Ranti, salah satu pekerja di rumah Safka ini seketika berlari menghampiri kompor yang tadi ia tinggalkan dalam keadaan menyala. Sedang ia tengah menggoreng ayam, sehingga tangisnya seketika pecah karena takut dan juga terkejut. Pasalnya, asap dan api pun sudah mengepul hitam dari wajan.
“Ya, Allah gimana ini?” ucapnya, gugup seraya mematikan kompor. Lantas ia segera mengambil lap dan membasahinya di wastafel sebelum kemudian ia tungkupkan ke atas api yang berkobar di wajan gosong. “Tuan muda pasti marah besar!” sambungnya, yang seketika menangkup wajah. Ia menangis dan meratap pada temannya yang tak kalah kaget.
“Tenang, Ran, tenang. Tuan nggak bakal marah kok. Terpenting kita nggak apa-apa. Dia itu bukan tipe majikan yang bakal marah kalau kita ngelakuin kesalahan. Tapi, dia bakal marah kalau kita sampai kenapa-kenapa karena lalai dalam bekerja,” timpal Shanty. Ia yang tak sempat membantu Ranti karena kalah cepat bereaksi itu pun memeluk temannya agar tenang.
“Tapi tetep aja kan dapurnya hampir aja kebakaran karena aku.” Tetap saja Ranti khawatir karena kejadian barusan. Tangisnya bahkan semakin kencang sampai-sampai persis seperti anak TK yang direbut camilannya.
“Dah, dah. Sekarang mending kita beresin ini dulu, deh. Jendela juga kudu dibuka-bukain biar asapnya nggak masuk banget ke ruangan yang lain,” ajak Shanty. Lantas, ia pun melerai pelukannya sembari melangkah menghampiri jendela yang langsung tembus ke halaman belakang.
Masih dengan perasaan takut, Ranti pun menghampiri kompor dan mengambil wajan yang telah gosong beserta ayam di dalamnya, dengan menggunakan lap kering. Ia membawanya ke wastafel untuk segera dibersihkan dari noda gosong.
“Eh, tapi aku tinggal dulu nggak apa-apa, ya? Aku kan belum selesai ngepel tadi tuh,” ucap Shanty setelah membuka kedua jendela dapur.
“Ya, udah sana. Tapi jangan lupa balik kalau udah selesai. Aku kok ragu buat masak ulang kalau sendirian,” pinta Ranti. Tangannya sibuk menggosok p****t wajan. Sedang tatapannya tertuju pada Shanty.
“Iya, iya. Nanti aku bantuin masak kamu. Asal nanti, kamu bantuin aku lipat baju,” balas Shanty, mencari kesempatan dalam kesempitan. Ia sungguh memanfaatkan kelemahan Ranti sekarang.
“Aish. Nggak ikhlas dong?” protes Ranti, seraya kembali memfokuskan tatapannya pada wajan.
“Ya, terserah, sih. Kalau nggak mau dibantuin ya nggak apa-apa,” balas Shanty kembali sembari melengos pergi. Dan, kedua belah sudut bibirnya seketika tersungging, julid.
“Oke, oke!” timpal Ranti, sedikit kesal. Ia pikir, temannya tulus. Tahunya modus. Namun, meski begitu ia tetap tertawa karena kelakuan teman satu pekerjaannya itu.
“Good! Gitu dong. Jadi teman itu kan harus bekerja sama. Nggak boleh mau enaknya sendiri.” Seketika, Shanty pun tergelak seraya bergegas pergi. Takut kalau sampai wajan di tangan Ranti melayang ke arahnya.
“Benar-benar!” umpat Ranti, masih dengan sisa-sisa tawa di bibirnya. Ia sampai menggelengkan kepala sebelum akhirnya ia menyimpan wajan kembali pada tempatnya. “Eh, tapi sekarang masak apa dong?” gumamnya.
Ranti mengedarkan pandangan, sebelum akhirnya ia terpaku barang sekejap pada kulkas. Dihampirinya lemari pendingin tersebut, ia ingat kalau di dalamnya ada beberapa sayuran yang dibelinya dua hari lalu. Ia juga ingat, kalau udang sama sekali belum dimasak.
“Bikin udang bakar saus asam manis kayaknya enak. Nggak apa-apa lah buat sarapan, dari pada nggak ada sama sekali,” ungkapnya sambil tertawa pelan. “Untuk sayurnya, mari kita lihat ... ada apa aja di dalam,” sambungnya seraya membuka lebar pintu lemari es. “Wah ... ada labu siam sama tahu juga ternyata.” Ia mengangguk-angguk seraya mengambilnya.
“Oi!” seru Shanty, yang baru saja datang dan mendapati Ranti sedang menungging dan memasukkan sebagian kepalanya ke dalam kulkas.
“Astaga, Shanty. Ya Allah kamu ngapain bikin aku kaget? Udah bosen hidup?” tanya Ranti seraya berdiri tegak. Lantas ia berbalik ke arah Shanty dalam keadaan kedua tangan penuh dengan bahan masakan.
“Wajig! Santui, Ra. Aku mah cuman ngagetin, bukan mau ngebegal.” Shanty tergelak lagi seraya melengos ke sisi lain, tanpa memedulikan omelan Ranti lagi.
“Serah dah, ah. Terpenting sekarang bantuin aku masak. Titik!” pinta Ranti dengan sangat.
‘Iye, iye. Sabar dikit bisa? Baru juga jam setengah delapan. Majikan kita turun jam sembilan. Keburu dong, dari pada masak cepat-cepat nantinya keburu dingin.”
“Oh, iya.” Ranti pun akhirnya bisa bernapas lega. Setidaknya, ia tak perlu buru-buru.
***
Usai menjumpai Safka di balik pintu, Sri yang bertelanjang pun seketika menjerit dan berlari lagi ke kamar mandi. Ia merutuk, mengumpat, bahkan sampai mengatakan hal-hal kasar. Safka yang syok pun awalnya hanya bengong dan mengulang apa yang dilihatnya berulang kali. Bukan maksud terarah pada pikiran m***m, hanya saja ia tak mengira akan melihat Sri dalam keadaan tanpa pakaian.
“Ya, ampun Sri. Aku minta maaf,” katanya pada akhirnya. Safka yang baru saja tersadar dari lamunannya pun segera menghampiri pintu kamar mandi. Ia mengetuknya berulang kali seraya mengucapkan hal yang sama.
Sedangkan di dalam sana, Sri terus menangis tanpa berhenti berucap. Ia terus mengomel dan mengancam untuk tidak keluar kamar. Kecuali kalau Safka mau setuju kalau mereka tidak tidur sekamar.
“Ya, tapi kan aku ini suamimu. Kita sudah menikah. Masa nggak tidur sekamar? Kan, aneh?” oceh Safka, membalas permintaan Sri. Ia menggeleng, berdecak bahkan sampai menyandarkan keningnya di pintu. “Ayo lah, please. Maafin aku, dan kamu keluar.”
“Keluar dalam keadaan nggak pake baju? Dasar otak m***m! Emang pas ya sama gelar kamu yang Om-Om tuh. Nggak mau! Pokonya aku nggak mau keluar kalau kamu nggak setuju kita pisah kamar!” seru Sri, tak mau kalah debat. Ia sudah membulatkan tekad untuk terus melawan agar lelaki yang menjadi suaminya dalam satu hari itu mau mengalah.
“Y-ya nggak gitu juga. Maksud aku, aku akan keluar sekarang. Benar-benar keluar. Terus kamu ganti baju gitu loh. Diem di kamar m**i terus kan nggak baik. Nanti kamu kehabisan oksigen gimana?” tanya Safka. Ia berusaha terus membujuk agar Sri tak merajuk.
Sri yang mendengarnya pun seketika mengedarkan pandangan. Apa yang dikatakan Safka ada benarnya, ia bisa saja kehabisan napas karena terlalu lama berada di kamar mandi yang tak ada ventilasi sama sekali. Terlebih ia memiliki riwayat asma.
Namun, Sri menepi apa yang ada dalam pikirannya itu. “Biarin aja. Biar aku mati sekalian di sini,” katanya, yang tentu saja tak sungguh-sungguh. Ia lantas mengetuk-ngetuk kepalan tangannya ke dinding dan ke kepala sambil berucap amit-amit.
“Aih, kok gitu? Jangan ngomong yang nggak-nggak kenapa? Nanti kalau malaikat beneran mencatat apa yang kamu katakan gimana?” Safka malah meladeni ucapan Sri dengan candaan. Ia bahkan tersenyum julid, karena tahu kalau Sri hanya berucap asal.
“Bodo amat!” timpal Sri, keras kepala.
“Astaga. Aku nggak tau lagi ya harus bujuk kamu dengan cara apa. Terserah aja deh. Mau selamanya diem di kamar mandi juga bodo amat!” balas Safka pada akhirnya. Ia lantas meninggalkan Sri, keluar dari kamar setelah meraih handuk terlebih dahulu.
Cuaca pagi sudah terasa panas untuknya, terlebih harus menghadapi sikap Sri yang memang masih kanak-kanak di usianya yang belasan. Sembilan belas tahun. Sedang dirinya sudah masuk ke usia kepala tiga.
“Dih! Awas aja kalau kamu bohong!” teriak Sri dari dalam kamar mandi. Ia yang berada si hadapan pintu pun menempelkan telinganya di sana. Ia menajamkan pendengaran, untuk mengecek keberadaan Safka “Halah! Paling kamu ngumpet kaya tadi lagi kan, Om?” sambungnya, yang seketika disusul tawa kesal. “Aku nggak bakal kena tipu lagi pokonya!”
Wajah Sri mengernyit, pun dengan keningnya yang seketika mengerut. Sebelah alisnya pun terangkat, karena merasa heran. “Ini dia beneran pergi apa bohong sih? Aku mau keluar kan jadinya takut,” gumamnya.
Karena tak kunjung ada suara setelah Sri berteriak memanggil Safka berulang kali, ia pun membuka pintu dan mengintip kamarnya lama. Kepalanya sedikit keluar, sehingga ia dapat dengan leluasa mengedarkan tangan. Pintu kamarnya sudah tertutup sehingga ia yakin kalau Safka memang keluar dari sana.
Sri seketika menghela napas lega. “Syukurlah. Itu artinya dia emang keluar dari kamar. Ok. Kalau gitu sekarang aku bisa keluar dari sana. Amit-amit kalau sampai mati konyol gara-gara ngurung diri di kamar mandi,” katanya sambil membuka pintu lebar-lebar. Lantas cepat ia mengambil handuk dalam tas yang belum sempat dibereskannya.
“Selamat-selamat,” ucapnya lagi begitu selesai memakai bu juga celana dengan gerakan seperti orang dikejar setan. “tapi tadi apaan coba? Astaga malu banget aku. Lagian dia kenapa sih aneh banget? Kok, bisa gitu pura-pura keluar kamar?”
Sri tak berhenti mengoceh. Sama halnya dengan kedua tangan yang sedari tadi terus bergerak, dari mulai mengeringkan tubuh dan rambut, memakai baju dan celana, sekarang menyisir dan merias wajah dengan peralatan make up seadanya. Ia memang tak punya modal untuk sekadar beli bedak yang mahal.
“Udah keluar juga rupanya?” tanya Safka tiba-tiba. Dan tanpa disadari Sri, lelaki yang baru saja selesai mandi itu sudah ada di kamar.
“Astaga, Om!” Sri langsung tersentak, dan bahkan melempar bantal tepat ke wajah Safka, sebelum akhirnya ia melonjak dan bersembunyi di balik selimut.
“Kamu ini kenapa, sih?” bentak Safka, dengan ekspresi wajah kaget bercampur marah dan kesal. Ia menyapu wajahnya kasar tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Sri yang baru saja menampakkan kepalanya saja.
“Ya, Om yang kenapa? Ngapain coba muncul tiba-tiba? Kenapa juga nggak pake baju?” seloroh Sri, seraya mengintip dari balik selimut.
“Loh, serah aku dong mau nggak pake baju juga. Orang baru beres mandi kok dan bajunya itu di sini, di lemari ini!” jawabnya sambil menunjuk lemari yang ada di belakang ia sendiri.
“Ya, kan bisa bawa baju ke kamar mandi. Atau paling nggak ketuk pintu dulu gitu?” Sri semakin kesal.
“Kayak sendirinya bawa baju aja ke kamar mandi. Lagian tadi juga ketuk pintu. Kamunya aja yang sibuk ngomel,” timpal Safka, yang pada akhirnya melepas handuk.
“Eh, eh kamu mau ngapain ya, Om?” Sri langsung menutup wajahnya lagi dengan selimut. “jangan buka-bukaan di sini bisa?”
“Aku dah pake boxer, ya. Gila aja buka-bukaan depan kamu. Emangnya kamu?” timpal Safka seraya melepas handuk dari tubuhnya. Lantas ia berbalik menghadap lemari dan mengambil pakaiannya dari sana.
“Dih, bercandanya kagak lucu. Tapi fix ya. Awas aja kalau kamu berani buka-bukaan depan aku. Janji itu harus ditepati, Om.” Sri masih sembunyi di balik sembunyi d balik selimut meski tak lama ia pun kembali menunjukkan kepalanya.
“Ok!” balas Safka yang baru saja selesai memakai pakaiannya. Lantas, ia melengos begitu saja dari sana.
“Good!” seru Sri, yang seketika membuat Safka tergelak. “Dih! Dia ketawa. Dasar Om-Om otak m***m!” sambunnya.
“Apa kamu bilang?” tanya Safka dari balik pintu. Ia mencondongkan wajahnya dari sana.
“Om-Om otak m***m!” Sri berucap lantang.
“Astaga! Saya boboin beneran kamu, ya!” Safka balas berucap lantang. Membuat Sri yang mendengarnya pun seketika menarik selimut tinggi-tinggi sambil berteriak meminta ampun. “Main-main kamu sama aku, ya?”
“Nggak. Ampun, ampun, Om. Ampuuuuuuuuun!” teriak Sri sembari kelojotan di atas ranjang saking takutnya. Padahal, Safka melengos pergi ke lantai bawah.