Seseorang di Masa Lalu

1788 Words
Tak mendapat jatah makan sebab Sri menghabiskan makanan buatannya, Safka pun segera melesat ke kantor di mana ia adalah presiden direktur yang sebenarnya tak perlu selalu hadir. Terlebih ia baru saja melaksanakan pernikahan. Namun, Safka merasa bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dibangun keluarganya. Karena perutnya keroncongan, Safka pun berhenti di warung padang untuk makan barang sebentar. Ia memang memiliki kebiasaan makan setiap pagi, karena ibunya yang menerapkan itu sedari dulu. “Saya pesan satu porsi, dimakan di sini, ya, Mbak,” katanya begitu masuk dan kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Mbak yang menyambut kedatangannya itu pun mengangguk dan segera menyiapkan makanan pesanan pembeli. “Lauknya apa, Pak?” tanyanya dari balik meja. “Oh, iya. Ayam sama jeroan aja, Mbak,” jawabnya seraya meraih ponsel dari saku celana. Sebab, ponselnya itu berdering nyaring. “Aris?” ucapnya dalam hati ketika melihat layar ponsel. “Halo, Pak. Saya mau lapor kalau saya baru saja kehilangan jejaknya aki-aki, eh maksud saya Pak Sudirman. Tadi ada dua belokan dan saya nggak liat Pak Sudirman belok k mana,” katanya, begitu Safka mengangkat telepon. “Aih, kiran ada apa.” Safka pun tersenyum karena mendengar suara suruhannya yang mengos-ngosan. “Iya, itu, Pak. Kan saya takut disalahin kalau nggak lapar, eh lapor,” katanya lagi, diiringi tawa pembelaan. “Y, nggak lah. Tapi kalau Pak Aris yakin mertua saya itu hendak berjudi, ya tinggal pergi ke tempat biasa mereka judi dong. Ngapain cemas gitu? Pa Aris tau kan tempatnya? Ya, masa orang asli sana nggak tau?” Safka tertawa pelan kali ini. Pandangannya mengedar sesaat, melihat keadaan warung yang memang lumayan ramai. Pesanannya baru saja hendak diantar. “Oh, iya, kok, saya nggak kepikir?” aris tergelak juga pada akhirnya. “Nah, kalau gitu Pak Aris cek aja ke sana, ya? Saya kebetulan lagi mau makan ini.” Safka yang sedang menelepon pun mengangguk pada Mbak pelayan, sebagai tanda terima kasih karena pesanannya suda diantar. “Oh, iya-iya, Pak. Maaf saya mengganggu.” Aris pun menjadi malu dan canggung. “Nggak apa-apa. Kalau gitu, saya tutup teleponnya, ya?” Safka pun tersenyum seraya meraih sendok dan mendekatkan piringnya. “Iya-iya, Pak. Assalamualaikum.” Sebelum menutup telepon, Safka membalas salam lelaki yang dibayarnya untuk menguntit. Lantas, ia pun segera melahap makanannya usai membaca basmalah. Namun, tiba-tiba saja isi pikirannya teringat pada Sri. “Tuh, bocah lagi ngapain, ya? Hm ... aku kok cemas kalau di berusaha kabur dari rumah,” ucapnya, tanpa menghentikan kunyahan. “Ah, tapi nggak mungkin lah, ya. Dia kan nggak tau jalan,” ucapnya lagi sambil mengangguk-angguk. *** Sekeluarnya dari mobil, orang yang pertama kali melihat Safka turun langsung berlari dan mengabarkan kedatangannya ke kantor. Membuat seluruh pekerja seketika bersiap untuk menyambut dan juga memasang wajah juga perilaku pencitraan. Mereka yang tengah mengobrol seketika berhenti dan langsung menghadap komputer. Mereka yang sedang asyik makan, langsung membuang makanannya ke tong sampah walaupun baru diicip. Dan mereka yang wara-wiri tak jelas pun seketika berbenah duduk. “Selamat pagi, Pak.” “Selamat pagi, Pak.” “Pagi, Pak.” Serentak, tiap ruangan mengucapkan hal demikian begitu Safka melewatinya. Lelaki berperawakan tinggi besar seperti para tentara itu pun hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai tanda terima kasih karena sudah menyambut dan bekerja dengan baik. Meski, sebenarnya ia tahu kalau karyawannya itu hanya sedang melakukan pencitraan. “Saya nggak terlambat datang kan, Mbak?” tanyanya pada Siska yang tak lain adalah sekretarisnya, begitu ia sampai di depan ruangannya. Siska yang sedang menghadap komputer pun seketika mendongak dan kemudian berdiri tegak. “Belum, Pak. Tapi Bapak bisa langsung masuk ke ruang meeting. Klien kita sebentar lagi sampai, kok,” jawabnya. “Oh, ok kalau gitu.” Safka pun langsung menuju ke ruang meeting. Karena sebenarnya ia tak cukup sabar untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan besar yang baru. Seketika, para karyawan yang sebelumnya tegang dan memasang wajah pencitraan pun mengembuskan napas lega. Mereka akhirnya bisa kembali mengobrol di sela-sela bekerja. Bahkan beberapa di antaranya ada yang kembali memungut makanan mereka dari tong sampah. Safka adalah bos yang baik. Namun, ia memiliki sikap tegas yang wajib dilakukan karyawannya juga. Mulai dari tidak boleh terlambat datang, tidak boleh makan saat sedang bekerja, apalagi mengobrol. Namun, yang tak ada toleransinya sama sekali adalah tidak boleh adanya jalinan asmara sesama karyawan. Sampai-sampai, Safka pernah mendapatkan doa buruk dari beberapa karyawan yang dipecat karena pacaran. “Gue doain lu jomblo seumur hidup!” “Gue doain jodohnya jauh sampai ke Merauke!” “Gue doain jodohnya bocah biar dikata m***m!” Dan, doa salah satu dari mereka pun terkabul. Safka benar-benar menikah dengan seorang gadis yang usianya saja belum genap dua puluh tahun. Ia pikir, itu adalah jodoh yang ditetapkan Tuhan. Padahal, itu adalah campur tangan doa dari orang yang dizaliminya. Beberapa menit menunggu di ruang meeting, klien yang ditunggunya pun datang. Namun, betapa kaget saat Safka melihat siapa yang masuk ke ruang meeting. Ia melihat masa lalunya pada diri seseorang yang sekarang akan menjadi rekan bisnisnya. Dian Ahmad. Ya, Safka ingat betul pada nama wanita yang baru saja duduk di hadapannya. Wanita berambut lurus sepinggang itu tersenyum sedari melihat Safka. Lebih tersenyum lagi, saat ia bisa duduk bersama lelaki yang dulu sangat dicintainya. “Sekarang pun masih, jika aku boleh jujur,” katanya dalam hati. “Tapi, sayang. Aku dengar kamu baru saja menikah,” batinnya lagi. Safka yang sadar kalau dirinya telah terbengong pun berdeham dan kembali menyambut tamu sekaligus calon rekan bisnisnya itu. Bukan, bukan karena ia terpesona akan penampilan Dian. Ia tak pernah menyukainya sampai sekarang Dian sudah jauh lebih cantik. Hanya saja, ia tak mengira kalau ia akan dipertemukan lagi dengan teman semasa kuliahnya dulu. “Baiklah. Saya rasa, meetingnya bisa segera dilaksanakan,” katanya, sedikit canggung. *** Meeting berjalan lancar. Perusahaan yang diwakili Dian kedatangannya itu pun menerima apa yang menjadi proyek baru perusahaan Safka. Ia beserta tamunya pun saling berjabat tangan usai menandatangani beberapa dokumen. Lantas, satu per satu dari mereka keluar kecuali Safa dan Dian. “Nggak sangka ya, kita bisa bertemu lagi setelah sekian tahun. Lebih nggak sangka lagi karena sekarang kita rekan bisnis. Apa kabar?” tanya Dian yang sengaja tidak buru-buru keluar dari ruangan. “Baik. Kamu sendiri gimana, Dian?” Safka yang baru saja membereskan berkas-berkas sambil berdiri pun kembali duduk. “baik juga. Tapi, aku tidak seberuntung kamu.” Wanita berkaca mata itu tersenyum tipis, seraya mengalihkan tatapannya barang sejenak dari Safka. “Maksudnya?” Safka mengernyit karena memang tak paham. Ia pun memasukkan berkas-berkas ke map. “Aku dengar kamu sudah menikah. Sedangkan aku masih jomblo.” Dian tersenyum lagi. Kali ini ia tidak mengalihkan tatapannya dari Safka, sehingga membuat Safka yang membuang muka. “tapi aku heran. Kamu itu baru menikah kemarin, kan? Kok, Masuk kantor? Aku pikir, aku nggak bakal ketemu sama kamu.” Safka yang mendengarnya pun berdeham. “Aku ada urusan lain, Dian. Nggak apa-apa, kan, kalau aku pergi duluan? Lain kali, mungkin kita bisa mengobrol lagi,” katanya. “Oh, iya nggak apa-apa. Aku juga udah mau pergi, kok.” Dian pun langsung berdiri. “Maaf, ya, aku dah ganggu waktunya kamu.” Ia pun menambahkan sebelum akhirnya melengos pergi lebih dulu. Safka pun seketika menghela napas lega. Ia yang sebelumnya sudah berdiri pun kembali duduk. Karena sebenarnya, ia tak mempunyai janji lain hari ini. Ia hanya beralasan agar Dian segera meninggalkan kantornya. “Mimpi apa aku semalam? Kok, ya, bisa-bisanya ketemu Dian setelah sekian abad?” gumamnya seraya memijit pelipis. Mendadak, ia memang merasa pusing. “Tapi ya semoga aja dia udah berubah. Nggak ganjen kek dulu-dulu. Bukan karena takut kegoda, sih. Perasaanku masih sama kek dulu-dulu. Ilfil. Tapi kalau kali ini setannya lebih jahat? Gawat juga begitu,” sambungnya yang seketika tertawa kecil. “Sama aja, ya? Haha. Dah lah,” ucapnya lagi sambil berdiri. Lantas, Safka melengos pergi menuju ruangannya. Meski tak ada janji lain, ada beberapa berkas yang harus ia urus. *** “Kya! Ternyata bener juga kata si Bos. Dicek langsung ke sarangnya tuh aki-aki udah ada di sana aja.” setelah Aris mengejar Sudirman menuju tempat perjudian dengan mengendarai ojek, ia pun sampai lebih dulu dan melihat ayahnya Sri yang baru saja tiba dari kejauhan. Lelaki pendek dan juga buncit itu pun bergegas masuk ke sarang. “Memang nggak salah lagi. Otaknya ya masih dipenuhi juta, atau nggak mabok. Sia-sia memang si bos ngawinin si Sri. Eh, tapi kan ini baru sehari. Mungkin si aki-aki memang belum bisa move on. Haha,” ucapnya lagi, diselingi tawa pelan. Pandangannya kemudian celingukan, melihat ke sekeliling dan memperhatikan sekitar. Lokasi perjudian ada di samping bangunan kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka yang bermain judi pagi-pagi sekali. Biasanya, itu berlangsung sampai pagi kembali. Sebab yang main judi bergantian setiap waktu. Sudah jelas apa yang dia ikuti, Aris pun kembali menghubungi Safka lewat pesan w******p. Ia melaporkan apa yang dilihatnya sebelum kemudian kembali ke tempat persembunyian. Ia adalah warga kampung Cibinong. Profesinya adalah seorang ojek. Dan, rumahnya pun ada di sebelah Sudirman. Istrinya sempat heran karena sedari kemarin, Aris tak kunjung berangkat ngojek. Ia diam di rumah sepanjang malam dan hari, termasuk hari ini di mana ia baru saja keluar tanpa membawa motor. Itu kenapa, setibanya di rumah, Aris langsung mendapati istrinya sedang memelak pinggang di ambang pintu. Kedua matanya melotot tajam, bahkan sambil mengomel dan mengeluarkan jurus andalan. “Kamu ini kenapa sih, Bang? Dari kemarin terima telepon diam-diam. Nggak berangkat ngojek. Sekalinya ke luar kamu nggak bawa motor. Mau makan apa kita, Bang? Memang Abang mau Neng nggak izinin masuk ke rumah. Abang mau Neng nggak ngasih jatah setiap malam?” “Ya, Allah Neng. Abang kan sudah bilang, nanti Abang kasih tau.” Aris pun mendelik. Sudah biasa mendengar ancaman istrinya itu. “Ya, terus kapan mau kasih tau Neng nya?” “Nanti lah, Neng.” “Kapan?” “Nanti. Sekarang izinin Abang masuk dulu, ya. Abang lapar,. Kan, dari pagi belum sarapan,” katanya seraya merogoh saku celana. “Gada! Gada masuk-masuk. Lagian Neng udah kehabisan duit buat masak.” Istrinya itu masih merajuk, dan bahkan hampir saja membanting pintu. Namun, gercep Aris mengeluarkan segepok uang yang tadi ia tarik di BRI-Link saat menuju pulang. Sehingga kedua mata beserta wajah istrinya langsung berbinar. Bahkan, wanita gembrot berdaster bunga-bunga itu langsung menarik Aris ke kamar. “Abang dapet jatah, nih? Katanya tadi nggak mau ngasih?” Aris tertawa julid. “Mana ada Neng bilang gitu? Abang salah denger kali.” Istrinya pun berkelit, tak mengaku kalau dirinya baru saja mengeluarkan jurus andalan berupa omelan dan ancaman. “Ya, memang begitu. Duit di atas segalanya, sampai bisa membuat istri lagi bertanduk pun mendadak tunduk,” balasnya, lagi-lagi diselingi tawa membahana. “Abang bisa aja! Tapi ya, memang gitu, sih. Ha-ha.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD