Sepanjang jalan Fara hanya diam dan menatap lurus ke depan. Reynand juga ikut diam membuat suara napas mereka dan suara mesin yang terdengar. Reynand tidak membawa Fara pulang melainkan menuju kearah sebuah restoran di bilangan kota Jakarta. Sampai di depan Restoran Bamboo kuning, Reynand turun dari mobil dan diikuti oleh Fara. Dia berjalan memutari mobilnya dan menggandeng Fara masuk ke dalam.
“Aku ingin berbicara empat mata denganmu.”
Semua mata tertuju pada mereka dan lebih tepatnya tertuju pada pria psikopat gila yang menggandeng Fara menuju meja nomer 13. Mereka pun duduk berhadapan. Fara sempat menangkap basah beberapa pasang mata wanita yang menatap Reynand secara terang-terangan. Fara menghela napas dan mengumpat di dalam hati.
Apa mereka tertarik padanya? Astaga! Setiap wanita normal pasti akan tertarik dengan ketampanan wajahnya. Tapi saat mereka tahu seperti apa kelakuan licik pria ini, aku yakin mereka akan berpikir dua kali untuk mengajaknya berkencan.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Reynand dan mengikuti arah bola mata Fara. Namun Fara hanya diam dan kembali menoleh kearah Reynand yang sedang menyeringai. “Aku sudah terbiasa mendapatkan tatapan itu. Jadi kau harus membiasakan dirimu,” ucapnya penuh kesombongan.
Fara menaikkan sebelah alis. “Terbiasa? Untuk apa? Lagi pula aku tidak mau pergi denganmu lagi!” jawabnya sinis.
Reynand tidak mempedulikan jawabannya, dia justru memanggil waiter untuk memesan makanan. “Aku tahu kau belum makan. Jadi kita makan dulu, setelah itu ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu!” ujarnya dingin.
Fara menggulingkan bola mata dan membuka buku menunya. Fara memesan steak dan satu gelas jus lemon sedangkan Reynand hanya memesan satu gelas jus lemon yang sama dengan Fara. Fara tidak ingin menanyakan kenapa pria yang sedang duduk di depannya tidak memesan makanan karena itu bukan urusannya. Mungkin untuk saat ini.
Reynand memang menepati perkataannya, dia membiarkan Fara menghabiskan makanannya tanpa mengganggunya sama sekali. Setelah Fara selesai makan, tiba-tiba Reynand mengeluarkan beberapa lembar kertas yang sudah tersusun rapi oleh paper clip. Dia menyodorkan kertas itu pada Fara.
Fara menerimanya dan menaikkan sebelah alisnya.
“Baca saja!” perintah Reynand.
Fara mulai membuka lembaran demi lembaran. Awalnya ia bersikap biasa saja saat membaca halaman pertama namun saat membaca halaman kedua, bola matanya membelalak tak percaya.
Agreement:
· Pihak Pertama dan Pihak Kedua akan melangsungkan pernikahan kontrak dengan jangka waktu satu tahun di mulai dari hari pertama pernikahan.
· Pihak Pertama dan Pihak Kedua tidak boleh menjalani hubungan dengan pihak ketiga selama waktu perjanjian kontrak berlangsung.
· Pihak Kedua harus menuruti semua keinginan Pihak Pertama selama kontrak berlangsung.
· Pihak Kedua dapat melaporkan Pihak Pertama jika terjadi kekerasan pada Pihak Kedua yang dilakukan oleh Pihak Pertama.
· Pihak Kedua harus memberikan hak asuh anak pada Pihak Pertama jika Pihak Kedua melahirkan seorang anak dari Pihak Pertama.
· Pihak Kedua dan Pihak Pertama dapat menjalani hubungan dengan Pihak ketiga setelah perjanjian pernikahan berakhir.
· Pihak Kedua harus siap berpisah dengan Pihak Pertama saat perjanjian pernikahan sudah berakhir.
· Pihak Kedua tidak diijinkan mencintai Pihak Pertama begitupun sebaliknya.
· Pihak Kedua bisa meminta bantuan apapun pada Pihak Pertama saat perjanjian pernikahan berlangsung.
· Pihak Kedua harus tinggal di dalam apartemen maupun rumah Pihak Pertama.
· Pihak Pertama akan merahasiakan tentang kejadian di waktu malam bersama dengan Pihak Kedua.
· Jika diantara salah satu pihak mengingkari perjanjian diatas maka perjanjian dianggap batal.
Demikian surat ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan tanpa ada paksaan dari kedua pihak maupun dari pihak lain.
Tertanda,
Pihak pertama Pihak Kedua
Reynand Adelardo Myles Larina Faranisa Dawson
Fara sedikit bingung dan tidak percaya terlebih saat membaca poin yang mengatakan tentang hak asuh anak. Apa dia berencana ingin memiliki anak dariku? Sedangkan pada akhirnya kami akan berpisah? batin Fara.
Belum dijalankan saja sudah membuat Fara bergidik ngeri membayangkan nasib anak mereka nantinya apalagi jika itu akan benar-benar terjadi. Fara menatap tajam kearah Reynand yang sedang memperhatikannya sembari menyeruput jus lemonnya.
“Kenapa kau membuat perjanjian seperti ini?”
Reynand menyeringai lalu bersandar pada punggung kursinya, kaki kirinya dia silangkan dan menindih kaki kanannya sedangkan kedua tangannya di lipat di depan d**a bidangnya. Tatapan Reynand terlihat sedang mencemooh Fara.
“Kedua orang tuamu yang ingin aku menikah denganmu. Jadi aku tidak bisa menolak keingian mereka sekaligus keinginan orang tuaku dan sebenarnya aku tidak mau menikah denganmu. Daripada aku harus hidup lama denganmu jadi lebih baik kita kawin kontrak saja. Itu sangat menguntungkan untuk kita.”
Fara mengerutkan keningnya. “Menguntungkan? Kau bilang ini menguntungkan kita?! Justru kau membunuhku secara perlahan dengan cara memisahkan aku dengan anakku nantinya. Kalau kau memang ingin aku punya anak darimu seharusnya hak asuh jadi milikku!”
Reynand terkekeh, dia merubah posisi duduknya, sekarang kedua tangannya berada di atas meja. “Kau ingat kejadian malam itu?”
“Jangan mencoba mengancamku lagi!”
“Aku tidak mengancammu, aku hanya ingin memberitahumu kalau waktu itu mungkin kau lupa...” Reynand berdiri dari kursinya dan melangkah mendekati Fara. Badan Reynand sedikit membungkuk dan mendekatkan bibirnya kearah telinga Fara membuat Fara terkesiap, “Kalau aku tidak mengunakan pengaman,” bisik Reynand.
Fara membulatkan matanya dan Reynand mencium telinga Fara sebelum kembali melanjutkan ucapannya. “Aku rasa benihku sedang tumbuh di rahimmu sekarang.” Fara sudah tidak bisa berkutik. Tubuhnya terasa kaku dan pandangannya lurus ke depan. Batinnya meruntuki dan memaki dirinya sendiri atas kejadian malam itu.
Reynand membenarkan posisinya dan duduk di kursi sebelah Fara. Tangan kirinya memegang tangan kanan Fara yang sudah dingin dan berkeringat. Reynand tersenyum tipis karena sudah membuat Fara tidak berkutik. “Aku tidak bisa membayangkan kalau kau hamil dan anak kita tidak tahu siapa bapaknya dan aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuamu saat tahu kalau kau hamil di luar nikah,” ujar Reynand santai.
Kedua bola mata Fara sudah memerah dan berair karena tidak sanggup membayangkan semua perkataan Reynand akan menjadi kenyataan. Bagaimana nasib janin bayinya jika memang dia benar hamil? Dan bagaimana nasib kedua orangtuanya yang menahan malu atas dirinya?
“Niatku baik. Aku hanya ingin membantumu dan anak kita saja. Itu juga terserah padamu,” imbuh Reynand lalu memberikan sebuah pulpen pada telapak tangan kanan Fara yang terbuka, “Silakan pilih keputusanmu. Kita tidak bisa lama-lama menunda pernikahan ini sebelum janinnya semakin tumbuh.”
Fara justru masih diam dan kini meneteskan air mata. Dia bingung dengan pilihan yang harus dia ambil. Pikiran dan hatinya sedang bertengkar saat ini. Reynand mencium pipi kiri Fara membuat Fara sadar dan tersentak lalu menoleh kearah Reynand. Reynand tersenyum manis dan mengarahkan pandangan Fara pada lembaran kertas di depannya.
“Jangan menangis. Itu bukan pilihan yang sulit, Calie.”
Fara menatap nanar pada selembar kertas itu. Kedua matanya tertutup pelan sejenak dan membukanya kembali. Berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya, Fara menarik nafas panjang. Digenggam pulpen itu dan diarahkannya pada selembar kertas untuk menandatangani isi perjanjian itu.
Tuhan, yakinkan aku jika ini pilihan terbaikku, batin Fara.
Akhirnya Fara menandatangani perjanjian tersebut dan langsung diambil kembali oleh Reynand. “Kerja yang bagus,” puji Reynand dan mengelus lembut rambut brunette Fara. Fara melirik tajam kearah Reynand yang sedang tersenyum manis atas kemenangannya. “Aku rasa pembicaraan ini sudah selesai. Ayo aku antar kau pulang.”
Reynand menarik kedua bahu Fara berdiri dan merangkulnya melangkah keluar restoran tersebut.
***
Perjalanan merka menuju rumah Fara kembali hening. Mereka berdua bergulat dengan pikirannya masing-masing.
Tuhan, jika memang ini keputusan yang harus aku ambil dan ini merupakan jalan hidupku. Aku hanya minta satu permintaan padamu, kuatkan aku saat aku melepaskan anakku nanti untuknya. Dan… jaga hatiku dari namanya, suaranya, sentuhannya bahkan segala tentangnya. Aku ingin jika waktunya nanti aku akan berpisah dengannya, justru menjadi hal terindah dalam hidupku, batin Fara.
Tuhan, aku tahu yang aku lakukan ini tidak benar. Kau tahu bukan janjiku lima tahun yang lalu saat wanita yang aku sayangi pergi dariku. Aku sudah berjanji padanya akan selalu berdiri di sini menunggunya kembali padaku kapan pun itu. Oleh sebab itu, aku melakukan perjanjian bodoh ini dengannya, karena aku takut saat wanita yang aku tunggu itu kembali aku sudah menyerahkan hatiku terlebih dahulu pada Fara sehingga membuatku tak bisa meninggalkannya. Aku hanya ingin Kau jaga hatiku dari Fara. Aku ingin menjaga cintaku demi wanita yang sudah lama kutunggu, batin Reynand.
Fara mengalihkan pandangannya dari jalanan lurus di depan matanya kearah kaca mobil.
“Perjanjian ini hanya kita saja yang tahu,” ujar Reynand memecahkan keheningan diantara mereka.
Fara masih diam dan tidak merespon ucapan yang di dengarnya. Pikirannya masih bergulat dengan nasib ke depan yang akan diterimanya nanti.
Setelah memakan waktu lima belas menit, mobil yang mereka tumpangi pun sudah berada di depan rumah Fara. Tanpa basa basi Fara langsung berjalan keluar mobil menuju rumahnya. Reynand tidak berniat ingin keluar dan menemui orangtua Fara karena pikirannya juga sedang kacau saat ini. Diapun melajukan kembali mobilnya menuju jalanan.
***
Satu bulan sudah berlalu setelah kejadian di mana Fara dan Reynand menyetujui perjanjian konyol diantara mereka dan Fara juga sudah kembali bekerja. Sedangkan pernikahan mereka akan dilakukan satu bulan lagi tepatnya 12 Juli mendatang. Jam istirahat makan siang Fara berniat ingin makan di luar. Dirinya pun melajukan mobilnya menuju salah satu restoran yang dekat dengan kantornya.
Hari ini dia ingin memesan makanan yang pedas. Fara tidak menyadari kalau dirinya tidak suka makanan pedas sejak dulu dan hari ini adalah pertama kalinya setelah sepuluh tahun tidak memakan makanan pedas. Satu mangkuk bakso spesial dan segelas es teh sudah terhidang di atas meja. Fara menaruh beberapa sendok sambal ke dalam mangkuk baksonya sebelum memakannya.
Saat kedua tangan Fara sudah memegang sempurna sendok dan garpu untuk melahap baksonya, sebuah suara yang memanggilnya membuatnya menoleh dan menunda acara makannya.
“Fara?!” panggil Mesti dan langsung duduk di depan Fara.
Mesti menatap bingung Fara dan semangkuk bakso berkuah merah padam yang sudah bisa dilihat mempunyai tingkat kepedasan sampai level sepuluh.
Fara tersenyum. “Eh kamu Mes. Mau makan? Pesen gih. Biar aku yang traktir,” ucap Fara dan kembali melanjutkan aktivitas tangannya untuk mengarahkan sendok makannya menuju mulutnya.
“Fara, kamu bukannya nggak suka sama bakso ya? Dan kamu kan juga nggak suka pedas? Kok sekarang kayaknya doyan banget makan tuh makanan yang dari dulu nggak kamu suka?” tanya Mesti bingung.
Fara tidak langsung menjawab pertanyaan Mesti, setelah mengunyah bakso dan menelannya, dia mulai menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya pelan. “Entahlah. Aku lagi ingin makan bakso aja. Kalau kamu juga mau, pesan sekarang saja,” jawab Fara santai.
Mesti masih bingung dengan jawaban Fara. Ini merupakan keajaiban kalau Fara tiba-tiba suka sama bakso dan makanan pedas. Pasalnya pertama dan terakhir kali Fara memakan bakso dirinya muntah-muntah tak karuan karena menurutnya rasanya aneh dan Fara selalu berpikir memakan bakso seperti memakan bola mata manusia. Lalu kenapa tiba-tiba dia memakan bakso dengan lahap?
“Far, kamu baik-baik saja kan?” tanya Mesti memastikan.
Fara mengangguk. “Iya. Aku baik-baik saja kok. Eh kamu cobain deh nih bakso rasanya nikmat banget. Pedasnya juga kerasa. Ayo coba.”
Mesti menggeleng dan dia mulai memesan makanan namun bukan bakso yang dia pesan, melainkan menu lain.
***
Fara melajukan mobilnya menuju apartemen. Sudah empat hari yang lalu dirinya kembali tinggal di apartemen dan kembali menyandang sebagai tetangga Reynand. Meskipun begitu, mereka tidak pernah bertemu satu sama lain ataupun menyapa satu sama lain. Mereka memang tinggal di tempat yang sama dengan ruangan yang berbeda namun bisa diakui kalau Fara sama sekali tidak pernah melihatnya keluar dari sarang apartemennya.
Fara berjalan gontai menuju pintu apartemennya dan membuatnya harus berjalan di lorong sepanjang dua puluh meter dari lift. Fara merasakan kepalanya kembali pusing. Tangan kanannya berpegangan pada dinding apartemen sedangkan tangan kirinya memegang kepalanya yang mulai terasa berdenyut.
Fara mulai meringis merasakan kepalanya seperti dihantam sesuatu benda berat dan menghentikan langkahnya, sedangkan Fara masih harus berjalan sepuluh meter lagi untuk sampai diapartemennya. Beberapa menit kemudian Fara melanjutkan langkahnya dan sekarang justru dirinya merasa perutnya sedang dikocok hebat membuat semua isi di dalam perutnya ingin dikeluarkan.
Tangan kanan Fara berpindah pada mulutnya untuk mencegah mengeluarkan isi perutnya diluar apartemennya. “Aduh… Kepalaku rasanya hampir pecah,” gumam Fara.
Fara memaksakan dirinya untuk cepat-cepat sampai di apartemennya. Sepasang tangan kekar menahan tubuhnya yang hampir jatuh diatas lantai. “Kau tidak apa-apa?” tanya pemilik tangan tersebut.
Fara kenal dengan suara itu, siapa lagi kalau bukan pria yang mempunyai nama psikopat gila dari Fara itu. Fara mendongak menatap wajahnya. “Kau sakit? Wajahmu pucat sekali,” tanya Reynand lembut.
Fara melepaskan bahunya dari genggaman Reynand dan menatapnya tajam. “Aku tidak butuh bantuanmu!” ujarnya dingin dan memaksakan diri berjalan cepat menjauhi Reynand.
Sampai di dalam apartemen. Fara langsung menuju kamar mandi untuk menuntaskan aktivitas mualnya. Setelah merasa sedikit membaik, Fara mengeluarkan sebungkus plastik kecil dari sakunya. Dibuka bungkusan itu dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Sepulang kerja Fara mampir ke sebuah apotik untuk membeli testpack karena dirinya merasa ada yang aneh. Sudah dua hari ini dia muntah-muntah tak jelas dan kepalanya juga sering sakit. Lima menit kemudian Fara keluar dari kamar mandi dan melihat hasilnya. Fara sangat berharap hanya ada satu garis di benda tersebut dan…
Positif.
Dua garis.
Tanpa sadar Fara meneteskan air mata di kedua matanya. Dirinya bersandar pada dinding kamar mandi. Apa dia sedih? Apa dia tidak menginginkan janin itu? Setidaknya bukan janin tapi karena Reynand. Dia meruntuki dirinya sendiri atas kelakuannya di malam itu. Kalau saja dirinya tak salah masuk kamar dan tidak menciumnya pasti ini semua tidak akan terjadi.
Pikirannya langsung melayang pada nasib janin di rahimnya. Dirinya memang bahagia karena ada janin di rahimnya tapi dirinya belum bisa menerima keadaan untuk berpisah dengannya. Fara berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuhnya.
“Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Aku belum siap kalau nantinya harus berpisah dengan bayiku sendiri,” ujar Fara di sela isak tangisnya.
Cukup lama Fara menangis hingga dirinya tak sadar kalau sekarang sudah berada di alam mimpi.
***
Pantulan cahaya yang menerobos gorden membuat Fara membuka kedua matanya. Fara berjalan lemah menuju kamar mandi. Dirinya merasa kurang sehat pagi ini jadi dia hanya memutuskan untuk mencuci wajahnya dan menggosok gigi saja. Fara tidak sedang ingin sarapan pagi ini. Dari bangun tidur sampai sudah jam tujuh dia terus saja mual dan pusing.
“Aku nggak boleh bolos kerja. Kalau aku sampai bolos pasti Papa bakal khawatir,” gumam Fara.
Fara mengenakan blus putih berlengan panjang dan memadukannya dengan syal untuk menghangatkan tubuhnya. Matanya masih membengkak namun Fara mengabaikan hal itu. Selesai berpakaian, Fara langsung keluar apartemen. Saat dirinya hendak menuju lift, kepalanya terasa dihantam oleh benda yang berat membuat kepalanya berputar-putar. Fara mendesah kesal karena perutnya kembali mual.
“Astaga. Ya Tuhan tolong aku. Aku ingin berangkat kerja hari ini,” gumam Fara sembari menutup mulutnya. Fara menyandarkan tubuhnya pada dinding apartemen. Pandangan matanya merabun sebelum akhirnya menjadi gelap.
Tubuh lemah Fara jatuh di sepasang lengan yang menopangnya. Reynand langsung menggendong Fara masuk ke dalam apartemennya dan menidurkannya di ranjang miliknya yang dulu pernah ditempati dirinya dan Fara.
“Far... Fara... Bangun…”
Reynand menepuk lembut pipi Fara mencoba membangunkannya, namun Fara belum juga membuka kedua matanya. Reynand pun menelepon seseorang. Sepuluh menit kemudian bel apartemen Reynand berbunyi. Reynand berlari keluar untuk membuka pintunya.
“Ada ap–”
Reynand langsung menyeret Dafa masuk dan menuju kamarnya, “Anakku sedang darurat!” ujar Reynand cemas.
Dafa mengerutkan keningnya, “Anak? Kau kan belum menikah.”
“Periksa keadaan wanita ini,” titah Reynand tanpa menjawab pertanyaan Dafa dan keterkejutan Dafa.
Dafa memulai memeriksa Fara dengan teliti. “Apa dia benar hamil?” tanya Reynand ragu-ragu.
Selesai memeriksa keadaan Fara, Dafa berdiri di samping Reynand dan menatap wajah Fara yang menunjukkan banyak beban yang dipikirkannya. “Aku belum tahu dia hamil ataupun tidak. Kita bisa mengetahuinya lewat USG. Saran aku, bawa dia ke rumah sakit untuk di periksa keadaannya. Saat ini yang bisa aku katakan padamu, dia hanya kelelahan dan butuh istirahat.”
Reynand menatap Fara, “Baiklah aku akan lakukan saran darimu itu.”
“Banyak yang ingin aku tanyakan padamu tentang hal ini tapi lain waktu saja. Aku sedang banyak kerjaan dan aku akan buatkan resep untuknya.” Dafa mengeluarkan sebuah kertas dari dalam kopernya dan mulai menuliskan resep untuk Fara. Lalu memberikannya pada Reynand.
“Jangan lupa bawa dia ke rumah sakit. Aku pergi dulu.”
Reynand mengangguk dan membiarkan Dafa pergi.
Sejenak Reynand memandangi wajah Fara lalu duduk di ranjangnya. Wajah Reynand mendekat kearah Fara lalu mencium tipis bibir dan kening Fara.
Reynand meninggalkan Fara sendirian di apartemen karena ada meeting yang sangat penting dan tidak bisa di tunda. Awalnya Reynand ragu untuk meninggalkan Fara karena Fara juga belum sadarkan diri. Sudah dua jam Fara pingsan dan akhirnya Fara kembali sadar. Perlahan dirinya membuka kedua matanya. Dirinya sempat berpikir beberapa detik untuk mengetahui keberadaannya.
“Ahh… kenapa aku ada di kamar sialan ini sih!” gumam Fara saat mengetahui siapa pemilik kamar ini.
Fara kembali merasakan mual dan berlari kekamar mandi. Napas Fara terengah-engah dan matanya kembali berair. Merasa lebih baik, Fara pun berjalan keluar kamar mandi menuju dapur untuk sedikit makan sesuatu. Dirinya merasa lapar saat ini.
Untung saja ada sekotak puding strowberry, beberapa potong kue, jajanan ringan serta beberapa minuman di dalam lemari es. Tanpa mempedulikan ocehan atau omelan yang akan diterima dari pria psikopat gila itu, Fara memakan semua makanan di dalam kulkasnya.
Selesai makan Fara berencana ingin keluar dari apartemen tersebut. Dirinya pun berjalan menuju pintu. Tangan kanannya memegang knop pintu dan saat ingin membukanya, “Loh kok dikunci?” gumam Fara.
Fara mencoba menarik pintu itu semakin kuat. Dirinya tak menyadari kalau ada seseorang membuka pintunya dari luar membuat Fara hampir terjatuh ke belakang. Namun lengan Reynand lagi-lagi mencegahnya. Reynand menarik Fara ke dalam pelukannya.
“Kau tidak apa-apa? Maaf aku tidak tahu kau ada di balik pintu,” ucap Reynand masih memeluk Fara.
Fara mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum melepaskan pelukan Reynand. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang saat Reynand menyentuhnya. Bahkan mendengar suara lembutnya saja membuat aliran darah Fara berdesir lebih cepat.
Apa yang aku rasakan? batin Fara.
“Calie, kau tidak apa-apa?” tanya Reynand sembari menangkup kedua pipi Fara.
Fara mengibaskan tangan Reynand. “Tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Fara dingin.
Jangan membuatnya takut Reynand. Kau harus membuatnya nyaman demi janinnya, batin Reynand.
Meskipun belum yakin apakah Fara memang hamil ataupun tidak, namun Reynand harus sedikit bersikap baik padanya. Dia menggandeng tangan Fara dan berjalan masuk ke dalam apartemennya.
“Mulai sekarang kau harus tinggal di sini. Satu bulan lagi kita menikah, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu dan anak kita.”
Fara menghentikan langkahnya membuat Reynand menoleh kearahnya, “Ka-kau tahu kalau aku hamil?”
Jadi benar kalau Fara memang hamil? Reynand tersenyum manis pada Fara, “Kalaupun kau tak mengatakannya, aku akan tahu karena dia juga anakku,” jawab Reynand.
Fara menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu membuat Reynand menariknya ke dalam pelukannya. “Besok aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk memeriksa usia kandunganmu. Mulai sekarang kau jangan memikirkan apapun. Aku tidak ingin keadaan janinnya menjadi lemah karena kau terlalu banyak memikirkan sesuatu. Aku yang akan menjagamu, jadi kau tak perlu takut padaku,” ucap Reynand sembari mengelus punggung Fara.
Aku takut padamu pria psikopat gila. Aku takut saat menerima kenyataan harus berpisah dengan anakku sendiri. Aku juga takut kalau aku akan jatuh ke lubang sandiwara ini. Kau tidak bisa menjagaku, tidak akan pernah bisa. Berada di dekatmu justru membuatku semakin banyak memikirkan sesuatu dan semakin aku harus menguatkan hatiku dari pesonamu itu, batin Fara.
Reynand melepaskan pelukannya. “Aku antar kau ke kamar untuk istirahat yah.”
Fara hanya mengangguk lemah. Saat ini dia tidak mementingkan gengsinya atau yang lain. Dia memang ingin istirahat kembali sehingga tak menolak saat Reynand membopong tubuhnya dengan kedua lengannya dan Fara mengalungkan tangannya pada leher Reynand.
Sepanjang jalan menuju kamar, Fara tidak berani menatap Reynand dan justru menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat. Reynand merebahkan tubuh Fara dengan hati-hati lalu mencium bibir Fara sejenak membuat tubuh Fara menegang.
“Istirahatlah. Aku akan menjagamu di sini,” ucapnya lalu menyelimuti tubuh Fara dan mengelus lembut rambut Fara.
Fara menatap bingung kearah Reynand karena sikapnya berubah drastis padanya. “Jangan menatapku seperti itu, tidurlah,” ujar Reynand dan Fara pun kembali menutup kedua matanya.
Dering ponsel Reynand berbunyi sehingga membuatnya berdiri menjauh dari Fara dan berjalan ke arah jendela.
“Iya Om…” jawab Reynand.
“Nak Rey apa kamu tahu kenapa Fara tidak masuk kerja dan ponselnya tidak bisa dihubungi?” tanya penelepon di seberang sana.
Reynand tersenyum, “Dia di apartemenku Om. Keadaannya sedang kurang sehat jadi aku menyuruhnya istirahat saja di apartemenku karena memang ternyata aku bertetangga dengannya.”
Terdengar helaan nafas lega, “Oh... begitu. Baiklah. Terima kasih banyak ya nak Rey sudah mau menjaga Fara. Nanti malam kami akan menjenguknya.”
“Iya Om. Faranya juga baru saja istirahat jadi nggak bisa bicara sama Om.”
Tn. David menggeleng kepalanya pelan, “Nggak papa nak Rey. Yang penting Fara sama kamu. Kalau begitu sampai jumpa ya nak Rey. Om lagi banyak kerjaan.”
“Oh. Iya Om.”
Sambungan teleponnya terputus dan Reynand kembali mendekati ranjang.
Memperhatikan wajah Fara sejenak sebelum pergi keluar kamar meninggalkan Fara seorang diri.
Jam makan siang ini Reynand hanya ingin memakan puding yang di buatnya tadi pagi. Namun saat Reynand membuka lemari esnya, dia terkejut karena semua makanan buatannya seperti puding dan kue bolu sudah tidak ada. “Astaga! Apa Fara memakan semuanya?” gumam Reynand heran dan kembali menutup pintu lemari esnya.
***
Reynand tertegun mendengar bel apartemennya berbunyi, begitupun dengan Fara. Reynand menghentikan makan malamnya sedangkan Reynand bangkit berdiri menghampiri pintu. Fara masih menunggu siapa tamu Reynand yang datang di waktu makan malam.
Samar-samar Fara mendengar suara kedua orangtuanya. Dia pun bangkit berdiri dan terkejut melihat kedua orangtuanya datang ke apartemen Reynand. Merasa takut bahwa papanya akan marah melihat dirinya sudah tinggal bersama dengan Reynand sedangkan mereka belum menikah, Fara menghampiri kedua orangtuanya dan berniat untuk menjelaskan keadaannya, bahwa mereka hanya menikmati makan malam bersama dan setelah itu Fara akan kembali ke apartemennya.
“Pa, Ma,” panggil Fara melihat kedua orangtuanya menoleh kearahnya.
“Fara, gimana keadaan kamu? Reynand tadi siang bilang sama Papa kamu kalau kamu sedang sakit,” tanya Ny. Retno khawatir saat Fara sudah di depan mereka.
Fara melirik kearah Reynand yang berdiri di sampingnya, “Aku sudah nggak apa-apa kok Ma, cuma… kecapean.”
“Kalian sudah makan malam?” tanya Tn. David.
“Kami sedang makan malam kok Om, Tante. Om sama Tante mau ikut makan malam?” tawar Reynand sopan dengan senyuman ramah di bibirnya.
“Kami sudah makan malam. Kami hanya ingin menjenguk Fara saja kok nak Rey,” balas Ny. Retno dan memegang tangan Fara.
“Om, Tante, silakan duduk dulu.”
Mereka berempat pun duduk di sofa bersama. Fara hanya diam mendengarkan kedua orangtuanya berbicara mengenai dirinya pada Reynand. Tidak ada tiga puluh menit, kedua orangtua Fara sudah pamit untuk pulang.
“Nak Rey, kita titip Fara yah. Kebetulan sekali kalian tetanggaan jadi kalau ada sesuatu, Fara bisa langsung meminta bantuan nak Rey,” ucap Ny. Retno.
“Tante nggak perlu khawatir tentang keadaan Fara. Aku pasti jagain Fara kok Tan,” balas Reynand.
“Kalau begitu kami pulang dulu ya nak Rey, Fara.”
Fara mengangguk lemas sedangkan Reynand melambaikan tangannya. Sesaat setelah kedua orangtua Fara masuk ke dalam lift, Reynand terkejut mendengar seseorang yang berdiri di sampingnya kini jatuh pingsan.
Reynand langsung menoleh kearah Fara dan terkejut melihat Fara sudah tergeletak di atas lantai, “Far… Fara bangun,” panggil Reynand pelan.
Reynand langsung menggendong Fara. Sepertinya Fara tidak bisa menunggu sampai besok untuk pergi ke rumah sakit. Wajah wanita itu sudah pucat pasi dan memang sejak siang Fara terlihat lemas. Reynand memasukkan Fara ke dalam mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Setelah memastikan Fara duduk dengan aman di dalam mobil, Reynand memutari mobil dan ikut masuk ke dalam mobil.
Mobil Bugatti itupun membelah jalanan padat di Jakarta. Reynand mencoba lebih cepat untuk sampai di rumah sakit. Dia pun membawa Fara ke rumah sakit yang lebih dekat untuk di jangkau. Jika dia pergi ke rumah sakit tempat Dafa bekerja, itu akan memakan waktu lebih lama.
***
“Bagaimana keadaannya Dok?” tanya Reynand.
“Keadaannya memburuk. Dia perlu istirahat,” ucap Dokter tersebut, “Usia janin istri Anda sudah memasuki dua minggu. Itu adalah fase rawan istri Anda bisa mengalami keguguran jika terlalu banyak memikirkan sesuatu sampai membuatnya merasa stress.”
Reynand tidak sadar jika dokter tersebut menyebut Fara adalah istrinya. Dia justru memperhatikan ucapan dokter mengenai keadaan Fara dan janinnya. Bagaimana Fara bisa memikirkan banyak hal hingga membuatnya stress? Reynand mengernyit bingung. Seingat dirinya, Reynand mencoba bersikap baik pada Fara seharian ini.
“Lalu, apa saya bisa membawanya pulang?”
“Saya sarankan biarkan istri Anda istirahat dan menginap di sini sampai keadaannya sudah lebih baik dari sebelumnya. Paling dua sampai tiga hari, Tuan.”
Reynand menghela napas pelan dan mengangguk pasrah, “Baiklah.”
***