Cinta yang tidak dipercaya, tidak layak diperjuangkan.
Melati sudah diizinkan keluar dari rumah sakit. Dia melangkah ringan meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Angin menyapu pelan rambutnya yang diikat longgar.
Dia tidak menggandeng siapa pun, tidak mengucap terima kasih.
Dia hanya melangkah pelan ke dalam mobil hitam yang pintunya dibukakan oleh Pak Basuki.
Di belakangnya, Rafli berjalan dengan ekspresi sulit ditebak. Sejak insiden hasil tes DNA, dia berubah. Tidak lagi sekeras dan sekaku dulu, tapi juga bukan berarti hadir sebagai suami.
Diibaratkan, dia hadir sebagai bayang-bayang. Menjaga dari jauh dan memberi dari dekat, tapi tidak lagi bisa menyentuh.
Rumah mereka di masih sama. Bersih, hening dengan wangi lavender seperti biasa, tapi bagi Melati, rumah itu kini tak lebih dari sekadar tempat bermalam. Bukan rumah juga bukan pelindung. Apalagi tempat pulang.
Begitu pintu utama dibuka, Melati hanya bisa menghela napas panjang. Dari kejauhan tampak seorang perempuan paruh baya yang dia kenal, istrinya Pak Basuki yaitu Bu Wati.
“Selamat datang, Nak,” sapa Bu Wati ramah.
Melati hanya mengangguk. Tidak menggubris tatapan iba yang coba disembunyikan.
Rafli berdiri di belakangnya, menjelaskan singkat, “Kamar kamu dipindahkan di lantai satu. Dekat jendela, dan aku pasang sistem penghangat udara.”
Melati tak menjawab, melangkah langsung ke tempat yang sudah dikelas tad. Langkahnya lambat, tapi tegas.
Rafli sadar, istrinya pulang ke rumah yang dia bangun, tapi tak satu pun tembok di dalamnya mengizinkannya masuk.
Keesokan harinya, Rafli menyuruh Pak Basuki memanggilkan dokter pribadi, Edward teman akrabnya dulu yang memang sudah tahu kondisi Melati. Rafli sendiri tidak masuk ke kantor, memilih bekerja dari ruang tengah, dekat kamar Melati. Dia ingin memastikan istrinya makan tepat waktu, tidak terlalu lelah, dan punya semua yang dibutuhkan. Namun, satu hal tak bisa didapatkannya yaitu percakapan.
Melati hanya bicara seperlunya. Jawabannya pendek. Senyumnya sopan, tapi tidak pernah tulus. Seperti seorang tamu yang tahu aturan, tapi tak ingin akrab. Dia benar menjaga jarak.
Saat Rafli menawarkan diri menemaninya makan, Melati menjawab, “Terima kasih, saya sudah cukup." Lalu, dia beranjak dan masuk ke dalam ruang belajarnya.
Saat Rafli memintanya duduk di ruang tamu bersamanya, Melati selalu menolak.
“Saya sedang ingin membaca sendirian, Tuan Rafli."
Rafli kehilangan sesuatu yang dia tidak tahu apa, hanya ingin melihat seperti hari-hari sebelum kejadian ini. Dia ingin melihat saat pagi bertemu Melati dengan rasa takut di wajah polos itu, juga diamnya yang seperti membangkang. Dia merindukan semuanya, tapi tidak tahu caranya mengungkapkan.
Rafli melihat Melati masuk ke kamar dan cepat-cepat dia menyusul sebelum pintu itu sempat ditutup.
"Aku ingin memperbaiki semuanya, tolong jangan seperti ini."
Melati hanya menatapnya sebentar dan menjawab.
“Beberapa hal tidak bisa diperbaiki. Hanya bisa ditinggalkan agar tidak semakin rusak. Maaf, aku ingin tidur."
Rafli tidak berani kasar seperti dulu dan hanya menarik napas berat. Lalu, keluar kamar. Masih terpaku lama di depan pintu yang tertutup rapat.
Kamar mereka tetap terpisah. Seperti dulu awal ketika mereka datang ke rumah besar ini dan Rafli sendiri yang menentukannya.
Hari ketiga setelah pulang, Rafli berdiri di ambang pintu kamar Melati. Tak mengetuk hanya berdir, menatap gadis yang kini sedang mengandung anaknya.
Di dalam, Melati sedang menyusun pakaian bayi di laci kecil. Gerakannya pelan dan rapi. Seperti ibu yang sedang bersiap, tapi tak punya siapa-siapa untuk diajak berbagi kebahagiaan.
“Aku ... bisa bantu kalau kamu mau,” ujar Rafli akhirnya.
Melati tidak menoleh. Hanya berkata tenang.
“Kalau itu bentuk tanggung jawab, Tuan bisa beri perintah ke Bu Wati saja.”
“Bukan. Aku ingin ada di sini sebagai su--ami.”
Melati menutup laci perlahan. Lalu menoleh.
“Maaf. Tapi saya tidak tahu lagi bagaimana menjadi istri.”
“Melati, jangan seperti ini." Rafli mulai mendekat, menahan lengan kecil Melati.
“Saya tidak tahu bagaimana bersikap hangat pada seseorang yang telah menguji kehamilan saya seolah-olah saya pendusta. Saya tidak tahu bagaimana tersenyum pada laki-laki yang bahkan tidak yakin apakah anak ini darinya.”
Rafli terdiam. Kalimat yang dia dengar, sangat menyakitkan.
“Saya ... tidak tahu bagaimana mencintai lagi. Kalau yang saya cintai ternyata melihat saya sebagai ancaman, bukan anugerah.”
Kalimat itu membuat jantung Rafli berdetak kencang. Padahal dia hanya berdiri saja.
“Saya tidak ingin menyalahkan. Tidak ingin mengungkit. Tapi saya butuh waktu dan ruang. Dan saya harap, Tuan bisa menghormatinya.”
“Aku menghormati kamu,” ucap Rafli cepat.
“Aku hanya—”
“Takut kehilangan?” sambung Melati, melepaskan tangan Rafli kasar.
“Saya mengerti. Tapi ketakutan Tuan telah membuat saya kehilangan jauh lebih dulu.”
Ia menghela napas, lalu menambahkan.
“Jadi ... kalau Tuan sungguh ingin memperbaiki semuanya, mulailah dengan tidak memaksa apa pun. Jangan paksa saya bicara. Jangan paksa saya menerima kebaikan Tuan. Dan jangan paksa saya kembali seperti dulu.”
Rafli berdiri lama, tanpa bereaksi. Memandang wajah yang dulu ia sentuh dengan mudah, tapi kini terasa sejauh bintang. Ada luka yang ia buat sendiri, dan tak bisa disembuhkan dengan permintaan maaf atau uang, atau kuasa, atau fasilitas apapun. Dia tahu Melati keras kepala, tapi dia tidak bisa untuk menahan apa pun.
Melati melanjutkan aktivitasnya, seolah tak terganggu.
Dan Rafli pun perlahan menutup pintu, lebih tepatnya mengalah.
Malamnya, Melati berdiri di balkon kamarnya. Angin malam menyentuh pipinya, tapi tidak menggigil. Mengusap perutnya perlahan yang masih terlihat rata. Di balik kain longgar, ada kehidupan kecil yang tumbuh meski belum tahu akan seperti apa dunia tempat anak itu dilahirkan.
Melati mendengar langkah kaki mendekat. Langkah Rafli.
Pria itu berdiri di sisi kanannya, menatap tanpa berkedip, tapi Melati pura-pura tidak tahu.
Mereka tidak bicara. Hanya saling memandang. Sungguh, semuanya terasa sangat jauh.
Cinta bisa tumbuh tanpa rencana, tapi kepercayaan yang retak, tak bisa diperbaiki hanya dengan niat. Melati tahu niat baik Rafli, tapi hatinya sudah patah.
Malam itu, setelah pertemuan diam di balkon, Melati duduk di ranjang sambil memeluk bantal kecil. Lampu kamar dibiarkan redup. Ada suara dari lantai bawah, suara piano yang samar dan pelan tapi mampu menghipnotis.
Itu Rafli.
Ia memainkan piano lama di ruang tengah. Lagu klasik yang dulu pernah diputar di awal pernikahan mereka. Lagu yang membuat Melati sempat percaya bahwa pernikahan ini mungkin bukan sepenuhnya kontrak di atas kertas.
Kini, lagu itu hanya suara latar dari kebingungan yang tertahan.
Melati memejamkan mata, dia tidak membenci pria itu. Dia juga tidak ingin hidup dengan dendam. Tapi dia sudah belajar sesuatu yang lebih penting dari cinta yaitu rasa aman tak datang dari perhatian sesaat, tapi dari kepercayaan yang tak goyah.
Dan Rafli belum memberikannya.
Esok paginya, Melati bangun lebih awal dari biasanya. Dia turun ke dapur tanpa ditemani Bu Wati. Dia ngin menyiapkan teh sendiri. Dia ingin merasa hidup bukan pasien yang harus selalu dijaga. Bukan juga istri CEO yang butuh pelayanan khusus. Dia ingin menjadi dirinya sendiri.
Di dapur, dia menemukan Bu Wati.
"Biar kubuatkan teh hangat dan sarapan untukmu."
“Saya bukan tamu, Bu," potong Melati lembut.
“Saya tinggal di sini. Bolehkan saya setidaknya menyentuh cangkir saya sendiri?”
Bu Wati terdiam, lalu perlahan mengangguk dan berlalu ke arah taman belakang.
Saat air mendidih dan uap teh naik perlahan, Rafli muncul di ambang pintu dapur. Kemeja kerjanya rapi. Dasi terikat sempurna. Tapi wajahnya lelah.
“Melati,” ucapnya pelan.
Melati hanya melirik. Tidak membalas panggilan itu dengan senyum atau sapaan.
“Aku bisa buatkan untukmu,” tawar Rafli.
Melati mengaduk tehnya perlahan.
“Saya tidak perlu dilayani. Saya hanya ingin diberi ruang.”
Dia berjalan melewatinya, cangkir di tangan, dan melanjutkan langkah ke ruang belajar. Duduk sendiri di sofa, membuka buku yang belum selesai dibaca sejak di rumah sakit.
Rafli berdiri di dapur cukup lama. Tak bergerak. Seolah baru sadar bahwa di rumah sebesar itu, dia bisa saja menjadi orang yang paling kesepian.
Hari-hari berikutnya, pola itu berulang.
Melati belajar mandiri. Merawat dirinya sendiri. Menolak perawat pribadi.
Dia bahkan mulai menulis di jurnal. Kadang menyalakan musik lembut di kamarnya. Sesekali tertawa kecil saat membaca novel. Tapi semuanya dia lakukan sendiri, tanpa Rafli.
Dan Rafli? Dia mulai kehilangan peran. Bukan karena tak hadir, tapi karena tidak dibutuhkan.
Malam itu, saat Melati tertidur di kamarnya yang sepi, Rafli masih duduk di ruang kerjanya. Map hasil tes DNA ada di meja. Lampu menyala redup, dan secangkir kopi dingin belum disentuh.
Ponselnya bergetar. Papa.
Dia menghela napas dan mengangkat.
“Iya, Pa."
“Datang ke Bandung minggu depan." Suara berat di seberang sana.
“Kita akan umumkan pertunanganmu.”
Rafli memejamkan mata sejenak.
“Pertunangan?”
"Iya."
Lalu, sambungan terputus.