Penguntit yang Kehilangan Jejak

1388 Words
Setelah menerima telepon dari Safka, Sudirman pun lekas menyuruh anak-anaknya berangkat ke sekolah. Ia tak mau kalau sampai ada mata-mata yang melihat dirinya tampak cuek dan kasar terhadap anak. Sebab, beberapa waktu lalu, Safka pun menjelaskan kalau menantunya itu menugaskan seseorang untuk memperhatikan Sudirman dari jauh. Sehingga kalau dirinya ingkar janji, Safka akan segera mengetahuinya. “Iya, Pak. Ini juga udah mau berangkat,” timpal Siti yang baru saja keluar dari kamar. “Dek, ayo!” serunya kemudian, memanggil Fahmi yang tadi izin ke kamar mandi dulu karena kebelet buang air besar. “Iya, Kak. Bentar!” Dari kamar mandi, Fahmi yang baru selesai cebok pun segera memakai dan mengaitkan kancing celananya kembali. Ia lantas bergegas keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Siti sedang memakai sepatu di teras depan, Fahmi pun langsung menyambar tas yang ia geletakkan begitu saja di satu-satunya ruang selain kamar, dapur, dan kamar mandi. Ia juga mengambil sepatunya dari belakang pintu. “Kalian baik-baik di sekolah. Jangan pada nakal. Soalnya, kalau ada yang salah sama kalian, bisa-bisa Bapak yang diomelin suaminya kakak kalian. Paham?” ucap Sudirman, mengingatkan. Padahal, ia sudah membicarakan perihal itu semalam. Tapi tetap saja, ia tak cukup yakin kalau anak-anaknya itu tak kan nakal. “Iya, Pak. Siti janji bakal jadi anak baik dan pintar di sekolah. Kamu juga, kan, Fahmi?” tanya Siti pada adiknya yang baru saja memakai sepatu. “Iya, Kak. Iya, Pak. Fahmi juga janji,” jawabnya segera. Aktivitas memakai sepatu selesai dilakukan keduanya. Siti dan Fahmi pamit seraya meminta salam, kemudian berlalu pergi karena waktu pun sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Bisa terlambat masuk kelas kalau mereka berlama-lama bicara dengan ayahnya. “Alhamdulillah ya, Kak. Fahmi senang loh karena Kak Sri menikah dengan orang kaya,” katanya di perjalanan. Ia bahkan tersenyum semringah mengingat kehidupannya berubah drastis. Sebab, tak hanya sikap ayahnya saja yang menjadi baik, gaya hidup mereka yang identik dengan orang miskin pun mengalami perubahan. Apa yang mereka pakai dan makan, semuanya adalah pakaian dan makanan baru, “Kakak juga seneng. Karena dengan Kak Sri menikah dengan Kak Safka Bapak tidak akan pernah menyuruh kita untuk berjualan k sekolah lagi. Bapak juga nggak bakal nyuruh kita ngemis di pasar Ciranjang sana. Tapi kakak juga sedih.” “Sedih kenapa, Kak?” Fahmi yang baru berusia sebelas tahun itu tak paham, kenapa kakaknya bisa bersedih hati. Sedang, keadaan mereka sudah jauh lebih baik sekarang. “Sedih, karna kakak tahu kalau Kak Sri mau menikah itu karena berkorban buat kita. Dia itu nggak suka apalagi cinta sama Kak Safka. Tapi tetep mau dinikahi karena agar kehidupan kita bisa membaik,” jawabnya, bersedih hati. “Gitu, ya, Kak. Aku pikir karena memang Kak Sri suka sama Kak Safka. Terus, kalau gitu kita harus apa sekarang?” tanya Fahmi. “Ya, nggak harus gimana-gimana. Kak Sri bilang, dia akan bahagia kalau kita bahagia,” jawabnya seraya memasang wajah semeringah. Namun, belum sempat Fahmi menjawab, seseorang berhenti melajukan motornya di samping mereka sambil menyapa. Katanya lagi, “Kalian kesiangan? Jam segini kok masih di jalan?” “Aih, Kak Bima. Iya nih, Kak. Tadi Fahmi kebelet dulu soalnya.” Siti menjawab sambil mengembangkan senyum. Ia tahu kalau Bima adalah kekasih Sri, sebelum kakaknya itu menikah paksa dengan seorang lelaki kaya. Sehingga ia tak lagi merasa canggung. “Pantes. Kalau gitu, kalian mau Kakak antar? Arah sekolah kalian kan sama.” Bima pun memberi tawaran. “Kebetulan, Kakak juga lagi mau ke pasar.” “Kalau nggak keberatan sih boleh. Iya, nggak, Fahmi?” Siti menyengir pada adiknya itu. Ia jelas senang jika mendapatkan tumpangan. Karena menunggu ojek sambil terus berjalan kenyataannya tak dapat jumpa. “Nggak dong. Kan, Siti sama Fahmi itu nggak gendut. Masa berat?” Bima balik bertanya. “Yuk, naik!” ajaknya lagi. Siti dan Fahmi pun naik. Keduanya duduk di belakang Bima, seraya terus bicara menimpali mantan kakaknya itu. Terlebih Bima memang tidak henti mengajak keduanya mengobrol sehingga Siti dan Fahmi tidak mempunyai celah untuk diam. Dan karena jarak sekolah mereka yang tidak terlalu jauh, dalam waktu kurang dari sepuluh menit pun mereka sampai. Sekolah Fahmi dan Siti ada di lokasi yang sama, dengan nama yang sama pula. Bahkan, sekolah menengah atas pun ada. “makasih, Kak.” Siti yang bau turun pun langsung memeluk tas selendangnya sambil berucap. Ia yakin, kalau tak naik motor, mereka pasti akan terlambat beberapa menit. Sedangkan Fahmi, adiknya itu langsung berlari karena temannya berteriak memanggil. “Sama-sama. Tapi, Ti. Apa kamu sudah dengar kabar dari Kak Sri. Kak Bima khawatir sama Kakakmu,” katanya, setengah berbisik. Ia tahu kalau Sri sudah menikah, sehingga tidak pantas jika orang lain mendengar apa yang dikatakannya barusan. “Kalau dari Kak Sri sih belum. Tau sendiri kan kalau Kak Sri nggak ada HP. Tapi, tadi pagi aku denger bapak terima telepon dari Kak Safka. Katanya, mereka baik-baik aja. Kak Sri juga,” timpal Siti yang tak kalah berbisik. “Aku masuk dulu, Kak. Bentar lagi pasti ada bunyi bel,” sambungnya. “Oh, iya-iya. Yang pintar belajarnya,” balas Bima. “Iya, Kak!” seru Siti sambil berlari masuk, melewati gerbang sekolah. Ia juga melambaikan tangan pada calon kakak ipar tak jadinya. Bima tersenyum tipis sebelum akhirnya mengalihkan tatapan. Ia juga mendongakkan wajahnya barang sedikit, karena tiba-tiba saja merasa sedih. Selain itu, ia pun merindukan Siti yang sejak hendak dinikahkan oleh bapaknya sudah tidak dibolehkan keluar. Itu artinya, pertemuan terakhir mereka adalah satu minggu yang lalu. Di mana Siti hendak berangkat kerja seperti biasa di waktu selepas Subuh. Juga sewaktu Siti pulang dari bekerja selepas Ashar. Waktu itu pun tak banyak yang dibicarakan keduanya saat di perjalanan pulang. Hanya gombalan-gombalan, juga keseriusan Bima di mana ia akan segera melamar Sri, jika tabungannya sudah terkumpul. Sekarang, ucapan itu hanya tinggal kenangan. Sebab Bima telah kehilangan sosok yang ia cinta, sejak ijab kabul dilakukan. Rela atau pun tidak, Sri telah menjadi istri orang. Bima yang hendak ke pasar pun menghela napas kasar. Lantas mengembuskannya sembari menyalakan mesin motornya lagi. Ia harus segera pergi. *** Kebiasaan yang sudah lama dilakukan sudah tentu mendarah daging dalam diri seseorang. Pun dengan kebiasaan Sudirman yang tak lain adalah seorang pejudi dan pemabuk berat. Ia yang masih memiliki uang dari sisa membayar hutang pun berencana mengikuti perjudian di tempat biasa. Setelah bersiap-siap, ia pun keluar dari rumahnya sembari memasang wajah waspada. Lirik kanan, lirik kiri pun dilakukan karena takut kalau sampai ada orang yang memergoki atau menguntitnya ke mana pun. “Rasa-rasanya aman.” Lelaki tua yang memakai celana panjang lengkap dengan kaos oblong dan jaket kain berwarna kusam itu pun bernapas lega. Usai mengunci pintu, ia pun menaruh kuncinya di bawah lap yang tersedia di depan pintu. Lantas, segera ia pun berlari pergi selagi tak ada yang memergoki. Padahal, tanpa ia tahu, seseorang yang ditugaskan Safka untuk mengintai rumah Sudirman berada tidak jauh dari rumahnya. Ia hanya bersembunyi agar Sudirman tak menyadarinya. Ia bahkan segera membuntuti Sudirman dari kejauhan, sesuai perintah. “Dasar tua bangka nggak tau diuntung. Bagus-bagus ada yang mau bayarin hutan bekas pinjamannya, sekarang masih mau judi? Nggak kapok ternyata.” Lelaki yang sekarang sedang membuntuti Sudirman pun mengoceh karena sebal. Bukan mengapa, hanya saja ia tak suka dengan orang yang tak tahu balas budi. Sudah ditolong tapi nggak tahu diri. “Tapi kalau sampai perginya ini bukan ke tempat judi, aman berarti. Tapi aku nggak yakin. Dari gayanya yang mirip maling aja sudah jelas dia mau pergi ke mana,’ sambungnya lagi. Si penguntit yang memakai pakaian serba hitam sampai ke topi juga sepatu itu berjalan kaki. Karena kalau naik motor, yang diikutinya bisa-bisa curiga. Terlebih, yang dibuntutinya pun tak memakai kendaraan. “Duh. Jangan sampai deh Pak Safka beliin itu aki-aki motor. Bisa rugi banyak dia, kalau kelakuan tuh aki-aki belum juga berubah.” Kali ini, si penguntit yang bernama Aris itu pun bicara sendiri sambil tertawa pelan. Ia menahan gelak sebisa mungkin agar tak ketahuan. Tapi, orang-orang yang melihatnya barusan sudah pasti mengira Aris sebagai orang gila. Sebab, mereka langsung memerhatikan sembari cekikikan. Aris tak peduli. Yang ia pedulikan hanyalah misi yang membawanya pada segepok uang. Iya. Sebab Safka berjanji akan membayarnya dua tiga juta per satu bulan. Jelas, itu lebih besar dari gajinya yang hanya sebagai ojek kampung. Kebanyakan melamun, Aris yang sedari tadi ceritanya sedang menguntit pun kehilangan jejak Sudirman. “Astaga gawat! Tuh aki-aki di mana, sih?” batinnya sembari celingukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD