Antara Perempuan Idaman Dengan Perempuan Pilihan Ayah
Tiiinnnggg...Tiiinnnggg...Tiiinnnggg...
Suara lonceng berbunyi tiga kali. Rhea segera menyambar tas ransel dan barang bawaannya yang lain yang sudah tertata rapih 10 menit sebelum lonceng berbunyi. Wajah Rhea terlihat sangat gembira. Dia keluar kelas sambil bersenandung riang.
“Rhea!”suara seorang lelaki memanggil namanya.
Rhea menghentikan langkahnya dan mencari sumber suara tersebut.
“Eh Nando!”seru Rhea.
“Rhea, kita pulang bareng ya. Ada yang pengen gue omongin sama lo,”kata Nando lembut sambil melempar senyum pada Rhea.
Meskipun Nando tersenyum, tapi Rhea merasakan senyum itu bukan senyum kebahagiaan. Rhea merasakan sesuatu yang getir di hati Nando.
“Okelah kalau begitu,”Rhea menyetujui permintaan Nando.
Mereka berdua melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir. Rhea berusaha menyejajarkan langkah kakinya dengan langkah kaki Nando yang panjang. Dia terpaksa berlari kecil supaya bisa berjalan di samping Nando.
“Duh...Pelan-pelan, Nando!”kata Rhea setengah berteriak.
Kaki Rhea tersandung anak tangga dan membuatnya nyaris terjatuh.
Untungnya Nando sigap menangkap badan Rhea yang sempoyongan.
“Maaf ya,”ujar Nando lembut.
“Iya, enggak apa-apa,”sahut Rhea cepat.
Rhea memandangi wajah tampan Nando. Dia melihat segurat kesedihan disana.
Setibanya di tempat parkir, Nando membukakan pintu mobil untuk Rhea. Setelah mengucapkan terima kasih, Rhea masuk ke dalam mobil jeep wrangler milik Nando.
“Nando, boleh enggak gue nanya sesuatu?”
Nando menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Rhea. Dia fokus mengemudikan mobil mewahnya.
“Lo lagi sakit ya?”
“Enggak. Kata siapa gue lagi sakit?” Nando balik bertanya.
“Muka lo beda.”
Nando tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat yang diucapkan Rhea.
“Muka gue beda? Ini muka yang setiap hari Sabtu ketemu lo loh. Gue belum tukar tambah apalagi oplas muka gue.”
“Maksud gue tuh muka lo kayak sedih banget. Kayak ada masalah. Kayak gitu loh.”
Nando tertawa kecil. Tangan kirinya iseng mengacak-acak rambut Rhea.
Rhea menepiskan tangan Nando dari kepalanya. Tanpa sadar Rhea mengenggam jari tangan Nando.
“Tangan lo dingin banget, Do. Lo sakit ya? Kalo lo sakit biar gue yang nyetir mobil,”tanya Rhea cemas.
Nando menggelengkan kepalanya.
“Gue enggak sakit. Tapi gue memang lagi ada sedikit masalah.”
“Masalah apa, Do? Ngomong aja. Siapa tahu gue bisa bantu lo,” sahut Rhea cepat.
“Kita ngobrol sambil makan ya. Kita ke warung makan steak langganan lo ya.”
Mobil jeep wrangler milik Nando meluncur di jalanan ibukota. Kondisi jalan yang licin akibat hujan yang turun tiba-tiba membuat Nando mengemudikan mobilnya dengan sangat hati-hati.
“Rhea...Rhea...kita sudah sampai,” kata Nando sambil menepuk-nepuk pipi Rhea dengan lembut.
Rhea terbangun. Dia memang sempat tertidur di tengah-tengah perjalanan.
“Turun sekarang yuk,”ajak Nando sambil tersenyum.
Rhea segera turun dari mobil begitu pintu mobil dibuka oleh Nando. Kedua sahabat itu pun berjalan sembari saling melempar guyon dan tertawa cekikikan.
Sifat Rhea yang periang dan manja mampu mencairkan suasana hati Nando yang sedang gundah gulana. Sesekali Nando tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Rhea.
Mereka disambut pelayan warung steak langganan Rhea. Rhea segera memesan seporsi french fries, seporsi crispy cheese steak dan chocolate milkshake kesukaannya. Disusul Nando yang memesan secangkir kopi dan seporsi french fries dan seporsi wagyu steak serta sebotol air mineral.
Nando mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya. Kemudian dia mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan api.
“Katanya lo udah berhenti ngerokok?”tanya Rhea cemberut. Rhea tidak suka mencium asap rokok sehingga beberapa kali dia mengibaskan tangannya setiap kali Nando menghembuskan asap rokok ke arahnya.
“Gue lagi stress.”
“Stress kenapa?”tanya Rhea penasaran.
“Gue dijodohin sama bokap. Gue dijodohin sama cewek yang belum pernah gue kenal sama sekali. Kesel gue. Gue kan cowok tapi bokap memperlakukan gue seperti memperlakukan Siti Nurbaya,”ujar Nando agak sedikit kesal.
Rhea yang mendengarkan Nando sedikit serius sampai kebingungan dibuatnya.
“Siti Nurbaya siapa, Do?”
Nando terkejut mendengar pertanyaan polos Rhea.
“Siti Nurbaya yang jadi tokoh utama Novel Siti Nurbaya karya Marah Roesli. Masa lo enggak tahu? Kan hobi lo membaca segala macam jenis novel?”
“Ah! Siti Nurbaya yang itu. Kirain gue lo tuh mau dikawinin sama Siti Nurbaya ART tetangga sebelah rumah lo. Hehehe,”timpal Rhea sambil tertawa geli.
Nando menepuk jidatnya sendiri.
“Lo tuh ya gue lagi serius malah dibecandain.”kata Nando ngambek.
“Maaf, maaf. Terus lo mau dijodohin?”
“Ya enggak lah. Kan gue enggak kenal.”
“Terus gimana dong? Piye atuh?”
“Gue ditempeleng bokap. Katanya enggak bisa enggak.”
Muka Nando memerah. Tangannya mengusap mukanya berulang kali agar bisa menahan emosi.
Rhea kaget melihat Nando bersikap seperti itu. Dia pun berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Do, tadi waktu di kelas, gue duduk di sebelah Bianca, gebetan lo. Kayaknya dia juga suka sama lo deh. Dia nanya-nanya lo gitu, Do.”
Emosi Nando perlahan surut. Seuntai senyum manis terbentuk di bibir Nando yang memiliki wajah rupawan. Nando merasa terhibur dengan kebohongan yang disampaikan Rhea. Dia tidak tahu bahwa sahabatnya hanya ingin menghibur dirinya saja. Faktanya Bianca mengutarakan perasaannya yang sangat dalam kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.
Rhea menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Tiba-tiba dia merasa gelisah sendiri melihat senyum manis Nando.
“Ceritain dong,”pinta Nando lembut.
“Ceritain apa?”tanya Rhea bingung.
“Kok bisa Bianca nanyain gue mulu?”
“Lah mana gue tahu. Gue bukan cenayang yang bisa menebak isi otaknya dia,”tukas Rhea sambil memonyongkan mulutnya.
Di satu sisi, dia lega karena Nando mulai tenang. Di sisi lain, dia gelisah karena tidak terbiasa berbohong.
“Eh kalo kita ajak nonton Bianca Sabtu depan gimana? Pulang kursus kita ajak dia nonton!”ajak Nando setengah berseru.
Rhea mulai merasa was-was. Dia tidak mau kebohongannya berlanjut dan menyakiti sahabatnya itu.
“Hhhhhhmmm kayaknya Bianca enggak suka nonton deh. Dia lebih suka kulineran.”
Rhea tahu Nando tipe orang yang tidak suka kulineran makanya dia sengaja berkata demikian.
Tapi...
“Ya udah kita kulineran Sabtu depan. Bareng Bianca.”
Jantung Rhea berdegup kencang. Rhea tidak tahu harus berkata apa lagi kepada Nando.
“Tapi...,”kata Rhea menggantung.
Dia benar-benar bingung. Niatnya menghibur Nando berubah menjadi masalah buat dirinya.
Rhea merupakan gadis berparas cantik. Tapi hatinya tak kalah cantik dari wajahnya. Dia gadis yang baik hati, periang, suka menghibur orang dan tidak suka berbohong jika tidak sangat terpaksa.
“Rhea, kok lo diam aja sih?”
“Eh iya...Ya udah...Ya udah...”kata Rhea gugup.
Nando memandangi Rhea sambil mengerutkan kening.
“Apa?”tanya Nando lagi.
“Eh iya maksud gue, gue kondisikan dulu ke Biancanya. Ntar deh gue omongin ke Bianca ya.”
Akhirnya Rhea menjawab dengan tenang dan santai.
Nando tersenyum. Dia tidak bisa menahan tangannya untuk menjawil pipi Rhea yang tembem.
“Makasih ya, Rhea cantik.”
Tidak lama kemudian makanan yang dipesan pun diantar oleh pelayan. Mereka melanjutkan obrolan mereka sambil makan. Lagu judul Bintang Kehidupan milik Nike Ardilla menambah suasana hati Rhea menjadi semakin galau. Sedangkan sahabatnya yang sudah bersahabat dengannya selama 2.5 tahun belakangan sama sekali tidak mengetahui isi hati Rhea kepadanya. Sesungguhnya rasa sayang Rhea kepada Nando kini berubah menjadi rasa sayang sebagai seorang lawan jenis. Rhea mengagumi Nando yang dinilainya sangat gentle sebagai seorang lelaki. Selain itu, prestasi Nando juga tidak main-main. Nando adalah lelaki multitalenta yang punya prestasi di berbagai bidang. Di bidang olahraga renang dan taekwondo, dia sudah beberapa kali meraih medali emas tingkat provinsi. Di bidang seni suara, Nando dan teman-temannya telah berhasil menjuarai lomba paduan suara waktu SMA di Massachusetts, Amerika Serikat. Dan yang tidak kalah keren, Nando pernah menjuarai lomba fisika dan robotik tingkat internasional mewakili Indonesia.
“Aku kasihan sama Nando. Tapi dia sudah kadung jatuh cinta pada Bianca,”kata Rhea dalam hati.