Satu detik, dua detik sampai akhirnya Sri menunggu sampai detik ke lima tapi Safka tak juga terasa menyentuhnya. Ia yang keheranan pun membuka selimut perlahan-lahan seraya menyipitkan mata. Ia tak melihat siapa pun di dalam kamar. Hanya ada dirinya yang dengan bodoh mengira kalau Safka akan berbuat sesuatu barusan.
“Dih!” gumamnya seraya membuka selimut dari seluruh tubuh. Kemudian ia duduk di tepi ranjang, dengan menjuntaikan kedua kaki ke lantai. “Julid banget sih pake ngagetin segala?” sambungnya. Sri tersenyum tipis menyadari kelucuan orang yang mendadak jadi suaminya itu. Namun, lagi-lagi ia menepisnya segera dengan melanjutkan berhias diri. Tadi, ia belum sempat memakai lipstik.
Dipandanginya ajah cantik nan manis di balik cermin setinggi satu mete di hadapannya. Ia terbengong, memikirkan apa yang baru saja ia alami. “Aku nggak pernah memimpikan ini sekali pun. Dinikiahi seorang lelaki yang jauh lebih tua, kaya, dan itu karena Bapak,” gumamnya.
Lipstik yang ia pegan pun perlahan dioleskannya ke kedua belah sudut bibir. Sri menggeleng. “Dari dulu, aku pikir, aku akan menjadi istri seorang pemuda kampung. Terlebih setelah tahu kalau Bima jatuh cinta padaku. Tapi sekarang?” gumamnya lagi, benar-benar tak mengira.
Kedua tangannya lantas bertumpu pada meja rias yang hanya dipenuhi barang-barang Safka. Sri menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia pikir, apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Mencintai Safka saja tidak. Bagaimana bisa ia bisa menjadi istri yang baik.
“Bodo amat lah. Lagian dia juga tau kalau aku sama sekali tidak mencintainya. Dia juga tau kalau aku punya pacar. Jadi, seharusnya dia paham,” ucapnya lagi, seraya memasang wajah berseri.
Namun, tiba-tiba saja perutnya terasa keroncongan. Terlebih setelah tiba-tiba ada aroma menusuk indra penciumannya. Sri menarik napas sambil terpejam, saking lezatnya apa yang ia cium. “Bau apa ini?” batinnya, karena tak pernah merasakan aroma seperti apa yang diciumnya.
Sri juga menelan ludahnya yang melumer bagai mentega di atas wajan panas. Dan, kedua tangannya refleks memegang perut. Ia ingat, sejak semalam perutnya sama sekali belum terisi. Yang ada, menjelang tidur pun justru dipenuhi dengan perdebatan tak jelas dengan Safka.
“Lapar banget aku. Tapi, mau k bawah kok malu banget, ya? Um, gimana ini? Bisa kelaparan juga kalau aku terus diam di sini,” ungkapnya sambil berdiri.
Perlahan, Sri berjalan menuju pintu. Ia mencondongkan wajahnya keluar kamar, demi untuk melihat situasi di luar kamar. Kosong. Di lantai atas benar-benar tidak ada penghuni selain dirinya. Terbawa suasana lapar, ia pun berjalan terus mengikuti sumber aroma sampai menuruni satu per satu tangga.
“Kok, sepi” batinnya setelah sampai di bawah. “Si om-om ke mana pula? Rumah segede gini kok nggak ada penghuninya juga?”
Langkah Sri tak berhenti. Ia terus berjalan sampai akhirnya tiba di ruang makan. Dan, betapa terkejut ia begitu melihat ada hidangan di meja. “Ini siapa yang masak? Hantu?” tanyanya sembari celingukan.
Tapi karena lapar, ia pun segera duduk dan menatap terlebih dahulu makanan di hadapannya. Bahkan, untuk memastikan hal itu nyata atau tidak, ia mengucek matanya cepat-cepat. “Beneran,” katanya lagi. Ludahnya sudah semakin melumer di dalam mulut. “Tapi ini pada ke mana, sih? Nggak mungkin dong ada makanan kalau nggak ada orang yang masaknya? Astaga, Om. Kamu di mana sih Om?” teriaknya sembari mengedarkan pandangan. “Hallo! Masa nggak ada orang sama sekali? Aku lapar, mau makan. Tapi kalau nggak ada orang gimana ini? Masa makan sendiri? Nanti kalau dikira maling gimana akunya?”
Hening. Ruang di mana terdapat satu meja berukuran persegi panjang dengan enam kursi di kedua sisinya ini benar-benar sunyi. Bahkan, suara kentut tikus atau cecak saja tak ada. Sri menggeleng.
“Baiklah. Kalau gitu aku makan nih ya? Tapi awas aja nanti, kalau tiba-tiba ada yang menuntut aku, gegara ngabisin ini makanan,” katanya sambil meraih piring, dan menyajikan makanan untuk dirinya sendiri. “Seumur-umur baru makan ginian. Alhamdulillah sih,” katanya lagi sebelum mulai makan.
Satu suapan pertama langsung membuat Sri terperangah karena rasanya yang super lezat. Dan di suapan berikutnya Sri beraksi seperti orang menemukan harta karun. Kedua tangannya terangkat, padahal sedang memegang sendok dan garpu. Ia juga mengentak-entakkannya sambil mengunyah dan mengangguk-angguk.
“Sumpah! Sumpah ini enak banget. Ya, ampun. Ini siapa yang masak, sih?” katanya, yang seketika diikuti gelak tawa. Sri bahkan tersedak dan buru-buru minum.
“Iyalah enak. Kan, itu aku yang masak!” timpal Safka yang sedari sri makan sudah berdiri di belakang istrinya itu.
Sri yang baru saja minum pun kembali tersedak. Ia bahkan buru-buru menelan kunyahannya dengan susah payah sembari memukul-mukul d**a. Berharap, makanannya segera turun. “Kamu ngapain di situ? Dari kapan?” tanyanya.
“Dari sejak kamu makan lah.” Safka pun berjalan mendekat, sehingga membuat Sri gelagapan.
“Mau ke mana kamu? Ngapain mendekat? Nggak usah aneh-aneh!” serunya, ketakutan. Pasalnya, ia sudah dengan lancang memakan makanan di rumah Safka.
“Makan lah. Aku kan juga lapar,” balas Safka seraya menarik kursi. Namun, seketika ia terbengong karena makanan di meja nyatanya hanya tinggal sausnya saja. “Astaga, Sri. Kamu makan semua makanannya? Itu tadi kan banyak loh. Kok, bisa? Perutmu apa kabar?”
“Dih! Aku, kan mana tau kalau kamu belum makan. Lagian tadi aku panggil kamu ke mana aja, Om?” tanyanya, seraya berusaha melindungi dirinya sendiri.
“Ya, tapi kan nggak dihabisin juga, Sri?” Safka pun mengalihkan tatapannya dari makanan yang tak bersisa di piring ke wajah Sri yang gelagapan.
“Au, ah. Aku dah kenyang. Mau ke atas lagi!” balas Sri, sambil berdiri. Lantas ia melengos meninggalkan Safka terbengong-bengong di ruang makan.
‘Iya lah kenyang. Udang bakar, sayur, semuanya kamu abisin!” umpat Safka, dengan suara lantang.
Namun, Sri tak menghiraukan ocehan suaminya. Ia terus berjalan bahkan berlari menaiki anak tangga karena malu habis. Sedang para pekerja yang bersembunyi di kamar sambil mencuri dengan saling menahan tawa. Mereka menangkup mulutnya sendiri sebelum kemudian beranjang menuju kasur.
“Lagian, bos kita itu ngapain sih pake segala nyuruh kita buat sembunyi? Aku pikir karena mau makan berdua sama istrinya. Eh, malah ngebiarin istrinya makan sendiri. Aneh!” kata salah satu dari mereka, sambil tertawa pelan.
“Bener, aneh banget. Mana tumben pula mau masak sendiri. Dan jauh lebih aneh lagi, ternyata bos kita ini bisa masak. Buktinya, Nyonya muda suka banget.” Shanty pun menambahkan.
“Huum. Tapi, ya, udah deh biarin aja. Ngapain juga kita ribet-ribet mikirin mereka. Pekerjaan kita aja bikin lemes saking banyaknya.” Ranti tergelak lagi. “Sekarang mending kita samperin si Bos. Kasihan dia kehabisan makanan buat sarapan. Telur ada, kan?”
“Ada,” timpa; Shanty. “Mari kita kemon kalau gitu,” sambungnya sambil berdiri.
Keduanya pun keluar dari kamar. Ranti dan Shanty langsung menghampiri Safka di ruang makan. “Tuan, mau saya bikinkan telur ceplok?” tanyanya, hampir bersamaan.
“Mau, sih. Tapi barusan tiba-tiba ada telepon dari kantor. saya harus segera pergi. Kalian jagain Nyonya aja, ya. Jangan biarin dia keluyuran ke luar rumah. Dan kalau ada apa-apa, cepat telepon saya,” jawabnya sabil berdiri. Sedang ponsel masih di tangan dan baru Safka masukkan ke dalam saku celana setelah melengos pergi tanpa mendengar jawaban dari sua pekerjanya terlebih dulu.
“Baik, Tuan.” Ranti dan Shanty menimpali, meski tau bosnya tak kan mendengar ucapannya sama sekali karena sudah jauh dari posisi.
“Berarti, tugas kita sekarang adalah jagain nyonya muda?” Shanty menoleh melihat Ranti.
Teman satu pekerjaan yang sudah bekerja bertahun-tahun di sana itu pun mengangguk. “Mari kita kemon!” jawabnya seraya menggerak-gerakkan kedua alis. “Kita jagain di luar kamarnya langsung. Biar kalau Nyonya keluar kamar, kita langsung tau.”
“Woke!” Ranti pun menimpali, setuju.
***
Sekembalinya dari ruang makan, Sri mengurung diri di kamar. Ia menguncinya dari dalam karena takut kalau Safka menyusul. Namun, tak lama ia mendengar suara klakson sehingga buru-buru ia ke balkon untuk memastikan.
“Si Om pergi? Mau ke mana sih? Kok, aku ditinggal sendirian?” tanyanya dalam hati. “Eh, tapi kok ada suara ketawa-ketawa di dalam?” batinnya lagi, sampai merasa ketakutan.
Buru-buru Sri kembali masuk ke kamar. Ia juga mengunci pintu yang membawanya ke balkon. Suara yang ia dengar bahkan tak hanya suara tawa, tetapi juga sara televisi. Untuk memastikannya, Sri pun mendekatkan telinga ke pintu.
“Bener,” katanya sambil mengangguk-angguk. “Siapa, sih?” batinnya kepo. Lantas, karena ingin tahu, Sri pun membuka pintu perlahan. Ia tahu kalau pintunya orang kaya tidak akan menderit sehingga merasa aman kalau mengintip.
“Aih, mereka ini siapa? Kok, mendadak ada orang di rumah ini? Semalam pas aku panggil-panggil nggak ada. Tadi juga nggak ada. Apa jangan-jangan hantu? Ah, tapi ya masa hantu nonton TV sambil ngemil gitu?” batinnya.
Karena penasaran, Sri pun keluar sambil berdeham.
“Eh, Nyonya udah bangun? Maaf kalau suara aku sama Shanty ganggu. Tapi memang sengaja, sih karena tadi ... Tuan nitip Nyonya sama kita biar dijagain dari luar kamar,” katanya sambil menyengir.
“Betul itu,” timpal Shanty.
“Baru bangun pala lu peyang!” batin Sri, sambil tersenyum dan mengangguk tanda tak keberatan dengan kehadiran dan keberisikan mereka. Ia pikir, sendirian akan membuatnya bosan. “Tapi, memangnya Om eh ... Tuan ke mana?” tanyanya, kikuk sebab memanggil Safka dengan sebutan Om.
“Tuan ke kanto, Nyonya. Ada urusan mendadak katanya.”
“Oh. Ya, sudah kalau gitu kalian lanjut nonton nya, ya.” Sri kembali memasang senyum yang dirasanya sudah paling manis, seperti madu rasa.
‘Nggak mau gabung?” tanya Ranti.
“Emang boleh?” Sri pun lantas menyengir lebar. Senang betul ia ditawari bergabung dengan yang seketika tahu kalau dua makhluk di hadapannya itu adalah para pekerja di rumah Safka.
“Ya, boleh dong. Ya, masa nggak?” timpal Shanty, seraya menyengir kuda juga.
“Baik lah kalau kalian maksa,” timpal Sri.
“Ya, nggak maksa juga, sih.” Ranti berucap lagi, sehingga mencipta tawa di antara mereka.
“Astaga, Mbak. Kalian lucu ternyata.” Sri langsung merasa dirinya akan cocok dengan mereka. Sebab, ia sangat menyukai orang dengan tingkat humoris tinggi.
“Bukan hanya lucu, aku sama Shanty tuh menggemaskan juga, Nyonya.”
“Oh, Mbak yang ini namanya Shanty berarti, ya?” tanya Sri, setelah sampai di samping Shanty. “kalau kamu?”
“Nama saya Ranti, mojang Cianjur asli yang kalau udah masak, sultan pun ngeces.”
“Aih, orang Cianjur?” Sri pun bergegas duduk di kursi yang berbeda dengan dua wanita di hadapannya.
“Dijamin asli, Nyonya. Bukan KW.”
“Wah, sama dong. Cianjur mana?” Sri semakin kepo dan tentunya senang karena bertemu dengan orang satu suku. Sunda.
“Cianjur Selatan, Nyonya. Kalau Nyonya?” Ranti pun tak kalah senang.
“Kalau aku, aku dari Kuningan, Nyonya.” Shanty tak mau kalah untuk berkenalan.
“Wah, orang Sunda semua ternyata. Udah berapa lama kerja di sini?” tanya Sri lagi. Sedangkan film yang terus berputar di televisi sukses mereka abaikan.
“Aku dua tahun setengah,” timpal Ranti.
“Kalau aku, dua tahun pas bulan depan.” Shanty pun ikut menjawab.
“Keren! Hebat kalian bisa bertahan kerja di rumah orang yang keras kepal macam Safka.” Sri langsung menyengir. Tahu kalau dua makhluk di hadapannya itu akan merasa heran, karena istri dari tuannya baru saja mencela suami sendiri.
Ranti menyengir. “Gitu lah, Nyonya. Tapi Tuan kami meski sombong, galak dan jutek, baik banget kok. Dia juga perhatian sama bawahan.”
“Masa?” Sri tak percaya, karena sudah menyaksikan sendiri betapa jahatnya Safka.
“Serius,” timpal Shanty. “Pembantu seperti kita aja nggak pernah kelewat ditanyain makan apa belum. Terus, hampir tiap bulan ngasih bonus atau hadiah. Pokonya, Tuan itu baik banget deh.”
Sri yang mendengarnya pun hanya menyengir sambil mengangguk-angguk. Ia tidak sepenuhnya percaya, karena bisa saja kalau Safka sudah menyogok para pekerjanya untuk mengatakan hal-hal yang baik saja.
“Ya, sudah.” Sri pun berdiri. “kalian lanjut nonton, ya. Saya mau ke kamar lagi.”
“Loh, Nyonya nggak jadi nonton bareng kita?” Ranti terkejut, takut salah bicara sebelumnya.
“Nggak. Biar saya nonton di kamar aja biar bisa sambil rebahan.” Sri pun langsung melengos.