Start!

1704 Words
4 Start!   Hari-hari berlalu begitu cepat. Semua rencana Eya berjalan mulus dan lancar. Tidak ada hambatan kecuali satu makhluk yang terus-menerus mengingatkan Eya untuk membatalkan rencana. Apa pun yang terjadi, Eya tidak akan pernah mengurungkan niatnya. Kebahagiaan sudah di depan mata. Siapa yang sudi melepaskan kesempatan baik itu begitu saja? Sementara selama ini ia telah berusaha untuk mendapatkan Zahfiyyan. Hanya beberapa hari lagi ia akan sah menjadi istri Zahfiyyan di mata Tuhan. Ia tidak akan menuruti keinginan tak masuk akal Zoffan. Eya bersama Zura dan Runa tengah memilih kebaya yang akan ia kenakan saat akad. Ia begitu senang melihat pakaian-pakaian indah itu. Rasanya ia tidak sabar untuk mengenakannnya. ”Bagaimana dengan ini, Tante?” tanyanya menunjukkan satu kebaya gold kepada Runa dan Zura. Zura takjub dengan pilihan Eya. Wanita itu memang tahu fashion. ”Itu cantik sekali. Coba kamu pakai dulu,” ujarnya berusaha ikhlas untuk semua kejadian. Menemani calon istri suamimu yang kedua memilih pakaian pengantin, siapa yang tahan? Bukannya masuk ke ruang pas, Eya mengambil ponselnya untuk menghubungi Zahfiyyan. ”Zahfi, kami sudah dapat gaunnya. Kamu mau melihat ke sini?” ”Pilih saja.” Eya menggigit lidah untuk mengurangi euforia kebahagiaan. Ia ingin melompat sambil berteriak bahwa kini ia akan menikah. Menikah dengan lelaki yang telah lama ia idamkan. Ya ampun, Eya ingin jarum jam digeser agar hari H datangnya lebih cepat. ”Kamu jangan protes pilihan aku, ya! Awas kalau mencela pilihanku!” ancamnya. Tapi sayang lelaki di seberang sana tidak menjawab gurauannya. Lelaki itu justru beralasan akan masuk kelas dan mengucapkan salam dengan lekas. ”Zahfi pasti lagi ditunggu mahasiswanya. Enggak apa-apa, lain kali kamu pasti lebih ramah ke aku,” hiburnya kepada diri sendiri. Eya menyimpan poselnya ke tas. ”Kamu tidak keberatan menjadi yang kedua, Eya?” Eya tertawa mendengar pertanyaan Zura. Pertanyaan apa itu? Eya rela menjadi istri kedua asal dari Zahfiyyan. Semesta juga sudah mengetahui hal itu. ”Kamu ini. Aku tidak apa-apa. Karena aku percaya, siapa yang tidak kuat dia yang akan mundur.” Eya mengucapkan dengan rasa percaya diri yang sangat tinggi. Eya yakin, suatu saat Zahfiyyan akan mencintainya, bukan hanya kasihan seperti sekarang. Sadar tak sadar, Eya paham sekali bahwa Zahfiyyan setuju menikah dengannya karena lelaki itu ingin menolongnya. Namun, alasan itu nanti pasti akan hilang. Suatu saat Zahfiyyan akan menjadikan ia tulang rusuk yang sangat dicintai. Eya sangat pasti dengan hal itu. Zura mengangguk paham. ”Yuk ah, kita balik. Kita harus mempersiapkan segala hal.” Eya memegang tangan Zura di tangan kanan dan tangan Runa di tangan kiri. ”Ngomong-ngomong, kandungan kamu udah berapa bulan?” Eya ingin bersahabat. Dia tidak boleh membenci Zura dan anaknya karena itu adalah anak Zahfiyyan. Kini giliran Zura yang mengandung anak Zahfiyyan, sebentar lagi giliran Eya. Anak Zura nanti juga akan menjadi anaknya sebab mereka berdua terlibat pernikahan dengan laki-laki yang sama. Bagaimana kira-kira, ya, nanti kehidupan rumah tangga mereka? ”Masuk bulan ketiga,” jawab wanita berhijab merah muda itu. ”Aku mendoakan yang terbaik untuk kamu dan baby,” kata Eya diamini Zura dengan tersenyum kecut. Zura berkedip-kedip menahan perih di matanya. Ia bingung dengan situasi mereka saat ini. Ia ingin memasang benteng pertahanan dari Eya namun apakah berguna? Kelihatannya Eya menganggap mereka ’teman’. ”Aku boleh tahu tidak, Ra, bagaimana kamu bisa menikah dengan Zahfiyyan?” Terlanjur ia ucapkan, Eya tidak bisa menarik kembali. Eya bodoh, kenapa ia harus bertanya tentang itu. Zura hanya meringis. Perempuan itu mengusap perutnya perlahan. Hati Eya menghangat melihat perlakuan Zura. Eya melihat ke jalanan di depan. Ia saat ini sedang mengemudikan mobil menuju rumah Runa. Di sebelahnya, Zura bersandar pada jok mobil. Pandangan wanita itu bagai mencari-cari jawaban untuk pertanyaan Eya. Sementara Runa duduk di belakang mendengarkan. Tanpa menunggu, Eya berkata, ”Baru kemarin ya nggak, Ra, kita bikin tugas kuliah di kosan kamu. Sekarang semuanya sudah berubah. Kehidupan kamu semakin bahagia saja. Sementara aku harus kehilangan orang-orang yang aku cintai,” termasuk Zahfiyyan, sambungnya. Zura merasa berdosa. Ia coba menempatkan dirinya pada posisi Eya, sekali lagi wanita hamil itu meringis. ”Eya, maafkan aku.” ”Untuk apa minta maaf?” tanya Eya bingung. Ia tidak mengalihkan pandangan dari jalanan yang berkelok bagai huruf S. Wanita dengan hijab instan itu tidak ingin mencelakai Runa dan Zura serta calon anaknya. Ia harus berhati-hati. ”Karena aku juga dulu menyukai Zahfiy,” jawab wanita di sebelahnya jujur. Eya memejamkan matanya, semua ini sudah ia duga. Siapa yang tidak akan jatuh hati kepada Zahfiyyan Sharnaaz? Di kampus mereka dahulu, pemuda itu begitu bersinar. Meskipun bukan cowok populer yang digilai semua perempuan, namun iman lelaki itu mampu meluluhkan hati wanita yang mengharapkan naungan surga. Ya, mereka yang melihat pesona Zahfiyyan adalah wanita-wanita yang ingin bersuamikan sang ‘malaikat’ Allah. ”Wow!” Tanggapan Eya membuat Zura menoleh kepadanya. ”Aku paham, Ra, mungkin memang sudah takdirku begini. Kamu bayangkan nih Ra, aku suka Zahfi sejak kita masuk kuliah. Aku berharap banget disukai balik. Tahu nggak, Ra, aku pindah ke Batam itu untuk move on karena ditolak.” Eya tertawa hambar. ”Dia paling PHP yang aku kenal. Dia bilang mau jawab waktu kita udah lulusan kuliah. Aku udah menunggu hari itu, Ra, tapi jawabannya dia menyakitkan hati.” ”Maafkan Bang Zahfiy.” Zura segera membungkam mulutya. Ia tak enak kepada Eya karena baru saja mewakilkan Zahfiyyan. Siapa dirinya?! Eya merilekskan wajah lalu terkekeh. ”Dia enggak salah kok. Sudah aku bilang, inilah nasibku. Sekarang aku harap dia enggak PHP lagi ah, kasihan nanti anak kalian ketularan tukang PHP juga,” canda Eya untuk melumerkan kekakuan yang tercipta oleh curhatan tak bermutu darinya. Perjalanan itu akhirnya mereka isi dalam keheningan. Jalanan semakin ekstrem. Hingga ketika mobil berbelok di perempatan jalan, jalanan mulai sepi dan Eya bisa melaju kencang.   ***   ”Makan dulu, Kak Zura.” Sendok berisi nasi dan serpihan ayam panggang diarahkan Zoffan ke mulut Zura. Mulutnya juga terbuka mengajarkan kakak iparnya, Zura, agar membuka mulut. ”Kakak belum lapar.” Sebuah sendok telah sampai di depan bibir Zura bahkan menempel. Zura terkikik lalu membuka mulut. Sendok nasi itu masuk ke mulutnya. ”Kunyah yang pelan, Kak.” Zoffan kembali memerintah. Ia menyerpih ayam menggunakan sendok. Zura mengunyah makanan itu dengan pelan mengikuti apa yang dikatakan Zoffan. ”Kak Zura harusnya tinggal di sini aja supaya aku betah di rumah.” Zura mengunyah lebih cepat kemudian menelan nasinya. ”Kamu mau Kakak tinggal di sini? Terus rumah nenek gimana? Kosong dong! Enggak mau ah, makasih. Kakak betah tinggal di rumah sendiri.” Sesendok nasi terarah lagi ke mulutnya, Zura berhenti berbicara ketika menerima suapan Zoffan. ”Kalau gitu aku yang ke sana. Aku ikutin Kak Zura.” Zura menelan makanannya. ”Kamu ini! Kenapa bisa begitu?” Zoffan menyuapkan nasi satu sendok lagi. ”Aku enggak suka serumah dengan cewek j*****m itu, Kak.” Zoffan menatap kamarnya sendiri. Wanita yang ia katai j*****m saat ini ada di dalam sana, mungkin saja sedang berkhayal dengan fantasi-fantasi busuknya. ”Kakak sudah mengusahakan ikhlas dengan keputusan Abang. Kamu juga harusnya begitu.” Zoffan membanting sendok ke piring hingga menimbulkan suara berisik. ”Ikhlas?” Giginya digertakkan. Emosi mencapai ubun-ubun. ”Aku tak akan bisa ikhlas. Dalam keluarga ini, tidak boleh ada yang punya istri lebih dari satu! Itulah yang Abi ajarkan pada kami dulu. Katanya kami harus menghormati wanita baik apalagi istri sendiri. Tapi, Abang dan Abi melanggar. Abang gila dan Abi ikut-ikutan gila!” ”Faaan. Jaga suara. Enggak enak sama Eya.” ”Wanita k*****t itu! Untuk apa menjaga perasaannya? Apa dia menjaga perasaan Kak Zura?!” Lelaki itu diliputi emosi, darah bagai mengumpul di matanya—merah. ”Hormati keputusan Bang Zahfiy. Kakak tidak ingin durhaka kepada suami. Biar bagaimana pun, Abang melakukan semua ini demi rasa kemanusiaan.” ”Rasa kemanusiaan?! Persetan, Kak, sampah! Kak Zura jangan jadi bodoh.” Mata Zura membola dengan perkataan Zoffan. Lelaki itu segera meminta maaf. ”Aku saja, Kak, aku sendiri yang waras di sini. Aku yang akan menghentikan semuanya.” Zoffan meletakkan piring ke meja. Diambilnya gelas lalu disodorkannya kepada Zura. Ia meminumkan air itu kepada kakak iparnya. Begitu sayangnya ia kepada kakak iparnya, kenapa abangnya tega menyakiti wanita ini? Zura menyeka bibir dengan tisu lalu berdiri. ”Kakak mau ke dalam dulu.” Zura berjalan ke kamar yang ia tempati bersama suaminya. Besok adalah harinya, jadi sejak tiga hari yang lalu Zura menginap di rumah Runa. Daun pintu kamar wanita ular terkuak, sosok wanita dengan hijab maroon tersenyum mengejek kepada Zoffan. ”Kamu waras?” sindir wanita itu. Tangannya terlipat di d**a. Zoffan tak ingin emosinya meledak di sini saat ini. Ia mengepalkan tinju di atas paha. Matanya menatap tajam kepada wanita yang tidak terhormat itu—sebutan apa kira-kira yang pantas untuk wanita perusak rumah tangga orang? Eya tidak pantas disebut sebagai wanita terhormat. Eya hendak mengucapkan sesuatu kepada Zoffan namun kehadiran Zura dan Zahfiyyan mengurungkan niatnya. ”Lho... kalian mau kemana?” tanyanya. ”Kita mau balik aja. Besok pagi-pagi sekali kami berangkat dari rumah. Mau hujan, takutnya rumah enggak aman ditinggal,” kata Zura membuat alibi. Tangannya ditarik oleh suaminya untuk segera meninggalkan rumah tersebut. Berbagai pertanyaan muncul di benak Eya. Apakah Zahfiyyan akan membatalkan acara mereka besok? ”Baguslah. Abang Fiyyan masih sadar untuk meninggalkan rumah yang ada makhluk menjijikkan secepatnya. Semoga besok Abang tidak datang!” Zoffan mengambil piring makan Zura serta gelas. Ia membawa peralatan makan itu ke dapur. Runa tengah mengurus sesuatu dengan Syofiyyan. Katanya sehabis maghrib baru sampai di rumah. ”Yang menjijikkan itu dirimu. Kamu uuuh kurang ajar banget tahu! Enggak sopan lagi kepadaku. Aku memang menumpang di sini, tapi aku calon istri abangmu! Kamu harus ingat itu! Jaga sedikit ucapanmu!” ”Terserah, makan saja semua kesopanan yang kamu agungkan! Dengar! Kamu sebagai iblis sama sekali tidak pantas dihormati, disopani, dan dibaiki!” ”Kamu pernah disengat kalajengking atau apa sih? Kenapa omongan dari mulutmu menyengat banget. Kamu berbeda sekali dengan Zahfiyyan.” ”Jangan bandingkan aku dan abangku seolah kamu mengenal baik kami, Setan!” ”What ever!” Wanita itu masuk kamar lagi, meninggalkan Zoffan dengan luapan emosi yang membutuhkan pelampiasan. Segera ia raih jaket lalu melajukan mobil keluar. Mendung semakin kelam saat ia tiba di pinggir pantai. Pantai mengingatkan Zoffan kepada Zay.   ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD