Bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah yang jauh dari kata mewah, baik bentuk juga isi yang membuat Sri kerap tidur di kasur lantai peninggalan satu-satunya dari sang ibu, ia pun terbiasa dengan rasa pegal di sekujur tubuh selepas bangun dari tidur.
Namun, kali ini ada yang berbeda. Sri merasakan nyaman luar biasa saat kesadarannya baru saja kembali dari tidur yang tak begitu nyenyak semalam. Biasanya, ia akan mengalami kendala pusing juga pegal luar biasa saat membuka mata. Sekarang tidak.
Gadis periang yang beberapa hari terakhir berubah murung itu belum menyadari satu hal, sehingga untuk beberapa detik ia terbengong begitu membuka mata. Kedipan matanya pun sudah seperti orang terkena penyakit cacingan. Ia lantas terkejut begitu melihat seorang lelaki tidur dengan pulanya di ranjang yang sama. Membuat ia seketika berteriak, karena mengingat pernikahannya juga.
“Astaga, Sri!” Safka yang seketika mendengar teriakan Sri pun menghela napas panjang seraya menarik gulung yang dipeluknya. Ia menempelkan guling tersebut di seluruh wajahnya agar suara Sri tidak membuat telinganya berdengung. “Masih pagi loh ini. Masa mau ngajakin aku ribut lagi? Aku loh masih ngantuk. Nanti aja berantemnya.”
Suara Safka terdengar serak di telinga Sri. Namun, Sri tak peduli meski pun Safka masih merasa kantuk. Yang jelas, semalam ia sudah memperingatkan suaminya itu untuk tidak tidur di ranjang. Dalam sekali entakkan tanpa berpikir panjang, Sri pun mendorong tubuh Safka dengan kakinya sampai jatuh.
Bruk!
Safka yang tengah pulas pun seketika terkejut. Ia juga kembali menghela napas panjang karena mengetahui ulah siapa itu. Ia pun seketika beranjang duduk seraya menatap Sri. ‘Kamu ini kenapa, sih? Aku loha suamimu ini lagi tidur. Kok, ditendang gitu sih?” tanyanya, seraya memasang mimik muka santai. Ia sama sekali tidak merasa marah memang. Malah, tingkah konyol Sri membuatnya ingin tergelak dari semalam.
“Kamu ngapain tidur di ranjang? Aku kan sudah bilang kalau kamu nggak macem-macem juga.” Dengan wajah kesalnya Sri mengomel. Ia juga bergegas menarik selimut hingga menutupi sekujur tubuh, kecuali kepala. Padahal, baju pengantin masih melekat lengkap dii tubuhnya.
“Loh, siapa yang macem-macem toh? Aku Cuma tidur di samping istriku aja masa nggak boleh? Padahal, semalam itu harusnya jadi malam pertama kita, Sri. Tapi aku nggak tega bangunin kamu pas lagi tidur. Jadi, aku macam-macamnya nanti malam aja deh.”
Safka tak kuat menahan tawa sehingga bibirnya melengkung tipis dan manis usai bicara. Namun, Sri segera menampik senyum yang ia lihat dengan kembali mengomeli suminya sendiri. “Nggak ada. Apaan malam pertama. Orang kita nikah aja karena perjanjian kok. Dah, sana pergi. Aku juga nggak mau sekamar sama kamu mulai hi ini,” katanya.
“Maaf, yang punya rumah siapa ya? Kok, ngatur?” tanya Safka, semakin bebal. Ia ingin tahu, seberapa jauh Sri akan menghindarinya.
“Ya, memang kamu. Tapi ya, sudah kalau memang kamu nggak mau. Aku mau pulang aja kalau gitu.” Sri pun mengeluarkan jurus ancaman. Meski, ia sendiri tak yakin kalau apa yang diucapkannya itu akan berpengaruh atau tidak.
“Silakan. Toh, yang rugi juga bapakmu. Soalnya, di surat perjanjian, kalau kamu pulang dan nggak terima jadi istrinya aku, bapakmu harus balikin uangnya lagi.”
Safka tersenyum lagi. Sebab Sri langsung terdiam dan bahkan tercengo, ia pun bangun berdiri dan duduk di tepi ranjang. Lantas, disentuhnya tangan Sri yang tengah melingkar di lututnya yang tertutup selimut. Sri terperanjat.
“Astaga, santui. Aku itu bukan psikopat atau pun pedopilia. Kenapa harus menghindar gitu, sih?” tanyanya, seketika setelah Sri menepis tangannya.
“Itu menurutmu, kan? Dah lah awas!” timpal Sri seraya menyibak selimutnya. Ia lantas beranjak turun dan berlalu pergi ke kamar mandi.
Namun, ia lupa dengan apa yang seharusnya ia bawa. Baju dan handuk. Safka pun seketika tertawa lepas.
“Dasar gila!” umpat Sri dari kamar mandi.
***
“Halo, Pak. Bagaimana, apa uangnya sudah dipakai?”
Di dalam kamar, setelah Sri masuk ke kamar mandi, Safka pun langsung menelepon Sudirman selaku ayah mertuanya di kampung. Ia berdiri cepat-cepat dari ranjang dan berjalan santai ke balkon. Kedua belah matanya terpejam barang sesaat seraya menghirup udara segar yang seketika ia membuka pintu langsung menusuk indra penciuman.
“Sudah, Nak. Kemarin selepas acara pernikahan kalian selesai, Bapak langsung membayar hutang Bapak. Soalnya memang ada yang langsung datang ke sini. Nagih begitu,” timpal Sudirman diiringi dengan senyum semeringah dari bibirnya. Dia sedang duduk santai di teras, sembari menikmati secangkir kopi dan sepiring pisang goreng buatan anaknya, Siti.
“Syukurlah. Tapi Bapak ingat juga apa yang saya katakan tempo hari kan? Selain Bapak harus merelakan Sri menikah dengan saya, Bapak pun nggak boleh mutusin pendidikan kedua adiknya Sri. Mereka berhak sekolah sampai setinggi mungkin.”
Di balkon, Safka berbalik membelakangi pagar besi pembatas. Ia lantas bersandar di sana sembari menyilangkan kedua kaki. Dilihatnya ke dalam kamar, Sri belum juga keluar setelah beberapa menit terlewat. Dalam hati ia bergumam, “Dasar cewek. Mandi aja udah kek lagi antre bansos.”
Senyum usil seketika mengembang dari kedua belah sudut bibirnya yang merah kehitaman, sebelum kemudian ia kembali fokus pada apa yang dikatakan ayah mertuanya.
“Iya, Nak. Bapak janji, Bapak nggak bakal jadiin adik-adiknya Sri sebagai tulang punggung seperti Sri lagi. Asal—“
“Saya janji akan membiayai mereka. Bapak tenang aja,” timpal Safka, tanpa membiarkan ayah mertuanya itu selesai bicara.
“Bukan hanya itu, kan?” Sudirman hendak mengingatkan Safka kembali tentang isi dari surat perjanjian mereka.
“Iya. Saya juga akan mengirim uang untuk Bapak setiap bulan,” timpal Safka kembali sambil menggeleng. Heran, karena baru pertama kali menemukan seorang Bapak yang rela menjual anaknya sendiri demi kelangsungan hidupnya.
Namun, sebenarnya Safka tidak bermaksud untuk membeli Sri, apalagi bernegosiasi dengan Sudirman agar dapat menikahi Sri. Namun, melihat Sri menjadi pembantu di rumah seorang rentenir sampai putus sekolah karena demi membayar hutang, tiba-tiba saja hatinya tergerak untuk melakukan hal tersebut. Terlebih, ia memang menyukai Sri saat pertama kali melihatnya sedang mengepel di sana.
Dari sana lah, untuk pertama kali ia mengorbankan waktunya untuk mencari tahu tentang seorang perempuan. Sebab, sampai di usianya yang sudah menginjak kepala tiga, ia sama sekali tidak tertarik pada wanita apalagi sampai menikah. Bahkan, seberapa banyak dan antusias wanita di luar sana merayunya, ia sama sekali tak gentar.
Di ujung telepon Sudirman tertawa malu-malu. “Ya, sudah kalau gitu ... Bapak titip salam sama Sri, ya. Dia pasti betah tinggal sama Nak Safka. Secara, dia biasa tidur di kasur lantai, sekarang tidur di kasur empuk,” katanya.
‘Iya, nanti saya sampaikan. Nanti saya kirim orang buat beli kasur juga buat Bapak sama adik-adik. Assalamualaikum,” jawabnya seraya mengucap salam. Selain karena ingin memastikan Sri baik-baik aja, Safka pun malas berlama-lama bicara dengan ayah mertuanya itu.
Usai mendengar jawaban salam, Safka pun langsung memutus panggilannya. Lantas, segera ia kembali masuk ke kamar dan menghampiri pintu kamar mandi. Sebelum mengetuknya, ia melihat jam di ponsel. Sudah lebih dari lima belas menit Sri di sana.
“Kamu ini lagi mandi apa gimana, sih? Tidur jangan-jangan! Buruan kenapa? Aku mau mandi juga ini,” serunya keras-keras sehingga membuat Sri yang kelimpungan di dalam seketika terkejut.
“Ih, apaan sih? Orang emang belum selesai, kok, mandinya. Di rumah ini ada berapa kamar mandi, sih? Ribet amat kudu nungguin orang lagi mandi. Sana, cari kamar mandi kosong yang lain!’ timpal Sri, berusaha tidak bernada gugup.
Sebab, karena Sri lupa membawa handuk dan baju ganti, ia pun bingung memikirkan cara keluar dari sana. Sedang, baju pengantin yang sebelumnya ia pakai terkena air sampai basah. Sekali pun kering, Sri tak akan bisa memakai gaun tersebut sendirian.
“Dih! Kamu kok ngatur lagi? Ini rumahku, ya. Suka-suka aku dong,” timpal Safka tak mau kalah.
“Ya, tapi aku masih lama. Mana ini mau buang air besar dulu juga. Dah lah sana, cari kamar mandi yang lain. Ya?” pinta Sri dengan sangat. Ia sudah menggigil kedinginan sebab hanya memakai daleman saja.
“Astaga!” umpat Safka sampai menggeleng keheranan. Ia lantas bergegas pergi menghampiri pintu. “Gue pergi nih, ya. Awas aja kalau balik dari kamar mandi, kamu masih belum keluar,” katanya.
“Iya, iya! Dah lah sana!” titah Sri kembali.
Namun, tiba-tiba saja Safka merasa aneh dengan istrinya itu. Sri terkesan maksa agar ia meninggalkan kamar. Sebab takut akan seperti semalam, di mana ia menyuruh seluruh pembantunya untuk mengunci kamar, Sri pasti akan membalas dendam.
“Nggak, nggak bisa dibiarin. Aku sebaiknya pura-pura keluar aja lah,” batinnya seraya membuka pintu. Namun, ia justru bersembunyi di baliknya.
Satu detik, dua detik, sampai akhirnya lewat satu menit, pintu kamar mandi pun terbuka pelan. Safka mengangguk-angguk, meyakini kalau dugaannya benar sehingga ia menunggu sampai Sri akan menutup pintu kamar.
“Ya, ampun. Pintunya nggak ditutup!” umpat Sri seraya buru-buru menghampiri pintu untuk menutupnya segera.
Namun, begitu Sri sampai dan meraih pintu kamar tersebut, suara jeritannya langsung melengking sampai terdengar ke lantai bawah. Para pekerja yang mendengarnya pun seketika bergidik memikirkan yang tidak-tidak.
“Itu, nyonya muda kenapa, sih? Perasaan dari semalam teriak-teriak mulu?” tanya salah seorang pekerja yang sedang memasak. Ia sampai ke luar dari dapur dan mendongak melihat ke lantai atas.
“Ih, kamu ngapain? Ayo, masak lagi, anggap aja kita nggak dengar apa-apa!” timpal yang lainnya.
“Ya, tapi kan itu jerit-jerit. Kalau sampai ada terjadi di rumah ini memangnya kamu mau ditanyain sama polisi?”
“Dih! Otakmu itu kenapa mikir kejauhan, sih? Emangnya majikan kita itu penjahat? Yang bener aja. Nyonya muda teriak-teriak itu karena lagi ngerasain yang enak-enak!”
“Aih?” Si pekerja yang ditangannya ada serok itu pun langsung mengernyit, tak mengerti. Bagaimana mungkin orang teriak lagi ngerasain yang enak-enak, pikirnya.
“Ya, makanya. Cari pacar, kawin dah. Pasti paham!”
“Mulai deh mulai. Dah, ah. Aku kan lagi ... Astagfirullah, daging ayamnya gosoooong!”