Setelah semua orang termasuk Reynand keluar dari kamarnya, Fara membuka kedua matanya. Pandangannya tertuju pada langit-langit kamar yang dihiasi lampu. Tanpa sadar ia menghela nafas.
“Apa yang aku pikirkan sekarang? Apa aku memikirkan bagaimana nasibku menikah dengan pria psikopat gila itu atau justru… memikirkan Alex?”
Mengingat nama Alex membuat Fara menutup matanya kembali. Otaknya mengingat semua kenangannya dengan Alex tanpa keinginan sang empu. Fara menggeleng kepalanya cepat untuk menghilangkan semua pikiran masa lalunya. Baginya, Alex tidak lebih baik dari pria b******k.
“Reynand,” gumam Fara menyebutkan nama laki-laki yang beberapa detik yang lalu menciumnya dan membuka kedua matanya kembali.
Pandangannya menajam pada lampu yang menggantung di plafon kamarnya. “Reynand juga tak jauh beda dengan Alex. Aku harus menjaga diriku darinya. Terutama dari pesonanya yang mematikan itu,” gumamnya.
Fara mendesah kesal, “Aku tidak bisa menikah dengannya. Dia juga bukan pria yang baik. Aku harus melakukan sesuatu. Aku yakin dia pasti akan mengancamku tentang kejadian kemarin malam.”
Fara meraih ponselnya dan duduk bersandar pada bantal yang ditumpuk. Ia mencari kontak nama yang sudah sangat di kenalnya. Ia ingin meminta bantuan orang tersebut meskipun dirinya tidak yakin apakah orang yang akan di hubunginya bisa membantu masalahnya kali ini.
“Halo, Mes…” sapa Fara pada penerima panggilan.
“Fara? Eh kamu katanya sakit. Gimana keadaannya sekarang?”
“Itu nggak penting Mes, yang penting saat in–”
“Apa kamu bilang? Nggak penting? Astaga Fara! Aku tahu kamu lagi patah hati tapi jangan gitu juga kali, ngebahayain diri sendiri dan nggak peduli pada diri kamu cuma gara-gara Alex,” omel Mesti.
Fara memutar bola matanya mendengar nasehat konyol dari sahabatnya itu. “Bukan itu maksud aku Mes. Oke aku bakal jawab. Keadaan aku baik-baik saja sepuluh detik yang lalu,” jawab Fara sedikit kesal.
“Apa? Sepuluh detik yang lalu?” Mesti justru terkekeh mendengar jawaban Fara, “Kok bisa?”
“Iya karena kamu nggak mau dengerin penjelasan aku dulu dan langsung ngomel-ngomel suka hati kamu. Aku butuh bant–” panggilannya tiba-tiba saja terputus.
“Halo Mes… Halo Mesti!! Halo!!”
Fara melihat layar ponselnya dan mendesah kesal saat mengetahui sambungan teleponnya sudah terputus.
“Ih kok malah dimatiin sih. Dasar nenek lampir,” gerutu Fara dan kembali meneleponnya. Kalau saja ini bukan hal yang penting untuk Fara, mungkin ia sudah tidak mau meneleponnya kembali.
“Maaf, pulsa Anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini. Segera isi ulang pulsa–” Fara mematikan panggilannya karena mendengar suara operator perempuan yang menjawab teleponnya. Fara menaruh kembali ponselnya diatas nakas dan kembali berbaring.
***
Pagi ini Fara tidak bekerja karena tidak mendapatkan ijin dari orang tuanya. Fara bekerja sebagai sekretaris disalah satu perusahaan milik orang tuanya yang bergerak di bidang pertambangan bahan bakar dan minyak bumi. Awalnya Tn. David ingin putri tunggalnya itu menggantikan posisinya namun Fara menolaknya. Fara lebih suka menjadi sekretarisnya saja karena baginya itu adalah pekerjaan paling mudah.
Fara keluar dengan memakai kaus putih lengan pendek dan celana jeans yang mempunyai lubang dibagian lututnya. Kaca mata hitam bertengger di hidungnya dan tas ransel ukuran sedang menggantung di punggungnya. Serta sepatu converse yang melengkapi penampilannya yang terkesan santai. Sekilas orang melihatnya pasti berpikir kalau dirinya bukan seorang wanita yang merupakan anak tunggal dari konglomerat.
“Fara, kamu mau kemana sayang?” pertanyaan Ny. Retno membuat Fara menghentikan langkahnya menuju pintu rumah. “Dan… kenapa kamu berpakaian seperti ini sayang?”
Fara tersenyum, “Aku cuma ingin keluar sebentar Ma, nggak lama kok. Cuma mau beli pulsa sama mau ketemu Mesti.”
“Beli pulsa kan bisa lewat ponsel kamu sendiri, atau nanti biar Mama yang beliin. Dan biar Mesti aja yang jengukin kamu sayang. Kan kamu masih sakit.”
Itulah alasan kenapa Fara lebih memilih tinggal di apartemen ketimbang di rumah. Orangtuanya selalu saja berpikir buruk saat Fara sedang ingin pergi keluar. Fara memang bisa membeli pulsa melalui ponselnya sendiri, tapi dia ingin keluar dan sekalian membeli pulsa di outlet.
“Ma, aku sudah sehat kok. Lagian nggak lama juga perginya. Aku janji nanti jam dua siang aku sudah pulang,” ujar Fara mencoba meyakinkan ibunya.
“Biar Rey aja yang–”
“Ah nggak Ma. Nggak usah. Aku bisa pergi sendiri Ma. Lagian mungkin aja kan Reynand sedang sibuk. Lebih baik mama jangan ganggu jam kerjanya dia. Kasihan dia Ma,” potong Farad an merayu mamanya.
Fara tersenyum simpul saat Ny. Retno menghela nafas dan tersenyum. “Baiklah. Jangan lama-lama perginya yah. Kalau sampai jam dua kamu belum pulang terpaksa nanti Mama suruh Reynand buat jemput kamu.”
“Oke oke Ma.”
Fara tidak ingin lama-lama membicarakan lelaki yang menurutnya adalah psikopat gila. Dirinya pun langsung pamit pergi.
***
Ditengah jalan Fara menepikan laju mobilnya dan keluar menghampiri salah satu outlet pulsa.
“Mau isi pulsa, Neng?” tanya pria penjual pulsa itu ramah.
Fara hanya tersenyum tipis. Ia mengambil pulpen dan berencana untuk menuliskan nomer ponselnya di atas kertas. “0852...” Fara terdiam sejenak untuk berpikir.
“Mau isi yang berapa neng?" Pria itu mencoba bertanya kembali namun Fara masih diam untuk berpikir berapa nomer ponselnya karena ia tak menyimpannya.
Fara mulai bergumam seorang diri, “0852... Aduh berapa ya? 52...3456… Mungkin... Eh kok aku jadi ngitung angka gini.”
Fara menggerutu pada dirinya sendiri karena tidak mengingat nomer ponselnya sedangkan pria penjual pulsa itu menatapnya kebingungan. “Lupa nomer ponselnya yah, Neng?” tanya penjual pulsa memastikan.
Fara mendongak. “Iya, Mas. Boleh pinjem ponselnya nggak?” tanyanya ragu-ragu.
Pria itu memberikan ponselnya dan Fara mulai menekan nomer Mesti dari ponselnya.
“Halo Mes.”
“Ada apa Far?” jawab penerima telepon tersebut.
“Tolong dong kirimin nomer ponselku. Sekarang yah.”
Fara langsung mematikan teleponnya dan beberapa detik kemudian ponselnya bergetar karena dapat pesan dari Mesti. “Ini mas, makasih yah,” ujar Fara sembari mengembalikan ponselnya dan langsung membuka pesan dari Mesti.
Setelah pesan Mesti terbuka, Fara kembali memegang pulpen untuk menuliskan nomer ponselnya. Setelah itu, ia menyodorkan kertasnya pada pria itu dan pria itu menatap nomer ponsel Fara dengan terkejut.
“Ini nomer ponselnya, Neng?” tanya pria itu menatap Fara keheranan melihat nomer ponsel Fara yang mempunyai angka kembar enam digit terakhir dan terlihat mudah jika dihafal..
“Iya. Diisi yah sekarang, lima puluh ribu. Penting Mas. Lagi darurat. Ini uangnya. Kembaliannya buat bayar pulsanya Mas saja yang tadi aku pakai,” ujar Fara dan memberikan selembar uang ratusan ribu pada pria itu.
Pria itu menatap Fara heran dan menggeleng-gelengkan kepalanya namun Fara tidak mempedulikan responnya. Dia pasti berpikir kalau Fara bodoh bukan? Fara tidak bodoh. Ia hanya sedikit pelupa saja. Fara sangat tidak suka bermain dengan angka-angka karena dirinya sering lupa.
Setelah nomer ponselnya sudah terisi pulsa, Fara langsung menghubungi Mesti untuk menemuinya di tempat yang sudah diberitahu Fara. Mesti pun menyetujuinya dan menyuruh Fara untuk menunggunya.
Saat Fara sedang membeli pulsa, ada seorang lelaki yang mengamatinya dari kejauhan. Pria bertuxedo hitam di dalam sebuah mobil bugatti hitamnya. Awalnya dia menolak untuk mengawasi calon istrinya itu. Namun karena ibunya Fara meminta bantuannya dan membujuknya halus, jadi pria itu tidak bisa menolaknya. Melihat Fara sudah kembali melajukan mobilnya, pria itu mengikutinya menuju sebuah tempat.
Mobil Fara berhenti di sebuah bangunan yang menghadap sungai. Bangunan ini terlihat seperti rumah susun namun tak terlihat ramai di dalam. Fara berjalan masuk dan menaiki setiap anak tangga hingga mengantarnya sampai di bagian tertinggi bangunan tersebut, yaitu di atap bangunan tua itu. Reynand pun mengikutinya dan sekarang berdiri di belakang Fara. Fara tidak menyadari keberadaan calon suaminya tersebut, dia justru mengeluarkan seplastik makanan ringan dari dalam tasnya dan segelas coffelatte yang dibelinya saat di jalan.
Fara membuka plastic makanan ringan tersebut yang ternyata berisi biskuit coklat berukuran kecil. Fara menikmati rasa dari biskuit tersebut dan sesekali menyeruput minumannya. “Wah ternyata makan di sini lebih enak dan pemandangannya juga lebih bagus,” ujar Fara pada dirinya sendiri.
Fara terlihat seperti sedang mengajak biskuitnya berbicara. “Hei biskuit coklat. Gimana sih caranya biar rasa dalam hidup aku itu semanis rasamu? Hmm?” Fara mengerucutkan bibirnya lalu menaruh kotak biskuit itu di depan kakinya yang tersilang. Tangan kanannya mengambil ponselnya dan menekan kontak nama Mesti.
“Halo Mes. Kamu kapan datangnya? Aku sudah nungguin kamu dari tadi,” omel Fara.
“Aku lagi di jalan. Bentar yah. Sepuluh menit lagi nyampe kok.”
Fara mematikan sambungan teleponnya dan kembali menikmati biskuitnya. Reynand masih berdiri lima meter di belakang Fara. Kedua tangannya terlipat di depan d**a bidangnya. Reynand mengamati Fara tanpa mengganggunya.
“Yah… kok habis sih,” gumam Fara menahan kesal.
Fara pun bangkit dan berencana ingin membeli beberapa bungkus makanan di bawah agar dirinya tak bosan menunggu Mesti. Fara membalikkan tubuhnya dan berniat untuk turun. Namun dirinya berdiri kaku di tempat melihat Reynand berada di depannya yang menatapnya intens. Melihat ekspresi Fara yang terkejut, Reynand melangkah maju mendekati Fara.
“Mau apa kamu? Bagaimana kamu tahu aku ada disini?” tanya Fara.
Suara Fara terdengar bergetar dan tubuhnya menegang. Fara tidak tahu efek yang diberikan Reynand mampu membuatnya berdiri ketakutan.
“Berhenti. Jangan mendekat!” sentak Fara.
Reynand tidak mempedulikan ucapan Fara hingga dirinya hanya berjarak sepuluh senti saja. Menyadari jarak dirinya dan Reynand sedekat itu, Fara melangkah mundur dan diikuti Reynand. “Sampai kapan kau akan berjalan mundur, heh? Sampai kau jatuh?” tanya Reynand sembari mengikuti langkah Fara.
Fara menoleh ke belakang dan terkejut karena jika dirinya melangkah dua langkah lagi, dia pasti akan jatuh dari ketinggian tiga puluh meter. Fara kembali menatap Reynand. “Aku bilang berhenti!” teriak Fara.
Reynand menghentikan langkahnya dan menyeringai. “Tapi sayangnya aku tidak bisa berhenti, Calie,” bisik Reynand. Terkejut mendengar bisikan Reynand, tanpa sadar Fara melangkah mundur dan …
“Aaaaa!!!!” teriak Fara.
Tangan kanan Reynand memegang erat pinggang Fara dan tangan kirinya berada pada kepala Fara lalu menarik tubuh Fara beberapa langkah kearah belakang. Fara masih memejamkan kedua matanya karena shock dan memeluk Reynand erat. Reynand mengelus lembut punggung Fara. Tak lama Reynand melepaskan pelukannya dan menatap wajah Fara. Reynand sedikit terkejut karena Fara sekarang menangis. Merasa sedikit bersalah karena sudah mengerjai Fara melebihi batas, Reynand menyentuh pipi Fara dan menghapus air matanya.
“Ak-aku takut ketinggian,” bisik Fara.
“Kalau kau takut kenapa ada di sini?”
“Karena ini terlihat menyenangkan,” jawab Fara polos.
Masih belum percaya mendengar jawaban Fara, Reynand hanya menggelengkan kepala pelan.
“Fara?!” teriak Mesti dan berlari menuju Fara dan Reynand.
Mesti menatap mereka berdua dengan tatapan bingung. “Kalian kok di sini berduaan?” Fara melepaskan tangan Reynand dari wajahnya dan bergerak menjauhinya. Melihat tingkah Fara membuat Mesti curiga. “Jadi… Fara, kamu ngajak ketemu di sini cuma mau bilang kalau kalian… jadian?” tanya Mesti dan memandang Fara dan Reynand bergantian.
“Lebih tepatnya akan menikah,” jawab Reynand mantap membuat Mesti membelalakkan kedua matanya.
“Apa?!” tanya Mesti tak percaya sedangkan Fara hanya melirik tajam kearah Reynand. Reynand menggidikkan kedua bahunya dan menyeringai.
“Kapan? Kapan kalian akan menikah?” tanya Mesti dan menggoyang-goyangkan kedua lengan atas Fara.
Reynand merangkul Fara dan menariknya ke dalam pelukannya. “Aku rasa Fara belum terlalu sehat. Jadi aku ingin mengantarnya pulang sekarang,” ujar Reynand. Fara melepaskan rangkulan Reynand.
“Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri!” ujar Fara kesal.
“Udah deh Far, mending kamu pulang saja. Lagipula apa yang di katakan calon suami kamu itu benar kok. Kamu kan masih sakit,” timpal Mesti.
Reynand kembali merangkul Fara. “Ayo pulang sayang,” Fara melirik tajam kearah Reynand dan Reynand mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Fara, “Atau aku akan membongkar semua tentang kemarin malam.”
Tubuh Fara kembali menegang mendengar ancaman Reynand. Setelah tubuhnya sedikit rileks akhirnya Fara mengikuti kemauan Reynand dengan terpaksa.
***