. Paling bandel nih." apaan sih mama. Aku mana pernah bandel. Tapi setelah itu pandanganku hanya fokus pada perempuan yang dipanggil Syilla tadi. "Hai kak, aku Keenan. Aku nggak bandel kok kak. Mama aja yang nganggep aku bandel. Habisnya mama suka ngiri sama aku, karna papa sama kak Ryan sering manggil aku anak manis." ucapku lalu berpindah duduk ke samping kak Syilla sebelum mama mencubit pipiku. "Hai, nama kakak Syilla." ucap kak Syilla sambil tersenyum manis. "Siapanya kak Ryan kak?" aku yang bertanya pada kak Syilla harus mengalihkan pandangan pada kak Ryan karna dialah yang menjawab pertanyaan tersebut. "Kakak rasa kamu nggak keberatan kalo kamu bakal punya kakak lagi." "Maksudnya?" tanyaku masih nggak ngerti. "Kak Syilla bakal jadi kakak ipar kamu sebentar lagi. Kamu setujukan?" pertanyaan kak Ryan membuatku mengangguk semangat. Tentu aku setuju. "Jadi sekarang mau kemana?" "Kakak mau balik sebentar dulu ke Bandung, mungkin buat beberapa hari, ada yang harus kakak urus sekalian mau liburan." ucap kak Ryan membuat alisku terangkat sebelah. "Kak Syilla mau diajak liburannya cuma ke Bandung doang? Duitnya kak Ryan kan banyak tuh kak, masa cuma yang deket sini doang." ucapku, dan dapat kulihat muka kak Ryan memerah karna menahan geram sepertinya. "Nggak papa cuma Bandung doang, seenggaknya kita masih sama-sama." jawaban kak Syilla membuatku kaget sekaligus tersenyum. Aku yakin, kak Syilla perempuan baik-baik. "Yaudah, ntar hati-hati. Keenan mau keluar dulu." pamitku. "Mau kemana, Kee?" tanya papa. "Mau ke rumah dokter Ferdi, pa." ucapku lalu langsung pergi sebelum kak Ryan mengatakan yang tidak-tidak di depanku. Aku berjalan keluar rumah, dan saat sampai diluar, aku kaget karna menyadari ada yang tidak beres. He. He. He. Semoga nggak pada bosen ya sama ceritanya:) Oh iya, jangan malu buat nekan tombol bintangnya ya kalau kalian suka sama cerita ini:*{}  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD