Jarak yang Tak Terucapkan

1325 Words
Sudah tiga hari Melati terbaring di kamar rumah sakit itu. Kamar VIP, luas, dingin, dengan bunga segar yang berganti tiap pagi. Dinding putihnya bersih, selimutnya hangat, perawatnya ramah. Tapi udara di dalamnya terasa sepi. Rafli datang setiap pagi. Duduk di kursi samping ranjang, bertanya seadanya, "Sudah makan? Sakit di mana? Butuh apa?" Lalu pergi. Hanya sebatas itu saja. Tanpa menyentuh. Tidak ada tatapan lama, seperti halnya pasangan suami istri yang menantikan buah hati. Melati tahu, ada yang berubah. Bukan sekadar kecewa, tapi curiga. Dingin yang menjalar dari sorot matanya bukan amarah, tapi kehati-hatian. Seolah-olah dia sedang menghitung dan mengukur. Apakah yang tumbuh dalam rahim ini benar miliknya? Dan itu menyakitkan lebih dari apapun. Pagi ini, dokter Edward datang kembali. Jas putihnya sedikit kusut, rambutnya basah karena hujan. Dia mengetuk pelan dan masuk dengan senyum kecil. “Selamat pagi, Melati.” Melati mengangguk pelan. “Pagi, Dokter.” Edward membuka map dan duduk di kursi Rafli yang biasanya kosong. Dia melihat hasil USG yang baru dilakukan pagi tadi. “Semua stabil. Detak jantung janin bagus. Tekanan darahmu sudah turun, tapi kamu masih kelihatan tegang. Tidak tidur nyenyak, ya? Atau ada sesuatu yang mengganggumu?" Melati tidak menjawab. Tangannya meremas ujung selimut. Edward meletakkan mapnya. Suaranya lebih lembut. “Melati, kalau ada yang ingin kau bicarakan, kau bisa bicara padaku. Sebagai dokter, atau mungkin, teman?" Melati tersenyum tipis. “Saya tidak punya teman, Dok.” Kalimat itu keluar begitu saja. Dan entah kenapa menyakitkan sekali ketika terdengar oleh telinganya sendiri. Edward menatapnya, lama. Lalu berkata pelan, “Orang yang merasa sendirian saat sedang hamil, biasanya menyimpan luka yang tidak kelihatan.” Melati menarik napas dalam. Hidungnya terasa perih. “Apa saya boleh jujur?” tanyanya lirih. “Silakan.” “Saya tidak tahu apakah saya bahagia. Tidak tahu apakah saya diinginkan. Kadang saya bertanya-tanya, kalau saya tidak hamil ... apakah saya tetap dianggap ada?” Edward tak langsung menjawab. Dia hanya menatap perempuan muda itu, yang wajahnya tampak lebih tua dari usianya. Padahal, tidak dipungkiri, dia cantik. Terlalu banyak beban di balik mata yang menunduk. “Melati, apa kau tahu. Anak yang tumbuh dalam rahimmu tidak peduli siapa ayahnya. Dia hanya ingin tahu siapa yang akan menyayanginya.” Melati menggigit bibir. Air mata menetes pelan, diam-diam. “Terima kasih, Dokter,” bisiknya. Edward berdiri, mengangguk sopan. Tapi sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi. “Oh ya,” tambahnya. “Kalau ada sesuatu yang membuatmu takut, katakan. Karena rasa takut, kalau dipendam, bisa membunuh dua kali. Dirimu dan anakmu.” Pintu tertutup kembali. Melati ... akhirnya menangis. Bukan karena dia lemah. Tapi karena dia terlalu lama berpura-pura kuat. Di ruang bawah rumah sakit, Rafli duduk sendiri. Cahaya lampu remang, suara detak jam menggantung terasa lebih keras dari biasanya. Edward datang dengan langkah tenang, membawa sebuah amplop putih di tangannya. Dia tidak langsung bicara. Hanya meletakkan amplop itu di meja, lalu duduk di seberang sahabatnya. “Hasilnya sudah keluar.” Rafli menatap amplop itu sejenak. Tangannya tidak bergerak. Edward menatapnya serius. “Tapi sebelum kau buka, ada yang perlu kau tahu.” Rafli mengangkat wajah. “Usia kehamilan Melati baru lima minggu. Artinya kadar cfDNA-DNA janin dalam darahnya masih rendah. Kami memakai metode paling sensitif, tapi tetap ada margin error.” Rafli tetap diam. Wajahnya tidak berubah. Edward melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Meski begitu, hasil menunjukkan kecocokan sangat tinggi. 99.6%. Biasanya sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa janin itu anakmu.” Rafli mengambil amplop itu perlahan. Membukanya. Menarik selembar kertas tebal yang berisi hasil laboratorium. Matanya membaca baris demi baris. Dan berhenti di bagian bawah: "Kadar cfDNA: terbatas (early gestation). Kecocokan biologis subjek pria terhadap sampel cfDNA janin: 99.6% Interpretasi: Probabilitas sangat tinggi subjek pria adalah ayah biologis." Rafli tidak berkata apa-apa. Tapi jemarinya gemetar halus saat menurunkan kertas itu ke meja. Edward menatapnya lama. “Ini mungkin bukan angka 100%. Tapi berapa banyak lagi yang kau butuhkan untuk mulai percaya?” Rafli memejamkan mata sejenak. Kepalanya menunduk, seolah menahan sesuatu yang jauh lebih berat dari hasil lab itu sendiri. “Dia tak pantas diuji,” gumamnya lirih. “Tapi aku tetap melakukannya.” “Karena kau takut?” tanya Edward pelan. Rafli mengangguk, nyaris tak terlihat. “Karena aku takut kehilangan sesuatu yang belum sempat aku jaga.” Di kamar rumah sakit yang diselimuti sunyi, Melati duduk di pinggir ranjang. Tirai jendela bergoyang pelan ditiup angin. Suara hujan di luar terdengar seperti bisikan yang tak ingin berhenti. Pintu terbuka. Langkah Rafli masuk, tenang tapi ragu. Dia membawa map putih tipis, tapi lebih dari itu, dia membawa rasa bersalah yang tak bisa ditutupi. “Melati,” panggilnya pelan. Gadis itu tidak menoleh. Hanya menatap keluar jendela. Hujan di luar tampak lebih menarik daripada apa pun yang akan dikatakan oleh suaminya. Rafli mendekat, berdiri beberapa langkah dari tempat tidur. “Aku baru saja dapat hasilnya.” Masih tak ada jawaban. “Dan ... kau benar,” ucapnya akhirnya. Suaranya lirih. Nyaris tenggelam oleh suara hujan. Melati masih diam. “Maaf,” lanjut Rafli, suaranya retak. “Karena telah meragukanmu. Meragukan anak ini. Meragukan segalanya.” Melati perlahan menoleh. Mata mereka bertemu, tapi bukan sorot lega yang dia tunjukkan. Sorot itu kosong. Asing. Tidak benci, tidak marah, tapi jauh. Melati membuka mulut, pelan. “Saya tahu Tuan akan percaya setelah melihat angka.” Rafli menunduk. Tak sanggup menatap mata itu lebih lama. “Tapi saya juga tahu,” lanjut Melati, suaranya lebih tajam kini, “Kepercayaan yang dibangun dari angka bisa runtuh juga karena angka yang lain. Seperti harga saham.” Rafli ingin berkata sesuatu, tapi bibirnya hanya terbuka tanpa suara. Melati berdiri pelan, tubuhnya masih lemah. Tapi ucapannya lebih kuat dari sebelumnya. “Saya tidak salah, Tuan. Tapi saya tetap diuji. Saya tidak bohong, tapi saya dianggap menyembunyikan. Saya hanya takut, tapi takut saya dianggap niat jahat.” Melati menatap Rafli dalam-dalam. “Apa saya memang harus membuktikan keberadaan saya lewat laporan laboratorium?” Rafli mencoba mendekat. “Aku hanya—” “Takut?” potong Melati, tajam. “Saya juga. Tapi saya tidak menyuruh siapa pun mengetes, Tuan. Saya tidak pernah ragu apakah anak ini anak Tuan.” Napas Rafli tercekat. Melati melanjutkan, lebih pelan tapi lebih menyakitkan, “Tuan bisa saja menolak saya untuk menjauh. Bahkan, menceraikan. Tapi bukan ini yang paling menyakitkan." Dia menggigit bibir, menahan getar suaranya. “Yang paling menyakitkan adalah tahu bahwa saya tetap tidak dipercaya. Meski sudah menikah. Meski sudah mengandung. Saya ini siapa, Tuan? Istri? Tahanan? Atau cuma wadah sementara untuk anak Tuan?” Rafli merasa seluruh dunia menekan dadanya. “Aku tidak pernah menganggapmu seperti itu." “Tidak?” Melati tersenyum pahit. “Lalu kenapa tidak bicara dari awal? Kenapa memilih tes? Kenapa harus diam-diam memverifikasi?” Rafli tak bisa menjawab. Melati menunduk, menyentuh perutnya pelan. “Saya ini bukan mesin inkubator. Saya punya hati. Saya juga ingin dicintai bukan dikurung dalam kebaikan yang terlambat.” Dia lalu duduk kembali, perlahan. Wajahnya lelah, tapi matanya tidak menangis. Sudah terlalu sering air mata jatuh, hingga sekarang, rasanya sudah kering. Rafli akhirnya bicara, suaranya parau. “Maafkan aku." Melati menatapnya datar. “Maaf itu baik, Tuan. Tapi tidak selalu cukup.” Dia menarik napas, lalu berkata dengan suara paling tenang tapi menghujam. “Kalau suatu hari saya memilih pergi bukan karena saya membenci Tuan. Tapi karena saya ingin bertahan. Karena saya tidak ingin anak ini tumbuh dalam rumah yang dingin dengan Ayah yang hanya tahu cara mengendalikan, bukan memeluk.” Rafli merasa runtuh dari dalam. Lidahnya kelu. Dadanya sesak. Tidak ada satupun kursus bisnis, negosiasi internasional, atau kontrak bernilai triliunan yang bisa membantunya saat ini. Dia hanya bisa berdiri di sana, diam, mematung. Dan Melati, perempuan yang selama ini ia pikir lemah, justru tampak paling kuat di ruangan itu. Saat Rafli akhirnya berbalik, langkahnya berat. Sebelum benar-benar keluar, suara Melati memanggilnya satu kali lagi. “Tuan.” Rafli menoleh. “Terima kasih karena telah membuktikan bahwa kepercayaan memang bukan hak saya sejak awal.” Klik. Pintu tertutup dan Rafli hanya bisa menarik napas panjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD